Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Berkolaborasi


__ADS_3

Jangan lupa bagikan novel ini di beranda fb, ig, twitter atau pun whatsapp kalian biar viral ya gaesss, hihihi ...


***


Pagi ini setelah membersihkan diri dan menunaikan solat subuh, Aisha yang berniat hanya sekedar untuk rebahan ternyata malah kembali memejamkan netranya di atas sofa ruang televisi kamar hotel mereka. Aisha merasa seperti baru saja memejamkan matanya ketika sayup-sayup mendengar alarm dari ponselnya berbunyi, mungkin efek karena selamam begadang untuk membuka kacang-kacang yang akan mereka jadikan bumbu untuk pecel.


Berbeda dengan suaminya yang pagi ini benar-benar semangat bahkan justru ia sudah sibuk di dapur untuk membuat pecel yang diidam-idamkannya sejak semalam. Tentunya dengan ditemani Roger yang sudah memakai pakaian lebih santai dibandingkan dengan yang terakhir Faris lihat semalam ketika ia mengundangnya hanya untuk mengupas kacang bersama istrinya.


“Ger terus ini diapain lagi nih?” Faris bertanya ketika sayur-sayur yang tengah ia rebus sudah berubah warna.


“Menurut dalam video ini sih langsung ditiriskan saja Tuan.” Roger menjawab dengan mata yang masih sibuk memperhatikan setiap kegiatan dalam video yang tengah ia tonton. Sejak tadi mereka memang memasak berbekal nonton streaming tentang tutorial membuat pecel.


“Terus bumbunya gimana?” Faris kembali bertanya ketika semua sayuran sudah matang dan siap untuk disajikan.


“Langsung di blend aja semua bahannya, Tuan.”


“Sama siapa?” tanya Faris memancing Roger yang sejak tadi tak mengalihkan pandangannya dari tablet.


“Tentu saja, Tuan.” Roger berucap dengan santai.


“Gantian lah! Enak aja kamu nonton doang,” gerutu Faris mengambil alih tablet dari tangan Roger lantas menukarnya dengan spatula yang ia pegang.


“Hehehe.” Sang tersangka hanya nyengir kuda dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat melihat Tuannya yang sudah berganti ekspresi wajah.


“Tuan ini kencurnya yang mana?” tanya Roger yang memang tak mendapati rempah yang berbau khas itu ketika ia beranjak.


“Nggak ada.”


“Lah? Terus gimana?”


“Ya tanpa kencur aja.” Roger hanya mengangguk mengikuti intruksi sang Tuan, karena memang di sini Tuannya lah yang menjadi leader, sejak awal direkrut sebagai personil white evil, mereka hanya diperbolehkan mengangguk dan melaksanakan perintah. Tidak ada dalam kamusnya sebuah kata ‘penolakan’.


“Semua bahannya digoreng dulu katanya biar baunya nggak terlalu menyengat nanti.”


Perlahan Roger memanaskan api dan mulai memasukkan bawang putih dan cabai rawit ke dalamnya, tiba-tiba gerakannya terhenti menimang-nimang gula jawa dan asam jawa.


“Tuan gula dan asamnya juga ikut digoreng?” tanya Roger yang ragu untuk memasukannya.


Belum sempat Faris menjawab pertanyaan Roger, tiba-tiba terdengar sebuah ledakan dari atas wajan yang membuat Faris dan Roger serempak berlindung di bawah meja.


Duar … duar ….

__ADS_1


“Kamu tadi masukin apa Ger? Kok meledak-ledak gini sih?” tanya Faris dengan panik dan sudah menutup mata dan telinganya ketika ternyata ledakan itu tak kunjung berhenti.


“Sumpah saya hanya memasukkan bawang dan cabai Tuan, bukan granat.” Roger berucap tak kalah paniknya ketika ledakan itu masih tak kunjung berhenti.


Keduanya sama-sama membuka mata ketika suara ledakan tak lagi berbunyi. Perlahan mereka mengintip untuk melihat apakah situasi sudah cukup aman untuk mereka keluar dari persembunyian.


“Huh, selamet.” Faris menghela napasnya lega ketika berhasil keluar dari bawah meja.


“Ya ampun Tuan bawang dan cabainya belum diangkat,” pekik Roger saat melihat api masih menyala.


Dengan sigap Roger langsung mematikan api lalu mengangkat bawang dan cabai yang ternyata sudah tak jelas rupa dan warnanya.


“Tuan, gosong semua.” Niat Roger ingin menunjukkan hasil gorengannya pada sang Tuan, namun ternyata kakinya tak sengaja menginjak ceceran-ceceran minyak yang sudah berhamburan di lantai akibat ledakan tadi.


Bugh … Roger terpeleset tepat di depan Faris, seketika ia menjadi seperti manekin yang tiba-tiba tak bergerak juga tak bereaksi, begitupun Faris yang hanya melongo melihat Roger yang sudah berbaring di lantai.


