
Kakak author mengucapkan Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin ...
Semoga silaturahmi kita tetap terjaga meski hanya lewat dunia maya yaa ...
Mohon maaf juga atas keterlambatan updatenya, hari raya ternyata banyak acara tak terduga yang bikin kakak author bener-bener super sibuk hehe ...
Happy reading readersku semua ... love you
***
Di kamarnya, Aisha tengah merenung mencerna setiap tindakan suaminya yang akhir-akhir ini ia rasa tak sehangat biasanya, apalagi setelah kejadian Faris mabuk, pasti ada sesuatu dibalik semuanya.
“Mungkin aku yang harus memberanikan diri nanya duluan sama Abang, mungkin aja sikap Abang akhir-akhir ini adalah bentuk untuk menguji seberapa pekanya aku.” Aisha bergumam sendiri sambil memandangi senja dari balkon kamarnya.
Deg, Aisha langsung mematung di tempatnya ketika ia hendak berbalik namun ternyata Faris sudah berada tepat dibelakangnya, tatapan itu sungguh membuat Aisha tertegun hingga ia hanya bisa menunduk tanpa berani berucap.
Faris pun sama, degup jantungnya tak kalah meronta dari milik istrinya, namun karena ia seorang pria maka ia harus lebih pandai mengendalikan perasaannya.
“Apa kabar, Sayang?” Faris memberanikan diri untuk membuka percakapan lebih dulu, beberapa hari tak ‘menyentuh’ ataupun bertegur sapa dengan sang istri membuat sedikit kecanggungan tercipta di antara keduanya.
“Nggak baik Bang.” Aisha menjawab dengan lirih lantas memberanikan diri untuk mendongak dan bersitatap dengan suaminya.
“Ica mau tanya, kenapa akhir-akhir ini Abang nggak pernah sentuh Ica lagi? Apa Ica ada salah sama Abang?” Aisha bertanya tanpa mengalihkan sedikit pun tatapannya.
Faris membuang napasnya gusar, matanya terpejam sesaat mencoba menyiapkan diri untuk memperjelas semuanya.
“Apa Ica nggak ada yang mau dijelasin ke Abang? Soal kejadian di Istanbul sama Hasan mungkin.”
Untuk sesaat Aisha tertegun mendengar pertanyaan suaminya.
‘Astaghfirullah … sungguh berdosa aku telah membuat suamiku menyimpan kecewanya sendiri’
“Abang udah tau semuanya?”
Faris mengangguk.
“Dengan mata kepala Abang sendiri.”
Untuk kedua kalinya Aisha tertegun lagi dengan jawaban suaminya.
Seketika tubuh Aisha luruh, ia bersimpuh di hadapan suaminya, netranya sudah memanas tak sanggup lagi menahan genangan hingga seketika luruh dari kedua sudut matanya.
“Abang boleh hukum Ica atas semua ini, Ica yang salah karena memilih nggak jujur tentang semuanya sama Abang.” Suara Aisha parau seperti tercekat menahan isak.
Sudut bibir Faris tersungging melihat kelakuan istrinya, hatinya terenyuh lantas kemudian ia mengangkat lembut Aisha agar kembali berdiri di hadapannya.
“Coba kasih Abang alasan yang masuk akal atas semua ketidakjujuran Ica.” Faris menyentuh pelan dagu istrinya agar menatap ke arahnya.
“Maaf … Ica cuma berniat menjaga hati Abang juga hubungan baik Abang sama Gus Hasan. Bukan maksud Ica nggak percaya sama Abang, tapi Ica cuma berusaha membuat Abang yang sepenuhnya sudah menempati hati Ica selalu merasa nyaman tanpa rasa was was karena kebodohan istrinya. Ica tau ini keterlaluan, tapi sungguh Ica nggak ada maksud lain Bang.” Sekuat tenaga Aisha mencoba tetap menatap suaminya meski berulang kali air mata itu meleleh membasahi wajahnya.
“Abang yang terlalu pengecut buat hadepin ini semua Ca. Jujur Abang masih kaget atas semua pengakuan Hasan sama kamu, tapi Abang juga nggak bisa menyalahkan siapapun, semua perasaan ini bukan kita yang ngatur. Abang sadar kalo istri Abang memang terlalu sempurna, jadi nggak heran kalo saingan Abang banyak.”
__ADS_1
Aisha segera menggeleng-gelengkan kepalanya, menyangkal penuturan suaminya.
