
Pagi ini Faris berangkat ke Rumah Sakit seperti biasanya, tak terlalu pagi seperti hari-hari sebelumnya. Ia kini tengah berkumpul di meja makan untuk bersarapan bersama istrinya juga Tasya.
“Sini Sayang, Tasya Abang yang suapin biar Ica bisa makan juga.” Faris mengambil alih sepiring nasi goreng dari tangan Aisha dan menggantikan untuk menyuapi Tasya.
“Hari ini Abang lembur?” Aisha bertanya sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
“Iya Sayang, nggak apa-apa kan?”
Aisha hanya mengangguk tanda dirinya baik-baik saja.
“Tasya nanti sekolah dianterin sama Tante cantik ya, Om Faris mau kerja dulu,” tutur Faris yang langsung diangguki oleh Tasya.
“Good girl,” ucap Faris dan Aisha bersamaan.
Setelah Faris lebih dulu berangkat, Aisha pun kini mengantar Tasya ke sekolahnya dengan diantar oleh Roger.
“Tante … kaki Tasya kesemutan, Tasya nggak bisa jalan.” Tiba-tiba Tasya memegangi kakinya ketika Roger sudah menghentikan mobil mereka di halaman sekolah.
“Coba Tasya gerakkin pelan-pelan ya,” ujar Aisha turut memegangi kaki gadis kecil itu.
Selang beberapa saat bel di taman kanak-kanak itu berbunyi yang menandakan waktunya masuk ke kelas.
“Tante itu bel tanda masuk, nanti Tasya bisa telat. Tapi Tasya belum bisa jalan,” keluhnya sesaat setelah bel berbunyi.
“Biar saya gendong saja Non Tasyanya Nyonya.” Roger menawarkan diri sambil membukakan pintu untuk mereka.
“Tasya nggak mau digendong Om itu Tante, Tasya nggak kenal.” Tiba-tiba Tasya merengek tak ingin digendong oleh Roger.
“Ini Om Roger Sayang, Tasya nggak usah takut, ini temen Tante kok.”
“Nggak mau … Tasya mau digendong Tante cantik aja,” pinta Tasya membuat Aisha semakin bingung, pasalnya kandungannya masih sangat rentan jika ia harus menggendong Tasya yang tentu saja akan menekan area perutnya.
Sekali lagi bel berbunyi membuat Aisha tak ada pilihan lain selain menggendong Tasya dan mengantarnya ke kelas.
“Anak Mami kuat, kita anterin Kak Tasya dulu ya ke kelas.” Aisha berujar dalam hati semoga bayinya baik-baik saja.
“Wah Tasya dianterin siapa nih? Tumben nggak sama Mama.” Seorang wanita berpakaian rapi yang Aisha yakini sebagai guru Tasya menyambut kedatangan mereka.
“Mama lagi sibuk Bu guru, ini Tante cantik, tantenya Tasya.” Dengan semangat Tasya memperkenalkan Aisha pada gurunya.
“Aisha Bu.” Aisha mengulurkan tangannya dengan ramah.
Seketika wanita yang mengaku gurunya Tasya itu tercengang saat menyalami Aisha.
“Wah … bukankah ini Bu Aisha istri dari Dokter Faris Abdullah kan?”
“Benar Bu, Ibu kenal dengan suami saya?” Aisha bertanya dengan canggung.
“Ibu ini suka becanda yah, tentu saja saya tau suami anda Bu, wajah beliau saja selalu menjadi trending majalah bisnis dan kesehatan. Pantas saja saya merasa Ibu ini sangat familiar.” Bu guru itu tampak sangat antusias, sedangkan Aisha hanya bisa tersenyum kikuk tak menyangka suaminya akan sepopuler itu.
“Tasya masuk dulu ke kelas gabung sama yang lain yah.” Sang guru berujar agar Tasya segera masuk ke kelasnya, kemudian ia kembali menghampiri Aisha yang masih menunggu hingga Tasya masuk ke kelas.
