
Di kamarnya, Ayla tengah memilih baju dengan malas untuk datang ke acara pertemuan bisnis keluarga mereka bersama para kolega.
Ini pertama kalinya Ayla bersedia turut serta menghadiri acara bisnis seperti itu, padahal ia sendiri mengambil kuliah dengan jurusan manajemen bisnis, dan juga kedua orang tuanya yang sudah melabeli dirinya sebagai penerus perusahaan bersama sang kakak sejak mereka kecil.
Jika bukan karena permintaan kakaknya langsung, mungkin saat ini Ayla lebih memilih untuk berbaring menikmati kasurnya yang selalu terasa nyaman, terlebih ketika suasana hatinya tengah kacau. Ya, pasalnya hari itu Faisal baru saja memenangkan tender atas proyek yang ia pimpin, karenanya sejak pagi lelaki itu terus saja membujuk adiknya agar bersedia menghadiri acara yang sengaja dibuat untuk merayakan kemenangannya bersama para kolega lainnya.
“Ayolah Dek … masa kamu nggak mau dateng ngucapin selamat gitu buat Kakak?”
“Ngucapin selamat kan nggak harus dateng juga Kak, nih sekarang juga bisa.”
“Ya bedalah suasananya, masa orang lain juga dateng eh kamu yang katanya adek Kakak malah rebahan doang di rumah.”
“Kok katanya sih? Emang beneran Ayla adeknya Kak Isal kok.”
“Makanya dateng kalo ngaku adek.”
“Males aku tuh Kak kalo ke acara kayak gitu, membosankan, jenuh. Belum lagi harus menghadapi om-om mata keranjang yang nggak ada habisnya goda sana-sini.”
“Nggak deh jamin, nggak bakal ada yang kayak gitu … ini kan acara Kakak, jadi Kakak tau satu-satu watek tamu-tamu yang hadir.”
“Ok sekali ini aja, kedepannya nggak ada lagi ya maksa-maksa kayak gini.”
Akhirnya Ayla menyerah juga pada bujukan sang kakak.
Selesai memilih baju dan mengenakannya, Ayla mulai sedikit merias wajahnya yang sejak kemarin terlihat begitu menyedihkan.
“Wahh anak Mami udah gede ternyata, udah jadi gadis cantik sekarang.” Tiba-tiba Ajeng sudah berdiri di belakang putrinya yang baru saja merias wajahnya.
“Makanya besok-besok jangan cuma ngasih uang Mi, jadi nggak sadar kan kalo anaknya udah gede.” Ayla berujar dengan dingin menanggapi pujian sang Mami, lantas segera melangkah keluar setelah lebih dulu meraih tas dan ponselnya.
Di luar ternyata sudah ada kakaknya yang terlihat semakin tampan dalam balutan tuxedo dan jas silvernya, jambul rambutnya ditata serapi mungkin hingga menambah kadar pesonanya. Ayla menghampiri sang kakak yang nampak sudah tersenyum padanya.
“Kakak malem ini nginep di sini kan?” tanya Ayla ketika ia turut bergabung mendudukan diri di sofa bersama Faisal.
“Kakak kan ada apartemen Dek.”
“Ih kok gitu sih … terus Ayla harus pulang bareng Baba sama Mami doang gitu?” ujar Ayla memberengut.
“Ya udah nanti Kakak anterin kamu dulu sebelum balik ke apartemen.”
“Eh udah pada siap kalian … yuk langsung berangkat, masa yang punya acara telat,”ujar Abbas yang baru saja muncul dari balik pintu kamarnya.
“Nenek nggak ikut Ba?” tanya Faisal yang hanya melihat Abbas bersama Ajeng.
“No! Baba nggak mau ada keributan di sana ya, ini kan acara kamu Sal,” ujar Abbas mantap.
“Padahal nggak apa-apa kok kalo Nenek ikut Ba, Isal yakin nggak bakal terjadi apa-apa juga.”
“No … nggak ada yang jamin. Udah ah yuk berangkat.” Abbas berujar dengan langsung melangkahkan kakinya keluar, tak mau lagi mendengar permintaan putranya yang begitu sabar itu.
Faisal dan Ayla pun hanya bisa mengikuti langkah sang Baba yang sudah masuk ke dalam mobil, namun mereka menggunakan mobil terpisah dengan kedua orang tua mereka.
***
Mobil Abbas dan Faisal beriringan memasuki basement hotel bintang lima yang menjadi tempat acara mereka malam ini. Semua mata langsung tertuju kepada kedua pasangan berbeda usia itu yang tengah melangkah melewati red carpet yang langsung membawa mereka ke hall utama acara.
“Wow abis menang tender langsung dapet gandengan aja nih.” Seorang pria seumuran Faisal menyapa Ayla dan Faisal dengan menyodorkan minuman.
“Adek gue ini Bro,” ujar Faisal menubrukkan gelasnya tanda mereka bersulang.
“Anj … curang lo punya adek cantik nggak bilang-bilang.” Pria itu tampak tak meneruskan umpatannya karena ada Ayla di sana.
__ADS_1
“Awas lo berani macem-macem sama adek gue.”
“Weh santai dong calon ipar,” goda pria itu kembali.
“Naj*s gue ….” Keduanya terbahak bersama sambil meneguk kembali minuman mereka.
“Kak … Ayla ke toilet dulu yah.” Ayla berujar sedikit berbisik.
“Oh ok, mau Kakak anter nggak?”
“Nggak usah.”
Ayla melangkah keluar dari riuhnya suasana ballroom, bukan untuk ke toilet, melainkan menjauh dari tempat itu. Ia merasa bosan berada di sana, jika biasanya sang kakak selalu menemaninya, tap kali ini tentu saja tidak bisa karena Faisal adalah sang pemilik acara.
