Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Biar saja berakhir


__ADS_3

Haiii readers semuaaa ... welcome back di kisah Faris dan Aisha.


Sebelumnya author ngucapin minal aidin walfaidzin yah mohon maaf lahir dan batin ya gesss


Mohon maaf juga karena sempet hiatus dari cerita ini, terima kasih yang sebesar-besarnya buat para pembaca setia yang masih nungguin kisah Babang Faris sama Ica.


Buat yang lupa gimana cerita mereka karena terlalu lama hiatus, boleh manjat dulu ya gesss ke episode sebelumnya 


Happy reading,


----


“Ayla kamu udah keterlaluan, Dek!” Faisal menatap adiknya itu tak percaya, ia menarik tangan Ayla agar menjauh dari orang-orang di sana, namun Ayla dengan cepat menepisnya.


“Ayla cuma mengungkapkan kebenaran Kak. Kebenaran bahwa Aisha selalu mengambil apa yang seharusnya menjadi milik Ayla!”


“Ikut Kakak!” Faisal menghela napasnya emosi, ditariknya tangan sang adik agar keluar dari ruangan itu.


“Sebenernya apa yang ada di pikiran kamu sampe kamu bisa menuduh Aisha sekejam itu Dek?” Faisal melepas tangan Ayla begitu mereka sampai di luar rumah.


Ayla mengusap air matanya mendengar pertanyaan sang kakak.


Faisal menghela napas perlahan lantas meraih Ayla ke dalam dekapannya, gadis yang sudah sejak kecil tumbuh bersama dengannya. Namun hari ini, sikap adik kecilnya sudah keterlaluan menurutnya, terlebih kepada wanita yang tak lain justru adalah adik kandungnya. Bagai memakan buah simalakama, tentu saja Faisal tak bisa memilih salah satu di antara keduanya.


Faisal tak sepenuhnya menyalahkan Ayla, mungkin adiknya begitu karena perasaannya yang ia tahu sudah terlanjur dalam untuk Gus Hasan, pria yang justru diam-diam mengagumi Aisha, adik kandungnya.


Mungkin juga karena kesalahpahaman Ayla hingga menganggap Aisha lah yang telah merebut semua yang menurutnya harus menjadi miliknya. Juga mungkin karena kelalaiannya menjaga juga membina adik kecilnya itu.


“Istighfar Dek, renungi kesalahanmu,” ucap Faisal membelai punggung adiknya itu.


Ayla hanya mengangguk dengan semakin mengeratkan pelukannya, “Ayla nggak mau kehilangan Kakak. Kak Isal nggak boleh kemana-mana,” racaunya dengan isak yang semakin terdengar ke telinga Faisal.

__ADS_1


“Nggak akan Dek, Kakak nggak akan kemana-mana. Seperti yang selalu Kakak bilang … sampai kapanpun kamu adalah adik Kakak, meski sekarang Kakak juga udah nemuin adik baru, wanita yang juga dilahirkan dari rahim yang sama kayak Kakak. Kakak mohon kamu ngerti ya Sayang ….”


Kebiasaan Faisal sejak dulu setiap menyikapi kesalahan adiknya adalah selalu dengan cara yang membuat Ayla tak bisa menolak apapun yang ia ucapkan.


“Tapi kenapa harus dia Kak? Dari banyaknya manusia di bumi ini, kenapa harus Aisha yang jadi saudara Kakak? Kenapa bukan orang lain!?”


“Dek … Kakak paham tentang perasaan kamu sama Hasan. Tapi Kakak minta tolong banget … jangan sampai perasaan kamu itu justru jadi bumerang untuk dirimu sendiri Dek, jangan sampai kamu buta dengan yang lainnya karena egomu semata. Aisha wanita yang baik, Kakak tau itu, bahkan jauh sebelum Kakak tau kalo dia adalah adik yang selama ini Kakak cari-cari. Bagaimana pun dia adalah adik yang dalam darahnya mengalir darah yang sama kayak Kakak, hati Kakak juga ikut sakit saat kamu tuduh adik Kakak seolah wanita perebut takdirmu.”


Faisal merenggangkan pelukannya, membuat Ayla semakin menunduk tak berani menatap wajah kakaknya.


“Semua yang menimpa hidup kita sudah di tulis oleh Allah. Baik buruknya seseorang, bukan kita yang menentukan. Ingat, Allah lah pemegang kendalinya Dek, bukan kita.”


Ayla kembali mengusap air mata yang berhasil lolos dari pelupuk matanya, perlahan ia memundurkan langkahnya, kembali memasuki rumah tanpa sedikitpun menjawab perkataan sang kakak.


“Maaf jika kehadiran kami justru mengusik keluarga kalian, saya permisi.” Maya segera mengakhiri perjumpaan antar dua keluarga malam itu begitu melihat Ayla dan Faisal kembali memasuki rumah, ia segera tergopoh menyusul langkah putrinya yang entah sudah menghilang kemana.


