Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Berubah tak semudah yang dikira


__ADS_3

Menghembuskan napasnya berulang kali, Ayla memantapkan hati untuk melangkah memasuki area kampusnya. Entah respon seperti apa yang akan ia dapat dari orang-orang yang dilaluinya nanti, terlebih dari teman-teman hedonisnya, tapi Ayla sudah bertekad untuk menerimanya, apapun dan bagaimanapun.


Gadis berdarah campuran itu memilih untuk tidak langsung memasuki kelasnya, ia melangkahkan kaki jenjangnya yang sudah tertutupi rok panjang menuju ke perpustakaan. Selain ingin tahu bagaimana reaksi orang-orang yang akan dilewatinya ia juga ingin menyambangi gedung perpustakaan yang sangat jarang sekali dikunjunginya selama berkuliah di sini.


Ayla bukanlah gadis kuno yang tak tahu caranya bergaul, gadis itu bahkan cukup populer hingga menjadi salah satu most wanted di fakultasnya. Selain karena kepiawaiannya dalam bernyanyi yang cukup menaikkan karirnya, beberapa orang juga tahu bahwa gadis itu adalah adik dari Faisal Ameer, salah satu pengajar yang sangat populer di kalangan mahasiswa. Tentu saja selain karena parasnya yang menawan, dosen muda itu juga memiliki karir yang sangat cemerlang sebagai penerus Abbas Group nantinya.


“What do you mean with this fucking clothes Ayla?!”


Ayla menghentikan langkahnya mendengar umpatan itu, seorang gadis berwajah barat tampak menatap kaget ke arahnya bersama seorang lelaki berwajah oriental. Mereka adalah Jane gadis berdarah spanyol dan Altan pemuda berdarah eropa yang sama berasal dari Istanbul sepertinya. Keduanya adalah teman satu angkatan Ayla juga teman-teman yang selalu menemaninya menghabiskan harta orang tuanya ketika kehidupannya masih sebebas sebelumnya.


Berbeda dengan Jane yang tampak begitu terkejut, Altan justru tampak biasa saja dengan penampilan Ayla kini. Meski pemuda itu seorang atheis, tapi sepertinya pemandangan wanita berhijab bukan lagi sesuatu yang aneh baginya yang sejak kecil tumbuh di kota ini.


“You look so weird Baby,” imbuh Jane yang tampak menelisik penampilan Ayla dari ujung kaki hingga kepala.


Ayla mengulas senyumnya menanggapi komentar teman baiknya perihal gaya pakaiannya hari ini, ia sudah bisa menebak semuanya.


“Yeah, what ever you say Jane. This is me right now, and ever,” sahut Ayla membuat Jane kembali melongo. Sedangkan Ayla memilih kembali melanjutkan langkahnya tak ingin terlalu menghiraukan komentar temannya itu.


“Ayla wait! Kita nggak mungkin ke club dengan pakaianmu seperti ini kan?” Jane kembali menghadang langkahnya.


“You right Jane, karena aku juga sudah tidak mungkin lagi pergi ke club,” sahut Ayla enteng yang justru membuat Jane kembali terkejut, ia bahkan sampai memundurkan langkahnya.


“Ini terlalu tiba-tiba Ay, kita belum bisa menerima perubahan kamu. Entah dengan Caroline dan Richard,” ujar Jane mengingatkan Ayla kepada dua orang terdekatnya lagi.


“Well, I see. Tapi caraku menjalani hidup tidak harus atas persetujuan kalian kan?” tanya Ayla lugas.


Duar! Gadis berdarah spanyol itu kalah telak atas pertanyaan Ayla.


“Let’s go Jane, we have to go.” Altan tiba-tiba menarik tangan Jane untuk menghindari perdebatan sesama teman itu, keduanya pun memang harus berpisah dengan Ayla karena mereka berbeda jurusan. Ayla dengan jurusan business administration sedangkan Jane dan Altan jurusan public finance.


Ayla menghela napasnya dengan lega, itu baru tanggapan dari Jane dan Altan, ia bahkan belum tahu bagaimana reaksi Caroline dan Richard jika melihat penampilan barunya ini. Entah mereka akan seperti Jane dan Altan atau justru akan mendukung keputusannya ini. Memikirkannya saja sudah membuat kepala Ayla berdenyut. Ia memilih kembali melangkahkan kakinya menuju perpustakaan sebelum memasuki kelasnya yang akan berlangsung tiga puluh menit lagi.

__ADS_1


Netra Ayla mulai menyisir ke arah rak-rak yang tertata rapi dalam ruangan yang begitu luas itu, merasa menemukan buku yang dicarinya sebuah senyum terbit menambah kesan anggun penampilannya kini.


“Apa kamu melakukan semua ini agar terlihat seperti Aisha?” Ayla yang tengah menunduk membuka buku dalam genggamannya seketika mendongak mendengar suara bariton itu, gadis itu menoleh dan mendapati sosok yang diam-diam mengisi hatinya sudah berdiri tak jauh dari tempatnya.


“You mean?” Refleks, hanya itu pertanyaan yang mampu keluar dari bibir Ayla.


Pemuda itu tampak mengulas senyumnya singkat, “Penampilan kamu, apa kamu merubah penampilanmu seperti ini agar terlihat seperti Aisha?” tukas Gus Hasan memperjelas pertanyaannya.


Blam! Tiba-tiba Ayla merasa ulu hatinya seperti baru saja dihantam sesuatu yang keras. Mungkin jika yang mengatakan semua itu bukanlah Gus Hasan, lelaki yang memang selama ini berhasil menyita ruang di hatinya Ayla tidak akan merasakan sesakit ini. Tapi ketika ternyata kalimat itu terlontar dari mulut seseorang yang justru dicintainya, kenapa rasanya sakit sekali? Kenapa lelaki di hadapannya itu tega sekali menuduh dirinya seperti itu? Apa serendah itu ia di mata Gus Hasan hanya karena gadis itu pernah terang-terangan mengungkapkan perasaannya?


