Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Ada apa?


__ADS_3

Sore itu sepulang dari North Quay Faris dan Aisha memutuskan untuk mengunjungi rumah ibunya, memberitahukan pasal keberangkatan mereka untuk pergi umroh dan berziarah ke makam ayahnya.


Tak butuh waktu lama mobil Faris telah memasuki pekarangan rumah Maya. Saat mobil terhenti, Aisha bergegas membuka seatbelt-nya dan meraih bingkisan di jok belakang, tak lupa amplop yang berisi tiket untuk keberangkatan mereka sudah ia genggam erat-erat.


“Ayo Abang!” ujarnya tanpa menunggu Faris membukakan pintu seperti biasanya. Wajah Aisha terlihat sangat berbinar dengan senyum yang sedari tadi tak pernah memudar.


Aisha menghentikan langkahnya, bergelayut pada lengan Faris dan menyandarkan kepalanya di bahu itu, menatap lekat rumah yang tak banyak berubah sejak kepergiannya.


“Kenapa Sayang?” tanya Faris yang sontak menghentikan langkahnya pula.


“Setiap kali Ica pulang ke sini, Ica selalu ngebayangin ada Ayah sama Ibu yang nyambut di depan pintu. Sayang, Ica bahkan sama sekali nggak sempet ngerasain kehadiran Ayah,” ujarnya menatap nanar pintu yang tertutup di tengah bangunan yang menjulang itu.


Faris membelai wajah itu lembut, menyalurkan ketenangan pada wanita yang tampak rapuh dalam sandarannya itu. Ia paham betul seperti apa sakitnya kehilangan, hanya saja selama ini ia berusaha untuk tetap tegar, karena saat ini ada jiwa baru yang juga membutuhkan perlindungannya.


“Kita masuk yah, jangan sampe Ibu liat Ica kayak gini,” tutur Faris menarik sang istri dalam dekapannya. Berjalan menuju pintu sebelum akhirnya mengetuknya.


“Assalamualaikum,” seru keduanya bersamaan. Tak selang beberapa detik, wajah yang amat mereka rindukan menyembul dari balik pintu.


“Ibu! Ica kangen banget sama Ibu,” serunya langsung menubruk tubuh yang hampir kewalahan dengan pelukan putrinya yang tiba-tiba.


“Ibu juga kangen sama kalian, ih udah ah malu tuh ada suami juga,” goda Maya meregangkan pelukan mereka, Faris segera menyambut dan mengecup punggung tangan mertuanya yang mulai merenta, tak lupa setelah itu ia juga mendekap tubuh itu erat seperti yang dilakukan istrinya.


“Ibu baik-baik aja kan Bu?” tanya Faris masih dalam dekapannya.


“Ibu baik kok, kalian sendiri?” tanyanya mengusap punggung lebar anak mantunya itu.


“Alhamdulillah kita baik, Aisha juga udah membaik.”


“Idih malu udah ada istri,” balas Aisha menggoda sang suami, membuat keduanya tergelak bersamaan.


“Ayo ah masuk!” ajak Maya mendahului keduanya.


“Kok sepi Bu? Pegawai lagi pada kemana?” tanya Aisha yang tak melihat satu pun pegawai yang biasa membantu ibunya.


“Lagi Ibu liburin, kasian kemaren abis ada proyek besar mereka butuh istirahat.”


“Padahal kalo Ibu butuh bantuan, Faris bisa kirim orang-orang rumah buat bantu-bantu di sini kok Bu,” tutur Faris mendudukan dirinya pada sofa di ruang tengah, di samping sang istri.


“Nggak kok Sayang, orang-orang di sini juga udah cukup,” jawabnya hendak beranjak.

__ADS_1


“Eh Ibu mau kemana?” tanya Aisha menghentikan pergerakan Maya.


“Mau ngambil minum lah, emang kalian nggak haus?”


“Ih biar Aisha aja Bu, Ibu duduk manis aja di sini. Ya kan Bang?” ujarnya yang segera diangguki sang suami.


“Wah udah gede nih anak Ibu ternyata.”


“Iya lah, makanya Bang Faris mau juga Bu,” selorohnya segera beranjak ke dapur menyiapkan minuman untuk mereka, meninggalkan Ibu dan suaminya yang masih tergelak di ruang tengah.


Tak butuh waktu lama Aisha sudah kembali dengan nampan yang berisi minuman dan beberapa kudapan yang sudah tersedia, memberikannya pada sang ibu juga suaminya.


