
Jangan lupa bagikan novel ini di beranda fb, ig, twitter atau pun whatsapp kalian biar viral ya gaesss, hihihi ...
***
“Sayang udah dong ngambeknya, beneran deh suer semua nggak kayak yang Ica bayangin. Abang tadi cuma iseng doang sama Roger, Yang.” Faris sudah terduduk di depan pintu yang masih tertutup berharap istrinya akan mengampuni kebodohannya.
“Yang … please maafin Abang dong Sayang.” Faris kembali merengek ketika tak mendapati jawaban.
Ceklek, pintu yang tiba-tiba terbuka membuat Faris yang tengah bersandar di sana sontak terjengkang. Didapatinya istrinya yang sudah berdiri dengan wajahnya yang masih tak bersahabat ketika Faris mendongak.
Cup, Faris mendaratkan kecupannya di perut Aisha yang masih rata karena posisi kepalanya yang sejajar dengan perut sang istri.
“Bilangin dong ke Mami udahan ngambeknya, Papi janji deh nggak gitu lagi,” tukas Faris berbicara di depan perut Aisha seolah sudah ada nyawa di dalamnya.
“Abang udah pengen banget ya punya anak?” Aisha bertanya sambil menunduk menatap wajah suaminya.
“Sayang, semua pernikahan pasti mendambakan untuk mempunyai keturunan, tapi Abang mah santai aja kok, semua kan udah ada yang ngatur. Itung-itung biar jadi doa,” tutur Faris lembut seraya membelai wajah istrinya.
“Udah jangan ngambek lagi ya?” bujuk Faris.
Aisha masih terdiam tak menolak ataupun menerima permintaan maaf suaminya, ia lantas menghela napasnya dengan berat.
“Ayo dong Mami ….” Faris tetap tak mau menyerah, bahkan kini ia merengek menggoyang-goyangkan tubuh istrinya itu.
“Hmmm.”
“Mami ….”
“Iya Papi,udah nggak ngambek ini.” Aisha menjawab dengan kesal karena sejak tadi suaminya terus saja menggoda dirinya. Sedangkan Faris sudah tersenyum kegirangan.
“Ayo Papi ajak kalian seneng-seneng deh karena Mami udah nggak ngambek lagi,” ujar Faris bangkit sambil mengelus-elus perut istrinya lagi, lantas menggiring Aisha ke dalam kamar untuk bersiap.
***
Semua pengunjung bertepuk tangan ketika sang penyanyi menyelesaikan lagunya, tak terkecuali Karina yang sejak tadi juga ikut menikmati alunan lagu.
Karina menoleh ketika tak mendapati reaksi apapun dari Azka, namun seketika ia mengurungkan niatnya yang hendak meminta opini Azka terkait lagu yang baru saja dibawakan ketika melihat Azka hanya menatap kosong ke depan tanpa ekspresi, bahkan Karina bisa melihat jelas bekas air mata yang mengalir di ujung netranya.
__ADS_1
“Ka? Are you okay?” Karina bertanya dengan hati-hati.
“Em ah sorry aku cuma terbawa suasana.” Secepat kilat Azka mengusap ujung netranya dan mengalihkan pembicaraan hingga seorang pramusaji kembali datang menghidangkan menu utama untuk mereka.
Karina hanya manggut-manggut lantas segera melahap makanannya, sejak tadi cacing-cacing di perutnya sudah berontak minta diisi.
Mereka menghabiskan makanan masing-masing masih dengan keheningan, bahkan hingga Azka melajukan mobilnya untuk mengantar Karina pulang.
Azka bingung harus berkata apa pada Karina yang sejak tadi tampak bingung dengan apa yang terjadi, niat hati mengajak Karina malam mingguan untuk merayakan kepulangannya, namun justru ia malah tak bisa mengontrol emosinya hingga menciptakan kecanggungan di antara keduanya.
“Aku pulang ya.” Azka berpamitan sebelum kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah Karina.
Lagi-lagi Karina hanya bisa mengangguk menatap kepergian Azka.
“Apa maksud kamu terbawa suasana adalah tentang kebersamaan kalian dulu ketika kamu denger lagu itu tadi Ka?” Karina bertanya seolah Azka masih dalam jangkauan pandangnya, padahal Azka sama sekali tak akan bisa mendengar tanyannya.
Azka merebahkan dirinya di atas pembaringan setelah lebih dulu memastikan putranya tertidur dengan nyaman di kamarnya. Lagu tadi masih saja terngiang-ngiang beserta kenangan-kenangan bersama Aishanya dulu.