“Roger, are you okay?” tanya Faris dengan berjongkok menepuk-nepuk wajah Roger yang masih tak bereaksi.


“Ini lebih menyakitkan dari terkena tembakan sniper lawan, Tuan.” Roger mengulurkan tangannya meminta bantuan Tuannya untuk mengangkatnya berdiri.


“Tuan apa tidak sebaiknya kita akhiri saja pertempuran ini?” usul Roger berharap kemurahan hati Tuannya.


“Apa saya pernah mengajarkan white evil kata menyerah?”


“Lanjut!” ujar Faris lalu mengamati apa yang sebenarnya penyebab terjadinya ledakan.


“Jawabannya antara bawang dan cabai, Tuan. Salah satu dari mereka pasti penyebab ledakan tadi,” tutur Roger yang sudah bergabung dengan Faris mengamati bawang dan cabai yang sudah tak jelas rupanya.


Faris menimang-nimang bawang putih yang rupanya masih tetap sama seperti semula, hanya warnanya saja yang sudah menggelap. Lalu berpindah pada cabai-cabai yang ternyata sudah tak berisi, hanya menyisakan kulit luarnya saja yang warnanya juga sudah menggelap.


Faris dan Roger saling bertatapan, seolah pikiran mereka menemukan jawaban yang sama.


“Fiks cabai!” ujar keduanya bersamaan.


Tiba-tiba keduanya saling terdiam kembali, kepala mereka sama-sama disibukkan dengan bagaimana cara menggoreng cabai agar tidak meledak seperti tadi.


“Bagaimana jika cabainya tidak usah digoreng, Tuan? Lagipula meski tidak dogoreng pun cabai tidak akan mengeluarkan bau menyengat seperti bawang.” Roger berusul menatap Faris yang tampak masih berpikir.


“Pinter juga kamu.” Faris hanya manggut-manggut tanda menerima usulan Roger.


Akhirnya mereka memulai ulang pembuatan bumbu tanpa menggoreng cabai sang penyebab ledakan.

__ADS_1


Semua bahan langsung Faris masukkan ke dalam blender, hingga semuanya hancur barulah ia mencicipi bagaimana rasanya.


“Sepertinya ada yang kurang, Tuan.” Roger berulangkali mengecap-ngecapkan lidahnya guna merasakan lebih dalam bagaimana rasanya.


“Ah pasti Tuan tidak memasukkan ini?” Roger bertanya sambil mengambil salah satu toples yang terdapat dalam rak bumbu yang berisi serbuk putih yang biasa digunakan sebagai penyedap rasa.


“Eh tunggu tunggu!” Tangan Roger yang hendak menaburkan serbuk-serbuk putih itu seketika terhenti di udara.


“Ada apa Tuan?”


“Itu MSG?”


“Ini namanya micin, Tuan.”


“Sama aja. Nggak usah pake itu,” sergah Faris mengambil toples dari tangan Roger.


“Tuan ini adalah senjata ampuh yang bisa membantu hasil masakan Tuan.”


“Tapi ini nggak baik Roger.”


“Betul sekali bapak dokter yang tampan, tapi sejak kecil ibu saya selalu memasukkan benda ini ke dalam masakannya buktinya saya masih hidup hingga saat ini,” bela Roger yang tetap ingin memasukkan serbuk putih itu.


“Pantesan kamu nggak seganteng saya.”


“Ah kenapa Tuan tidak bilang sejak dulu jika benda ini bisa mengurangi kadar ketampanan? Pantas saja saya selalu merasa kalah tampan dari Tuan.” Dengan sigap Roger langsung meraih toples dalam genggaman Faris dan mengembalikannya ke tempat semula dan mengurungkan niatnya untuk memasukkannya ke dalam hasil masakan.


“Makanya besok-besok nggak usah pake yang gituan,” ujar Faris yang langsung diangguki oleh Roger.


Setelah semuanya selesai, Faris beranjak untuk membangunkan Aisha agar sarapan dengan hasil masakannya pagi ini. Sedangkan Roger bertugas untuk menata semuanya di atas meja.


“Pecel tanpa kencur tanpa micin, terus sayurnya pake brokoli, pake asparagus, pake daun bit. Apa perut Nyonya Aisha bisa menerima nantinya?” Roger bergumam sambil menata dengan rapi semuanya di atas meja.


Tiba-tiba langkahnya terhenti dan menatap lama bumbu pecel yang sudah ia masukkan ke dalam mangkuk, ia kembali mencoba rasanya.


“Ah tetap kurang sempurna menurut saya kalo tanpa micin. Tapi harus tahan jika saya ingin setampan Tuan Faris.” Lagi-lagi Roger bergumam menyemangati dirinya sendiri.


***


Let's cobain pecelnya Babang Faris sama Roger yuk gengss :D


Bersambung ...

__ADS_1


Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, lik and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2