Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Hancur


__ADS_3

Jangan lupa bagikan novel ini di beranda fb, ig, twitter atau pun whatsapp kalian biar viral ya gaesss, hihihi ...


***


Matahari sudah semakin menggelincir ketika Faris dan Aisha sampai di Surabaya, perjalanan sekitar lima belas jam membuat mereka benar-benar dirundung kepenatan, belum lagi ditambah suasana hati yang tengah sama-sama gelisah.


Faris dan Aisha menyempatkan untuk melaksanakan solat duhur terlebih dahulu ketika sampai di Bandara. Tak ada yang menyambut kepulangan mereka di Bandara selain pengawal Faris di rumah yang sengaja Roger perintahkan untuk menjemput mereka, selain Pakde dan Bukde Faris yang sudah kembali ke Yogyakarta, juga karena kepulangan mereka yang terkesan mendadak membuatnya tak sempat menghubungi siapapun termasuk Maya.


Faris dan Aisha langsung beranjak ke kamar mereka ketika kaki sudah menginjakkan rumah megah yang paling mencolok di komplek perumahan elite itu.


“Ica mandi duluan ya Bang.” Aisha yang merasa perutnya sangat tidak nyaman langsung beranjak ke kamar mandi setelah menyimpan kopernya.


Dan benar saja di dalam kamar mandi kini Aisha tengah memuntahkan seluruh isi perutnya, seketika badannya terasa sangat lemas hingga ia terduduk di atas closet untuk beberapa saat lantas langsung mengguyur tubuhnya yang terasa sangat penat di bawah shower.


“Ca masih lama nggak?” Faris sedikit berteriak ketika gemericik air masih terdengar dari dalam, tubuhnya yang terasa sangat lengket membuatnya ingin segera menemui air.


“Nggak kok Bang bentar lagi,” ujar Aisha yang memang sudah hampir selesai dengan ritual mandinya.


“Huek ….” Tiba-tiba perutnya kembali seperti diremas-remas dan lagi-lagi membuat Aisha harus berjongkok memijat tengkuknya sendiri, derasnya air yang mengalahkan suara Aisha membuat Faris tampak tenang-tenang saja di luar dan tengah berbaring di atas ranjang masih menunggu istrinya.


Tampak risih dengan tubuhnya, akhirnya Faris memilih untuk mengguyur badannya di kamar mandi lain saat sang istri ternyata tak kunjung keluar dari kamar mandi, bahkan hingga Faris menyelesaikan mandinya pun Aisha belum juga keluar.


Gemericik air yang masih terdengar dari dalam membuat Faris mengurungkan niatnya untuk sekedar bertanya mengapa istrinya itu tak kunjung keluar. Fisik dan batin yang memang lelah membuat Faris memilih untuk memejamkan matanya di atas pembaringan tanpa menunggu istrinya keluar lebih dulu.


Sesaat kemudian barulah pintu kamar mandi terbuka menampakkan Aisha yang tampak pucat dengan rambut masih setengah basah.


Seketika ada perih yang tiba-tiba menjalari hati Aisha saat melihat suaminya ternyata sudah menelungkupkan tubuhnya di atas pembaringan dan terlelap lebih dulu tanpa menunggu dirinya, terlihat pakaiannya pun sudah berganti dengan yang lebih santai, sepertinya Faris memilih mengguyur tubuhnya di kamar mandi lain dari pada bergabung bersama sang istri seperti biasanya.


Aisha merasa saat ini suaminya tak sehangat biasanya, apa mungkin karena ia memang benar-benar tengah lelah karena harus menghadapi kembali urusan pekerjaan yang sudah menumpuk karena acara bulan madu mereka?.


Aisha hanya bisa menerka-nerka dalam hati tanpa berani bertanya, semua kalimat Gus Hasan tempo hari benar-benar mengganggu pikirannya, bukan karena Aisha memiliki perasaan yang sama, melainkan ia merasa bersalah karena suaminya tak mengetahui yang sebenarnya, terlebih mereka adalah saudara sepupu yang begitu akrab.


Tapi Aisha pun terlalu khawatir untuk mengatakan yang sejujurnya, ia khawatir setelah semuanya terungkap justru akan merusak hubungan baik antara keduanya, juga karena merasa sepertinya memang tak perlu mengatakannya pada Faris karena apapun yang terjadi, seberapa banyak pun yang mencintai dirinya, saat ini hanya suaminyalah yang berada di hatinya, hanya suaminyalah yang berhak penuh atas dirinya, bukan orang lain.