Di sudut lain jauh dari keriuhan acara yang Faisal buat, dua sosok lelaki tengah menyantap makan malam mereka sambil menikmati alunan lagu yang dibawakan oleh sang penyanyi di acara live music yang diadakan oleh pihak café.
“Gimana Gus? Asik kan di sini?” Jaya berujar setelah menghabiskan makanannya.
Sedangkan Gus Hasan hanya mengangguk dengan masih menyantap makanannya.
“Kamu sering ke sini ya Jay?” tanya Gus Hasan yang melihat Jaya tampak sudah sangat paham dengan situasi di tempat itu.
“Nggak juga, sayang uang Gus kalo sering-sering dateng ke tempat beginian.”
“Lah terus sekarang?” tanya Gus Hasan.
“Kan saya cuma mau menghibur Guse, jadi Guse yang bayarkan nggih,” tutur Jaya dengan polosnya.
“Wah kurang asem kamu Jay.” Gus Hasan menepak dahinya sendiri karena merasa ‘tertipu’ oleh ajakan Jaya.
“Masa saya ganteng begini suruh nyuci piring Gus … apa sampeyan tega?” tutur Jaya dengan wajah dibuat semelas mungkin.
Ayla menghentikan taksi yang melintas di jalanan, ia memilih untuk mencari kesenangannya sendiri dari pada harus berada di acara itu, meski di sana sangat ramai tapi hatinya tetap saja merasa kesepian, semua orang sibuk dengan dunianya masing-masing, tapi tidak dengan dirinya.
“Matur sewun nggih Guse yang tampan …,” goda Jaya setelah memberikan bill yang harus dibayar.
“Ya sudah ayo pulang,” ajak Gus Hasan yang kemudian bangkit dari duduknya.
Namun tiba-tiba lampu café dimatikan, berganti dengan lampu tumbler yang tampak indah berkelap-kelip.
You broke me first …
Suara indah menyapa telinga seisi café itu, sesaat kemudian lampu sorot menyala mengarah pada gadis yang kini tengah duduk manis memegang mikrofonnya.
“Ayla ….”
“Ayla … we love you ….” Teriakan pujian seketika bersahutan membuat suasana café menjadi riuh dengan kemunculan gadis itu.
Seketika itu pula Gus Hasan mematung di tempat melihat gadis itu yang tampak sangat mendalami setiap lirik yang dinyanyikannya.
“Katanya pulang Gus?” tanya Jaya bingung saat melihat Gus Hasan yang justru kembali mendudukan diri di kursinya.
“Itu Ayla Jay, adiknya Kak Faisal.” Gus Hasan berujar tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis di depan sana.
Ia memang tahu jika Ayla sering bernyanyi, tapi ini pertama kalinya ia mendengar langsung suara merdu itu mengalun memenuhi seisi ruangan.
Sedangkan Jaya sudah melongo tak percaya dengan ucapan Gus Hasan, pasalnya gadis itu sangatlah cantik mempesona, tapi ternyata kecantikannya tak sanggup meluluhkan hati Gusnya dari bayang-bayang kakak iparnya.
Maybe you don’t like talking too much about your self
Mungkin kamu tidak suka berbicara terlalu banyak tentang dirimu
__ADS_1
But you shoulda told me
Tapi kamu seharusnya memberitahuku
That you were thingking ‘bout someone else
Bahwa kamu memikirkan tentang orang lain
Ayla tampak memejamkan netranya dengan tetap melanjutkan bait demi bait lirik lagu yang dinyanyikannya. Bagi yang melihatnya mungkin Ayla tampak seperti menikmati lagunya, padahal sebenarnya ia tengah menahan agar air matanya tak tumpah begitu saja. Lagu berjudul ‘You broke me first’ yang dibawakannya benar-benar mereflesikan perasaannya saat ini, seketika adegan-adegan kebersamaannya dengan Gus Hasan memenuhi ruang pikirannya.
Sedangkan Gus Hasan yang masih diam di tempatnya tentu bisa merasakan jika Ayla tak sekedar bernyanyi, ada rasa menyentuh di setiap lirik yang dibawakannya.
When you broke me first
Saat kamu yang lebih dulu menghancurkanku
You broke me first
Kamu yang duluan menghancurkanku
What did you think would happen?
Menurutmu apa yang akan terjadi?
What did you think would happen?
Menurutmu apa yang akan terjadi?
I’ll never let you have it
Aku tidak akan pernah membiarkanmu memilikinya
…
…
But I don’t really care how bad it hurts
Tapi aku tidak peduli seberapa menyakitkannya itu
When you broke me first
Saat kamu yang lebih dulu menghancurkanku
Ayla melambatkan nyanyiannya.
You broke me first, ooh oh …
Kamu yang lebih dulu menghancurkanku
Lirik terakhir itu terdengar begitu menyayat bagi setiap yang mendengarnya, terlebih Ayla yang kini sudah tak sanggup lagi menahan genangan di pelupuk matanya hingga akhirnya berjatuhan juga. Tepat ketika Ayla menyelesaikan lirik terakhir dan membuka matanya, ia langsung bersitatap dengan mata coklat yang kini masih duduk di tempatnya.
Jujur Ayla begitu terkejut saat mengetahui Gus Hasan yang entah sejak kapan sudah berada di sana. Ketika para pengunjung lainnya langsung menghujaninya dengan tepuk tangan bersorak sorai, Ayla langsung turun dari panggung dan berlari keluar, ia tak terlihat lemah di hadapan Gus Hasan, apalagi jika sampai Gus Hasan beranggapan bahwa ia belum bisa move on dan melupakan dirinya.
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...
__ADS_1