Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Selesaikan dengan jantan!


__ADS_3

Jangan lupa bagikan novel ini di beranda fb, ig, twitter atau pun whatsapp kalian biar viral ya gaesss, hihihi ...


***


“Abang ada jadwal hari ini?” Aisha bertanya sesaat setelah dirinya kembali ke kamar.


Faris hanya mengangguk menatap istrinya yang melangkah dengan membawa nampan makanan.


“Ini sup pereda mabuk, takutnya Abang masih pusing.” Aisha menyodorkan mangkuk yang dibawanya untuk Faris lantas berjalan ke lemari untuk menyiapkan pakaian yang akan dikenakan suaminya.


Ada haru yang seketika menyeruak ke rongga dada Faris, ia tahu jika istrinya masih menyimpan kecewa untuknya, tapi Aisha sama sekali tak mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang istri untuk melayani segala kebutuhan suaminya.


Tiba-tiba Aisha mengambil alih mangkuk dalam pegangan Faris lalu menyuapkannya pada mulut suaminya yang masih saja bungkam dan terpaku di tempatnya.


“Kalo cuma diliatin doang, gimana mau ilang pengarnya? Abang akan berhadapan sama nyawa seseorang, jadi jangan sampe sisa alkohol semalam mengacaukan tugas Abang buat nyelametin mereka yang udah nunggu Abang di Rumah Sakit.”


“Maaf ….” Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Faris, perkataan-perkataan Azka dan adik sepupunya masih saja selalu membuat dada Faris kembali sesak.


***


“Assalamualaikum ….” Dilihatnya Aisha yang masih bersimpuh di atas sajadahnya dengan mushaf di tangannya ketika Faris kembali dari Rumah Sakit.


“Waalaikumsalam ….” Segera ditutupnya mushaf di tangan Aisha lantas ia segera menyalami suaminya.


“Abang udah solat asar?”


Faris hanya mengangguk seraya meletakkan tas kerjanya.


“Mau makan dulu apa mandi dulu? Biar Ica siapin.” Aisha bertanya selayaknya tak terjadi apapun di antara keduanya.


“Nggak usah, nanti aja, Abang mau jogging dulu,” ujar Faris mengganti pakaiannya, yang sejatinya itu hanyalah alasan untuknya menghindari sang istri, karena sampai saat ini hatinya masih berdenyut jika mengingat-ingat kejadian di Istanbul hari itu.


Kini giliran Aisha yang hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

__ADS_1


‘Sampe kapan kita mau kayak gini terus Bang? Kapan Abang mau cerita sama Ica?’


Sore ini entah sudah berapa kali putaran Faris berlari mengelilingi komplek perumahannya, tapi itu tak  sedikit pun membuatnya merasa kelelahan, bayangan-bayangan di kepalanya membuat langkahnya semakin cepat berpacu tak tau arah.


Tak jarang gadis-gadis muda hingga wanita-wanita dewasa yang sering bergerombol di taman menyapa dirinya, itu pun sama sekali tak membuat suasana hatinya membaik.


Faris memang terkenal sebagai dokter yang ramah juga rupawan di lingkungannya, tapi rasanya julukan itu tidak tepat untuknya saat ini, sore ini ia bahkan tak menanggapi sedikit pun sapaan dari para betina di sana.


Berlari sejauh itu masih belum membuat pikiran-pikiran negatif enyah dari kepalanya, akhirnya Faris memutuskan untuk melanjutkan olahraga sorenya di rumah, di ruang fitness pribadinya.


Faris baru saja membuka pintu ruangan itu ketika tiba-tiba siluet seorang pria yang mulai merenta sudah berdiri di samping jendela dengan membelakanginya.


Plaakkk … satu tamparan keras ketika Pak Toni berbalik membuat Faris yang tidak siaga sontak terhuyung.


Pak Toni memang sudah menunggunya di sana, karena ia sudah hapal betul kebiasaan Faris jika suasana hatinya sedang kacau maka ruangan ini yang akan didatanginya untuk meluapkan segala kekesalannya.


“Apa kamu sudah tidak waras Faris? Dimana akal sehatmu? Apa kamu tidak berpikir kalau tindakanmu itu telah melukai istrimu? Melanggar larangan Allah!”


Pak Toni mencecarnya dengan banyak pertanyaan, ia benar-benar murka ketika mendapat laporan dari Roger mengenai kelakuan Faris semalam.


“Untuk apa kalian jauh-jauh pergi ke tanah suci jika hal seremeh itu kamu nggak bisa tahan? Menurutmu bagaimana reaksi Pak Kyai sama Bu Nyai jika mereka mengetahui kelakuan keponakan kesayangannya ini?”