“Mungkin Ica nganggep cinta Abang tak sesempurna itu karena sering banget Abang cemburu nggak jelas sama lelaki-lelaki yang terang-terangan bahkan diam-diam mengungkapkan perasaannya buat kamu, kalo hal kayak gini terjadi lagi, Abang mohon Ica segera sadarin Abang yah, karena Ica adalah satu-satunya orang yang Abang percaya buat lakuin itu,” ujar Faris melanjutkan kalimatnya.
Seketika Aisha langsung memeluk erat tubuh kekar yang akhir-akhir ini sangat ia rindukan.
“Berapapun mereka yang ngungkapin perasaan sama Ica, itu nggak akan sedikitpun menggoyahkan perasaan Ica buat Abang, lelaki yang yang udah Ica pilih berjanji dihadapan Allah buat membimbing dan bertanggung jawab atas hidup Ica. Maafin Ica ya Bang, Ica masih banyak kekurangan sebagai istri Abang.” Aisha terisak dalam dekapan suaminya hingga air mata itu membasahi hoodie yang Faris gunakan.
“Abang abis jogging belum mandi loh Sayang, betah banget kamu peluk-peluk Abang gini.” Kini Faris sudah kembali ke mode usilnya.
“Ica kangen sama Abang,” jujur Aisha tetap enggan melepas pelukannya.
“Uluh uluh lagi kangen ceritanya istri cantik Abang ini, padahal tiap hari tidur seranjang loh.”
“Seranjang tapi kayak orang asing,” gerutu Aisha mengerucutkan bibirnya.
“Sini sini Abang peluk lagi … maaf atas semua kelakuan Abang kemaren-kemaren ya Sayang.” Faris kembali menenggelamkan wajah istrinya di dada bidangnya.
“Jangan diemin Ica lagi ya Bang, Ica nggak sanggup dicuekin kayak kemaren, mendingan Abang marahin atau hukum Ica sekalian.”
“Emang Abang mau hukum istri cantik Abang ini.”
Aisha segera merenggangkan pelukannya.
“Abang ….” Aisha memelas menatap wajah suaminya, sedangkan Faris hanya menyeringai lantas segera membopong tubuh Aisha dan merebahkannya di atas pembaringan mereka.
“Abang juga kangen banget sama Ica.” Faris berujar dengan nada paraunya, matanya sudah berkabut dengan hanya menatap iris cantik di bawahnya.
Tangan Faris mulai menjelajah liar di tubuh Aisha, beberapa hari tak berdekatan dengan sang istri membuat jantungnya seakan hendak meledak, ia bahkan mulai bingung bagian mana yang harus ia sentuh lebih dulu.
Faris mengerjap menstabilkan perasaannya.
“Kamu lagi ngeraguin Abang, Sayang? Liat aja, Abang bakalan buat kamu memohon sama Abang.” Faris berujar dengan seringainya lantas segera menyambar bibir Aisha yang sedikit terbuka di bawahnya hingga Aisha sedikit kewalahan melayani permainan suaminya.
“Allohu akbar … allohu akbar ….” Kumandang suara adzan terdengar begitu menggema dari pengeras suara menyusup hingga ke kamar Faris dan Aisha.
Aisha menahan dada Faris agar menghentikan kegiatannya, membuat Faris mendesah kesal karena harus menghentikan kesenangannya yang belum terbayar lunas.
“Nanti dilanjut lagi.” Aisha berujar dengan wajah yang sudah memerah membujuk suaminya.
Mau tak mau, suka tak suka, Faris segera bangkit menegakkan tubuhnya juga tubuh Aisha di bawahnya.
“Janji ya?” Faris mengacungkan jari kelingkingnya di depan wajah Aisha untuk menautkan juga jari kelingkingnya dan berjanji padanya.
“Iya janji Abang Sayang.” Aisha berujar dengan lembut sambil membelai wajah yang selalu tampan di hadapannya. Seketika senyum indah merekah di wajah itu seperti seorang anak yang dijanjikan hadiah oleh ibunya.
“Loh pipi Abang kenapa? Kok agak bengkak memar gitu?” Aisha seketika terlihat panik saat telapak tangannya tak sengaja menyentuh pipi kanan Faris yang sebenarnya baru saja mendapat tamparan dahsyat dari Pak Toni.
“Nggak apa-apa Sayang, cuma hukuman kecil dari Pak Toni,” ujar Faris lembut meraih lembut tangan istrinya yang masih menempel di sana.
