
“Tasya ….” Faris melambai ke arah gadis kecil yang tampak baru keluar dari kelasnya ketika bel tanda istirahat berbunyi.
“Om Faris ….” Sontak Tasya langsung menghambur memeluk Faris yang masih berdiri di depan mobilnya.
“Uhh … gimana sekolahnya? Ada yang nakal nggak?”
“Nggak kok Om, semua temen-temen Tasya baik,” ujar gadis itu masih enggan melepas pelukannya.
“Om Faris kemana aja? Tasya kangen tau Om.”
Faris merenggangkan pelukannya dan menggendong Tasya ke taman bermain untuk bergabung bersama teman-temannya.
“Om sibuk kerja Sayang … gimana di rumah Om betah nggak?”
“Betah banget Om, semuanya baik-baik ke Tasya, apalagi Tante cantik. Kemaren aja Tasya diajarin solat sama Tante cantik, kata Tante cantik solat itu wajib dilaksanakan oleh orang muslim sehari lima kali.” Gadis it uterus saja berceloteh menceritakan apa yang di alaminya.
Seketika Faris terdiam, ia teringat ucapannya pada sang istri tempo hari, tidak seharusnya dirinya berbicara seperti itu pada Aisha, padahal Tasya bilang Aisha begitu menyayanginya.
“Tasya masuk lagi ya ke kelas, Om Faris tungguin Tasya belajar. Nanti kita pulang bareng.” Faris kembali menggiring Tasya dan menyerahkannya pada gurunya.
Seketika guru yang Faris titipi untuk mengajak masuk Tasya mematung sambil memandanginya, membuat Faris merasa canggung sendiri.
“Gusti … mimpi apa aku semalam?” Wanita yang Faris ketahui sebagai gurunya Tasya justru malah bergumam sendiri.
“Dokter Faris Zein Abdullah ya?” tanya guru itu tetap tak mengalihkan pandangannya.
Faris sontak mengangguk, “Ibu tau nama saya?” Faris malah balik bertanya.
“Tentu saja Dokter, wajah Dokter saja selalu jadi trending di majalah kok, masa saya nggak tahu. Saya penggemar berat Dokter Faris loh,” tutur wanita itu dengan berbinar.
“Ah terima kasih Bu.” Faris hanya berujar dengan canggung, ia tak menyadari jika dirinya akan sepopuler itu, bahkan hingga di kalangan ibu-ibu.
“Saya permisi Bu.” Faris kembali berujar dan pamit untuk beranjak ketika mendapati wanita itu yang masih saja mematung di tempatnya.
“Ah iya Dokter, hati-hati ….” Guru itu setengah berteriak karena Faris yang sudah semakin menjauh.
__ADS_1
“Jangan-jangan Ica gini lagi yah kalo ketemu orang ganteng.” Ia menjadi terkekeh sendiri mengingat guru tadi yang bahkan tak berkedip memandanginya.
“Ah iya aku lupa chatt ke Ica kalo aku yang jemput Tasya.” Faris langsung saja merogoh ponselnya dan mengetik pesan untuk istrinya. Awalnya ia hendak menelpon dan mendengar suara istrinya, hanya saja sepertinya Aisha masih belum memaafkannya, pesannya saja ternyata baru dibacanya.
***
Ayla langsung membanting tubuhnya ke atas pembaringan begitu sampai di kamarnya, menangis sesenggukan di bawah bantal. Baba dan Maminya entah sudah kemana sejak Faisal mengantarnya mengantarnya pulang.
Semua kalimat yang Faisal lontarkan terasa menjadi cambukan untuknya, apa benar yang dia rasakan saat ini adalah cinta? Karena saat bersama Brandon dulu dia bahkan tak pernah merasakan hal seperti ini.
Pikirannya kembali berkecamuk, kemana harga dirinya sebagai seorang wanita? Dia bahkan sudah menjatuhkan harga dirinya sendiri sejatuh-jatuhnya di hadapan Hasan dengan perbuatannya terhadap Aisha. dan kenapa juga ia sampai harus masuk terlalu jauh dalam kehidupan Hasan? Bukankah dia tipe orang yang tak terlalu peduli dengan urusan orang lain?.
Ayla memilih untuk merendam dirinya dalam bathup, sekujur tubuhnya benar-benar terasa panas, bukan karena suhu di kamarnya, melainkan suasana hati yang semakin bergejolak berperang dengan logikanya.
Ia mulai membayangkan kemungkinan-kemungkinan atas perbuatannya, sudah dipastikan setelah ini pastilah Hasan akan segera menjauh dari kehidupannya, bahkan mungkin ia akan merasa jijik jika mengingat pernah mengenal wanita serendah dirinya.
