Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Kembali berjuang


__ADS_3

Happy reading ...


Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)


_____


“Promise always stay with me, Love?”


“Padahal Abang yang selalu bilang kayak gitu … apa sekarang Abang bener-bener udah nyerah sama Ica?”


“Sekali lagi Abang tanya, apa Ica masih mencintai Abang? Apa masih ada sisa ruang di hati Ica buat Abang?”


“Ica nggak tau Bang … semuanya masih membekas dan terlalu sakit buat Ica.”


Padahal ia sendiri yang menciptakan keadaan seperti ini, menciptakan jarak seolah memang ingin membuat Faris menyerah.


Lantas mengapa saat ini dadanya terasa begitu sesak? Mendengar penuturan Roger tentang Faris yang hendak menghadiri pertemuan dengan keluarga Abbas yang bertujuan untuk mengenalkan putri mereka, harusnya ia baik-baik saja jika memang yang ia harapkan adalah perpisahan sebagai akhir dari rumah tangganya.


Sedangkan masih di dalam food court, Roger justru tengah kebingungan, niatnya ingin membuat hubungan antara nyonya dan tuan mudanya membaik malah justru sebaliknya, sepertinya nyonya mudanya itu sudah salah paham dengan apa yang ia ceritakan.


Tanpa pikir panjang sontak Roger segera bangkit dari duduknya, berniat mengejar Aisha yang sudah menghilang di balik pintu kaca yang menjulang. Sebelumnya ia sudah meninggalkan beberapa lembar … saat melihat pramusaji yang tampaknya tengah berjalan ke arah mejanya membawa nampan berisi minuman pesanannya dan Aisha.


Aisha menyeret langkahnya begitu saja menjauh dari pusat perbelanjaan yang beberapa menit lalu berhasil mengubah suasana hatinya.


“Nyonya tunggu!” Suara bariton itu berhasil membuyarkan lamunan Aisha. Roger berhasil menemukan Aisha yang rupanya tengah berjalan gontai belum jauh dari pusat perbelanjaan.


Melihat siapa yang mengejarnya, dengan cepat Aisha menghentikan taksi yang melintas di depannya, tentu saja untuk menghindari pria berstelan serba hitam yang tengah tergopoh mengejar langkahnya.


“Argghh! kenapa jadi seperti ini! Tuan pasti ngamuk jika tahu tentang ini.” Roger mengacak rambutnya frustasi saat taksi yang ditumpangi nyonya mudanya melintas begitu saja membelah kerumunan lalu lintas didepannya.


***


Merasa sudah cukup jauh dari Istinye Park, wanita di dalam taksi itu tampak beberapa kali mengerucutkan bibirnya dengan helaan napas yang ia coba hembuskan dengan gusar.


Tiba-tiba saja netranya membulat mengingat sesuatu. Sepertinya ia sudah meninggalkan kakaknya yang tengah mengantri di meja kasir, atau mungkin justru kini kakaknya tengah kebingungan mencarinya.

__ADS_1


Meraih benda pipih di dalam sling bag-nya netra Aisha semakin membulat, rupanya sejak tadi ponselnya bergetar karena ada panggilan masuk yang tak lain yaitu dari Faisal.


Dengan cepat ia sentuh tombol panggil pada layar ponselnya hingga beberapa detik kemudian terhubung dengan seseorang di sebrang sana.


“Aish kamu dimana? Kakak bingung dari tadi cari-cari kamu sampe keliling Istinye Park, ditelponin juga nggak diangkat lagi.” Tampak sekali kekhawatiran menyertai setiap kalimat dari lelaki di sebrang sana.


“Maaf … Aish udah bikin Kakak kebingungan.” Hanya itu yang bisa Aisha katakan.


“It’s okay sekarang kamu dimana? Masih di Istinye Park?”


“Oh nggak Kak, ini Aish udah jalan pulang naik taksi. Kakak masih di Istinye Park?” Terdengar seseorang di sebrang sana menghela napas dengan lega mendengar jawabannya.


“Ada urusan kantor mendadak jadi Kakak lagi di jalan ke sana, belanjaan udah Kakak suruh orang buat anterin ke apartemen. Ya udah kamu hati-hati ya di jalan, kabari Kakak kalo ada apa-apa.”


“Kakak juga hati-hati, Aish sama Ibu tunggu di rumah.” Sambungan telepon pun terputus, kini fokus Aisha kembali pada perbincangannya beberapa menit lalu dengan Roger di Supermarket.


