Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Mau kemana?


__ADS_3

“Allohu Akbar Allohu Akbar ….” Lantunan suara adzan membangunkan Aisha dari tidurnya.


Jam di atas nakasnya menunjukan pukul 18.00, itu artinya adzan yang dikumandangkan adalah waktu sholat magrib.


Aisha mengerjapkan netranya yang terasa begitu berat, ia baru ingat jika tadi ia tengah menangis dan entah bagaimana caranya ia bisa tertidur hingga magrib. Untung saja ia masih berhalangan sehingga tak perlu khawatir karena melewatkan waktu asar.


Aisha memandang ke sekeliling kamarnya, belum juga ada tanda-tanda suaminya pulang. Kondisi kamarnya masih sama, berantakan seperti kapal pecah karena ulahnya.


Aisha juga mengecek ponselnya, tak ada satu pun pesan ataupun panggilan terlewat dari suaminya.


“Apa Bang Faris lembur? Atau memang sengaja nggak mau pulang karena menghindar dari aku?”


Aisha keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum, tenggorokannya terasa sangat kering, mungkin karena tadi sepanjang sore ia menangis.


“Nyonya mau makan sekarang?” tanya Bi Asih, kepala pelayan di rumahnya.


“Aisha belum laper Bi, nanti aja nungguin Bang Faris.” Aisha masih mematung di ujung tangga tanpa berniat menghampiri Bi Asih di ruang makan.


Meski kini Aisha telah menjadi seorang Nyonya di rumah suaminya, tapi ia tak pernah menganggap rendah pelayan-pelayan di rumah itu. Baginya mereka semua adalah keluarga.


“Maaf Nyonya, Tuan Faris menitipkan ini untuk Nyonya.” Pak Toni menghampiri Aisha dengan kotak berwarna coklat di tangannya.


“Bang Faris sempet pulang?” Binar di wajahnya tak bisa Aisha sembunyikan.


“Tidak Nyonya, Tuan Faris hanya menitipkan ini,” Pak Toni menyerahkan kotak di tangannya pada sang majikan.


“Gaun?” Aisha bergumam ke arah Pak Toni.


“Tuan Faris bilang agar Nyonya segera bersiap, setelah solat isya kita berangkat.”


“Kemana?” Aisha semakin tak mengerti apa yang Pak Toni ucapkan.


“Maaf Nyonya saya tidak tahu. Tuan hanya berpesan agar Nyonya mengenakan gaun itu. Saya permisi.”


“Ya udah makasih ya Pak.”


Pak Toni mengangguk takdim dan segera memutar langkahnya perlahan.


Aisha segera beranjak ke kamarnya, membuka kotak coklat di tangannnya karena sangat penasaran dengan gaun dalam kotak itu.


“Masya Allah cantik banget … Bang Faris beliin baju kaya gini buat apa coba? Bukannya dia masih belum maafin aku?”


Aisha benar-benar kagum dengan gaun di tangannya, setahunya ini adalah gaun rancangan terkenal, dan sudah pasti harganya tak perlu diragukan.


Aisha melirik jam yang tergantung di dinding kamarnya yang menunjukan pukul setengah tujuh malam.


Sebentar lagi waktu isya, Aisha segera bergegas untuk mandi dan membersihkan diri.

__ADS_1


Setelah selesai dengan ritual mandinya Aisha berbenah untuk meminimalisir penampilannya. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin riasnya, terlihat kantung matanya yang agak membengkak karena tangisnya.


“Duh ini mata keliatan banget sembab lagi, gimana dong?” Aisha kebingungan sendiri.


Ia segera berlari ke arah dapur untuk mengambil es batu agar meminimalisir bengkak di matanya.


“Semoga berhasil deh.”


“Nyonya sedang apa?” suara Bi Asih menghentikan kegiatan Aisha.


Sebenarnya Aisha agak risih dengan panggilan Bi Asih, Aisha juga sudah berkali-kali menolak panggilan itu, namun Bi Asih tetap saja tidak mau merubahnya.


Baginya Bi Asih sudah seperti orang tuanya sendiri, mungkin karena memang usianya yang tak terpaut jauh dengan Ibunya.


“Ini Bi, mata Aisha tadi keliatan agak bengkak.”


“Sudah nggak keliatan kok Nyonya.”


“Ah yang bener Bi?” Aisha cukup gembira dengan penuturan Bi Asih.


Bi Asih yang melihat majikannya kegirangan segera mengangguk semangat.


“Kalo gitu Aisha ke atas dulu ya Bi, mau siap-siap lagi,” pamit Aisha takdim.