Ayla benar-benar butuh tempat untuk mencurahkan segala kegundahannya saat ini, baru kali ini merasa sangat gelisah terhadap masalah yang tengah dihadapinya, ia butuh seseorang yang mengerti keadaannya, yang memahami hatinya, seperti Faisal. Ya, ketika bersama kakaknya dan mencurahkan segala yang berkecamuk dalam pikirannya membuatnya sangat tenang. Tapi di rumah ini, tak ada satu pun yang peduli terhadapnya, mereka sibuk dengan dunia mereka masing-masing.
Faisal selalu bilang ‘seberat apapun masalah yang kita hadapi, pasti ada jalan keluarnya. Allah tidak semata-mata memberikan hamba-Nya ujian melainkan sesuai dengan kesanggupannya’.
Ayla kembali memabringkan tubuhnya di atas pembaringan, tubuhnya terasa sangat lelah, begitupun dengan hati dan pikirannya.
“Kak Isal ….” Ayla kembali terisak mengingat jika bersama kakaknya mungkin ia akan merasa jauh lebih baik.
Ayla tak kunjung keluar dari kamarnya hingga ia terlelap cukup lama, bahkan hingga malam semakin pekat beranjak. Ia baru terjaga ketika perutnya mulai keroncongan, tangisnya sejak tadi benar-benar menguras tenaganya.
Namun lihatlah, Ayla mengurung diri selama ini pun tak ada yang berusaha mencarinya, Baba dan Maminya bahkan tak peduli apa yang putrinya alami.
“Lihatlah Kak … apa ini yang Kakak bilang berubah? Mereka tetap sama, kita tetap saja seperti orang asing yang tinggal dalam satu atap.” Ayla bergumam seolah berkata pada Faisal yang mengingatkan jika setidaknya Ayla harus menghargai Baba dan Maminya yang berusaha meluangkan waktu untuknya.
***
“Sepertinya di depan macet parah, Nyonya.” Roger berujar ketika melihat mobil di depannya sama sekali tak bergerak.
“Padahal arus balik malah kosong banget ya.” Aisha menimpali saat menoleh keluar jendela dan mendapati arus balik yang justru sangat lengang.
__ADS_1
Tiba-tiba mata Aisha berbinar ketika mendapati kedai penjual rujak buah di sebrang jalan, sudah terbayang dalam benaknya bagaimana segarnya menyantap rujak itu sambil menunggu jalanan yang macet. Senyumnya tersungging seketika, apa mungkin ini yang dinamakan dengan ‘nyidam’ seperti yang kebanyakan ibu hamil rasakan.
“Ger, saya mau beli rujak dulu di sana yah, sambil nunggu macet.” Aisha berujar seraya menunjuk sebuah kedai rujak di sebrang jalan di sebelah restoran.
“Biar saya saja yang belikan, Nyonya.” Roger menawarkan diri dan hendak melepas sabuk pengamannya, namun Aisha keburu mencegahnya.
“Nggak apa-apa saya aja, nanti kalo tiba-tiba macetnya udahan gimana? Saya kan masih takut kalo harus bawa mobil,” tolak Aisha langsung membuka sabuk pengamannya.
“Nyonya yakin?”
Aisha mengangguk dan langsung membuka pintu mobilnya, “Iya … kamu tunggu aja di sini. Ntar kalo tiba-tiba jalan, kamu tunggu aja di café itu.” Aisha menunjuk sebuah café yang terlihat cukup ramai dipadati pengunjung.
Dari kejauhan tampak sepasang pria dan wanita yang tengah menggendong seorang balita baru saja keluar dari restoran yang berdampingan dengan café yang Aisha tunjuk tadi.
Tinnn … tiba-tiba sebuah mobil yang melaju kencang dari arus balik membunyikan klaksonnya yang begitu memekakan telinga, pria yang berjalan bersama wanitanya yang tengah menggendong balita bahkan sampai menutup telinga balita itu.
Brugh … seketika suara orang berteriak saling bersahutan setelah mendengar bunyi seperti sesuatu yang terhantam benda keras tepat setelah klakson yang memekakan telinga itu berbunyi.
Roger yang melihat orang-orang berkerumun memutuskan untuk keluar dan melihat apa gerangan yang terjadi, pikirannya langsung melayang pada Nyonya mudanya.
Pria dan wanita yang tengah menggendong balita yang ternyata adalah Azka, Karina, dan Rafa pun segera melangkah cepat menghampiri kerumunan itu yang terhalang oleh kemacetan.
“Itu kan pengawal yang waktu itu nganter Aisha pas di mall.” Azka bergumam ketika melihat Roger yang tergopoh berlari ke arah kerumunan itu.
Seketika Azka menghentikan langkahnya, membuat Karina menatapnya penuh tanya.
“Aisha …,” gumamnya kembali seraya berpikir pastilah saat ini yang Roger antar juga Aisha, dan kenapa juga Roger harus tergopoh ke arah kerumunan jika itu tak ada hubungannya dengan Aisha.
Azka langsung berlari menerobos kerumunan itu, meninggalkan Karina dan Rafa yang masih terpaku di tempatnya.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...