Pak Toni mengatakan hal itu semata karena selama ini dialah yang mengurus persoalan perusahaan, maka ia paham betul kebiasaan para kolega turisnya yang akan mereka lakukan setelah pertemuan usai.


Hanya saja kemarin Faris meminta agar dirinya saja yang langsung menghadiri pertemuan dengan para koleganya itu, Pak Toni pun merasa sedikit janggal karena pasalnya Faris tak begitu tertarik dengan urusan perusahaan, ia lebih gemar menekuni pekerjaannya sebagai tenaga medis yang merupakan mimpinya sejak ia kecil.


Dan setelah semua yang Roger ceritakan, kini Pak Toni paham jika tujuan Faris menghadiri pertemuan itu semata-mata hanyalah alasan untuk menghindari sang istri.


“Jangan Pak, Faris mohon jangan kasih tau mereka. Biar Faris pertanggung jawabkan sendiri perbuatan Faris.” Faris seketika bersimpuh menekuk lututnya dihadapan Pak Toni.


“Apa kamu nggak kasian sama Ayah Bundamu yang sudah tenang di sana? Apa ini balasan darimu untuk mereka?” Pak Toni berujar dengan lebih tenang, dadanya masih naik turun menstabilkan napasnya yang tersengal.


“Faris benar-benar minta maaf Pak, Faris khilaf, pikiran Faris benar-benar kacau malem itu.” Faris kini sudah terisak dengan menundukkan wajahnya semakin dalam.

__ADS_1


Pak Toni mengangkat perlahan Tuan muda yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri, direngkuhnya tubuh itu ke dalam dekapannya.


“Seburuk apapun keadaan hatimu, mengadulah pada penciptamu, serahkan semua pada Sang Maha pemilik hidup. Bagaimanapun alasannya, minuman bukanlah jawaban untuk segala kegundahanmu.” Pak Toni berujar lebih lembut dari sebelumnya, diusapnya punggung yang sejak kecil sudah bersamanya, bahkan ia sendiri yang menyaksikan tumbuhnya.


“Kenapa rasanya sakit sekali saat tahu pria lain masih mencintai istri Faris, Pak? Bahkan Hasan pun diam-diam turut mencintai Aisha. Faris sakit pas tahu semuanya Pak.” Punggung Faris semakin bergetar dalam pelukan Pak Toni.


Pak Toni pun sedikit terkejut dengan pengakuan Faris mengenai adik sepupunya itu.


“Apapun yang terjadi, bicarakan semuanya dengan istrimu. Dia bukan dukun yang bisa mengerti isi hati dan kepalamu.”


“Faris nunggu sampe Aisha mau menjelaskan semuanya sama Faris. Tapi sampe sekarang Aisha belum mengatakan sendiri kejujuran itu sama Faris. Hati Faris sakit dibohongi oleh istri sendiri.”


“Jangan mudah berburuk sangka, apalagi terhadap istrimu sendiri. Aisha pasti punya alasannya kenapa ia memilih untuk merahasiakan semua ini darimu. Inilah tugasmu sebagai kepala keluarga, meluruskan apa yang seharusnya diluruskan. Hadapi semuanya secara jantan.”


Faris hanya terdiam mencerna setiap kalimat dari pria yang sudah dianggapnya seperti sosok ayah ini.


“Bapak tahu ini berat, tapi coba berpikirlah lebih terbuka. Berapa banyak pun lelaki yang mencintai istrimu, tapi kenyataannya sekarang kamulah yang ia genggam tangannya, ridhomulah yang dia harap di setiap langkahnya. Tugasmu cukup menjaga hatinya agar tak sampai berpaling pada mereka yang menginginkannya. Buktikan pada Aisha jika kamulah yang paling layak menjadi imamnya. Menangislah … tumpahkan semuanya sekarang. Tapi jangan tunjukkan lagi air mata ini di depan istrimu, jangan buat dia ragu untuk bersandar di bahumu. Seperti inilah pernikahan, adakalanya kita para suami cukup menelan semuanya sendiri demi mereka yang kita sayang.”


Isak Faris semakin terdengar pilu di pelukan Pak Toni, di pelukan tubuh yang mulai merenta itu Faris adukan segala kegundahannya.


Terlihat Pak Toni pun sesekali mengusap ujung netranya, hatinya pun turut sakit melihat Tuan muda yang sejak kecil bersama dirinya dan biasanya selalu tak gentar menghadapi apapun saat ini justru sekacau ini.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2