Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Lucunya istriku


__ADS_3

Happy reading ...


Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)


_______


Tiittt tiitt tiittt …


Suara seseorang yang mencoba memasukan kombinasi angka pada pintu membuat Maya beranjak dari kegiatannya untuk melihat siapa gerangan yang pulang.


“Udah pulang Kak?” tanya Maya saat mendapati putra sulungnya yang tengah melepas sepatunya dan berganti dengan sandal rumahan.


“Eh iya Bu, Assalamualaikum,” ucap Faisal segera meraih punggung tangan Maya dan mengecupnya. “Tadi beres urusan di kantor Isal langsung ke kampus, makanya nggak sempet pulang dulu,” sambungnya yang segera diangguki sang ibu.


“Kakak udah makan malem?” Maya meraih tas kerja putranya yang langsung mendapat gelengan dari Faisal. “Udah solat isya?” tanyanya lagi.


“Alhamdulillah udah Bu, tadi di jalan pulang.” Faisal pun menyusul langkah ibunya yang tampak menuangkan segelas air dan menyerahkan kepada dirinya.


Dalam sekejap gelas itu sudah kembali kosong karena isinya berpindah melintasi kerongkongan Faisal.


“Aish dimana Bu? Udah pulang kan dia?” tanya Faisal karena tak mendapati batang hidung adiknya.


“Udah kok, tapi lagi keluar lagi tadi sore.”


“Kemana?”


“Menyelesaikan yang seharusnya diselesaikan.”


Faisal pun hanya mengangguk-angguk seolah paham dengan arah pembicaraan sang ibu, “Sama Faris?” tanyanya memastikan. Maya pun mengangguk di tengah kegiatannya.


Tanpa menjawab Faisal menyusul sang ibu, membantunya membereskan barang belanjaan hasilnya dan sang adik tadi siang yang tampaknya belum sempat dibereskan.


“Semoga Aish bisa kembali menemukan kebahagiaannya,” tukas Faisal mencoba mempercayai adik iparnya kali ini.


Mendengar itu pun membuat Maya menarik kedua sudut bibirnya, “Mudah-mudahan ya Kak,” tukasnya memebelai lembut kepala putranya.


“Kakak pulang ke apartemen malem ini?” yang dimaksud Maya adalah apartemen milik putranya sendiri.Faisal menoleh lantas menggeleng, “Isal mau temenin Ibu aja di sini, kan Aish lagi nggak ada.”

__ADS_1


Maya kembali mengulas senyumnya, “Ibu baik-baik aja kok Kak, kalo banyak kerjaan Kakak pulang aja.”


“Semuanya nggak ada yang lebih penting dari waktu kebersamaan kita buat Isal.”


Lelaki yang baru saja menemukan kembali ibu kandungnya itu tampak tak ingin melewatkan waktu barang sedikitpun bersama wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini, agaknya ia ingin menebus waktu yang sudah puluhan tahun membuatnya merasa tak memiliki siapa-siapa.


_____


Hanya butuh beberapa menit saja Faris dan Aisha sudah tiba di sebuah gedung bertingkat yang tampak berjajar manekin-manekin sebagai peraga dari busana dengan berbagai macam model dan gaya. Keduanya berjalan beriringan memasuki gedung yang tampak paling terang itu dengan diikuti oleh Roger di belakangnya.


“Selamat malam,Tuan dan Nyonya. Ada yang bisa dibantu?” Seorang pramuniaga menghampiri keduanya dan menyapa mereka dengan ramah.


“Selamat malam, kami mencari setelan pasangan untuk ke pesta Mbak, boleh tolong direkomendasikan yang paling cocok dengan kami?” ujar Faris dengan bahasa Turki yang fasih, bahkan membuat Aisha yang di sampingnya sempat melongo karena pasalnya terakhir kali mereka ke Istanbul Faris masih sedikit kesulitan dengan bahasa di sini.


“Baik, Tuan. Mari kami tunjukkan.”


Keduanya pun turut mengikuti sang pramuniaga yang berjalan menuju sebuah ruangan yang sudah dipenuhi oleh manekin-manekin yang terjajar rapi di sana.


“Kalau boleh tahu konsep acaranya seperti apa ya Tuan?”


“Baik, sebentar biar kami tunjukkan koleksi kami musim ini.” Pramuniaga itu pun tampak melengang diikuti oleh rekan-rekannya.