Bagaimana jika benar Tuan Abbas menjodohkan Ayla dengan Abang? Dengan hubungan kita yang kayak gini pasti bukan hal yang susah buat Abang mengakhiri semuanya, Abang tinggal tanda tangan surat cerai yang aku kirimin waktu itu, meski waktu itu udah Abang robek, tapi pasti dia punya salinannya kan? Atau justru minta Pak Hartono buat kirim ulang.


Ia memang bingung dengan perasaannya sendiri, tapi jujur mendengar apa yang Roger ceritakan benar-benar membuat hati dan pikirannya amat gelisah saat ini.


Ting tong


Ting tong


Maya yang baru saja melepas mukenanya usai menyelesaikan solat ashar sejenak berpikir, menerka-nerka siapa gerangan yang bertamu ke rumahnya, karena selain kedua putra putrinya ia rasa tak ada lagi yang mengetahui tempat tinggalnya di sini.


“Loh kamu, Sayang … ibu kira siapa,” tukas Maya setelah membuka pintu dan melihat putrinya yang tengah berdiri sambil tersenyum padanya.


“Kenapa harus pencet bel segala? Aisha kan tau sandinya.”


Lagi-lagi yang diajak bicara hanya tersenyum, Aisha sendiri tak paham dengan dirinya mengapa ia menekan bel padahal ia bisa masuk sesuka hati ke apartemennya sendiri.


Entahlah, sejak tadi Aisha memang tak fokus, ia masih saja memikirkan perkataan Roger di Istinye Parkbaru saja, membuatnya lemah bahkan untuk sekedar memasukan sandi rumahnya pun rasanya ia tak sanggup.


“Kakakmu mana? Ibu kira kalian pergi bareng.”

__ADS_1


“Kak Isal ada urusan mendadak di kantor Bu.”


“Aisha.”


Aisha menghentikan langkahnya, namun ia justru memudarkan senyumnya lantas tertunduk.


Sebagai seorang ibu, Maya tidak bodoh, ia tahu betul masalah yang kini tengah dialami putrinya. Ia juga tahu penyebab perubahan pada diri putrinya setiap kali ia habis keluar rumah, karena memang sumbernya tengah berada di sini, di kota yang sama.


Maya mendekati Aisha yang masih setia di tempatnya, meraih tubuh it uke dalam dekapan hangatnya. “Aisha kenapa? Ketemu lagi sama Faris?” tanya Maya mengusap kepala putrinya.


Air mata Aisha pun tak bisa ia bendung lagi, sekuat apapun seorang anak ia akan tetap lemah di hadapan ibunya, satu-satunya orang yang bisa membuat semua anak merasa tenang jika dalam dekapannya.


“Aisha nggak tau gimana perasaan Aisha sekarang Bu.”


“Kalo Aisha lupa, Ibu juga pernah jadi seorang istri. Setiap rumah tangga itu pasti memiliki ujiannya masing-masing. Yang perlu Aisha dan Faris lakukan cuma bicara, utarakan apa yang sebenarnya tersimpan di sini.” Maya membawa jemari Aisha untuk menyentuh dadanya sendiri.


Sang ibu itu mengggiring putrinya untuk duduk di sofa lantas menyodorkan segelas air.


Aisha meneguk air di tangannya hingga hampir setengahnya, “Bu ….” Maya pun mengambil kembali gelas di tangan Aisha dan meletakkannya di meja yang terdapat di depan sofa, “Sayang … terkadang nggak semua orang mengerti. Orang lain nggak tau penderitaan apa yang sedang Aisha alami, bahkan Ibu atau bahkan suamimu sendiri. Mungkin Aisha berpikir seharusnya mereka mengerti, tapi kita juga nggak bisa memaksakannya, karena emang pada dasarnya mereka nggak mengalami apa yang sedang Aisha alami. Dan itu jadi pilihan Aisha sendiri apakah akan tetap menyimpannya untuk diri sendiri ataukah membagi beban itu sama orang yang Aisha percayai.”


Aisha hanya menundukkan kepalanya, mencerna setiap kalimat yang ibunya lontarkan.


“Aisha … Ibu tau dari dulu Aisha itu wanita yang kuat, tapi hidup ini terlalu berat jika Aisha pikul sendirian, bagilah beban itu, kamu nggak sendirian, Sayang.”


Aisha menatap Maya dengan mata berairnya.


“Kembalilah pada suamimu, seseorang yang Aisha anggap rumah. Karena tiada lain rumah seorang istri adalah suaminya.” Maya menyematkan kecupannya di puncak kepala putrinya.


Aisha pun mengulas senyumnya sembari meneteskan air mata, memeluk Maya erat, “Aisha mau berjuang lagi buat keluarga kecil Aisha Bu.”


____


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2