Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Kalah telak


__ADS_3

Happy reading ...


Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)


Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)


____________


Berulang kali Jaya melirik pada ponsel yang terus saja bergetar tanpa dihiraukan pemiliknya. Ia menimang-nimang antara harus memberitahukan pemiliknya atau menunggu sang pemilik menyelesaikan kegiatannya. Rasanya terlalu sungkan jika harus memotong kegiatan Gusnya yang masih bersimpuh di atas sajadah dengan jemari yang begitu lincah memutar tasbihnya. Namun getaran dari ponsel itupun rasanya tak bisa diabaikannya.


Begitu menyelesaikan putaran tasbih terakhirnya, Gus Hasan terkejut saat membuka mata dan mendapati teman sekamarnya sudah turut bersimpuh di sampingnya.


“Mohon maaf, Gus, ponsel njenengan sejak tadi bergetar terus, barangkali ada sesuatu yang penting,” ucap Jaya menyodorkan ponsel pada sang pemilik.


Sepulang kuliah memang Gus Hasan belum sempat membuka ponselnya, ia hanya mengeluarkannya dari tas dan meletakkannya asal. Sengaja ponsel itu ia senyapkan karena khawatir akan mengganggu rutinitas ibadahnya.


“Oh iya, terima kasih, Jay.”


“Nggeh sama-sama, Gus.” Jaya pun langsung kembali ke tempatnya ketika ponsel itu sudah berpindah tangan ke pemiliknya.


Mendapati puluhan panggilan tak terjawab dari kakak perempuannya sontak membuat tautan kedua alis Gus Hasan semakin berdekatan segera saja ia langsung memanggil balik kontak yang tertera.


Belum sempat dering kelima panggilan Gus Hasan di angkat oleh seseorang di sebrang.


[Assalamualaikum, Mba.]


[Waalaikumsalam, San. Kamu dari mana saja to baru telpon Mba?]


Belum sempat Gus Hasan menjawabnya, Ning Sabina tiba-tiba meminta panggilan agar dirubah menjadi panggilan video.


[Maaf, Mba. Hasan baru pulang kuliah, baru sempat cek hp ini.] jawabnya saat panggilan video sudah tersambung.


[Oh pantesan Mba telponin ndak diangkat-angkat dari tadi.}


Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas malam waktu setempat. Faris yang baru saja mengantar Gus Fakih ke kamarnya mengurungkan langkahnya yang hendak memasuki kamarnya sendiri saat melihat Ning Sabina yang tampak tengah melakukan panggilan video dengan seseorang yang begitu ia hapal pemilik suaranya. Langsung saja ia turut bergabung dengan kakak sepupunya itu.


[Hai, San. Baru pulang kuliah kamu?] tanya Faris memunculkan wajahnya pada layar ponsel Ning Sabina. Sontak kehadirannya itu membuat Gus Hasan semakin mengerutkan keningnya.

__ADS_1


[Loh ada Mas Faris juga? Mba Sabina yang berkunjung ke Surabaya atau Mas Faris yang lagi sowan ke Pondok ini?]


[Salah semua!] ledek Ning Sabina membuat adiknya semakin tampak penasaran.


[Terus?]


[Mba Sabina yang lagi berkunjung ke Istanbul dong.] kini giliran Faris yang menggodanya.


[Wah seriusan? Kok nggak bilang-bilang Hasan sih, Mba?]


[Lah gimana mau bilang orang telpon dari Mba saja ndak kamu angkat. Tadi niatnya Mba ingin minta jemput kamu di Bandara. Untung saja ada Masmu ini.]


[Maksudnya kok Mba nggak bilang-bilang dari sebelumnya to?]


[Namanya juga surprise, kamu ini]


Rasa kantuk membuat Aisha tak sanggup lagi melanjutkan bacaannya, segera saja buku dalam genggamannya ia kembalikan ke tempat asalnya. Namun menyadari sang suami yang belum juga menyusulnya ke kamar membuat Aisha melangkah keluar untuk mencari sosoknya. Rupanya suaminya tampak sedang melakukan panggilan video bersama dengan Ning Sabina di ruang tv.


Aisha menyentuh lengan suaminya yang tampaknya tak menyadari kehadirannya. “Eh kenapa, Sayang?“ tanya Faris yang juga membuat Ning Sabina turut menoleh ke arahnya.


“Oh iya, Sayang. Ica ke kamar duluan aja, bentar lagi Abang nyusul,” sahut Faris menyetujui. Aisha pun mengangguk dan berniat kembali bangkit.


“Kalo gitu saya duluan ya, Ning,” pamitnya pada Ning Sabina yang duduk di sebelah suaminya.


“Oh iya, Sha. Bumil jangan tidur malem-malem,” ujar Ning Sabina mengalihkan wajahnya dari layar ponsel.


Meski Aisha tak menunjukkan dirinya di layar kamera, namun perbincangan mereka tak ayal terdengar sampai ke telinga Gus Hasan yang sedang melangsungkan panggilan. Nyali Gus Hasan semakin menciut mendengar betapa harmonisnya rumah tangga kakak sepupunya itu.


[Oh ya mumpung lagi ngumpul, lusa kan weekend juga, gimana kalo kita jalan-jalan bareng? Kamu ndak ada acara to, San?] usul Ning Sabina.


Gus Hasan tampak berpikir. Jika mereka berlibur bersama, pastilah dirinya akan lebih sering menyaksikan kebersamaan Faris dengan Aisha. Gus Hasan ragu apakah ia akan sanggup menyaksikan itu semua.


