
Happy reading ...
Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)
Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)
___________
Sudah seminggu ini sejak pertemuannya dengan wanita bergamis panjang yang ia temui di Blue Mosque kala itu, tiap pukul dua dini hari Ayla selalu bangun dan ,melaksanakan solat tahajud di samping pembaringannya. Dalam simpuhnya di tengah keheningan malam, hanya air mata yang menjadi kawannya bersenandung pada sang pencipta. Lisannya basah oleh rapalan istighfar, betapa ia begitu menyesali dirinya di masa lalu. Tak dipungkiri, mengenal nyonya Khadija sedikit banyak telah membawa perubahan kepada diri Ayla.
Malam-malam yang biasanya Ayla habiskan untuk melepas penat dengan bersenang-senang bersama teman-teman kampusnya, kini justru Ayla lewati hanya dengan hening di atas peraduannya. Tempat paling nyaman di antara luasnya rumah megah milik orang tuanya. Di atas peraduan nyaman itu, tak jarang pula Ayla menitikkan air mata ketika membaca buku-buku sejarah islam yang selama ini tak sedikitpun diliriknya. Terlebih ketika membaca kiprah hidup para wanita-wanita mulia yang dirindukan surga.
Membaca semua itu, Ayla melirik kembali keadaan dirinya. Betapa tidak tahu dirinya ia mendambakan sosok seperti Sayyidina Ali sedangkan dirinya jauh sekali dari sosok seperti Sayyidah Fatimah yang mulia.
Tanpa sadar isi kepalanya tiba-tiba kembali teringat kepada Gus Hasan. Lelaki yang mampu membuat dirinya jatuh cinta hingga ia memberanikan diri seperti Ibunda Khadijah. Namun ternyata nasibnya tak seindah Ibunda Khadijah yang cintanya bersambut. Sebaliknya justru membuat Ayla harus menelan perih hingga saat ini ia lebih memilih untuk mengikuti jejak Zulaikha, mendekati Tuhannya untuk menjadi lebih baik lagi. Saat ini tak banyak harapnya. Ayla hanya ingin Allah ridha terhadapnya dan memperbaiki takdirnya.
___________
Matahari musim gugur mampu membuat siapa saja merasa hangat di tengah sejuknya angin yang berhembus sepagi ini. Ayla bersiap lebih awal hari ini sebelum berangkat ke kampusnya. Hari ini adalah hari besar dalam sejarah hidupnya. Mudah-mudahan ia tak salah mengambil langkah.
__ADS_1
Pagi ini Ayla mematut dirinya di depan cermin walk in closet lebih lama. Cermin hampir setinggi ruangan itu mampu memantulkan bayangan dirinya dengan sempurna. Rok payung dengan blazer berlengan panjang juga hijab yang menutupi rambut indah yang biasanya tergerai membuat Ayla tampak berbeda.
Berkali-kali juga Ayla mengatur napasnya sebelum memutar gagang pintu kamar dan melangkah keluar. Meski belum sepanjang gamis dan hijab nyonya Khadija, setidaknya Ayla sudah memberanikan diri untuk menjadi seorang muslimah yang sesungguhnya. Ia berusaha menutup seluruh aurat yang tak seharusnya nampak dan menjadi tontonan banyak orang.
Selama ini pun meski belum mengenakan hijab, Ayla selalu memakai pakaian yang cukup tertutup. Meski belum ada keinginan untuk menutup seluruhnya, setidaknya Ayla tak ingin kemolekan tubuhnya ia pertontonkan.
Menutup rambut dengan hijab bukanlah lagi sesuatu yang aneh di Istanbul. Islam cukup menyebar baik di kota nan indah ini. hanya saja dulu Ayla berpikiran bahwa memakai hijab akan membatasi ruang geraknya yang justru berjiwa bebas.
