
Senyum tak henti-hentinya pudar dari wajah sejoli yang tengah di mabuk asmara, dengan jemari yang saling bertautan, Faris dan Aisha berjalan bersisian menuju garasi rumahnya untuk mengambil motor yang akan menemani hari mereka.
“Mau pakai mobil yang mana Tuan?” seorang penjaga dengan sigap menyambut kedua majikannya yang terlihat amat gembira.
“Oh nggak Pak Salim, hari ini kita mau naik motor aja,” tolak Faris tersenyum sopan.
“Baiklah, mau motor yang mana Tuan? Biar saya siapkan.”
“Nggak usah Pak, biar saya aja,” tutur Faris yang segera diangguki segan oleh Pak Salim, salah satu pegawai di rumahnya.
“Sayang, tunggu sini ya,” lanjut Faris yang segera diangguki oleh Aisha.
Tak selang berapa lama, Faris keluar dengan menaiki *Royal Enfield-*nya dengan gagah, membuat Aisha seketika terpana.
“Segitu gantengnya Abang ya Ca?” tutur Faris sambil menyisir rambut dengan jarinya sok cool, membuyarkan tatapan Aisha yang tiada kedip.
Aisha hanya menyebikkan bibirnya membuat Faris tergelak.
“Abang beli motor baru?”
“Nggak kok Sayang, ini emang jarang Abang pake.”
“Terus ninja yang biasa Abang pake kuliah?”
“Itu juga masih ada kok. Motor itu kan saksi pertemuan kita dulu, motor yang pernah boncengin Ica. Jadi nggak akan Abang kemana-kemanain.”
“Idih lebay. Itu namanya pemborosan tau, mubadzir.”
“Ya Allah, niatnya biar romantis malah dibilang lebay. Itu namanya menjaga kenangan tau,” jawab Faris dengan gaya merajuk menyebikkan bibirnya mengikuti gaya Aisha.
Aisha sontak tergelak lalu mengusap-usap lembut rahang tegas suaminya yang sedang mengenakan helmnya. Lalu ia pun meraih dan memakai helm yang Faris berikan untuk dirinya.
“Abang, bantuin.” Aisha terlihat kesulitan memasang klip pengait helm di bawah dagunya.
“Ih modus, apa lagi manja nih ceritanya?”
“Apaan modus, orang Ica beneran paling nggak bisa pake helm, Abang.”
“Dih bilang aja modus, nggak apa-apa kok,” tutur Faris bersikeras menggoda istrinya.
Tiba-tiba Aisha berteriak keras. “Pak Salim ….”
“Mau ngapain?” tanya Faris bingung.
“Iya Nyonya, sebentar ….”
“Pak Salim bisa tolong pakein ….” Teriakan Aisha terhenti karena Faris segera membekap bibir mungil itu.
“Sst … ngambekan nih ya,” tutur Faris segera meraih pengait helm di bawah dagu Aisha lalu memasangkannya.
“Lagian Abang sih ,” tutur Aisha lagi-lagi menyebikkan bibirnya, namun segera Faris obati dengan kecupan lembutnya.
“Iya Nyonya ada yang bisa Bapak bantu?” tiba-tiba Pak Salim menghampiri keduanya, membuat keduanya sontak merasa gugup karena takut Pak Salim sempat melihat adegan yang baru saja mereka lakukan.
“Oh nggak jadi Pak, maaf ya,” tutur Aisha lembut yang segera diangguki ramah oleh Pak Salim sebelum dia berbalik kembali meninggalkan kedua majikannya.
“Ya udah ayo naek,” ajak Faris membuat Aisha segera menduduki sisa jok kosong di belakangnya.
__ADS_1
“Pegangannya harus dimana nih? Perut atau pundak?” tutur Aisha ketika Faris mulai menghidupkan mesin motornya.
“Pundak aja Sayang.”
Dan benar saja Aisha meletakkan kedua tangannya di Pundak Faris.
“Sayang! Dikira Abang tukang ojek.” Faris segera membenarkan pegangan Aisha agar beralih ke perutnya, memandunya untuk memeluk erat.
