
Gus Hasan mengucap syukur berkali-kali sambil melangkahkan kaki keluar dari gedung yang diyakini sebagai Istanbul University. Ya, hari ini ia berhasil melewati kelas Tomer dengan baik. Pikirnya, semoga saja satu tahun ini cukup untuk dirinya menyelesaikan kelas Tomer-nya, sehingga ia bisa cepat kembali mengabdikan diri dan pulang ke tanah airnya.
Gus Hasan memilih untuk tak langsung kembali ke asramanya, melainkan ke tempat yang kini menjadi favoritnya di Istanbul, yakni Masjid Biru, setelah lebih dulu mengirim pesan pada Jaya, sahabatnya.
Berjalan sejauh satu kilometer membuat peluh di keningnya cukup terlihat, untung saja hari ini cuaca tak sepanas biasanya.
Sesekali ia berhenti untuk meneguk air mineralnya. Dengan kaki panjangnya, ia tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat tujuannya.
Sudah menjadi kebiasaan Gus Hasan bahwa sebelum memasuki masjid ia pasti akan berdiri cukup lama di pelataran masjid lebih dulu, sekedar untuk menatap keindahan dari masjid itu yang mungkin tak ia temui di tanah airnya. Sambil lisannya yang tak lupa berulang kali menyebut asma Allah.
Kali ini sebelum benar-benar memasuki masjid, ada yang tak sadar membuatnya tersenyum. Seorang wanita yang sudah tak asing lagi baginya sedang memasang selendang panjang sebelum memasuki masjid, meski tak sempurna, namun berhasil menutupi rambut pirangnya yang sejak tadi tergerai.
Istanbul ini luas, tapi mengapa Gus Hasan kembali dipertemukan dengan orang yang sama. Ini merupakan pertemuan ketiganya dengan wanita bernama Hulya Ayla Filiz, orang lain memanggilnya Ayla, tapi Gus Hasan lebih suka memanggilnya dengan Hulya.
Sebenarnya kali ini bukan pertemuan, hanya Gus Hasan yang melihatnya dari kejauhan. Ternyata gadis itu juga cukup sering berkunjung ke masjid ini.
Setelah menyelesaikan solatnya, Gus Hasan berniat untuk langsung pulang. Namun suara dari perutnya membuat Gus Hasan menghentikan langkahnya di depan para penjual kebab Turki yang sudah berjajar di area yang tak jauh dari masjid.
Ia memesan kebab daging ayam dalam Bahasa Inggris, ia belum terbiasa dengan logat Turki, padahal dirinya sering berulang kali berlatih dengan Jaya di asrama, tapi lidahnya masih terasa kaku.
Gus Hasan terpukau saat melihat keahlian penjual kebab yang mengiris tipis daging, tomat, selada, bawang bombai, mentimun dan terakhir menyiramnya dengan mayonaise. Kebab disajikan dengan cara digulung.
“Jauh-jauh ke sini hanya untuk membeli ini?” suara seseorang membuyarkan lamunannya yang tengah menatap kagum pada kelihaian penjual kebab.
Terlihat Gus Hasan menghela napasnya Panjang saat mengetahui siapa yang berbicara padanya.
“Kamu memang senang menyimpulkan sesuatu sendiri ya?”
“Kamu sedang apa di sini?” tanya gadis bernama Ayla.
“Kamu nggak liat saya lagi ngapain?”
“Maksudku apa kamu sengaja ke sini hanya untuk membeli ini?”
“Bukankah kamu yang tadi menyimpulkan kalau saya jauh-jauh ke sini hanya untuk membeli ini? Kenapa masih bertanya?” jawab Gus Hasan sambil berlalu setelah mendapatkan kebabnya.
“Tunggu! Kamu tuh yah kebiasaan kalo orang lagi ngomong ditinggalin.” Terdengar Ayla sedikit menaikan suaranya sambil mengejar langkah Gus Hasan. Tak lupa kedua pengawalnya yang selalu setia mengikutinya.
***
Aisha menggeliatkan badannya saat telinganya sayup-sayup mendengar tayaqqodu dari masjid.
Jam di atas nakasnya menunjukan pukul setengah tiga dini hari. Saat ia membuka matanya, wajah tenang Faris yang masih terlelap menjadi pemandangan pertamanya.
“Abang pasti cape ya? Maaf ya semalem Ica ketiduran,” lirih Aisha membelai pelan wajah tampan di depannya.
__ADS_1
Alis Faris saling bertaut dalam tidurnya, mungkin merasa karena tidurnya terusik oleh pergerakan tangan Aisha di wajahnya.
Aisha berniat untuk bangkit dari ranjangnya tanpa membangunkan suaminya, namun ada yang menghambat pergerakannya.
Disingkapnya selimut yang menutupi badannya, terlihat sebuah tangan kekar melingkar manis di perut rampingnya.
“Argh … Astaghfirullah!” Aisha segera membekap sendiri mulutnya, takut Faris terbangun karena teriakannya.
