Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Rencana lain


__ADS_3

Di dalam ruangannya, Faisal kini tengah sibuk berkutat dengan ponselnya, sejak tadi jemarinya berselancar di atas touchscreen ponselnya mencari akun sosial media milik wanita yang sudah menyelamatkan hidupnya.


Setelah menstalk satu persatu akun insta** am bernama Aisha, akhirnya ia menemukan akun bernama Aisha_Ameera yang merupakan akun asli milik wanita yang dicarinya kini. Segera saja ia tekan tanda kirim pesan untuk menyampaikan maksud dan tujuannya menghubungi wanita itu.


‘Assalamualaikum …, Aisha mohon maaf saya sudah lancang mengirim pesan sama kamu, sampaikan juga maafku pada suamimu agar dia tidak salah paham terhadap saya. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih banyak karena Allah telah menyelamatkan nyawa saya dengan perantara tanganmu, dan alhamdulillah saat ini kondisi saya sudah jauh lebih baik. Rasanya ucapan terima kasih saya ini tidak berarti apa-apa untuk keberanian pertolongan yang sudah kamu berikan. Karena itu, saya harap kamu berkenan untuk kita bertemu secara langsung, setidaknya agar saya bisa mengucapkan terima kasih ini secara langsung sama kamu. Keluarga saya pun ingin bertemu denganmu, mereka berharap kamu bersedia untuk memenuhi undangan kami ini. Sekali lagi saya mohon maaf sudah lancang mengirimu pesan.’


Send … delivered … namun belum dibaca oleh sang pemilik akun.


Di belahan bumi lain, Roger kini tengah mengendap-endap mengikuti gadis pada foto yang Tuannya kirimkan. Ia terpaksa turun dari mobil karena gadis itu pasalnya memasuki gang sempit yang tidak akan mungkin untuk mobilnya melintas.


Sesekali Roger bersembunyi di balik sesuatu yang bisa menyembunyikan tubuhnya saat gadis itu menoleh. Entah sudah berapa kali Roger kelabakan sendiri mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya, sepertinya gadis yang diikutinya kini mempunyai feeling yang kuat. Terbukti sejak tadi gadis itu tak henti-hentinya menoleh karena merasa ada langkah yang juga mengikuti dirinya.


Di penghujung gang, gadis itu terdiam cukup lama ketika dihadapkan dengan dua belokan yang berbeda arah, sontak Roger pun menghentikan langkahnya.


Tiba-tiba … srettt … gadis itu menoleh tanpa aba-aba, membuat Roger secepat kilat berjongkok di balik tong besar yang berisi sampah yang teronggok di sampingnya.


Setelah beberapa saat tak mendapati pergerakan apapun, Roger memberanikan diri untuk mengintip keadaan sekitar, namun ia tak lagi mendapati gadis itu di ujung gang.


“Aduh belok kemana ya di tadi? Kanan? Apa kiri?” gumam Roger kebingungan.


“Mas nya cari saya?”


Roger sontak terlonjak kaget hingga tubuhnya mundur beberapa langkah menabrak tong besar yang berisi sampah.


“Memangnya kita punya urusan apa sampe saya harus repot-repot nyariin Mba?” tutur Roger memasang wajah dinginnya seperti biasa dan berpura-pura tak mengenal gadis di depannya itu.


“Misalnya Tuan anda, Bapak Faris menantu dari Ibu Maya atasan saya yang menyuruhnya …,” ujar Salsa membuat Roger sontak gelagapan.


“Jawab atau saya teriak kalo anda mau mencoba membegal saya? Biar semua penghuni gang ini mematahkan tulang-tulang anda,” ujar Salsa penuh penekanan dan terdengar seperti sebuah ancaman yang membuat Roger bergidik seketika.


“Ok ok saya ngaku kalo saya emang disuruh Tuan Faris buat ngikutin Mba, tapi sumpah saya nggak ada niat jahat kok. Saya hanya diperintahkan untuk mengambil ponsel Mba.” Ancaman Salsa berhasil membuat Roger mengaku dengan satu tarikan napas.

__ADS_1


Klik, Salsa menekan layar ponselnya. Ternyata sejak tadi gadis itu merekam seluruh pembicaraan mereka, membuat Roger lagi-lagi menganga tak percaya.


“Sekarang mau pergi apa saya teriak?” ancam Salsa kembali.