Aisha sontak tergelak melihat raut kesal Faris dari kaca spion yang dapat dilihatnya.
***
Gus Hasan mulai merasakan hawa dingin menelusup tubuhnya, tapi justru ia malah melepaskan jaket jeans-nya, memakaikan pada gadis yang terduduk di sampingnya.
Ayla mendongak, menatap Gus Hasan bingung. Memang benar saat ini ia merasa hawa
dingin menembus kulitnya. Mungkin karena dress yang digunakannya malam ini hanya berlengan pendek.
“Pakai saja, untuk menutupi tubuh indahmu. Saya akan pulang. Kamu pulanglah, panggil
pengawalmu. Sudah larut, nanti orang tuamu mencemaskanmu.” Gus Hasan meraih tasnya hendak pergi.
“Mereka nggak akan peduli, aku nggak pulang semalaman juga mereka nggak akan sadar,” tutur Ayla sendu menghentikan langkah Gus Hasan.
“Satu-satunya orang yang peduli mungkin cuma nenek. Itu pun jika aku sedang di Yogya,” lanjut Ayla dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Membuat Gus Hasan mengurungkan langkahnya, justru malah kembali mendudukan dirinya.
“Kamu orang Yogya?” tanya Gus Hasan sekenanya.
Gus Hasan paling tidak sanggup melihat wanita menangis, ia tak mengerti bagaimana caranya menenangkan wanita yang menangis.
Ayla menghembuskan napasnya pelan, menghapus air mata di sudut matanya, lalu kembali menoleh pada Gus Hasan.
“Mereka melakukan semua itu agar putrinya bisa hidup bahagia dengan layak. Banyak anak di luaran sana yang justru harus banting tulang untuk bertahan hidup sendiri. Apapun yang kita miliki tidak akan pernah merasa cukup jika kita tidak pandai bersyukur.”
“Tapi kebahagiaan nggak bisa diukur hanya dengan materi,” tutur Ayla memprotes Gus Hasan.
“Itu menurutmu yang memang sudah punya segalanya. Bayangkan jika keadaanmu seperti anak-anak di luaran sana yang tak seberuntung kamu, pasti keluhanmu sudah jelas akan berbeda dengan saat ini. Itulah sifat manusia, tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang sudah dimilikinya.”
Gus Hasan menatap lurus air yang terlihat tenang dari atas jembatan, kembali melanjutkan kalimatnya tanpa menoleh pada sang gadis yang terlihat sedang mengatur perasaannya.
“Anggap saja masalahmu saat ini adalah sebuah kekurangan dari hidupmu yang selalu berkecukupan. Dunia ini sifatnya hanya sementara, tidak ada yang kekal apalagi sempurna.”
‘Aku terharu ada yang peduliin aku kayak gini. Tuhan jangan ambil dia, biarkan dia menjadi salah satu bagian dari hidupku’
Baru kali ini Ayla merasa ada yang peduli terhadap dirinya, padahal mereka baru saja kenal.
***
Setelah perjalanan yang cukup mengesankan menggunakan motor ala Dilan dan Milea, keduanya sampai di salah satu mall terbesar tempat biasa mereka belanja.
Karena hari semakin siang dan waktu solat juga telah tiba, mereka memilih untuk melaksanakan solat terlebih dahulu sebelum akhirnya belanja beberapa kebutuhan rumah tangga yang diperlukan.
Keduanya berkeliling mendorong trolly melewati stand-stand yang berjajar. Mulai dari memilih aneka sayur, daging, ikan, buah-buahan juga bumbu-bumbu yang dibutuhkan untuk stok. Tak lupa kebutuhan keduanya juga mereka pilih bersama-sama.
Sebenarnya itu adalah tugas para pelayannya, namun Aisha hanya ingin menikmati waktu berbelanja berdua bersama sang suami yang notabene sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai dokter juga sebagai CEO pemegang perusahaan kedua orang tuanya.
Setelah kurang lebih satu jam, mereka selesai dengan acara belanja dan pembayaran. Karena mereka tidak membawa mobil, maka Faris dengan segera menelepon pelayan di rumah untuk mengambil belanjaan mereka.