***


Azka memang sampai se-frustasi itu diabaikan oleh Karina beberapa hari ini, jika ditanya kenapa, Azka sendiri tak tahu apa jawabnya.


Benar, diam-diam Azka mulai peduli pada Karina, gadis yang menurutnya aneh.


“Hari ini saya nggak ke kantor.” Azka memulai perbincangan untuk menepis kecanggungan.


“Oh,” jawab Karina datar tanpa menghentikan aktivitasnya dengan Rafa.


Azka terdiam, kenapa rasanya sulit sekali membuat Karina kembali seperti semula.


Biasanya satu topik bisa puluhan kalimat keluar dari mulut manisnya. Namun kali ini benar-benar berbeda.


“Sesama muslim nggak boleh loh saling bermusuhan lebih dari tiga hari.” Lagi-lagi Azka mencoba mencairkan suasana.


Karina hanya menoleh dengan tatapan tajamnya, membuat Azka seketika bungkam.


“Bilang ya kalo udahan marahnya.” Azka akhirnya menyerah dan berlalu dari kamar putranya, ia harus memikirkan cara lain untuk meminta maaf pada Karina.


“Orang aneh,” gerutu Karina setelah Azka menghilang di balik pintu kamar Rafa.


***

__ADS_1


Aisha mulai mengoles make pada wajah cantiknya, sebisanya. Karena memang Aisha tidak pernah berdandan berlebihan sebelumnya, kecuali pada pesta pernikahannya dulu. Itupun karena disesuaikan dengan baju pengantin yang ia kenakan.


Wajahnya yang sudah cantik alami hanya memerlukan sedikit polesan bedak dengan eyeliner dan mascara, eye shadow warna brown natural, sedikit blush on di atas pipinya yang sudah merona dan matte cream berwarna nude di bibir mungilnya.


Sempurna. Malam ini ia ingin tampil berbeda di depan suaminya.


Kini Aisha mulai kebingungan dengan gaya hijabnya. Apalagi gaun yang Faris pilihkan berdesain casual yang menuntut sang pemakai untuk terlihat anggun mempesona.


Tidak mungkin Aisha hanya akan mengenakan hijab instan yang tergerai begitu saja, itu akan terlihat seperti akan menghadiri pengajian rutinan di komplek.


Meski Aisha sendiri tak tahu acara apa sebenarnya yang Faris rencanakan, ia hanya ingin membuat suaminya senang, barangkali mereka akan menghadiri acara ke sesama rekan bisnisnya, tentu saja ia tak ingin membuat Faris malu dengan tampilannya.


Rasulullah SAW pernah ditanya, “Wanita seperti apa yang paling baik?” Rasulullah menjawab, “Wanita terbaik adalah yang ketika kamu melihatnya kamu merasa bahagia.”


Jadi Aisha berusaha untuk tampil yang terbaik untuk membuat Faris bahagia.


Aisha memutuskan untuk mengenakan hijab pashmina dengan warna yang senada dengan gaunnya dan ia lilitkan sedikit ke atas kepalanya untuk menambah kesan elegannya.


Aisha berjalan menuju rak sepatu di kamarnya, memilah milih sepatu mana yang cocok untuk menemaninya bersama dress berwarna soft blue pilihan Faris.


“Tuh kan bingung lagi, gini nih kalo minim pengetahuan tentang fashion.” Aisha merutuki dirinya sendiri.


Saking bingungnya Aisha bahkan hingga berjongkok di depan rak sepatunya, meneliti satu persatu sepatu yang selalu tertata rapi di tempatnya.


Tok … tok ….


“Nyonya apakah sudah siap?”


Suara Pak Toni dari luar kamarnya mengejutkan Aisha, ia masih bingung sepatu mana yang harus dikenakannya.


“Bapak boleh tolong panggilkan semua pelayan agar ke kamar saya?” Aisha melongokan sedikit kepalanya dari balik pintu untuk menjawab Pak Toni.


“Apa ada masalah Nyonya?”


Aisha membuka pintu lebih lebar, menampakan dirinya dari ujung kepala hingga ujung kaki yang sudah berdandan rapi.


Pak Toni mengernyitkan dahinya bingung, tak mengerti akan maksud Nyonya mudanya itu.


Setelah Aisha memperlihatkan kakinya yang masih telanjang, barulah Pak Toni mengerti. Ia sedikit menahan tawanya melihat tingkah lucu majikannya.


“Sebentar Nyonya saya panggilkan.” Pak Toni segera berlalu dari hadapan Aisha, bukan hanya untuk memanggil para pelayan, melainkan juga untuk menyembunyikan tawanya.


***


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like, and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2