“Abang ngapain repot-repot ke sini segala sih? Baju Ica kan banyak di apartemen.” Wanita yang sejak tadi Faris genggam dengan erat itu tampak protes dengan sedikit berbisik.


“Kita kan cari yang couple Sayang.”


“Ini bukan mau ke kondangan kayak di Surabaya yang harus pake couple yah Bang.”


“Emang orang pake couple kalo mau kondangan aja? Nggak dong Sayang … konsep couple itu untuk menunjukkan bahwa kita seorang pasangan.”


“Tanpa pake couple pun semua orang udah pasti nyangka kita pasangan kalo Abang terus pegangin Ica kayak gini,” tukasnya mengangkat sebelah tangannya yang masih berada di genggaman Faris sejak pertama mereka keluar.


“Ica udah kayak jompo tau dipegangin terus,” gerutunya karena Faris benar-benar tak membiarkan genggaman itu terlepas.


“Ica itu terlalu berharga, jadi takut ilang,” tukas Faris tetap tak ingin kalah.


Aisha segera memalingkan wajahnya, tak ingin rona yang kentara sampai tertangkap oleh suaminya. Sudut bibirnya tampak sedikit terangkat, menciptakan lengkung indah yang sudah lama sekali tak terlihat begitu manis di mata Faris.

__ADS_1


Beruntung beberapa pramuniaga segera  kembali dengan mendorong beberapa gantung pakaian yang akan mereka pamerkan kepada kliennya.


Setelah beberapa pasang pakaian tak lolos pemilihan seorang Faris, akhirnya sebuah dress panjang berwarna navy yang tampak elegan menjadi pilihannya, ia pun mengambil kemeja dan jas yang senada seperti keinginannya.


Mendapati dress yang suaminya pilihkan, Aisha merasa harus membenahi riasannya agar senada dengan tema dress yang kini ia kenakan. Faris sendiri memilih untuk menunggu di sofa yang sama sembari memainkan ponselnya.


Ketika Aisha keluar dari kamar ganti, rupanya sudah ada Roger yang menyusul suaminya, pikirnya mungkin lelaki itu merasa bosan karena terlalu lama menunggu sang majikan yang tak kunjung keluar.


Aisha keluar dengan tampilan yang sempurna, membuat Faris tentu saja terpana karena merasa sang istri berkali lipat lebih cantik.


“Ayo Sayang, udah kan?” tanya Faris yang segera bangkit untuk menutupi keterpanaannya.


Mendengar itu sontak membuat air muka Aisha berubah seketika, ia pikir suaminya akan memuji penampilannya yang sengaja berdandan setelah sekian lama mereka tidak bersama.


Tanpa menjawab, Aisha melangkah dengan bergegas sembari mencebikkan bibirnya. “Semangat banget yang mau ketemu perawan,” cibir Aisha yang langsung berjalan mendahului suami dan asistennya.


Sejenak Faris menghentikan langkahnya, melihat dari gelagatnya sepertinya sang istri kini tengah cemburu.


“Kok gitu sih ngomongnya, Sayang?” ujarnya menyamai langkah Aisha. sedang yang ditanya hanya menggedikkan bahunya tanpa menoleh.


Faris segera meraih jemari sang istri, membawanya ke dalam genggamannya, “Nggak usah cemburu sama perawan, yang penting kan Ica Abang yang merawanin,” tukas Faris tanpa merasa bersalah.


Aisha sontak saja membulatkan netranya mendengar kalimat vulgar sang suami. Diliriknya Roger masih dengan wajah datarnya yang entah sengaja berpura-pura tak mendengar atau sebenarnya memang mendengar namun terlalu segan untuk sekedar menanggapi perbincangan keduanya.


“Saya tidak mendengar apa-apa, Nyonya,” tukas Roger saat Aisha menoleh ke arahnya. Aisha pun hanya bisa tersenyum kikuk berharap apa yang dikatakan Roger adalah benar.


“Abang ish kalo ngomong!” bisik Aisha mendaratkan sebuah cubitan di pinggang suaminya lantas mempercepat langkahnya dan segera masuk ke dalam mobil tanpa menunggu sang suami.


“Lucu banget sih istri gue,” kekeh Faris gemas yang hanya bisa didengar dirinya sendiri.


_____


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2