Seketika Roger mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, seperti seorang tersangka yang sudah ditodongkan pistol oleh sang polisi, “Ok ok saya pergi sekarang,” ujarnya lantas melangkah mundur meninggalkan gadis yang ternyata tak segampang yang ia kira untuk ditaklukan.


Drrtt … ponsel Roger yang tergeletak di atas dashboard tiba-tiba bergetar saat ia baru saja duduk di balik kemudinya setelah misinya ternyata tertangkap basah oleh korban.


Tuk … Roger semakin terlonjak hingga menjatuhkan ponselnya saat melihat nama penelpon di layar ponsel itu.


“I-iya Tuan?” ucap Roger mencoba menetralkan napasnya yang masih memburu.


“Gimana pengintaiannya?” tanya Faris yang semakin membuat Roger kebingungan harus menjawab apa.


“Hah? Apa Tuan? Suara Tuan tidak jelas … saya pulang sekarang Tuan,” tutur Roger sedikit berteriak dan menjauhkan ponselnya seolah memang sinyal tengah tak bersahabat, lantas dengan segera ia putuskan panggilan itu sepihak.


“Hufftt ….” Akhirnya ia bisa bernapas dengan lega, perlahan mobil yang dikendarainya merayap hingga keluar ke jalan raya depan.


***


“Bi … Pak Toni udah pulang apa belum? Faris bertanya saat kebetulan berpapasan dengan Bi Asih yang baru saja kembali.


“Baru saja sampai Tuan, itu lagi ngopi di teras paviliun,” ujar Bi Asih yang baru saja kembali setelah membuatkan kopi untuk suaminya.


“Mau Bibi panggilkan?” tanya Bi Asih saat hanya mendapati anggukan dari Faris.


Faris menggeleng dengan cepat, “Oh nggak usah Bi … biar Faris ke sana aja, udah lama juga nggak main ke paviliun,” ujarnya segera bergegas ke paviliun.


Dan benar saja seperti yang dikatakan sang istri, kini Pak Toni tengah menikmati kopi panasnya bersama angin yang berhembus menyapu tubuh lelahnya yang kini tengah selonjoran di teras paviliun. Namun sontak saja ia bangkit dari duduknya saat melihat sang majikan tengah berlari kecil ke arahnya.


“Ada apa Mas sampe nyamperin Bapak ke paviliun? Ada sesuatu yang gawat?” tanya Pak Toni yang sedikit heran karena sang majikan hingga menyusulnya.

__ADS_1


“Nggak kok Pak, semua aman. Cuma pengen maen aja ke sini.” Faris berujar setelah turut bergabung selonjoran di teras bersama Pak Toni.


“Udah nggak ada maenan aja di rumah baru ke sini,” sindir Pak Toni membuat tersangka hanya cengengesan.


“Kira-kira Aisha mikiran Faris nggak ya Pak?” tanya Faris tiba-tiba, namun pandangannya tetap lurus ke depan tanpa menoleh pada yang ditanya.


“Nggak usah menerka-nerka sesuatu yang belum pasti, nanti malah sakit sendiri,” ujar Pak Toni yang mulai paham kemana arah pembicaraan pemuda yang tengah selonjoran di sampingnya.


“Gimana kabar Roger? Ada perkembangan?” tanya Pak Toni lagi.


Faris hanya menggeleng, lagi-lagi ia tak menolehkan wajahnya, masih tetap memandang lurus ke depan.


“Feeling aku kok kayaknya Roger nggak berhasil yah.”


“Memangnya apa rencana kamu kalo dapet ponselnya asisten mertuamu?”


“Ya Faris sih niatnya mau hubungi Ibu tapi pake ponsel Salsa biar nggak curiga, nah kan setidaknya meski Ibu nggak mau ngasih tau mereka dimana, kita bisa lacak kontaknya,” tuturnya membuat Pak Toni hanya manggut-manggut saja.


“Ya sudah, jangan terlalu berharap. Kalo memang jodoh pasti Allah permudah jalanmu.”


Kini giliran Faris yang hanya manggut-manggut.


“Aku udah mutusin bakal dateng langsung ke proyek kita yang di Ankara Pak,” ujar Faris tiba-tiba membuat Pak Toni seketika menganga.


“Beneran? Kemarin ditanya kayak orang linglung.”


Faris mengangguk, “Itung-itung refreshing Pak, siapa tau dengan kepala dingin aku bisa menemukan cara buat mencari istriku,” ujarnya dengan seulas senyum yang selama ini hampir tak pernah lagi mengembang di wajah tampannya.


***


Bersambung ...

__ADS_1


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2