
“Duh kenapa lagi sih ni mobil.” Karina turun dari mobilnya saat tiba-tiba mesinnya mati saat di tengah perjalanan.
“Aku mana ngerti ginian,” keluhnya saat mencoba membuka bagian depan mobilnya, melihat mesin dan kabel-kabel yang saling bertautan membuatnya pusing.
Ia memilih untuk menunggu taksi yang melintas karena tidak mungkin ia menunggu mekanik langganannya datang untuk mengecek mobilnya, itu akan memakan waktu lama, sedangkan ia sedang terburu-buru saat ini.
Lima menit, sepuluh menit, tak ada satu pun taksi yang melintas, ia mulai kebingungan sendiri.
Tiba-tiba sebuah BMW hitam berhenti tepat di depannya, sejurus kemudian sang pemilik turun dan berlari ke arahnya. Karena yang sadar siapa orang itu segera berlari berlawanan arah dari mobilnya.
“Tunggu Rin.” Sebuah tangan kekar berhasil mencekal lengannya dan menghentikan langkahnya.
“Lepas Azka!” ujar Karina mencoba melepaskan cekalan tangan Azka di lengannya, tapi nihil karena kekuatannya tak sebanding dengan tenaga Azka.
“Aku tau kamu lagi buru-buru kan? Ayo naik, aku anter ke Rumah Sakit,” ujar Azka tetap tak melepaskan cekalannya.
Karina seperti merasakan de javu dengan suasana ini, kejadian ini persis seperti awal mereka bertemu dulu, hanya saja kali ini keadaannya berbalik, bukan dirinya yang mengejar Azka, melainkan sebaliknya.
“Oke, aku anggep diemnya kamu tanda kamu bersedia,” ucap Azka membuyarkan lamunan Karina, lantas ia menarik tangan Karina agar mengikutinya ke dalam mobil miliknya.
Sedangkan Karina hanya beberapa kali mengerjapkan netranya bingung sembari pasrah mengikuti langkah Azka yang menarik lengannya masuk.
Azka tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya lagi saat Karina terduduk pada kursi penumpang di sampingnya. Senyum kian tercetak jelas menghiasi wajah tampannya. Bahkan beberapa kali ia mencuri pandang pada Karina di sela fokusnya mengemudi.
Azka kagum terhadap perubahan yang terjadi pada Karina, bahkan kini sikapnya membuat Azka semakin tertantang untuk mengenalnya lebih dalam. Ia sudah memutuskan untuk memulai semuanya kembali dari awal.
“Liat ke depan! Aku belum mau mati muda,” ujar Karina tanpa menoleh, pandangannya tetap lurus pada jalanan di depannya. Azka sontak tersenyum kikuk dan langsung mengalihkan pandangannya, berpura-pura kembali fokus mengemudi.
Perjalanan yang tidak memakan banyak waktu itu terasa begitu singkat, Karina segera melepaskan seat beltnya saat Azka sudah menepikan mobilnya di halaman Rumah Sakit.
Karina menoleh pada Azka, alisnya saling bertaut seolah bertanya dalam diamnya saat dirinya tak bisa membuka pintu mobil karena Azka yang tak kunjung membuka kuncinya.
“Nanti malem ada waktu nggak? Aku jemput kamu yah? Kita dinner,” tutur Azka tetap tenang di balik kemudinya.
“Nggak, aku sibuk,” ketua Karina tetap berusaha membuka pintu mobil yang padahal tak akan terbuka sebelum Azka membuka kuncinya.
__ADS_1
“Sibuk apa malem-malem?” Azka menautkan alisnya.
“Belum aku pikirin. Thanks buat tumpangannya,” jawab Karina tetap dingin sambil terus mencoba membuka pintu mobil yang akhirnya dibuka oleh Azka.
Ia lantas melengang pergi bergegas masuk ke Rumah Sakit.
Azka tersenyum saat tersadar dari lamunannya menatap punggung gadis yang sudah menghilang di balik pintu Rumah Sakit.
“Kali ini aku nggak bakal nyerah Rin,” gumamnya kembali melajukan mobilnya meninggalkan halaman Rumah Sakit
***
Malam itu setelah makan malam dan saling berbincang, baik Faris dan Aisha maupun Nyai Hamidah, Ning Sabina juga Gus Fakih beranjak ke kamar mereka masing-masing untuk mengistirahatkan badan yang sama-sama lelah dengan rutinitas hari itu.
Aisha memilih untuk merapikan pakaian-pakaian yang telah ia setrika ke dalam lemari.
Faris sendiri memilih untuk mengecek keadaan perusahaannya melalui benda pipih yang kini dalam genggamannya.