Ia baru teringat saat menyingkap selimut dan melihat pakaiannya.
“Dari semalem aku pake baju kaya gini?” Aisha celingukan sendiri.
“Seinget aku tadi malem aku lagi nonton tv nungguin Bang Faris, berarti Abang dong yang mindahin aku ke kasur? Berarti Bang Faris juga udah liat aku pake baju kaya gini?” gumam Aisha merasa malu jika yang ada di pikirannya benar terjadi.
Aisha segera menutup kembali tubuhnya dengan selimut, takut jika Faris terbangun dan melihat dirinya dalam pakaian seperti itu.
“Kenapa sih sayang hem?” suara parau khas orang bangun tidur mengagetkan Aisha.
Ternyata pergerakan yang sudah coba Aisha minimalisir tetap mengganggu tidur Faris.
Aisha menyingkap selimut yang menutupi wajahnya, dilihatnya Faris masih memejamkan matanya.
“Abang udah bangun?” tanya Aisha hati-hati.
“Semalem Abang yang mindahin Ica ke kasur?” tanya Aisha berbalik menghadap Faris yang masih menutup mata.
“Emh, masa Pak Toni.”
“Berarti Abang juga liat Ica pake baju apa dong?” Aisha semakin panik menunggu jawaban Faris.
Yang ditanya malah hanya tersenyum, membuat Aisha semakin panik.
“Abang ih yang bener?” kini Aisha mulai mengguncang-guncang tubuh suaminya yang tetap belum membuka mata.
“Apa sayang? Ya Abang liat lah, masa iya gendong sambil merem.”
“Argh Abang ih ….” Aisha semakin teriak mendengar jawaban Faris, ia malu jika harus membayangkan Faris melihat dirinya dalam keadaan seperti itu.
“Liat semuanya malah,” bisik Faris membuat Aisha semakin membulatkan netranya.
Belum sempat Aisha memukul lengan Faris, ia sudah mengunci pergerakan istrinya lebih dulu. Mengungkungnya dalam pelukannya.
“Berisik banget sih humairaku pagi ini.” Faris membuka matanya, gemas melihat wajah istrinya yang sudah merah padam menahan malu.
“Bukannya emang Ica dandan kaya gitu buat Abang kan?”
__ADS_1
Aisha mendongak mendengar pertanyaan Faris, membuat bibir Faris menempel sempurna di dahinya.
“Ya iya sih, tapi kan ….”
“Ssttt … Abang masih ngantuk,” ucapan Faris menghentikan kalimat Aisha.
Aisha menurut, perlahan tangan mungilnya membelai lembut rahang tegas suaminya yang kembali terpejam.
“Abang solat dulu yuk?” tutur Aisha lembut.
“Emh, masih ngantuk sayang,” jawabnya manja dan malah semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.
“Ya udah Ica solat dulu yah, nanti Ica bangunin lagi.”
Faris sontak membuka matanya mendengar kalimat Aisha.
“Ica udah suci?” tanyanya dengan wajah penuh harap.
Aisha hanya mengangguk mengurai senyumnya.
“Sejak kapan? Kok nggak bilang-bilang sih?”
“Idih kan Ica udah ngodein Abang sama penampilan Ica semalem, Abang aja yang nggak peka,” jawab Aisha mengerucutkan bibirnya.
“Ya udah kalo gitu kita lanjutin yang semalem tertunda,” tutur Faris dengan seringainya.
“Abang kan ke Rumah Sakit hari ini ih.”
“Oh iya, atau Abang libur aja ya hari ini?”
“Ssttt … nggak boleh gitu, harus professional dong. Di Rumah Sakit kan banyak yang butuh pertolongan Abang, masa Abang mau ngambil libur seenaknya gitu. Kan masih banyak hari lain ya?” bujuk Aisha lembut.
“Makasih ya Ica udah ngertiin kesibukan Abang.”
“Saat tanggung jawab Ibu atas Ica berpindah ke pundak Abang, maka Ica pun lahir batin harus siap menerima segala kekurangan dan kelebihan Abang. Selama ini Abang hampir belum punya kekurangan di mata Ica, maka biarlah kesibukan Abang Ica anggap sebagai kekurangannya, agar Ica selalu belajar untuk sabar. Dari sana Ica pasti juga akan lebih banyak bersyukur.”
Faris menatap Aisha lembut, kagum akan kebesaran hati sang istri. Ia tak salah memilih wanita sebagai pendamping hidupnya, justru ia sangat bersyukur karena wanita dengan hati semulia Aisha bersedia menerimanya menjadi teman hidupnya.
***
"Seorang istri yang shalihah akan memperlakukan suaminya layaknya seorang raja, mencintainya seperti seorang pangeran, namun ia juga tidak lupa untuk terus mengingatkan suaminya bahwa dia hanyalah hamba Allah yang juga punya kekurangan."
Bersambung ...
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang …
__ADS_1