
Attention please ... dibaca dulu bentar aja ...
Guys kakak auhtor rencananya mau ganti judul novel ini, soalnya judul yang ini ngerasa kayak kepanjangan gitu. Rencananya sih mau ganti jadi 'The Sense of Love'. Itu pun kalo disetujui sama pihak NT yaa wkwk ... soalnya novel ini kan udah lulus kontrak.
Nah jadi kalo misal besok udah disetujui, mungkin notif yang akan muncul kalo novel ini up bakal beda judul dari sebelumnya yaa ... gimana kalian setuju gak?
Having fun selalu readersku ...
***
“Hallo Salman.” Faisal melirihkan suaranya saat panggilannya sudah tersambung dengan seseorang di sebrang.
“Iya Tuan?” Salman pun membenarkan letak alat pendengarnya lantas menjawabnya dengan berbisik pula seolah mengimbangi peran Tuannya.
“Dimana kamu?”
“Saya berjaga di luar ruangan Tuan.”
“Masuk sekarang tanpa ada yang tau,” ujar Faisal lantas memutus sambungannya.
Tanpa menunggu lama Salman sudah siaga memasuki ruangan Faisal.
“Ini misi rahasia, tolong bawa saya keluar dari sini tanpa semua yang di luar tau.”
Salman nampak sedikit ragu dengan permintaan Tuannya itu.
“Kamu bekerja sama saya, bukan sama Baba maupun Mami,” tukas Faisal dengan tegas yang sontak membuat Salman mengangguk.
“Siap laksanakan, Tuan,” tukas Salman membuat Faisal menggangguk puas.
“Tunggu saya sepuluh menit, akan saya beri aba-aba jika semuanya sudah siap,” imbuh Salman sebelum ia kembali keluar.
Sepeninggal Salman, Faisal segera meraih jaket dan topinya, lantas mengganti seragam pasiennya dengan jeans yang sudah ia siapkan sebelumnya.
“Ssshh aww ….” Faisal sedikit merintih saat perih pada lukanya kembali terasa ketika ia berusaha mengenakan jaketnya.
Setelah semuanya rapi, ia tinggal menunggu aba-aba dari Salman di luar sana.
Drrtt … pucuk dicinta ulam pun tiba, Salman melakukan panggilan ke dalam ponsel Faisal yang kini sudah berpindah ke saku jeansnya.
“Ready, Tuan. Lebih baik Tuan menggunakan lift di balik lorong karena saya sudah mengarahkan yang lainnya agar tidak berada di sekitar lokasi,” tutur Salman dengan lugas.
__ADS_1
Faisal pun segera mengendap ke arah lift seperti yang pengawalnya arahkan, ia sedikit membenarkan letak topi dan kaca mata hitamnya saat melintasi lobi yang dipenuhi kerumunan.
Di luar Rumah Sakit, sudah bertengger tesla hitam yang disiapkan oleh Salman, segera saja ia duduk di balik kemudi untuk melajukan mobil yang kini ditumpanginya.
“Atur kondisi di sana, jangan sampai ada yang tau jika saya keluar kamar, terutama Baba, Mami, dan adik saya,” tukas Faisal sebelum melajukan kendaraannya.
Terpaksa Faisal mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang karena harus membelah kerumunan dengan satu tangan, tangannya yang terluka masih sedikit ngilu jika ia gerakan.
Hingga akhirnya ia bisa menepikan mobilnya di depan gedung yang menjulang sesuai yang Aisha tuliskan ketika ia mengutus pengawalnya untuk menjemput Aisha hari itu.
Untuk sejenak ia terdiam saat kakinya sudah melangkah ke lobi apartemen itu, ia ragu untuk menanyakan kepada petugas di sana terkait unit mana yang ditempati Aisha karena memang Aisha tak menyebutkan dengan rinci unit yang dihuninya saat ini.
Tanpa ia sadari seorang petugas keamanan menghampirinya.
“Ada yang bisa dibantu, Tuan?” tanya petugas itu yang mungkin menangkap raut kebingungan di wajah Faisal.
“Ah saya sedang mencari seseorang, katanya tinggal di apartemen ini, tapi saya nggak tau di unit mana tepatnya,” tutur Faisal yang kebingungan karena tak memiliki kontak Aisha.
“Oh atas nama siapa ya, Tuan?” tanya petugas itu kembali.
“Aisha, dari Indonesia. Tapi saya nggak tau nama panjangnya siapa,” ujar Faisal apa adanya.
Petugas itu sontak mengernyit dengan tatapan yang mencurigai Faisal, mungkin khawatir jika Faisal adalah salah satu penjahat yang tengah menelusuri keberadaan mangsanya.
Sontak saja Faisal menggeleng.
“Sebentar saya coba hubungi dulu orang yang anda cari.” Petugas itu langsung melangkah ke bagian customer lantas petugas di bagian itu mengangkat gagang teleponnya setelah menuliskan beberapa angka yang telah dilihatnya di layar monitor.