Untuk beberapa saat mereka saling hanyut dalam kesibukan masing-masing tanpa ada yang membuka suara.
Tiba-tiba sebuah lengan kekar melingkari pinggang ramping Aisha, membuatnya menghentikan kegiatannya dan menoleh pada sang suami yang sudah menumpukan kepalanya di atas bahu mungilnya.
“Hmmm.” Aisha hanya menjawabnya dengan deheman, namun tetap dengan senyuman yang terbaik.
“Maaf,” ucap Faris lirih.
Aisha kembali menghentikan kegiatannya, kali ini dia membalik tubuhnya hingga mereka saling berhadapan.
“Kenapa Abang minta maaf?” tanya Aisha bingung.
“Maaf kalo perbuatan Bukde sama Kak Sabina tadi siang bikin Ica nggak nyaman atau merasa terbebani. Abang baik-baik aja kok, kalau pun Ica belum hamil itu kan bukan salah Ica, semuanya udah kehendak Allah. Apa kita perlu ke Rumah Sakit buat ngecek satu sama lain?” ujar Faris dengan tatapan bersalahnya.
Aisha tersenyum menanggapi penuturan suaminya.
“Sayang, jangan cuma senyum. Bilang sesuatu, jangan bikin Abang tambah ngerasa bersalah nih,” imbuh Faris semakin khawatir.
__ADS_1
“Apa sih Bang, Ica nggak apa-apa kok,” jawab Aisha justru tertawa, ia melepaskan tautan mereka dan melangkah menuju ranjang.
“Sayang,” panggil Faris sangat lembut menyusul Aisha yang sudah terduduk di tepi. Ia memegang jemari sang istri sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Abang tau Ica nggak baik-baik aja, karena itu, jangan cuma bilang Ica nggak apa-apa. Marahlah, atau menangis, atau bilang kalo Ica takut, atau katakanlah sesuatu. Dari dulu kan Abang selalu bilang, kapanpun Ica boleh kayak gitu sama Abang,” tutur Faris sangat lembut sembari menangkup wajah sang istri.
“Ibu pernah bilang sama Ica kalo setiap rumah tangga memiliki ujian masing-masing. Kalau suami kita baik sekali, adakalanya kita mendapatkan mertua yang sedikit rewel. Tapi Ica justru mendapatkan keduanya, Ica punya suami dan mertua yang punya rasa kasih sayang yang sama. Suami yang cinta sama Ica dengan sepenuh hati, juga mertua yang menyayangi Ica layaknya anak sendiri. Kalo sampe sekarang kita belum dipercaya sama Allah untuk menjadi orang tua, mungkin disitulah letak ujian rumah tangga kita Bang.”
Aisha menengadahkan wajahnya sejenak agar air yang sudah bergelayut di pelupuk mata tak sampai terjatuh di hadapan suaminya.
Faris yang menyaksikan hal itu sontak menarik Aisha ke dalam dekapannya.
“Kita lewati semuanya bareng-bareng ya Sayang. Lagian usia pernikahan kita baru seumur jagung, masih sangat wajar kok kalo kita belum berhasil. Abang juga masih pengen berduaan dulu kok sama Ica.”
“Tapi Ica paham kalo Bukde pengen cepet-cepet gendong cucu, bukannya emang kayak gitu kan yang diharepin oleh setiap orang tua dari pernikahan putranya?”
“Iya Abang tau pikiran Ica, tapi jangan sampe itu ngebebanin Ica ya. Biar semuanya mengalir dengan sendirinya,” tutur Faris mengecup kening sang istri cukup lama.
“Kita hanya perlu berusaha dan mengikuti alunan takdir, ya kan?” tanya Aisha mendongakkan wajahnya.
“Jadi malem ini mau usaha lagi nggak?” goda Faris membuat wajah Aisha sontak bersemu merah.
Melihat Aisha yang mulai salah tingkah, Faris justru semakin mendekatkan wajahnya, mengikis jarak di antara mereka.
Perlahan jemarinya menyelusup ke tengkuk leher Aisha, membuat Aisha sontak semakin memundurkan wajahnya hingga terhenti oleh kepala ranjang, Aisha lantas memejamkan matanya saat kening dan hidung mereka mulai saling bertabrakan.
Saat sapuan lembut Faris benar-benar menyapa bibir ranumnya, Aisha sontak membukanya, memberikan akses pada sang suami agar semakin leluasa terhadapnya.
Tok … tok … tok …. Suara ketukan pintu sontak membuat tautan keduanya terlepas. Baik Aisha maupun Faris, keduanya sama-sama menarik wajah mereka kikuk dengan pipi yang sama-sama merona.
***
Bersambung ...
Jangan lupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1