Hal itu sontak membuat Ayla dan Faisal yang baru saja kembali menghentikan langkah mereka masing-masing.


Dengan cepat Faisal menyalami baba dan mami angkatnya yang tampak masih mematung terkejut dengan apa yang mereka saksikan. Kini tinggalah mereka bertiga, sepasang suami istri dengan putrinya yang masih amat menyimpan benci untuk Aisha, saudara barunya.


Plakkk … kini giliran Abbas yang melayangkan tamparannya kepada putri semata wayangnya. Ajeng yang menyaksikan kemarahan sang suami pun hanya bisa terpekik lantas segera meraih Ayla ke dalam dekapannya sebelum suaminya semakin lepas kendali.


“Baba diam bukan berarti membolehkan kamu bertindak semena-mena pada orang lain Ayla! Apalagi dia itu saudaramu, dia adik kandung dari kakakmu! Kamu harus paham itu!” Abbas bahkan sampai berteriak saking kecewanya ia terhadap tingkah laku putri yang selama ini dibanggakannya.


“Ba udah Ba …,” lirih Ajeng mencoba menghalau aksi Abbas selanjutnya.


“Tampar Ayla Ba! Tampar sampai Baba puas!” Ayla pun memberanikan diri menatap balik sang ayah yang sudah murka terhadap tingkahnya.


Abbas menghela napasnya emosi, “Bawa putrimu ke kamarnya,” ucapnya pada Ajeng sambil memejamkan netranya, berusaha meredam emosi yang tengah menguasainya.


---

__ADS_1


Pagi harinya, Ayla tetap berniat untuk pergi ke kampus meski dengan wajah sembabnya, kejadian semalam benar-benar telah mengusik batinnya.


“Kamu beneran mau ke kampus, Sayang?”


Ajeng yang berniat hendak mengantarkan sarapan ke kamar putrinya seketika langsung menghampiri Ayla yang ternyata sudah bersiap tengah menuruni anak tangga dari kamarnya, ia khawatir melihat putrinya dalam keadaan seperti itu.


“Ayla nggak mau bermalas-malasan dengan harta yang udah Baba sama Mami berikan buat Ayla. Apapun alasannya, Ayla harus tetep kuliah, biar bisa jadi orang sukses nantinya, bair bisa mengurus diri sendiri pada waktunya nanti.” Kalimat itu keluar dengan sangat lembut dari bibir gadis cantik itu, tapi justru terdengar sangat menyayat bagi seorang ibu yang kini masih mematung dengan nampan berisi makanan yang dibawanya.


Dengan tenang gadis itu melewati ibunya setelah lebih dulu mengecup punggung tangan wanita yang sudah menghadirkannya ke dunia ini.


Pribadi yang sehat adalah cerminan dari jiwa yang sehat pula. Seseorang boleh dikatakan baik secara fisik, namun ketika batinnya tidak baik-baik saja, maka tubuhnya pun akan turut merasakan sakitnya.


Seperti seorang gadis yang kini justru menangkupkan wajahnya di atas meja di kelasnya, padahal pembelajaran tengah berlangsung. Sejak tadi otak Ayla memang sedikitpun tak bisa menerima apa yang tengah dosennya itu jelaskan, netranya hanya menatap kosong ke arah jendela yang menampakkan pemandangan yang juga tak dihiraukannya.


Hingga jam pelajaran usai, gadis itu hanya bisa kembali melangkah keluar tanpa sedikitpun mengindahkan ajakan teman-temannya yang memintanya untuk bergabung seperti biasa.


Bukan menuju basement kampus, Ayla justru menekan tombol lift menuju rooftop. Tempat dimana tak banyak orang berminat untuk menginjakkan kakinya di sana. Dan benar saja, hanya ia seorang diri di atap seluas itu.


Gadis itu melangkah hingga berhenti tepat di sisi paling ujung dari bangunan kampusnya itu, pemandangan orang-orang berlalu lalang dapat ia lihat dengan jelas saat netranya melirik ke bawah. Gedung dengan puluhan tingkat itu membuat orang-orang di bawah sana terlihat seperti segerombolan semut yang tengah merayap.


Perlahan kaki jenjang bak model itu menaiki tembok pembatas yang mungkin hanya sekitar satu meter tingginya, dari atas sana juga angin terasa lebih kencang berhembus menyapu wajahnya. Perlahan netranya pun terpejam, mengingat takdir hidup yang ia rasa-rasa tak pernah adil terhadapnya.


Jujur Ayla lelah dengan semuanya, lelah memikirkan orang-orang yang rasanya benar-benar tak ada yang mempedulikan apa yang dia inginkan.


“Hancurkan saja jika memang bukan untukku …!”


“Hancurkan saja Tuhan!!!”


“Aku ingin semuanya berakhir!”


Tak seperti biasanya, air mata kali ini terasa begitu hangat begitu melewati ujung netranya yang masih terpejam, hingga seketika Ayla merasa tubuhnya seakan melayang bagai burung-burung yang terbang bebas di ketinggian.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2