Sekuat tenaga Ayla menahan tangis dari matanya yang sudah memanas, sungguh sedikit pun tak ada niatan dirinya seperti itu. Ia hanya ingin menjadi manusia yang lebih baik, seperti yang selalu Nyonya Khadijah contohkan selama ia mengenal wanita paruh baya yang selalu mengenakan gamis panjangnya itu.


Ayla menutup kembali buku di tangannya, langkahnya mendekat ke arah Gus Hasan yang masih bergeming di tempatnya.


“Terserah bagaimana prasangkamu, sepertinya aku tidak perlu menjelaskan perihal urusanku dengan Tuhanku.”


 Ayla segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, ia tidak ingin sampai lelaki yang telah memporak-porandakan hatinya melihatnya menitikkan air mata. Ia tidak boleh terlihat lemah, Ayla tetaplah Ayla, gadis pemberani yang akan selalu berusaha melindungi dirinya sendiri.


“Apa memang sesulit ini berubah menjadi lebih baik?” gumamnya mengingatnya tuduhan Gus Hasan atas perubahannya, belum lagi tanggapan teman-teman hedonisnya.


“Apa aku akan kuat ke depannya?” Gadis itu sudah bersandar lemah di atas toilet dengan netra yang terpejam. Sungguh ia benar-benar membutuhkan tempat mengadu saat ini.


Di ruangannya, seorang lelaki mengepalkan tangannya dengan kuat, buku-buku jarinya bahkan sampai memutih karenanya. Amarah lelaki itu hampir saja meledak kala mendapat kabar tentang gadis kecilnya dari salah satu orang kepercayaannya.


“Kakak nggak akan biarkan siapapun mengusik kehidupanmu,” geramnya memejamkan netra untuk meredakan emosinya.


Selesai dengan kelasnya yang terasa begitu lama, Ayla tak lagi membuang waktu seperti biasanya. Ia segera melangkah menuju mobilnya, berniat untuk mengunjungi panti asuhan tempat Nyonya Khadija tinggal. Ia tidak sabar ingin memberitahukan perubahan besar dalam dirinya ini kepada wanita itu.


“Ayla.” Gadis itu menoleh tepat sebelum jemarinya meraih gagang pintu mobilnya.


“Altan?” Lelaki berwajah oriental itu tampak berjalan mendekat ke arahnya.

__ADS_1


“Aku hanya ingin meminta maaf soal kejadian tadi pagi, terlebih sikap Jane kepadamu,” ujarnya menatap lekat gadis yang kini berpakaian serba tertutup itu. Altan kini bahkan tak bisa lagi melihat rambut Ayla yang selalu tergerai indah di matanya.


“It’s okay, ini memang keputusanku. Mau tidak mau aku pun harus menerima resikonya, termasuk penolakan dari teman-temanku.”


“Bagaimana dengan Caroline dan Richard?”


Ayla menggeleng lemah, “I don’t know. Aku belum bertemu dengan mereka, sepertinya mereka absen lagi hari ini,” sahutnya mencoba mengalihkan pandangan dari Altan yang sepertinya sejak tadi terus menatapnya lekat. Pria itu memang teman dekat Ayla, namun pria itu selalu terlihat lebih kalem diantara teman-temannya yang sangat bar-bar.


“Jangan khawatir, mereka hanya belum terbiasa. Aku jamin kedepannya semua pasti akan baik-baik saja,” ujar lelaki itu tulus.


Ayla pun mengulas senyumnya mendengar penuturan temannya yang satu ini, Altan memang selalu bisa diandalkan dalam hal apapun.


“Kamu masih tetap mau berteman dengan kami, Ayla?” tanya Altan yang tampaknya sudah lebih bisa menerima perubahan Ayla kini. Sepertinya lelaki itu khawatir jika sikap Ayla akan berubah bersamaan dengan ia merubah penampilannya. Bagaimanapun, Altan tidak ingin kehilangan gadis itu. Ayla adalah teman yang menyenangkan, bahkan mungkin lebih dari itu menurut Altan.


Lagi-lagi Ayla kembali dibuat tersenyum, “Yes of course, aku tetap teman kalian seperti dulu. Tapi, itupun jika kalian tahan dengan perubahanku yang seperti ini,” jawab Ayla.


Altan pun mengangguk paham, tidak bisa dipungkiri jika perubahan Ayla kini pasti akan berimbas juga pada cara berteman mereka nanti, mungkin akan ada banyak hal yang tidak bisa lagi mereka lakukan bersama seperti dulu. Seperti berpesta di klub misalnya.


“Ok let’s we see, apakah kamu masih tetap menjadi teman yang menyenangkan atau tidak,” ujar Altan yang justru mengundang tawa gadis di hadapannya.


Ayla melirik arlojinya yang kini bertengger di pergelangan tangannya yang tertutup, ia sedikit menyingkap lengan bajunya untuk melihat. “Sorry Altan, sepertinya aku harus pergi sekarang, aku ada urusan,” ujarnya mengakhiri pertemuan itu.


“Ok have a nice day, Ayla,” sahut Altan yang segera diangguki oleh gadis itu.


“Kamu tetap cantik meski dengan pakaian tertutup itu, Ayla,” imbuh Altan membuat Ayla kembali menoleh.


“Thanks Altan,” sahutnya sebelum benar-benar memasuki mobil dan meninggalkan lelaki itu yang tetap bergeming di pelataran kampusnya, bahkan hingga mobil yang dikendarai Ayla menghilang di ujung tikungan.


***


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2