Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Rumah Sakit orang waras


__ADS_3

Pukul 09.10 (GMT) pesawat yang Faris dan Aisha tumpangi lepas landas dari Kayseri Erkile Airport (ASR), meninggalkan hamparan-hamparan bebatuan Cappadocia yang tampak semakin indah dilihat dari ketinggian.


“Abang kenapa tadi pake laporin Ica segala ke bagian announce coba? Kan malu jadi diliatin seisi Bandara.” Aisha masih merajuk karena kekonyolan sang suami.


“Lagian bikin Abang khawatir aja sih, Ica kan tau Abang bisa gila kalo Ica beneran ilang. Soalnya Ica nggak ada duanya,” tutur Faris membuat wajah Aisha bersemu.


“Iya deh maaf udah bikin Abang khawatir, Ica tadi beneran kebelet banget, mau ngehubungin Abang juga kan ponsel Abang ada di Ica.”


“Iya iya Sayang nggak apa-apa. Makanya jangan ilang-ilang lagi ya.” Faris segera merengkuh tubuh mungil Aisha dan merebahkannya di dadanya seperti biasa, menikmati perjalanan singkat mereka dengan memandangi indahnya penampakan Turki dari ketinggian.


Menempuh perjalanan selama satu jam tiga puluh menit, akhirnya pesawat Turkish Airlines yang mereka tumpangi mendarat di Istanbul Ataturk Airport (ISTA) tepat pukul 10.40 (GMT+30).


Seperti biasa setelah pesawat mereka landing maka Roger sudah siaga di gate kedatangan menyambut Nyonya dan Tuannya.


“Kita kemana dulu Tuan?” tanya Roger setelah duduk di balik kemudi.


“Kemana Yang? Mau langsung ke pemakaman atau ke hotel dulu?” Faris justru melempar pertanyaan pada sang istri.


“Ke hotel aja dulu yuk, ke pemakamannya besok. Lagian Ica belum siap-siap,” jawabnya lagi-lagi merebahkan kepalanya di dada sang suami.


“Udah nggak sabar mau lanjutin honeymoon ya Yang?” goda Faris setengah berbisik di telinga Aisha, membuat wajah Aisha lagi-lagi bersemu merah.


“Ya udah kalo nggak mau,” ketus Aisha berpura-pura merajuk.


“Jangan gitu dong Sayang, Abang kan juga pengen ibadah selalu,” tutur Faris memasang puppy eyes-nya, membuat Aisha selalu menyerah jika sudah dihadapkan dengan pemandangan seperti itu.


“Uluh Sayang.” Kini giliran Aisha yang membawa Faris merebahkan kepalanya di dadanya, membuat Faris bersorak gembira dalam hatinya.


‘Menang banyak nih’


***


“Hallo Bi, dede Rafa udah makan belum?”


“ … “


“Vitaminnya juga udah Bibi kasih?”


“ … “


“Ok kalo bisa ajakin dia tidur siang ya Bi, soalnya nanti sore aku mau ajak dia jemput Papanya.”


“ … “

__ADS_1


“Makasih ya Bi, saya tutup teleponnya.”


Setelah mengakhiri panggilannya, Karina melangkah dengan riang ke arah kantin Rumah Sakit. Ia sedang tidak ingin makan-makan di luar karena harus pulang cepat dan bersiap untuk menjemput kepulangan Azka ke Bandara.


Ia memilih kursi di sudut ruangan dekat jendela, menikmati makanannya sambil memandangi pasien-pasien yang tengah bercanda ria di taman yang didampingi oleh para sanak keluarga.


“Hay, kebetulan banget kita ketemu di sini.”


Sapaan seseorang yang tiba-tiba duduk di kusri sebrangnya membuat Karina terpaksa mengalihkan pandangannya.


“Kebetulan? Lo palingan yang buntutin gue,” ujar Karina menatap jengah wanita yang kini di hadapannya, ya siapa lagi jika bukan Sofia dengan segala tekadnya.


“Enak aja lo! Dikira gue kagak punya kerjaan,” elaknya tak mau kalah.


“Emang iya, kerjaan lo kan nggak jelas, bisanya ngerusuhin orang terus.” Karina memilih melanjutkan makanannya dari pada harus meladeni wanita gila dihadapannya.


“Lo bilang Faris sama Aisha pergi umroh?” tutur Sofia saat Karina tetap fokus dengan makanannya.


“Lah terus?”