Baru saja Faris hendak meneguk minumannya, tiba-tiba dering ponsel di saku celananya menghentikan aktivitas mereka.


“Siapa Bang?”


“Dari Rumah Sakit,” jawabnya setelah melihat layar ponselnya.


“Bentar yah,” imbuhnya lalu segera menjauh untuk menjawab teleponnya.


***


Azka meraih sang putra ke dalam gendongannya.


“Udah pa-pah,” jawabnya terbata dalam gendongan sang Papa.


Azka melirik jam yang melingkari pergelangan tangannya, sudah waktunya putranya tidur siang.


“Rafa bobo yuk sama Papa ya Sayang,” ajaknya melangkah masuk meninggalkan pekarangan.


“Holee …,” seru Rafa tampak sangat antusias.


“Mba Sani ngerjain yang lain aja,” imbuhnya yang masih melihat Mba Sani mematung di tempatnya.


“Oh baik, Tuan.” Mba Sani tertunduk sebelum akhirnya undur diri.


Setelah lebih dulu membasuh tangan dan kaki Rafa, Azka merebahkannya di ranjang sembari mulai bersholawat dan menepuk-nepuk lembut pungggung putranya.


Belum juga terlelap, akhirnya Azka mulai menceritakan tentang kisah-kisah Nabi. Tak lupa pula ia ceritakan tentang wanita yang sudah berjuang mati-matian menghadirkan Rafa ke dunia ini, wanita yang hingga saat ini sama seperti Aisha, masih bertakhta di relung hatinya.

__ADS_1


***


“Oh ya Bu, kita ke sini tuh mau kasih tau Ibu sesuatu loh.” Aisha berpindah duduknya ke samping sang Ibu saat Faris beranjak untuk mengangkat teleponnya.


“Apaan tuh?” Maya tampak penasaran melihat reaksi putrinya yang sangat antusias.


“Ta da!” seru Aisha menunjukan sebuah tiket umroh juga tour ke Turki.


“Kita berangkat sama-sama ya Bu, kita ziarah ke Ayah juga,” ujarnya berbinar.


Tiba-tiba raut wajah Maya berubah sendu, bayangan 25 tahun lalu kembali berputar di kepalanya yang mulai merenta.


“Kalian berdua aja ya Sayang,” tutur Maya menatap Aisha yang juga tengah mentapnya heran.


“Loh! Kenapa Ibu nggak ikut? Ibu lagi kurang sehat? Apa lagi banyak job yang nggak bisa ditinggalin?” Aisha benra-benar penasaran pada alasan sang Ibu.


“Ayah sudah tenang di sana Sayang, Ibu takut jika nanti justru akan kembali goyah, padahal selama ini Ibu udah susah payah untuk hidup tanpa bayang-bayang mereka,” tutur Maya bersamaan dengan bulir sendu yang turut lolos dari ujung netranya.


“Mereka? Maksud Ibu?” Aisha justru bingung dengan penuturan ibunya, siapa yang beliau maksud dengan ‘mereka’.


“Ah maksud Ibu adalah Ayah.”


“Maaf ya Bu kalo Aisha justru buat Ibu sedih karena harus inget lagi sama Ayah.” Aisha langsung menarik sang Ibu ke dalam dekapannya.


“Maafin Ibu ya Sayang, Ibu belum bisa kasih tau kamu sekarang.”


Keduanya saling melepas pelukannya saat melihat Faris kembali dengan tergopoh, Maya pun bergegas menghapus sisa-sisa air mata yang mungkin masih terlihat.


“Sayang maaf ya, Abang harus ke Rumah Sakit sekarang. IGD lagi numpuk banget, beberapa harus segera dilakukan operasi darurat,” tuturnya menghampiri sang istri dan Ibu mertuanya.


“Nggak apa-apa kamu berangkat aja Nak, biar Aisha di sini sama Ibu. Kalian nginep aja kalo gitu yah?”


“Nah kayaknya bener kata Ibu deh, biar nanti pulangnya Abang bawain baju ganti sekalian buat Ica yah,” imbuh Faris menyetujui snag Ibu.


“Ya udah sekalian Ica pengen nemenin Ibu juga, kalo gitu Abang hati-hati ya.”


“Iya Abang berangkat sekarang ya, Faris nitip Aisha ya Bu,” tuturnya mencium kening sang istri kemudian pencium punggung tangan sang ibu sebelum benar-benar bergegas meninggalkan keduanya.


***

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa. vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2