Faisal yang masih diam di tempatnya hanya bisa berdoa dalam hati semoga saja kali ini hatinya tak kembali terluka dengan apapun kenyataan yang akan dihadapinya beberapa menit ke yang akan datang.
“Ya Allah … aku percaya jika kuasa-Mu jauh lebih besar dari pada harapanku.”
***
Faris melangkahkan kakinya dengan mantap saat Roger menepikan mobil yang membawanya ditempat parkir yang sudah disediakan.
“Selamat menikmati perjalanan anda, Tuan.” Roger berujar setelah membantu Faris menurunkan kopernya.
“Yaelah … udah kayak pramugara aja kamu, Ger,” tukas Faris yang justru merasa risih dengan perhatian Roger.
“Saya kan serba bisa, Tuan,” celoteh Roger menanggapi gurauan sang majikan.
__ADS_1
Pada penerbangan kali ini, Faris memang pergi sendirian, Pak Toni dan Roger baru hendak menyusul beberapa hari ke depan karena ada beberapa urusan yang mesti mereka tangani selama Faris pergi. Tujuan kepergian Faris kali ini adalah untuk memenuhi kunjungan proyek barunya di Ankara, juga berniat mencari sang istri yang mungkin saja benar singgah di Istanbul.
Faris segera melangkah ke bagian tiketing lantas menunjukkan tiket onlinenya, setelah mengurus semuanya dan melewati serangkaian pemeriksaan, ia melangkah masuk ke dalam lounge khusus yang diperuntukkan untuk kelas bisnis untuk beristirahat karena masih ada waktu sebelum pesawat lepas landas.
Faris berniat untuk memejamkan netranya yang ternyata sama sekali enggan untuk terpejam. Diraihnya ponsel di sakunya untuk menghalau rasa bosannya.
Begitu layar kunci berhasil terbuka, beberapa notifikasi mengambang jelas pada aplikasi Instagram di ponselnya, ternyata ia lupa jika semalam belum sempat log out dari akun sang istri. Dilihatnya direct messenger yang baru saja masuk ke akun itu, Faris membuka pesan yang teratas dari akun bernama ‘Reynald St_’. Pria itu mengirimkan pesan gambar yang berisi foto suasana di Bandara.
‘I have back to Indonesia, Aisha. Maaf karena semuanya mendadak jadi aku nggak sempet kabarin dan pamit langsung sama kamu’
‘Aku harus kembali bekerja. See you soon dengan kondisi hatimu yang lebih baik’
Hati Faris sontak memanas membaca setiap kalimat yang dikirimkan oleh Rey, tangannya bakal sudah terkepal sempurna.
“Siapa lagi cowok ini? Keliatannya dia akrab banget sama Aisha.”
Dilihatnya kembali dengan seksama foto yang baru saja Rey kirimkan, rasanya Faris tak asing dengan suasana Bandara dalam foto itu. Setelah mengamatinya lamat-lamat, sekarang ia paham jika suasana Bandara dalam foto itu adalah Bandara Juanda Surabaya tempat kakinya berpijak saat ini.
Segera saja Faris menstalk akun lelaki itu, dalam bio profilnya tertulis jika ia seorang pramugara, beberapa postingannya pun berisi tentang dirinya yang tengah menjalankan tugas.
“Dia pramugara … dan sekarang di lagi ada di Bandara ini …,” gumam Faris yang seketika bangkit dari duduknya dan berniat mencari sosok pria itu dengan meminta informasi pada bagian customer service di Bandara.
“Your attention please\, pasengers of Turkish Airlines on flight number TA*** to Ankara please boarding from door A**\, Thank you.” (Perhatian\, para penumpang pesawat Turkish Airlines dengan nomor penerbangan TA*** tujuan Ankara dipersilahkan naik ke pesawat udara melalui pintu A**\, Terima kasih)
Pengumuman itu sontak menghentikan langkah Faris, diceknya nomor penerbangan yang baru saja disebutkan tadi yang ternyata adalah nomor yang sama dengan yang tertera di tiketnya.
“Argghh shit!” Faris hanya bisa melayangkan pukulannya ke udara saat rencananya harus gagal karena pesawatnya yang akan segera lepas landas.
Sedangkan di sudut lain di Bandara itu, sejak tadi Rey tak sedikitpun melepaskan perhatiannya dari ponsel dalam genggamannya, kalau-kalau Aisha akan membalas direct messengernya yang sudah berubah tanda menjadi ‘seen’ atau ‘dilihat’.
Pasalnya beberapa menit yang lalu setelah mencari-cari akun milik Aisha, Rey mengirimi pesan untuknya yang berisi permohonan maafnya karena harus kembali ke Indonesia tiba-tiba dan tak sempat berpamitan pada wanita yang beberapa hari ini telah ‘mengganggu’ dunianya. Ia pun mengirimkan potret suasana Bandara yang mengingatkannya pada pertemuan awal mereka kala itu.
“Udah dibaca kok, apa Aisha sibuk ya?” gumamnya di tengah petugas kabin lain yang sibuk berlalu lalang untuk bersiap memasuki pesawat.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1