
Setelah voting dari para pelayannya yang sengaja ia panggil ke kamarnya, akhirnya pilihan Aisha jatuh pada heels berwarna putih yang terlihat sangat elegan jika dipadukan dengan kostumnya malam ini.
Sekali lagi Aisha meneliti penampilannya di depan cermin. Sempurna.
“Kok aku lumayan juga ya kalo dandan kayak gini,” gumam Aisha tampak puas dengan hasil karyanya.
Aisha melirik ke arah jam yang masih setia menggantung di dinding.
“Udah jam tujuh ternyata.”
Aisha meraih sling bag cantiknya, menutup pintu kamar dan berjalan dengan menuruni satu persatu anak tangga.
“Masya Allah … Nyonya cantik sekali,” tutur Bi Asih yang sudah terkesima dengan penampilan Aisha.
“Ih Bi Asih bisa aja.” Blush on di pipi Aisha semakin terlihat karena dirinya yang tersipu.
“Padahal Aisha juga nggak tau mau kemana ini Bi.” Aisha berbisik pada Bi Asih di ujung tangga.
“Lah?” Bi Asih dibuat bingung oleh Aisha.
“Mari Nyonya, Tuan Faris sudah menunggu.” Belum sempat Aisha menjawab Bi Asih, Pak Toni sudah lebih dulu menghampirinya agar bergegas.
“Bi Asih doain Aisha ya, semoga malam ini berjalan dengan lancar.” Aisha semakin memperlebar senyumnya, berjalan mengikuti Pak Toni ke arah mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.
Aisha yang menikmati perjalanannya membelah kepadatan lalu lintas kota Metropolitan malam itu tak menyadari jika mobil yang dinaikinya telah berhenti.
Ia celingukan saat menyadari mobil telah terhenti.
“North Quay?” Aisha bergumam pelan.
“Betul Nyonya, ini alamat yang tuan Faris kirimkan pada saya.” Pak Toni meyakinkan sang majikan yang terlihat kebingungan.
***
“Hey tunggu ....” tampak seorang gadis berteriak mengejar langkah Gus Hasan yang keluar café.
“Woi … gue manggil lo!” gadis itu geram karena merasa diabaikan.
“Nama saya Hasan.” Gus Hasan menghentikan langkahnya dan menoleh sekilas, namun segera kembali melanjutkan langkahnya tanpa mempedulikan teriakan gadis di belakangnya.
“Hai sweety ….” Segerombolan pria di tepi jalan yang gadis itu lewati tampak menyapanya. Bukan menyapa, lebih tepatnya menggoda.
Gadis bernama Ayla itu tetap meluruskan pandangannya tanpa menoleh sedikit pun pada asal suara.
“Hey mau kemana?” salah seorang di antara mereka menghalangi langkah Ayla karena merasa diabaikan.
“Don’t get in my way!” teriak Ayla tegas.
Bukan berhenti, para pemuda itu justru semakin gencar mengganggu Ayla.
“Stay here with us sweety,” pria itu berkata sambil hendak menarik lengan Ayla, namun sang empunya lebih dulu menghindar.
“Oh shit! Don’t touch me!” (Sialan! Jangan sentuh aku!)
__ADS_1
“Oh mulut cantikmu bisa juga berkata kasar seperti itu ya.” Terdengar segerombolan pemuda itu justru tergelak.
“Excusme, jangan ganggu dia.” Ucapan seseorang menghentikan aksi para pemuda itu.
“Ada pahlawan rupanya,” ucap pemuda itu menyeringai.
“Saya hanya membantu sesama muslim.” Gus Hasan menjawabnya dengan tenang.
“Oh dia sama-sama muslim denganmu rupanya, lalu apa urusanmu?”
“Urusanku membantunya.”
“Kau ingin membantunya?” pemuda itu menyeringai, tangannya terhenti di udara hendak membelai wajah cantik Ayla.
Bugh … satu hantaman dari Gus Hasan mengurungkan aksi pemuda itu untuk menyentuh Ayla.
Tentu saja aksi Gus Hasan mengundang para pemuda yang lainnya yang sejak tadi hanya menyaksikan temannya beraksi. Terjadilah baku hantam antara Gus Hasan dan para pemuda itu.
“Now you know who am I, huh?” (Sekarang kamu tahu siapa aku, huh?) Ayla menyeringai melihat pemuda itu tersungkur karena serangan Hasan.
“Masih punya waktu untuk menyombongkan diri.” Gus Hasan berkata dengan heran lalu menarik tangan Ayla agar segera berlari bersamanya karena ia yang merasa kalah jumlah dengan para pemuda itu.
Segerombolan pria itu sempat mengejar mereka, namun hanya beberapa langkah, sehingga memudahkan Gus Hasan dan Ayla untuk bersembunyi.
Gus Hasan dan Ayla berhenti di sebuah lorong sepi untuk beristirahat. Tampak dada keduanya naik turun mengatur napas masing-masing setelah letih berlari.
“Astaga pelipismu!” ucap Ayla terkejut saat melihat darah segar mengalir dari ujung pelipis Gus Hasan. Mungkin karena perkelahian tadi, Gus Hasan sendiri tak menyadarinya.