Setelah mengeringkan rambutnya Aisha pun memilih merebahkan tubuhnya yang juga lelah, menyusul suaminya yang mungkin sudah berkelana ke alam mimpinya.


“Maafin Ica ya Bang, Ica terlalu takut buat bilang semuanya. Semoga Abang nggak marah sama Ica.” Aisha berujar dengan lirih sambil mengusap lembut kepala suaminya yang masih tertelungkup, lantas ia pun memejamkan netranya dengan tubuhnya yang menghadap ke suaminya.


***

__ADS_1


Drrtt … drrtt … drrtt ….


Ponsel Faris yang tergeletak di samping bantal beberapa kali bergetar, namun sama sekali tak mengusik tidur sang pemiliknya.


Aisha yang memang merasa baru saja memejamkan matanya sontak kembali terbangun, dilihatnya ponsel yang tergelak di atas kasur itu, ia pikir ponsel itu berdering karena sebuah panggilan, ternyata karena sebuah alarm.


“Bang ….” Aisha mengguncang-guncangkan pelan tubuh Faris yang masih belum berubah dari posisi awalnya.


Faris hanya menggeliat membuat posisinya menjadi terlentang, namun dengan mata yang masih terpejam.


“Abang … ngapain bikin alarm jam segini?” Aisha bertanya karena memang ini masih cukup siang, waktu solat asar pun belum tiba.


Faris langsung membuka matanya saat mendengar pertanyaan Aisha, ia bahkan langsung beranjak dari atas ranjang.


“Abang ada pertemuan sama kolega-kolega di kantor buat rencana proyek yang di Ankara sore ini.” Faris berujar sambil melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


“Nggak sama Pak Toni?” Aisha kembali bertanya sebelum Faris melangkah masuk.


“Ini proyek besar, harus Abang sendiri yang turun,” jawab Faris benar-benar masuk ke kamar mandi.


Aisha pun turut bangkit dari kasurnya, meski tubuhnya merasa sangat tidak nyaman dan netranya yang begitu berat tapi ia harus tetap melayani suaminya dengan baik. Ia lantas melangkah menuju ke lemari dan menyiapkan pakaian yang akan suaminya kenakan. Setelah semuanya siap, dengan telaten Aisha pun membantu Faris memasang dasinya.


Faris terenyuh melihat istrinya yang begitu sabar melayaninya meski akhir-akhir ini sikapnya terhadap sang istri tak sehangat biasanya. Aisha bahkan tak mengeluhkan apapun dan tetap tak melupakan kewajibannya sebagai seorang istri untuk memenuhi segala kebutuhan suaminya. Faris bukan tak tahu jika Aisha pasti menyimpan banyak tanya terhadap perubahan sikapnya, tapi untuk sekarang egonya masih berkuasa membuatnya masih merasakan kecewa atas semuanya.


“Abang berangkat, Assalamualaikum.” Faris berpamitan setelah lebih dulu mengecup kening Aisha dan menyalaminya.


“Waalaikumsalam, hati-hati ya Bang.” Aisha melepas keberangkatan suaminya hingga ke gerbang utama, ia baru kembali masuk setelah mobil yang dikendarai Roger bersama suaminya sudah menghilang di balik gerbang.


“Huek … huek ….” Aisha langsung berlari ke kamar mandi yang berada di ujung tangga karena hanya kamar mandi itu yang terdekat dengan posisinya saat ini.


Bi Asih yang memang tengah di dapur sontak menyusul ketika melihat Nyonya mudanya tampak hendak mengeluarkan isi perutnya, dipijatnya perlahan tengkuk Aisha yang masih berjongkok di depan wastafel.


“Badan Nyonya anget, apa Nyonya sedang tidak enak badan?” Bi Asih bertanya ketika Aisha sudah cukup membaik.


“Sepertinya saya masuk angin Bi, mungkin masih jet lag ya.”


“Ya sudah Bibi buatkan bubur dan wedang jahe dulu buat anget-anget badan.”