__ADS_1
Sedangkan keduanya beralih ke food court yang tersedia di mall tersebut untuk mengisi perut yang mulai keroncongan karena acara belanja yang cukup melelahkan.
Hari sudah semakin sore, hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk pulang.
“Abang, Ica ke toilet dulu ya,” tutur Aisha ketika keduanya sudah sampai di lobi mall hendak keluar.
“Mau Abang temenin?”
“Ih nggak usah, Abang tunggu aja di depan,” jawabnya yang segera diangguki oleh suaminya.
Faris memmilih untuk menunggu Aisha di atas motornya, menikmati pemandangan jalanan kota Surabaya yang masih saja padat, padahal hari sudah semakin sore.
“Hey anak manis, kenapa nangis Sayang?” keluar dari toilet, Aisha menemukan anak perempuan berkisaran 5 tahunan sedang menangis di lorong yang dilaluinya menuju lobby.
Perlahan anak itu menurunkan tangan yang menutupi wajahnya dan menghentikan tangisannya, menatap Aisha lamat-lamat dan tiba-tiba memeluk Aisha yang sudah berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan anak itu.
“Tante, tolong Tasya,” ucapnya mengiba, lalu kembali menangis dalam pelukan Aisha.
“Ya ampun Tasya ….” Tiba-tiba seorang wanita dengan dandanan modis menghampiri Aisha dan anak kecil di pelukannya.
“Makasih ya Mba, sudah menemukan anak saya,” ucapnya terlihat tergesa-gesa.
“Sama-sama Mba. Setelah dari toilet saya nggak sengaja melihat Tasya menangis tadi.”
“Maaf ya saya sedang buru-buru Mba, mungkin lain waktu kita bisa bertemu lagi. Sekali lagi terima kasih ya Mba.”
Wanita itu melangkah dengan tergesa sambil menggendong anaknya, meninggalkan Aisha yang masih mematung di tempatnya, menatap heran kepergian wanita itu.
Tersadar dari lamunannya, Aisha segera melangkah keluar dari mall, ia lupa jika suaminya sudah menunggu.
Aisha melebarkan senyumnya saat melangkah keluar dari pintu masuk dan menemukan suaminya yang tampak fokus menatap jalanan dengan bertengger di atas motornya.
“Dilanku,” gumam Aisha setelah akhirnya melangkah menghampiri suaminya dengan senyum yang selalu menemani langkahnya.
“Ketiduran di toilet Sayang?” tanya Faris saat istrinya sudah berada di depannya, menciptakan satu cubitan yang mendarat sempurna di pinggangnya.
“Tadi tuh Ica nemu anak kecil lagi nangis di lorong deket toilet, eh ternyata dia lagi nyariin ibunya.”
“Terus udah ketemu sama ibunya?” tanya Faris yang langsung diangguki Aisha.
“Nah yang bikin Ica heran tuh ya Bang, cewe tadi padahal pake high heels yang tingginya tuh kayaknya nggak kurang dari sepuluh centi deh, tapi dia bisa jalan cepet banget sambil gendong anaknya. Ica liatnya aja ngeri,” tutur Aisha panjang lebar sambil menggidikkan bahu.
“Itulah the power of emak-emak.” Keduanya tergelak bersama sebelum akhirnya melajukan motor dan kembali membelah jalanan kota Surabaya yang masih tetap ramai.
Sepanjang jalan, mereka tak henti-hentinya saling melempar tawa karena percakapan ringan yang menghiasi perjalanan mereka.
Hingga tiba-tiba di jalanan yang cukup lengang, sebuah BMW hitam yang melaju sangat kencang menyalip keduanya, membuat Aisha bergidik ngeri dan semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami.
“Astaghfirullah, itu orang nggak sayang nyawa apa ya?” gumam Faris yang bisa di dengar oleh Aisha.
“Mungkin lagi buru-buru Bang.”
Tiba-tiba beberapa meter dari jarak Faris dan Aisha, terdengar sebuah dentuman yang cukup keras seperti suara sesuatu yang saling bertabrakan.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...