Ayla melepas syal yang melilit lehernya dan segera menutupnya pada luka Gus Hasan.
“Aku kira kamu nggak peduli sama aku. Ternyata kamu orang baik,” tutur Ayla memecah kecanggungan yang tercipta.
“Bukankah memang seharusnya kita saling membantu sesama muslim?”
“Siapa bilang aku muslim?” Ayla justru balik bertanya.
“Kamu keluar dari Blue Mosque saat waktu solat, tidak mungkin jika kamu hanya seorang turis yang berkunjung.” Pernyataan Gus Hasan membungkam Ayla.
“Dimana kedua pengawalmu? Kenapa mereka tak bersamamu?” Gus Hasan celingukan mencari-cari sosok yang biasanya selalu menemani Ayla.
“Aku menyuruh mereka agar tak mengikutiku saat mengejarmu.”
“Apa sekarang kamu menyesal setelah kejadian diganggu oleh para pemuda tadi?”
“Tidak, Allah selalu bersamaku. Apa yang harus aku takutkan?” jawaban Ayla seketika membungkam Gus Hasan.
Sejatinya Ayla adalah muslim yang baik, hanya saja hatinya belum terketuk untuk menutup auratnya seutuhnya. Meski Ayla tak berhijab, tapi ia selalu berpakaian sopan.
“Pulanglah, panggil pengawalmu.” Gus Hasan menyerahkan kembali syal yang ia gunakan untuk membersihkan darah di pelipisnya pada Ayla.
“Tapi bagaimana dengan pelipismu?”
“Saya bukan anak kecil,” jawab Gus Hasan sekenanya.
__ADS_1
“Baiklah, aku Hulya Ayla Filiz. Kita belum sempat berkenalan dengan baik.”
“Saya Hasan Fajrurraihan.”
***
Aisha mulai turun dari mobil hitamnya yang sudah terparkir rapi ditempat parkir yang sudah disediakan.
Dengan anggunnya Aisha masih berdiri di depan Gedung Gapura Surya Nusantara yang menjadi lokasi Surabaya North Quay itu.
Masih enggan untuk melangkah karena melihat keindahan Gedung yang menyimpan banyak cerita dalam hidupnya.
Mulai dari kebersamaannya bersama Azka juga perpisahan mereka, hingga kebersamaan bersama Faris yang kini sudah menyandang status sebagai suaminya. Gedung ini menjadi saksi bisu cerita hidupnya.
Tiba-tiba Aisha dikejutkan dengan kehadiran seorang pelayan perempuan yang datang untuk menyambutnya.
“Apa benar dengan Nyonya Aisha?” tanya perempuan itu sopan.
Aisha menganggukan kepalanya dengan sedikit tersenyum canggung.
“Mari Nyonya, Tuan Faris sudah memesan tempat untuk kalian. Mari saya antarkan.”
“Oh iya terima kasih ya, em Mbak Sari,” tutur Aisha setelah melihat ke arah name tag yang terpasang di seragam pelayan itu.
Aisha mengikuti langkah pelayan yang justru membawanya ke arah kapal-kapal pesiar yang sudah berjejer dengan cantiknya.
Sepi. Hanya itu yang dapat menggambarkan situasi malam itu di pelabuhan.
Aisha masih mengikuti langkah sang pelayan yang membawanya ke arah salah satu kapal pesiar yang sangat mewah di antara jejeran kapal-kapal pesiar yang berjejer di sampingnya.
“Sebenernya Bang Faris mau ngapain sih?”
Sesampainya di sebuah pintu pada dek kapal Aisha terkejut. Pasalnya pelayan yang tadi membawanya sudah taka da lagi bersamanya. Ia juga baru sadar jika Pak Toni pun tak bersamanya.
Aisha celingukan, bahkan sudah bolak-balik memutar tubuhnya untuk mencari pelayan tadi, atau pun seseorang yang bisa ia tanya.
Namun hasilnya nihil, kini dia benar-benar sendirian. Tidak ada tanda orang lain yang berada di sini.
Sepanjang tangga pada dek kapal yang ia lewati tadi juga nampak sangat gelap. Mau tak mau ia harus melanjutkan langkahnya untuk keluar dari dek kapal menuju atap kapal.
“Bang Faris dimana sih? Kenapa jadi horor banget gini. Jangan-jangan Bang Faris emang mau balas dendam lagi sama aku.”
Aisha meremas jemarinya sendiri yang sudah terasa sangat dingin. Keringat dinging membanjiri tubuhnya yang merasa ketakutan dengan keadaan sekitar.
Ia menundukan kepalanya menatap heels yang ia kenakan saat ini.
“Aduh pake heels kaya gini lagi, bakal susah nih kalo buat lari.”
Pikiran Aisha semakin kalut, namun akhirnya ia melihat sebuah pintu yang terarah menuju atap kapal. Dirinya sedikit tenang melihat jalan keluar dari keadaannya saat ini.
***
*** Bersambung ...***
__ADS_1
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang …