Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Kenapa Sha?


__ADS_3

“Gimana kalo kita belanja dulu buat makan malem Bukde, Ning? Sekalian sholat yuk,” ajak Aisha pada Nyai Hamidah dan Ning Sabina.


“Bukde ngikut kamu saja Nduk, wong kamu pemandunya di sini.”


“Iya Sha, ini dari tadi Fakih juga udah pengen maen,” imbuh Ning Sabina.


“Oh Guse pengen maen to? Mau main apa Gus?" tanya Aisha menjawil hidung Gus Fakih dengan gemas.


“Pengen mobil-mobilan di temjon Mba Ica,” rengek Gus Fakih kesulitan menyebutkan kata ‘timezone'.


“Iya Sayang, kita main yah ke sana yuk.”


“Holeee … Mba Ica cantik deh,” sorak Gus Fakih kegirangan.


“Tau aja kamu Le kalo sama yang cantik,” ujar Nyai Hamidah diikuti gelak tawa ketiganya.


“Pak, kita mampir ke Lenmarc dulu ya,” ujar Aisha pada Pak Maman yang mengemudikan mobilnya.


“Siap Bu.”


Tepat ketika adzan ashar berkumandang, rombongan Aisha tiba di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup besar di kota Surabaya.


Mereka memilih untuk segera melaksanakan solat di mushola yang sudah tersedia.


Tiba-tiba ponsel Aisha berdering ketika ia dan Nyai Hamidah hendak beranjak untuk berbelanja kebutuhan dapur, sedangkan Ning Sabina sudah lebih dulu melesat menemani Gus Fakih yang terus merengek ingin bermain di timezone.


Dengan segera Aisha menggeser tombol hijau pada screentouch nya setelah mengetahui siapa yang meminta panggilan video pada ponselnya.


“Hallo cantik.”


“Waalaikumsalam Le.” Nyai Hamidah yang mendengar sapaan keponakannya segera menimpalinya, dan Aisha segera mengalihkan kamera pada Bukdenya.


“Eh kirain nggak ada Bukde, iya Bukde Assalamu’alaikum.”


“Oh jadi kayak gitu kalo ndak ada Bukde kamu yah,” ujar Nyai Hamidah dengan tatapan sangarnya.


“Nggak Bukde, ampun Bukde,” ucap Faris menangkupkan kedua tangannya di depan kamera.


Sedangkan Aisha lagi-lagi hanya bisa menahan tawanya hingga membuat ponsel dalam genggamannya bergerak-gerak.


“Awas kamu Le!” ancam Nyai Hamidah mengalihkan kembali kamera pada Aisha sepenuhnya.


“Bukde mau ke toilet dulu yo.”


“Iya Bukde, Aisha tunggu di sini ya.”


“Siap Bukde!”


Terdengar Faris berteriak dari seberang sambil melongok kepergian sang Bukde dari balik kamera.


“Udah ke rumah Ibunya Yang?”


“Udah, ini lagi belanja dulu buat makan malem nanti, Abang lembur nggak?”


“Belum tau juga Yang, tapi nanti pasti Abang kabarin kalo lembur,” ujar Faris yang segera diangguki oleh Aisha.


Aisha bersyukur karena suaminya selalu memberitahukan hal sekecil apapun pada dirinya ketika di luaran sana banyak kandasnya sebuah hubungan yang disebabkan masalah komunikasi yang akhirnya membuat satu sama lain salah paham.


Sejatinya pria yang bertanggung jawab memang tak akan pernah menyepelekan yang namanya komunikasi, karena raja yang baik tak akan pernah membuat ratunya khawatir.


“Kalian udah makan belum?”


“Udah di rumah Ibu tadi. Abang sendiri udah makan?”


“Alhamdulillah udah Yang. Ica baik-baik yah, Abang mau lanjut lagi cari nafkah. Ada jadwal abis ini.”


“Iya Bang, Abang jangan cape-cape yah, jangan lupa istirahat.”


“Iya siap Sayang. Dadah Assalamu’alaikum,” ujar Faris melambaikan tangan pada kamera.


“Waalaikumsalam.”


Klik, sambungan panggilan diputus.

__ADS_1


“Aisha.”


Aisha yang merasa namanya disebut sontak menoleh ke arah sumber suara.


Deg, badan Aisha seperti kaku seketika, ia hendak memilih pergi tapi tak bisa.


“Mbak Sofi,” lirih Aisha mematung di tempatnya.


***


“Sha.”


Tiba-tiba sebuah sentuhan di pundaknya membuyarkan lamunan Aisha.


“Eh iya Bukde.”


“Yang tadi siapa Sha? Temanmu?”


“Ah iya Bukde. Bukde udah dari tadi di sini?”


“Belum lama kok. Yo wes ayo katanya mau belanja, nanti keburu sore.”


“Ah iya Bukde.”


Lagi-lagi Nyai Hamidah berhasil membuyarkan lamunan Aisha.


Tepat ketika adzan maghrib berkumandang di masjid komplek, Nyai Hamidah, Aisha, Ning Sabina, dan Gus Fakih tiba di rumah setelah berkeliling memenuhi troli belanjaan.


“Aisha ke kamar dulu ya Bukde, Ning,” ujar Aisha setelah membereskan barang belanjaan mereka bersama.


“Iya Nduk.”


Sudah menjadi kebiasaan ketika waktu solat tiba maka mereka para wanita akan solat berjamaah dengan Nyai Hamidah yang menjadi imamnya.


Saat ini Nyai Hamidah dan Ning Sabina sudah bersiap dengan mukena masing-masing di mushola menunggu Aisha turun dari kamarnya.


“Aisha kok lama ya Mi? Biasanya dia yang selalu dateng awal,” ujar Ning Sabina yang melihat jam di atas dinding semakin merangkak maju.


“Mungkin dia kecapean yah, jadi solat di kamar. Yo wes kita duluan saja, takut keburu habis juga waktunya.”


Tok … tok … tok ….


“Sha? Kamu di dalem Nduk?”


Hening, tak ada jawaban.


“Sha? Ini Bukde Nduk.”


Lagi-lagi hanya detak jarum pada jam dinding yang terdengar.


“Aisha kenapa Mi?” Ning Sabina yang juga penasaran mengekori Uminya ke kamar Aisha.


“Ndak tau, dari tadi Umi panggil ndak ada jawaban.”


Ceklek, Ning Sabina mencoba membuka pintu namun ia lupa jika pintu kamar adik sepupunya ini adalah digital door lock yang hanya bisa terbuka oleh sidik jari Aisha dan Faris.


“Database kuncinya minta pemindai sidik jari, Umi. Cuma Aisha sama Faris yang bisa buka.”


“Yo wes mungkin Aisha masih solat atau di kamar mandi jadi ndak denger,” ujar Nyai Hamidah menengahi.


“Ya udah Bina mau lanjut masak lagi deh Mi, mungkin bentar lagi Aisha turun.”


“Yo wes ayo Umi bantu.”


“Ndak usah, Umi nonton TV saja temenin Fakih.”


“Yo wes ayo.”


Keduanya akhirnya memilih untuk menunggu Aisha sembari menyiapkan makan malam.


Waktu terus saja merangkak maju, sudah satu jam setelah Nyai Hamidah dan Ning Sabina mengecek Aisha ke kamarnya bahkan hingga Ning Sabina selesai dengan kegiatan memasaknya Aisha belum juga menampakkan batang hidungnya. Bahkan waktu solat isya telah tiba.


“Aisha belum keluar juga Bin?” tanya Nyai Hamidah yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk mengambil air wudu.

__ADS_1


“Belum Mi, biar Bina cek lagi yah,” ujar Ning Sabina segera beranjak ke kamar adik sepupunya.


Lima menit kemudian Ning Sabina kembali, dan hasilnya masih tetap sama, tak ada jawaban apapun dari dalam kamar Aisha.


“Apa Aisha ketiduran ya Bin?”


“Kalo ketiduran pasti kebangun Mi, soalnya tadi Bina lumayan kenceng juga ngetok pintu sama manggil-manggilnya Mi.”


“Duh kenapa ya sama Aisha?”


“Yo wes kita solat dulu saja Mi kalo gitu, baru nanti dicek lagi,” ujar Ning Sabina yang segera diangguki oleh Umi nya.


“Assalamualaikum warohmatulloh.”


“Assalamualaikum warohmatulloh.”


“Duh Bin, Umi kepikiran terus ini. Mana Faris ndak pulang-pulang juga,” ujar Nyai Hamidah setelah menyelesaikan wiridnya dan menyalami putrinya.


“Yo wes ayo kita coba cek lagi Mi.”


Baru saja keduanya hendak beranjak ke kamar, ponsel Ning Sabina yang tergeletak di atas sofa berdering.


“Alhamdulillah akhirnya kamu nelpon juga Le.” Nyai Hamidah segera mengambil alih telepon.


“Emangnya kenapa Bukde?”


“Ini dari tadi Bukde sama Sabina lagi bingung, dari tadi sejak pulang belanja istrimu ndak keluar-keluar kamar. Bukde udah coba berkali-kali cek ke kamarnya tapi tetep ndak ada jawaban,” tutur Nyai Hamidah panjang lebar.


“Loh Faris juga dari tadi nelponin Aisha HP nya nggak aktif terus. Tapi tadi baik-baik aja kan Bukde?” Tampak sekali kekhawatiran tercetak di wajah lelah Faris.


“Sejak tadi Bukde titeni (perhatikan) setelah ketemu temennya pas belanja tadi yo Aisha kayak lebih pendiam gitu loh.”


“Temen? Siapa Bukde?”


“Bukde ya ndak tau wong tadi Bukde lagi ke toilet, pas balik lagi Aisha abis ketemu seseorang gitu, pas Bukde tanya katanya temennya.”


“Bukde inget ciri-cirinya nggak kayak apa?”


“Cewek, cantik sih lumayan, tapi ya menurut Bukde cantikan istrimu.”


“Itu sih jelas Bukde, nggak ada yang lebih cantik dari istri Faris lah. Tapi ciri-cirinya lebih spesifik gitu Bukde?”


“Nggak pake kerudung, rambutnya kira-kira sepunggung, dandanannya agak menor sih menurut Bukde. Oh ya terus pakeannya kurang bahan Le.”


Deg, fiks pikiran Faris langsung tertuju ke seseorang. Raut wajahnya pun berubah seketika.


“Ya udah Faris pulang sekarang yah Bukde, Assalamualaikum.”


“Iyo waalaikumsalam.”


Faris segera bergegas mengambil tas dan kunci mobil di meja kerjanya, bahkan ia tak mempedulikan pakaiannya yang masih menggunakan seragam operasi. Baginya, istrinya adalah segalanya, dunianya.


“Dokter Faris!” langkah Faris menuju basement terhenti.


“Dokter mau kemana? 30 menit lagi jadwal operasi VIP, Dokter.”


Seorang perawat mengingatkan jadwal Faris.


“Tolong kamu cancel semua jadwal saya malam ini ya, gantikan dengan Dokter Ridwan. Nanti saya yang konfirmasi ke beliau.”


“Baik Dok.”


Faris segera melesatkan range rovernya dengan kecepatan di atas rata-rata. Kini isi kepalanya hanya dipenuhi tentang wanita yang sepenuhnya telah mengisi dunianya.


***


Holaaa!


Sweet banget yah Babang Faris ... Author meleleh ini Bang…


Kira-kira Aisha diapain yah sama Sofia?


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang...


__ADS_2