“Bu Aisha boleh saya minta foto bareng nggak sama Ibu? Ternyata Ibu jauh lebih cantik dari yang saya kira.” Entah bagiamana tiba-tiba guru itu sudah menyiapkan ponselnya.
“Tentu saja boleh Bu,” jawab Aisha dengan ramah.
__ADS_1
“Roger … tolong kamu fotokan kita ya.” Aisha memanggil Roger yang berdiri tak jauh darinya.
“Baik Nyonya.” Roger segera mendekat dan mengambil gambar dua wanita berbeda rupa itu.
“Wah beda ya kalo orang kaya, kemana-mana dikawal bodyguard.” Guru itu bergumam sendiri sambil memandangi kegagahan Roger yang semakin tampak jelas dari dekat.
“Terima kasih ya Bu Aisha atas waktunya, sering-sering anterin Tasya ke sini Bu, kalo bisa sekalian ajak Pak dokter juga, hehe.” Roger hanya menggeleng melihat tingkah wanita yang mengaku sebagai gurunya Tasya itu.
“Kalo suami saya nggak sibuk ya Bu.” Aisha berujar dengan sopan lantas segera berpamitan karena sejak tadi perutnya sudah terasa tak nyaman setelah menggendong Tasya.
“Kita langsung pulang Nyonya?”
Aisha mengangguki pertanyaan Roger dan segera merebahkan dirinya di kursi penumpang, kram diperutnya semakin saja terasa.
“Roger, nanti jam pulang sekolah kamu jemput Tasya ya, ajak juga pelayan wanita yang lain, takutnya Tasya takut kalo cuma kamu sendiri,” tutur Aisha dengan mata terpejam merasakan kram di perutnya.
“Baik Nyonya, apa Nyonya baik-baik saja?” Roger bertanya ketika matanya tak sengaja melirik spion dan mendapati Nyonya mudanya yang tampak seperti tengah menahan nyeri.
“Perut saya rasanya kram sekali Ger.” Aisha menjawab dengan jujur.
“Apa kita perlu ke Rumah Sakit Nyonya?”
“Nggak usah, saya bisa tangani sendiri. Kamu lebih cepet aja nyetirnya biar cepet nyampe nih.”
“Siap Nyonya.”
Sampai di Rumah Aisha langsung melangkah ke kamarnya, kali ini ia lebih memilih menggunakan lift agar cepat sampai, tak lupa ia meminta salah satu pelayannya untuk membawakan kompresan air hangat untuk meredakan otot-otot di perutnya.
‘Roger, kamu jangan lupa ya jemput Tasya nanti’, Aisha mengetikkan pesan untuk Roger sebelum merebahkan dirinya ke atas pembaringan.
“Anak Mami baik-baik aja di dalem kan Sayang?” Berkali-kali Aisha mengelusi perutnya sambil mengompresinya dengan air hangat.
***
“Mau kemana nih?” goda Azka saat dilihatnya Karina sudah masuk ke mobilnya.
“Kemana aja yang penting perut kenyang,” ujar Karina datar.
“Oh lagi kelaperan nih … asisten di rumah lagi pada cuti ya jadi nggak ada yang masak?” Lagi-lagi Azka gemar sekali menggoda Karina hingga kesal.
“Ih cepetan ayo jalan.” Tiba-tiba Karina merengek karena Azka yang tak kunjung melajukan mobilnya.
“Siap Nyonya, let’s go ….” Azka bersorak sendiri membuat Karina memicingkan mata menatapnya aneh.
Sejak tadi Karina hanya fokus memandangi jalanan yang selalu tampak ramai, kepalanya dipenuhi dengan rasa penasaran akan dibawa kemana dirinya oleh Azka.
‘Apa iya nih gue cuma mau diajak kondangan?’
Hingga akhirnya Azka memarkirkan mobilnya di halaman sebuah restoran yang cukup ramai, namun Azka tak mengajaknya untuk duduk pada salah satu meja di sana, justru Azka membawanya terus melangkah hingga ke bagian belakang restoran itu.
“Heh mau ngapain kamu bawa aku ke tempat sepi-sepi gini?” Karina yang merasa di sana lebih sepi dari ruang utama restoran sontak menghentikan langkahnya karena Azka tak kunjung menjelaskan padanya.
