
Jangan lupa bagikan novel ini di beranda fb, ig, twitter atau pun whatsapp kalian biar viral ya gaesss, hihihi ...
***
Aisha menghentikan langkahnya ketika tiba-tiba sosok berbadan tegap menghadang ketika ia hendak melintasi lorong di dekat toilet. Ia bahkan sampai mengusap dadanya karena terkejut.
“Sha, bisa tolong ikut saya sebentar? Ada yang ingin saya bicarakan.” Gus Hasan berniat untuk berbicara dengan Aisha empat mata.
“Apa Guse mendengar perbincangan saya dengan teman njenengan tadi?” Gus Hasan langsung mengangguk mengiyakan. Ia memang mendengar semua perbincangan Aisha dan Ayla di toilet tadi. Sejak tiba-tiba Ayla berkata bahwa dirinya juga hendak ke toilet beberapa menit setelah kepergian Aisha, Gus Hasan sudah menduganya, ia tahu betul jika Ayla tak akan tinggal diam setelah melihat Aisha.
Gus Hasan langsung berbalik dan melangkah lebih dulu berniat menunjukkan jalan untuk Aisha.
“Maaf Gus, saya harus kembali pada Bang Faris, beliau pasti sudah menunggu saya.” Perkataan Aisha sontak menghentikan langkah Gus Hasan.
“Sekali ini saja Sha, saya janji setelah ini saya akan berusaha untuk mengikhlaskan kamu.” Gus Hasan tampak memohon, membuat Aisha akhirnya mengangguk dan mengikuti langkah Gus Hasan.
Mereka kini sudah sampai di rooftop restoran, tempat yang benar-benar tak ada siapapun kecuali mereka di sana. Namun tanpa mereka sadari sejak tadi ada langkah yang terus mengikuti keduanya, bahkan dengan jelas bisa mendengar semua perbincangan mereka.
“Jangan lama-lama Gus, saya khawatir Bang Faris mencari saya.” Aisha berucap ketika Gus Hasan tak kunjung membuka suara.
“Saya minta maaf atas perkataan Ayla ke kamu tadi.” Gus Hasan akhirnya membuka suara, dan Aisha langsung mengangguki tanda ia baik-baik saja.
“Jadi apa sekarang kamu sudah tau semuanya? Kamu sudah tau bagaimana perasaan saya yang sesungguhnya terhadapmu?” Gus Hasan melanjutkan kalimatnya.
Lagi-lagi Aisha hanya mengangguk.
“Saya bahkan sudah tau jauh sebelum teman Guse mengatakannya pada saya. Jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, saya duluan Gus.” Aisha berniat untuk berbalik dan kembali.
“Saya tau jika saya dan kamu memang tidak akan mungkin Sha, tapi setidaknya biarkan saya mengutarakan langsung perasaan saya yang sesungguhnya terhadapmu. Meskipun saya tau jawabanmu tidak akan sesuai dengan harapan saya, setidaknya saya bisa tenang untuk mengikhlaskan kamu karena sudah mendengar jawabannya langsung dari kamu.” Penuturan Gus Hasan sontak menghentikan langkah Aisha dan membuatnya berbalik kembali menghadap Gus Hasan.
“Demi Allah, saya mencintaimu, Aisha Ameera Al-Insani,” ujar Gus Hasan melanjutkan kalimatnya dengan hati berguncang.
Hening, tak ada jawaban. Aisha seketika menunduk tak berani menatap Gus Hasan.
“Terima kasih atas perasaan Guse yang tulus untuk saya, tapi saya mohon maaf sebesar-besarnya karena tak bisa membalasnya. Hati saya terlanjur hanya untuk satu nama, dan itu adalah Bang Faris, sampai kapan pun akan selalu begitu, tak akan pernah berubah.”
“Apa benar sudah tak ada lagi sisa ruang untuk saya singgah di sana Sha?” Pandangan Gus Hasan mulai mengabur oleh air yang sudah memenuhi pelupuk matanya.
__ADS_1
Dengan cepat Aisha menggeleng dengan senyumannya.
“Guse pria yang baik juga hebat, njenengan pantas untuk mendapatkan yang lebih baik dari saya Gus. Seperti yang njenengan ketahui bahwa saya adalah wanita yang sudah bersuami, bahkan suami saya adalah kakak sepupu njenengan sendiri, jadi saat ini saya adalah kakak ipar njenengan. Jadi saya mohon dengan sangat Gus, kubur dalam-dalam perasaan Guse untuk saya, lupakanlah saya, anggaplah kita tak pernah saling mengenal kecuali sebatas hubungan seorang keluarga. Jangan sia-siakan hidup njenengan hanya untuk mencintai wanita yang sudah bersuami seperti saya. Saya yakin Guse pasti bisa. Saya permisi Gus, Assalamualaikum.”
