Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Aku yang lemah


__ADS_3

Jangan lupa bagikan novel ini di beranda fb, ig, twitter atau pun whatsapp kalian biar viral ya gaesss, hihihi ...


***


“Oh ya katanya Baba ada butuh bantuan Isal tentang perusahaan, apa ada masalah Ba?” tanya Faisal mencoba mengalihkan pembicaraan agar tak terus menerus teringat pada latar belakang dirinya.


“Ah iya Baba sampai melupakannya. Hanya masalah kecil, Baba yakin kamu bisa menyelesaikannya.”


Abbas lantas menggiring Faisal ke ruang kerjanya dan menjelaskan duduk permasalahan yang saat ini tengah mengancam salah satu anak perusahaannya.


“Apa kita tarik aja semua saham-saham kita di luar Sal?” tanya Abbas yang melihat putranya begitu serius menghadap laptop.


“Isal rasa nggak perlu Ba, kita hanya butuh sedikit bermain cantik karena ini berhubungan langsung dengan klien. Nanti Isal coba hubungi sekretaris Isal buat urus sisanya,” tutur Faisal mantap yang segera diangguki oleh sang ayah.


“Nah Baba sangat membutuhkan ide-ide cemerlangmu seperti ini Sal, rupanya selama ini kamu belajar dengan baik,” puji Abbas dengan senyum menawannya meski garis-garis halus mulai nampak pada wajahnya yang tak lagi muda.


“Oh ya kapan kamu akan bawa calon mantu buat Baba ke rumah?” goda Abbas setelah menyesap kembali kopinya.


Hening. Tak ada jawaban. Faisal justru beranjak ke arah balkon kembali.


“Isal belum terpikirkan kembali soal itu Ba, Isal mau fokus dulu sama perusahaan yang Isal pegang sekarang.”


“Ingat usiamu sudah tak lagi remaja, jangan hanya fokus dengan pekerjaan, wanita itu perlu Nak. Mau sehebat apapun kamu dalam memimpin perusahaan, kamu tetap akan lemah tanpa seorang pendamping. Carilah wanita yang bisa menguatkanmu, yang selalu bersedia melangkah bersamamu,” tutur Abbas menasehati putranya yang hingga saat ini masih betah dengan kesendiriannya.


“Nggak segampang itu buat buka hati kembali Ba.” Faisal memejamkan netranya, kenangan bersama sang pujaan kembali terbayang di kepalanya.


“Jangan terlalu egois pada hati dengan hanya menutupnya untuk satu nama. Hidup harus tetap berlanjut Sal, segeralah cari penggantinya.”


“InsyaAllah nanti Isal coba Ba.”


Tiba-tiba Faisal teringat dengan gadis pagi tadi yang ia tabrak di depan café, senyum manis itu mengingatkannya pada seseorang yang pernah mengisi hatinya, yang bahkan hingga saat ini nama itu masih bertakhta sempurna di kepalanya.


Sampai di apartemennya, Faisal langsung membanting tubuhnya di atas pembaringan. Ketika netranya terpejam entah kenapa kalimat-kalimat dari Babanya terus saja mengiang-mengiang.


Ia lantas bangkit dan menuju ruang kerjanya, disibaknya gorden jendela yang langsung menampakkan pemandangan hijau yang menyejukkan. Diputarnya salah satu lagu yang terdapat dalam playlist di ponselnya.



Seusai itu


Senja jadi sendu


Awan pun mengabu


Kepergianmu menyisakan duka dalam hidupku


Ku memintal rindu

__ADS_1


Menyesali waktu


Mengapa dahulu


Tak ku ucapkan aku mencintaimu


Sejuta kali sehari


Walau masih senyum


Namun tak selepas dulu


Kini aku kesepian


Kamu dan segala kenangan


Menyatu dalam waktu yang berjalan


Dan aku kini sendirian


Menatap dirimu hanya bayangan


Tak ada yang lebih pedih


Daripada kehilangan dirimu


Sampai mati hanya cinta padamu


Tangan Faisal bergetar saat perlahan menyentuh wajah cantik yang tengah tersenyum manis ke arah kamera, mata hazelnya berbinar seakan mengajak Faisal untuk ikut bergabung bersamanya. Dengan pandangan mengabur ia rengkuh potret dalam bingkai foto itu, isaknya terdengar mengalun pilu memenuhi seisi ruangan yang hanya terdapat dirinya di sana.


Flashback on


Hari itu Faisal baru saja menyelesaikan rapatnya di kantor ketika sekretarisnya menghampiri dirinya dan menyodorkan ponselnya yang berdering, tertulis nama ‘Baba’ di layar ponsel itu. Dengan segera Faisal menggeser tombol hijau di sana.