“Yaelah takut banget aku apa-apain di sini?” Azka bertanya namun sejurus kemudian segera menggandeng tangan Karina agar mengikuti langkahnya, tak peduli lagi dengan Karina yang tampak ragu-ragu dengan langkahnya karena merasa was-was.
Tiba-tiba mereka tiba di sebuah taman yang berdampingan indah dengan sebuah kolam yang tampak alami namun sebenarnya juga buatan manusia.
__ADS_1
Di sana sudah tertata dengan rapi sebuah meja lengkap dengan dekorasi cantiknya, sepanjang jalan hingga ke meja itu diiringi oleh lilin yang tampak sangat indah bersinar di kegelapan.
“Ayo katanya laper.” Azka berbalik ketika dirasanya Karina justru menghentikan langkahnya dan mematung di sana, yang sebenarnya Karina tengah mengkondisikan hatinya yang saat ini ingin bersorak gembira melihat semua yang sudah Azka siapkan.
Azka langsung saja kembali menggandeng Karina dan berjalan beriringan menuju meja yang berada tepat di tepi kolam itu.
“Bener kamu nggak ada niat mau nyeburin aku ke kolam kan? Aman nggak nih?”
“Gusti … sini pegangin baju aku biar kalo kamu nyebur aku juga ikutan nyebur.” Azka meraih tangan Karina agar memegangi ujung kemejanya.
“Awas kamu kalo jail.”
“Suer … kali ini aman.” Azka sudah mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf ‘V’.
Azka menarik kursi agar Karina duduk di sana, lantas ia sendiri duduk di kursi sebrang. Sejurus kemudian beberapa orang pramusaji menghidangkan makanan tepat ketika mereka mendudukan diri di sana.
“Selamat menikmati tempat dan hidangan kami, Tuan dan Nyonya.” Salah satu pramusaji itu berujar dengan ramah lantas berbalik dan diikuti oleh yang lainnya.
“Ayo makan, apa jangan-jangan mau disuapin ya?” Azka berujar ketika melihat Karina hanya bergeming di tempatnya.
“Gimana mau makan? Liat ….” Karina mengangkat seperangkat alat makan yang hanya satu set.
Azka sendiri cukup melongo melihat hal itu.
“Apa emang konsep couple tuh kayak gini?” Azka bergumam dengan hati-hati yang lebih terdengar seperti sebuah pertanyaan.
“Kenapa juga kamu pake pesen yang couple set sih?” Karina sudah menepuk dahinya sendiri karena bingung harus bagaimana caranya makan.
“Biar hemat.” Lagi-lagi Azka berseloroh dengan entengnya.
Pletak … Karina langsung saja menyentil dahi Azka saat mendengar jawabannya.
“Yaelah Bu dokter tuh KDRT mulu deh.” Azka hanya bisa menggerutu memegangi dahinya sendiri.
“Terus ini kita gimana makannya?”
Tanpa menjawab, Azka langsung mengeluarkan isi dari alat makan itu yang memang hanya terdapat satu sendok, satu garpu, dan satu pisau juga.
Dipotongnya steak di hadapannya perlahan, lantas ia menyodorkan hasil potongannya kepada Karina.
“Ayo aaa ….” Azka meminta agar Karina membuka mulutnya.
Sedangkan Karina masih saja bergeming karena merasa canggung jika makan harus disuapi seperti itu.
“Atau mau pake tangan langsung?” Pertanyaan itu berhasil membuat Karina membuka mulutnya juga.
Untuk beberapa saat mata mereka bersitatap, keduanya saling terdiam menyelami iris di hadapannya masing-masing.
“Ini beneran kamu nggak ada niat mau ngejailin aku kan?” Karina kembali memicing ketika Azka hendak menyuapkan makanan it uke mulutnya.
“Nggak usah ngerusak suasana deh.” Azka sontak menggerutu kesal karena sejak tadi Karina tetap saja tak peka terhadap semua yang sudah disiapkan untuknya.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...