Kali ini Aisha benar-benar berbalik dan melangkah meninggalkan Gus Hasan, ia sudah terlalu lama untuk ukuran seseorang pergi ke toilet, ia khawatir suaminya akan mencari dirinya.
“Waalaikumsalam warohmatulloh.” Jawaban Gus Hasan melemah, ia bahkan kini sudah ambruk ke tanah, kakinya tak lagi sanggup menopang guncangan hebat yang disebabkan oleh perih di hatinya.
Tapi setidaknya jika harus mengikhlaskan Aisha pun kini dirinya sudah tenang karena sudah mengutarakan perasaannya dan mendengar penolakan itu langsung dari Aisha. Meski untuk saat ini jujur ia sendiri belum sanggup.
***
Pagi ini sebelum berangkat ke Rumah Sakit, Karina menyempatkan diri untuk mengantar makanan ke rumah Azka, makanan bahkan yang ia buat sendiri.
Ia tak peduli lagi bagaimana perasaan maupun masa lalu Azka saat ini, yang ia tahu kini hatinya benar-benar sudah terisi oleh sosok duda beranak satu itu.
“Selamat pagi Bi Surti!” Karina menyapa dengan riang asisten rumah tangga Azka.
“Astaghfirullah … Bu dokter bikin Bibi kaget aja.” Bi Surti nampak langsung mengusap-usap dadanya karena terkejut.
“Tumben nggak nyari Den Rafa Bu dokter? Malah nyariin bapaknya.”
“Em ….” Karina bingung harus menjawab apa, ia hanya bisa tersenyum menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Yo wis ndak perlu dijelaskan pun Bibi sudah paham kok Bu dokter. Tuan Azka masih di kamar, sepertinya habis subuh beliau tidur lagi. Langsung dibangunin aja Bu dokter.” Bi Surti menggoda Karina yang pasalnya malah salah tingkah itu.
“Ok deh aku langsung naik ya Bi, nitip ini dulu.” Karina menyerahkan rantang makanan yang sudah dibawanya agar disiapkan oleh Bi Surti.
“Siap Bu dokter!”
Karina langsung saja berlari menaiki satu persatu anak tangga.
Tok … tok … tok ….
Azka yang masih terlelap di atas pembaringannya sontak membuka mata dan berjalan ke arah pintu yang diketuk.
Betapa terkejutnya Azka kala melihat sosok gadis yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya sambil menangis tersedu-sedu, Azka bahkan sampai beberapa kali mengusap-usap netranya barangkali penglihatannya salah karena baru saja bangun tidur.
__ADS_1
Tiba-tiba gadis itu langsung menghambur memeluk Azka ketika pintu terbuka, membuat Azka semakin terkejut dibuatnya.
“Mas Azka …,” tukasnya lirih seraya mengeratkan pelukannya.
“Aisha? Kamu kenapa?” Azka bertanya sambil mengusap-usap punggung yang masih bergetar oleh isakannya.
Hening, Aisha tak menjawab apapun.
“Kamu ke sini sama siapa?” Azka kembali bertanya ketika tak melihat siapapun di sekitar mereka.
“Sendiri.” Aisha menjawab dengan lirih, bahkan hampir tak terdengar.
Azka merenggangkan peukannya lantas mengangkat perlahan wajah Aisha agar menatapnya.
“Kamu kenapa? Apa Faris menyakitimu?” Azka bertanya sambil mengusap sisa-sisa air mata yang membasahi wajah gadis ayu dalam pelukannya. Untuk beberapa saat pandangan mereka saling beradu, saling menyelami hingga terlintas beberapa adegan kenangan saat mereka bersama dulu.
“Azka!” Tiba-tiba terdengar seorang gadis meneriaki namanya.
Azka sontak melepaskan pelukannya dari Aisha ketika mengetahui siapa yang memanggilnya.
“Jahat kamu Ka! Berkali-kali kamu selalu nyakitin aku karena dia, dan berkali-kali juga aku selalu kasih kamu kesempatan lagi dan lagi buat ngelupain dia. Tapi apa? Kamu sama sekali nggak berusaha Ka!”
“Karin aku bisa jelasin semuanya, tadi tiba-tiba Aisha dateng terus …,”
“Kalian lanjutin aja, aku udah cape sama semua drama ini!” Karina berujar tak memberikan Azka kesempatan untuk melanjutkan kalimatnya, ia lantas segera berlari meninggalkan Azka bersama air mata yang turut berjatuhan mengiringi langkahnya.
“Karin!” Hati Azka seakan hancur berkeping-keping melihat Karina yang kini benar-benar menyerah terhadapnya, ia ingin mengejar langkah Karina namun rasanya pun tak mungkin jika ia harus meninggalkan Aisha yang masih sesenggukan.
“Arrghh!” Azka melempar vas bunga yang bertengger cantik pada meja di dekatnya hingga terpecah berserakan, ia benar-benar bingung dengan keadaan yang seolah-olah selalu membuatnya dilema.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1