Bi Asih segera kembali ke dapur setelah mendapati anggukan dari Nyonya mudanya, sedangkan Aisha memilih kembali beranjak ke kamarnya.

__ADS_1


Aisha melaksanakan solat asarnya lebih dulu sambil menunggu Bi Asih membawakan buburnya. Ia pun tak lupa untuk menelan obat anti mual yang sudah tersedia pada kotak P3K nya, tentunya dengan bantuan Bi Asih karena saat ini energinya benar-benar habis terkuras setelah mengeluarkan seluruh isi perutnya.


“Makasih ya Bi.” Aisha berucap dengan tulus ketika Bi Asih hendak beranjak dari kamarnya.


“Kalo Nyonya membutuhkan apa-apa tekan saja belnya, nggak usah repot-repot ke bawah.” Bi Asih berpesan sebelum benar-benar keluar.


***


Aisha menggeliatkan tubuhnya ketika dirasa hari sudah beranjak semakin sore, ia keluar ke arah balkon kamarnya untuk menghirup udara segar sekaligus menikmati senja kesukaannya, untuk beberapa saat ia hanyut dalam rona jingganya hingga kumandang adzan membuyarkan lamunannya. Aisha kembali melangkah masuk untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Selesai dengan mushafnya Aisha melihat ponselnya, tak ada notifikasi apapun dari suaminya, ia pun kembali melanjutkan tilawahnya hingga suara adzan isya berkumandang.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam waktu Indonesia bagian barat, tapi tak ada tanda-tanda akan kepulangan suaminya, melirik ponsel pun masih tetap sama hasilnya, tak ada notifikasi apapun di sana.


Sebenarnya tubuhnya teramat lelah, ia ingin segera merebahkan diri kemudian memejamkan netranya. Tapi semua rasa itu ditepisnya karena ia harus menunggu kepulangan suaminya.


Aisha memilih untuk menunggu di ruang tamu lantai dasar agar ketika pintu terbuka ia mengetahuinya. Dihidupkannya layar televisi yang terdapat di sana untuk menemani dirinya sekaligus mengusir kantuknya.


“Nyonya kenapa belum tidur? Ini sudah larut. Tidurlah, kondisi Nyonya sedang tidak baik.” Bi Asih yang hendak beranjak ke paviliunnya menghentikan langkahnya ketika melihat Nyonya mudanya justru menyalakan televisi selarut ini.


“Aisha udah enakan kok Bi, mau nunggu Abang pulang dulu,” jawabnya yang segera diangguki Bi Asih.


Jarum jam yang menggantung terus saja bergerak maju, semakin lama mata Aisha semakin tak bersahabat, ia pun menyerah dan akhirnya memejamkan matanya dengan meringkuk di atas sofa karena tetap ingin menunggu suaminya.


Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka, Aisha yang memang tidak tenang dalam tidurnya sontak langsung membuka mata dan menegakkan tubuhnya. Dan benar saja, itu adalah suaminya.


“Roger! Abang kenapa?” Aishaterpekik panik dan langsung bangkit saat melihat Roger memapah suaminya yang setengah sadar dengan penampilannya berantakan tak seperti Faris yang dikenalnya.


Deg ... Roger benar-benar bingung untuk menjawabnya, sengaja ia pelankan langkahnya dikira Nyonya mudanya sudah terlelap, ternyata memang naluri seorang istri memang tak boleh disepelekan, Nyonya mudanya bahkan sampai menunggu di ruang tamu demi memastikan suaminya kembali.


“Em … Tuan mabuk, Nyonya.” Roger berujar dengan hati-hati.


Jleb! Seketika Aisha menghentikan langkahnya, hatinya benar-benar sakit mendengar jawaban itu, netranya memanas memaksa air matanya berjatuhan. Istri mana yang tidak hancur hatinya saat melihat suami kebanggaannya pulang dalam keadaan mabuk seperti itu? Apalagi Aisha tahu jika suaminya bukanlah pria dengan latar belakang seburuk itu.


Aroma alkohol yang begitu menyengat langsung menyeruak ke indra penciuman Aisha saat ia mendekat untuk membantu Roger memapah suaminya. Aisha yang memang sangat tidak menyukai baunya mati-matian menahan mualnya karena bau minuman terkutuk itu benar-benar memenuhi rongga hidungnya.


***


Bersambung ...

__ADS_1


Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2