[Em … Hasan sih luang, Mba. Nggak tau kalo Mas Faris sama Aisha gimana?] ujar Gus Hasan pada Faris yang juga tampak diam saja menanggapi usulan dari kakak sepupunya.


“Gimana, Ris? Kamu luang kan lusa?” tanya Ning Sabina menyenggol lengan Faris yang hanya bergeming.


Bukan Faris tak senang dengan ajakan kakak sepupunya itu, terlebih waktu bisa berkumpul seperti ini memang sangatlah langka. Hanya saja sekarang situasinya berbeda, ia bukan lagi seorang bujangan yang bisa bebas kapan dan kemana saja. Ada istri yang juga menjadi pertimbangannya.

__ADS_1


Sejak mengetahui perasaan yang Gus Hasan miliki untuk Aisha, bukan Faris tak percaya kepada Gus Hasan maupun istrinya. Ia lebih hanya ingin menjaga marwah sang istri untuk tidak berlama-lama bersama dengan lelaki lain yang jelas memiliki rasa untuknya, meskipun ia turut hadir di sana. Juga ia tidak ingin membuat adik sepupunya semakin sakit karena harus terus-terus menyaksikan kebersamaannya dengan Aisha nantinya. Ia hanya ingin menjaga perasaan semua pihak di sini.


Tapi menolakpun rasanya tak mungkin, Ning Sabina dan Gus Fakih sudah jauh-jauh berkunjung ke sini, rasa-rasanya sangat tak manusiawi jika Faris menolaknya begitu saja. Sungguh situasi yang membuat kepala Faris benar-benar terasa berdenyut.


“Em Faris belum bisa mastiin kalo kita pergi lusa, Mba. Kondisi Aisha baru aja pulih, takutnya kalo diajak bepergian nanti mabok lagi. Tapi kita liat besok deh, kita tanya Aishanya sanggup apa enggak. Mudah-mudahan kondisinya juga membaik.”


“Oh iya yah, tapi mudah-mudahan Aisha sanggup deh yah. Kita juga perginya jangan ke yang jauh-jauh. Yang deket-deket aja dulu,” tukas Ning Sabina yang juga disetujui oleh adiknya.


Obrolan mereka pun berlanjut hingga tanpa sadar waktu hampir menunjukkan tengah malam, membuat ketiganya menyudahi panggilan itu dan memasuki kamar mereka masing-masing.


Faris sendiri segera memasuki kamarnya. Di atas ranjang king sizenya, tampaklah sang istri yang sudah terlelap dengan begitu tenangnya.


Sebelum pergi ke kamar mandi, Faris menyempatkan mendekati ranjang untuk mengecup kening istrinya. “Cape ya ngandung anak Abang?” tanya Faris yang tak mungkin di dengar oleh sang lawan bicara.


Merasakan kehadiran seseorang, sontak saja netra Aisha mengerjap. “Eh maaf jadi kebangun ya Sayang,” ucap Faris membenahi helaian rambut yang menutupi pemandangan cantik di hadapannya.


“Udah selesai Bang nelponnya?” tanya Aisha melirik jam yang tergantung apik di dinding.


“Udah, Sayang. Baru aja. Ica tidur lagi ya, Abang mau ambil wudu dulu.” Aisha pun hanya mengangguk sambil kembali memejamkan netranya ketika Faris sudah beranjak dan menghilang di balik pintu kamar mandi.


Sedangkan di tempatnya, Gus Hasan baru saja bangkit dari sujudnya. Netranya masih tampak basah dengan hidung bangir yang juga tampak memerah. Keluhnya masih tetap sama, yaitu nama Aisha yang tak pernah lepas dalam tadahnya.


“Jadi Aisha lagi mengandung?” gumamnya mengingat obrolannya bersama kakak-kakaknya di telepon baru saja.


“Ya Allah … bahkan sekarang Aisha tengah mengandung darah daging Mas Faris, bukti cinta mereka. Pantaskah aku yang masih selalu menghadirkan bayang Aisha untuk menemaniku menghabiskan malam-malam yang penuh rindu?”


Gus Hasan menyangga kepalanya di atas lutut yang ia peluk. Ia tergugu dalam sepi. Meski dari tempatnya berbaring, rupanya Jaya masih bisa mendengar dengan jelas semua rintihan dari Gusnya itu. Bukan sengaja Jaya menguping, netranya yang semula sudah terpejam dengan terpaksa kembali terbuka mendengar isakan dari teman sekamarnya itu. meski Gus Hasan sendiri tampak sudah bersusah payah menahannya.


Meski berulang kali Gus Hasan mengatakan pada dirinya untuk tidak lagi memikirkan Aisha, tetap saja sungguh ikhlas ini rasanya amat sulit untuknya. Benarlah jika orang mengatakan bahwa ikhlas adalah ilmu yang paling tinggi, karena memang tidak semua orang akan sanggup menghadapinya.


Mungkin bibir memang lebih mudah mengucap ikhlas, tapi bukankah semuanya adalah bersumber dari hati? Sampai saat ini tetap saja hatinya masih begitu sulit untuk mengabaikan sakit dari ketidakikhlasan itu.


Terlebih jika mereka harus kembali dipertemukan dalam satu waktu yang sama, Gus Hasan tak berbohong, rasa itu memang masih ada. Dan entah bagaimana pulalah ia akan mengatasinya jika pertemuan itu benar terjadi nantinya.


_________


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2