Cup, dikecupnya dengan sayang tangan dengan jemari-jemari lentik dalam genggamannya itu.
__ADS_1
“Hukuman gimana maksudnya Bang?” Aisha tetap tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya saat melihat belahan jiwanya terluka.
“Nggak usah dipikirin, ini mah urusan pria,” bisik Faris lalu mengecup sekilas ujung bibir istrinya dan ia pun segera melesat ke kamar mandi untuk membersihkan diri lantas menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
***
“Mas jangan terlalu keras lah sama Faris, wajar dia cemburu begitu, jiwa mudanya masih sulit untuk dikendalikan.” Bi Asih menyuguhkan kopi untuk suaminya yang pasalnya bercerita tentang keadaan Faris.
“Iya aku tau Dek, tapi ini Faris benar-benar sudah kelewatan sampe berani nyentuh minuman, untung saja Roger selalu siaga bersamanya, coba kalo tidak, bisa-bisa lanjut ke club terus main wanita dia sama kolega-kolega bule itu Dek,” tukas Pak Toni menyeruput kopi yang istrinya suguhkan. Kini mereka sudah berada di paviliun setelah menunaikan solat berjamaah seperti biasanya.
“Hush ngawur Mas ini, ucapan adalah doa Mas, masa iya orang tua mendoakan putranya seperti itu.” Bi Asih mengingatkan suaminya agar tak terlalu terbawa emosinya.
“Astaghfirulloh … ya Allah maafkan aku, bukan maksudku seperti itu.” Pak Toni segera beristighfar mengusap dadanya, sekecewa apapun dirinya, ia akan tetap mendoakan yang terbaik untuk majikannya itu.
“Tapi aku bangga sama anak itu Dek, dia bahkan ndak pernah mengeluh padahal masalah yang dihadapinya benar-benar membuat kepala seperti mau pecah,” imbuh Pak Toni dengan pandangan menerawang.
“Tuan Abdulloh sama Nyonya pasti bangga juga memiliki putra seperti Faris, aku terenyuh Mas kalo inget gimana tangguhnya Faris setelah sejak kecil ditinggal Tuan sama Nyonya.” Tanpa sadar mata Bi Asih memanas mengingat bagaimana harmonisnya keluarga kecil majikannya saat semuanya masih lengkap di rumah itu.
“Mereka orang-orang baik Dek, aku juga sudah berjanji untuk menjaga Faris pada mereka.”
“Jangan lalaikan tanggung jawab Mas ini, jangan buat Tuan dan Nyonya kecewa,” ujar Bi Asih mengusap bahu suaminya.
“Siap Bu Toni!” Pak Toni langsung memasang sikap hormat di depan istrinya yang sontak membuat Asih tergelak sampai terpingkal-pingkal.
“Aku perhatikan akhir-akhir ini kok Aisha sering mual terus muntah-muntah ya Mas, kemarin bahkan sampai aku buatkan wedang jahe karena muntahnya parah.” Bi Asih mulai bercerita setelah menyelesaikan tawanya.
“Sejak kapan Dek?”
“Sepertinya sejak mereka pulang dari bulan madu, hampir setiap pagi aku dengar Aisha muntah Mas.”
“Apa mungkin lagi isi?” Pak Toni mencoba mengutarakan apa yang terlintas di kepalanya.
“Ndak tau juga, tapi masa iya Aisha nggak nyadar kalo perutnya lagi isi, setidaknya dia kan dokter Mas, ya meski bukan dokter kandungan sih.”
“Dokter kandungan aja ndak bisa ngelahirin sendiri Dek, memang kamu pernah liat penari balet juga bisa melihat belakang lehernya sendiri?”
“Hehe, ndak juga sih.”
Pak Toni dan Bi Asih kini justru saling menerka-nerka seperti yang terintas di kepala masing-masing dari mereka.
“Ya sudah besok kalo Aisha masih mual-mual kayak gitu coba kamu saranin dia buat pake alat tes kehamilan itu, siapa tau itu rejeki mereka,” usul Pak Toni yang langsung diangguki istrinya.
Seperti biasa memang pasangan suami istri itu akan saling bertukar cerita tentang hari-hari mereka ketika keduanya berkumpul di paviliun sebelum mengistirahatkan tubuh yang penat setelah seharian bekerja.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu menantikan kelanjutan novel ini 🥰
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1