Seketika ia teringat sesuatu, dirogohnya ponsel yang masih dalam sakunya lalu jarinya membuka salah satu aplikasi sosial media yang berjajar di layar ponsel itu. Dengan hati berdebar ia buka salah satu room direct message di akunnya, namun seketika binar di wajahnya kembali meredup.
“Apa lagi seneng-seneng honeymoon di sana?” gumamnya mencoba menerka-nerka ketika mendapati direct message darinya bahkan belum dibaca, apalagi berharap dibalas.
Azka melempar ponselnya ke sembarang arah lantas sekuat tenaga mencoba untuk memejamkan netranya untuk menghilangkan bayangan Aisha dari kepalanya.
***
Roger langsung bersiap ke lobi hotel setelah mendapat panggilan dari Tuannya, sore ini majikannya memintanya untuk mengantar mereka berkeliling.
“Kita kemana dulu, Tuan?” Roger bertanya setelah duduk di balik kemudi.
“Mau kemana dulu Yang?” Faris malah beralih bertanya pada istrinya.
“Ica ngikut aja deh, terserah Abang.” Aisha menjawab sambil merebahkan kepalanya di dada sang suami seperti biasa, baginya itu lebih menyenangkan dari pada menikmati perjalanan dengan mengamati pemandangan.
“Ok kita makan dulu deh di tempat biasa yang deket Bosphorus,” tutur Faris sudah hapal dengan kegemaran istrinya, karena di sana mereka bisa sambil menikmati senja yang membuat istrinya selalu terpesona dengan rona jingganya.
“Baik Tuan.” Roger segera melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan Istanbul yang tampak selalu ramai seperti kota kelahirannya, Surabaya.
__ADS_1
Hampir setengah jam mereka tiba di salah satu restoran yang terletak di ujung jembatan yang membentang membelah selat Bosphorus.
Restoran itu memang cukup dipadati pengunjung setiap harinya karena berhasil memanjakan dengan pemandangan sekitarnya yang langsung menghadap ke Bosphorus yang indah.
Faris merangkul mesra pundak istrinya sambil melangkah memasuki restoran, begitupun Aisha yang sudah melingkarkan salah satu lengannya mengitari pinggang suaminya.
Persetan dengan pengunjung lainnya yang sudah menatap keduanya dengan bermacam-macam ekspresi, mereka melangkah dengan senyumnya yang selalu terpatri di wajah sejoli halal yang tengah di mabuk asmara itu.
Sedangkan Roger dengan sigap memesankan meja untuk majikannya juga dirinya.
“Mami mau makan apa nih?” goda Faris sambil tetap melangkah, beberapa kali ia bahkan mengecupi puncak kepala istrinya yang sangat mudah dijangkaunya karena posisi Aisha yang berada dalam rangkulannya.
“Ish apa sih Bang.” Aisha sontak mencubit perut suaminya, membuat Faris berpura-pura meringis kesakitan namun tak dihiraukan oleh tersangka.
Tiba-tiba Faris menghentikan langkahnya ketika mendapati sosok yang sangat dikenalnya saat mereka tengah melangkah menuju meja. Aisha sontak mendongak seolah bertanya ‘ada apa?’
“Hasan ….” Faris segera melangkah ke arahnya diikuti sang istri yang masih bergelayut manja di lengannya.
“Mas Faris?” Gus Hasan pun seketika bangkit dari dari kursinya saat mendapati siapa yang memanggil namanya, ia bahkan beberapa kali mengusap-usap matanya memastikan bahwa penglihatannya tak salah.
Faisal dan Ayla yang memang duduk berhadapan dengan Gus Hasan sontak ikut berbalik untuk melihat siapa yang memanggil Gus Hasan.
Dan Aisha seketika menegakkan tubuhnya saat melihat wajah yang berbalik tengah menatapnya juga sang suami.
“Hay Nona, kita ketemu lagi.” Faisal menyapa Aisha yang tampak masih terkejut setelah melihat dirinya, entah mengapa ada desir yang berbeda di hatinya kala melihat kembali wajah wanita yang tempo hari ditemuinya di depan café itu.
Sedangkan semua yang ada di sana sontak menatap ke arah keduanya setelah mendengar Faisal menyapa Aisha seolah mereka saling mengenal, terlebih Faris yang sudah menatap ke arah istrinya dengan penuh tanya, lalu beralih menatap Faisal dengan tatapan ‘senggol-bacok’.
***
Hayoo bisa ketemu barengan gitu ...
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1