“Waalaikumsalam, iya Ba ini Isal baru selesai meeting sama klien.”


“Kamu bisa pulang sekarang Sal?” Terdengar nada tak enak dari kalimat yang Babanya lontarkan.


“Ada apa Ba?” tanya Faisal saat tiba-tiba merasakan sesuatu mengganjal hatinya.


“Ada yang ingin Baba bicarakan sama kamu Nak, kamu pulang ya sekarang.”


“Baik Ba, Isal jalan sekarang.”


Faisal bergegas ke ruangannya dan meraih tas kerjanya, tak lupa ia berpesan pada sekretarisnya untuk mengubah semua jadwalnya hari ini.


Meski Faisal tak tahu apa yang sebenarnya akan Babanya katakan, tapi nalurinya meminta agar ia segera tiba di rumah.

__ADS_1


Ketika ia tiba, Abbas, Ajeng, juga Ayla sudah menunggunya.


“Ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang penting sampai-sampai kalian semua menunggu kepulangan Isal,” tanya Faisal setelah menyalami keduanya, Abbas dan Ajeng.


Abbas sendiri bingung bagaimana caranya ia meyampaikan hal ini pada putranya, lidahnya seakan kelu untuk sekedar berucap. Tanpa bersuara Abbas lantas memberikan tablet yang dipegangnya pada Faisal yang masih menatapnya penuh tanya.


“Lihatlah,” ujar Abbas lirih.


Deg, dunia Faisal seakan berhenti berputar setelah ia melihat isi berita yang terdapat pada tablet dalam genggamannya.


Kakinya seakan lemas untuk sekedar menopang tubuh di atasnya, pandangannya mengabur, suaranya tercekat menahan nyeri yang tiba-tiba seperti menghantam ulu hatinya.


“Keyra Sabila Melike, relawan medis berkebangsaan Turki tewas tertembak ketika berusaha menyelamatkan demonstran terluka di jalur Gaza, Jumat (17/11/2017)”


“Ba i-ini bu-bukan Bila tunangan Isal kan Ba?” tanya Faisal dengan air mata yang sudah menganak sungai.


Abbas hanya bisa mengangguk sambil berusaha menahan air matanya di depan sang putra. Meski pedih tapi itulah kenyataannya. Faisal sontak menggeleng dengan reaksi sang ayah. Kini ia beralih pada ibunya.


“Mi jelasin ke Isal Mi! Ini bukan Bila yang Isal kenal kan Mi? Ini orang lain kan Mi?” tanya Faisal memegang kedua tangan Ajeng yang masih diam mematung.


“Sayang kamu harus kuat ya Nak.” Ajeng berucap lantas merengkuh tubuh putranya.


“Dek Baba sama Mami bohong kan Dek? Tolong bilang ke Kakak kalo mereka semua bohong!” pekik Faisal yang kini beralih mengguncang-guncangkan tubuh Ayla yang juga masih mematung di tempatnya, ia sendiri bingung harus berkata apa pada kakaknya.


Tablet di tangan Faisal seketika terjatuh ketika semua orang membenarkan bahwa wanita yang tewas itu adalah benar kekasihnya, ia langsung meraih kunci mobilnya dan berlari tanpa mempedulikan apapun lagi.


“Kita pergi sama-sama,” sergah Abbas mencekal lengan putranya. Ia tak mungkin membiarkan Faisal mengemudi dengan suasana hati yang tengah kacau.


Abbas mengambil alih kunci dari tangan putranya, mereka lantas segera melaju menuju rumah duka untuk menunggu jenazah dipulangkan.


Sepanjang jalan Faisal hanya bisa menatap nanar deretan-deretan pohon yang seakan memahami dukanya saat ini.


Untuk ke dua kalinya Faisal merasakan kembali yang namanya kehilangan.


Flashback off


“Sejak kecil aku harus belajar menerima kenyataan ketika Kau memisahkanku dengan keluarga kandungku, aku bahkan tak mengeluh ketika harus tumbuh dengan selalu dihantui oleh bayang-bayang mereka. Lalu ketika ada seseorang yang perlahan membantuku menyembuhkan luka ini, mengapa juga Kau ambil dia dariku? Mengapa Engkau pisahkan kami juga saat hati ini sudah berlabuh sepenuhnya untuk dia? Apa aku memang tak berhak untuk bahagia?”


Ia pejamkan netranya dengan wajah yang menengadah, berharap semuanya hanyalah mimpi buruk yang akan segera sirna ketika ia membuka mata, batinnya menjerit meratapi nasib malangnya.


“Ya Allah hatiku tak cukup kuat seperti karang di lautan buatan-Mu, aku hanya hamba-Mu yang lemah tiada berdaya tanpa pertolongan-Mu.”


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, lik and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2