“Nih!” Sofia menunjukkan postingan Faris yang berisi foto Aisha yang jika dilihat dari tampilan dan caption-nya sepertinya mereka akan hang out ke suatu tempat, namun latarnya sengaja diburamkan sehingga tak bisa dikenali dimana mereka berada, info lokasinya pun sengaja tidak dimunculkan.


Seketika Karina terdiam memandangi foto Aisha pada postingan itu, ia merasa kecil jika dibandingkan dengan Aisha, wanita yang pastinya menjadi idaman para pria.


“Heh lo kok bengong sih? Ntar kesambet lagi lo.” Ujaran Sofia seketika mengembalikan kesadaran Karina.


“Lo masih ada niatan buat dapetin Faris? Lo nggak minder gitu yang harus lo saingin siapa?” tanya Karina setelah melihat bukti screenshot yang Sofia tunjukkan.


“Kenapa gue harus minder? Gue punya segalanya, bahkan gue punya apa yang Aisha nggak punya! Faris cuma belum tau gue lebih dalem aja.” Dengan percaya dirinya Sofia menyatakan dirinya lebih sempurna dibandingkan Aisha.


‘Iya Aisha mah nggak punya hati busuk kayak lo’


“Emang niat banget ya lo sampe stalking medsos mereka.”


“Lo jawab dulu pertanyaan Gue!”


“Ya gue mana tau kalo mereka pergi-pergi lagi, gue mah taunya mereka pergi umroh karena gue diundangnya juga walimatussafar buat umroh bukan buat honeymoon,” bela Karina karena memang ia tak berbohong dengan apa yang dikatakannya.


“What? Honeymoon?” pekik Sofia membuat seisi kantin sontak menoleh ke arahnya.


“Brisik lo! Ini Rumah Sakit. Ya mungkin aja kan, pernikahan mereka kan terbilang masih anget.”


“Nggak bisa! Ini nggak bisa dibiarin!”

__ADS_1


“Kalo lo nyamperin gue cuma buat ngomongin gimana caranya misahin Faris sama Aisha, mendingan lo cabut deh, karena gue nggak mau dan nggak akan pernah mau bantuin rencana gila lo! Kalo lo nggak mau cabut, ok biar gue aja.”


Karina segera membenahi penampilannya lantas bangkit dan berniat untuk beranjak dari kursinya. Tapi dia kalah cepat dengan aksi Sofia yang segera mencekal lengannya.


“Bren*sek lo! Lo kira lo siapa? Jangan sok suci deh lo!”


“Gue emang bukan siapa-siapa, dan gue juga nggak sesuci yang lo kira. Tapi setidaknya gue masih punya hati sebagai perempuan!” ujar Karina mengibaskan cekalan Sofia di lengannya.


“Lo!” teriak Sofia melayangkan tamparannya ke wajah Karina, namun tiba-tiba tangannya dihentikan paksa di udara. Karina yang sudah memejamkan mata sontak membukanya saat tak kunjung merasakan apapun di wajahnya.


“Azka,” ucap Karina saat mengetahui penyebab tamparan Sofia tak sampai di wajahnya, ternyata Azka yang menahannya.


“Singkirkan tangan kotor anda dari dia!” ujar Azka menghempaskan tangan Sofia yang ditahannya di udara.


'Bukannya dia Azka yang mantannya Aisha?'


“Siapa lo? Nggak usah ikut campur urusan orang!” ketus Sofia menutupi keterkejutannya.


“Oh jelas saya harus ikut campur, karena dia calon istri saya. Dan saya harus memastikan


dia selalu baik-baik saja.”


'What? Dia calon suaminya Karin? Apa dia beneran udah bisa move on dari Aisha?'


“Oh jadi dia yang udah cuci otak lo buat jauhin gue Rin?” Kini Sofia kembali beralih pada Karina.


Karina yang masih terkejut oleh kedatangan Azka masih diam mematung di tempatnya tanpa sepatah kata pun.


“Maaf Mba anda salah tempat kalo datang ke Rumah Sakit ini, karena di sini tempatnya merawat orang-orang waras. Buat orang yang kurang waras seperti anda, tempatnya ada di belakang alun-alun kota,” tutur Azka menunjuk gedung Rumah Sakit Jiwa yang menjulang di balik alun-alun kota.


Azka lantas segera meraih tangan Karina dan membawanya segera pergi meninggalkan Sofia


dengan umpatan-umpatannya. Beruntung keadaan kantin sudah cukup sepi sehingga


tak banyak yang menyaksikan adegan tak mengindahkan seperti tadi.


***


Tuh denger kan Mba Sofi!!! tempatnya orang waras bukan di Rumah Sakit ini :D :D :D


Bersambung ...


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2