Siapa mengira mengenal Nyonya Khadija justru menjadi jalan hidayah bagi gadis berdarah Eropa-Asia itu. Dan kini keharusan menutup seluruh aurat bagi setiap Muslimah menjadi masuk akal bagi Ayla. Betapa islam begitu menjaga dan memuliakan wanita.
Seperti biasanya, Ayla akan selalu menyempatkan diri untuk sarapan bersama kedua orang tuanya. Meski hubungannya tak sebaik orang tua dan anak pada umumnya, setidaknya Ayla masih memiliki rasa hormat kepada dua orang yang sudah menghadirkannya ke dunia. Pun karena ia merasa hanya waktu sarapanlah kesempatan yang Ayla miliki untuk berkumpul layaknya sebuah keluarga.
Kali ini Ayla memelankan langkahnya, khawatir derapnya akan mengundang perhatian kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu berada di ruang makan.
“Apa penampilan Ayla seaneh itu?” tanya Ayla yang langsung membuat keduanya menggeleng.
“No, Sayang. Kamu justru semakin cantik dengan hijabmu itu,” sahut Abbas masih belum mengedipkan matanya.
Sedangkan Ajeng justru di luar dugaan Ayla, wanita paruh baya itu langsung berhambur memeluk putrinya. Jemarinya yang tetap cantik meski dimakan usia membelai wajah mulus Ayla, dengan sudut mata yang tiba-tiba memanas. “Babamu benar, Sayang. Kamu semakin cantik dengan hijabmu ini,” ujarnya dengan isak tertahan.
__ADS_1
Jika yang mendapat pujian seperti itu adalah Ayla yang dulu, mungkin wajahnya akan terangkat mengakui kecantikan yang selalu dibanggakannya. Namun Ayla yang sekarang, ia tampak lebih bersahaja, ia justru menunduk mendengar pujian dari kedua orang tuanya. “Thank you Ba, Mi.”
Menyadari akan tingkahnya, Ajeng segera menarik jemarinya yang membelai lembut wajah gadisnya, namun dengan cepat Ayla menahannya dan membawanya ke dalam genggamannya.
“Mi,” panggil Ayla. “Ba,” imbuhnya sambil menoleh ke arah sang Baba. Tiba-tiba netranya memanas sebelum lisannya berucap.
“Ayla minta maaf atas perbuatan Ayla selama ini yang selalu mengecewakan Baba sama Mami. Ayla cuma pengen jadi diri Ayla yang lebih baik lagi, jadi mohon Baba sama Mami ridhai Ayla agar bisa istiqomah sama keputusan Ayla sekarang,” ujar Ayla memberanikan diri menatap wajah kedua orang tuanya bergantian. Sedangkan Ajeng justru sudah lebih dulu mengeluarkan air mata mendengar perkataan putrinya.
“Baba sama Mami ridha, Sayang. Kami ridha,” ucap Ajeng yang tak sanggup lagi menahan tangisnya.
“Demi Allah Baba sama Mami ridha terhadapmu, Nak.” Giliran Abbas yang kini menyahutinya. Pria paruh baya itu justru bangkit dari kursi kebesarannya, melangkah ke arah dua wanita yang begitu dicintainya dan mengecup puncak kepala keduanya bergantian.
“Baba sama Mami juga minta maaf ya, Nak. Kami yang selama ini nggak pernah punya waktu buat Ayla membuat Ayla merasa sendirian di rumah ini. Baba minta maaf.”
“It’s okay, Ba. Ayla juga berusaha paham kalo yang Baba sama Mami lakuin semuanya semata-mata hanya demi Ayla,” ujar gadis itu yang juga tak bisa lagi menyembunyikan tangisnya.
Melihat itu membuat Abbas segera menarik tubuh mungil anak dan istrinya untuk kemudian ia dekap dengan eratnya. Sungguh ia tak ingin semua ini cepat berlalu.
“Thanks Allah, akhirnya Kau anugerahkan keluargaku ketentraman ini.”
__ADS_1
________
Bersambung ...