
Happy reading ...
Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)
Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)
_______
“Kita berangkat sekarang?” tanya Faris saat melihat Aisha yang sedari tadi hanya menunduk dan memainkan kukunya yang selalu cantik terawat. “Kenapa, Sayang?” Diraihnya jemari lentik itu ke dalam genggamannya yang hangat.
“Em … Ica ngerasa nggak enak kalo tiba-tiba ikut Abang,” ucapnya, suaranya terdengar ragu.
Kening Faris berkerut, diraihnya wajah Aisha agar menatapnya. “Hei, kenapa mesti ngerasa nggak enak? Ica istri Abang, nggak ada yang perlu dikhawatirin.”
“Ica cuma nggak enak karena Tuan Abbas berniat kenalin Abang sama Ayla. Kesannya Ica kayak pasangan yang posesif kalo tiba-tiba ikut,” ujar Aisha mengungkapkan keresahannya.
“Terus Ica nggak apa-apa kalo suamimu ini kenalan sama gadis lain di belakang istrinya?”
Aisha hanya menatap suaminya lama, tanpa menanggapi apapun lagi yang dikatakan Faris.
“Apa Ica masih belum siap kalo harus ketemu lagi sama Ayla?” Faris mencoba menebak kekhawatiran lain dari istrinya.
Lagi-lagi Aisha hanya menghela napasnya, entah apa yang sebenarnya ia khawatirkan saat ini.
“Sayang.” Menatap istrinya dengan tatapan dalam, Faris mengusap pipi Aisha lembut, “Nggak ada yang perlu dicemasin, karena Abang yang akan selalu jagain Ica.”
Seulas senyum merekah dari kedua sudut bibir Aisha mendengar ucapan Faris. Suaminya memang selalu mampu membuatnya merasa aman berada didekatnya. Itulah sebabnya separuh jiwanya terasa hilang saat mereka harus berjauhan.
Aisha menyandarkan kepalanya di bahu Faris, menggenggam tangan kekar yang kini bertanggung jawab atas diri dan hidupnya. Entah kenapa tiba-tiba Aisha merasa ingin selalu bersama suaminya, menghirup aroma maskulin yang memang sejak dulu menjadi candunya.
__ADS_1
“Kita berangkat sekarang, Ger,” ucap Faris menurunkan sedikit kaca mobilnya. Roger yang cukup tahu diri memang sengaja sejak tadi memilih menunggu di luar sampai tuannya memberikan titah untuk melajukan mobilnya.
Mereka sampai tepat pada pukul tujuh. Restoran Lacivert atau populer dengan restoran biru laut karena menyuguhkan langsung pemandangan Bosphorus sebagai view utamanya menjadi tempat pilihan mereka malam ini. Lacivert memang dikenal sebagai restoran fine dining terbaik di Istanbul, tak heran jika mereka harus mereservasi lebih dulu agar mendapat tempat dengan view yang mempesona.
Restoran yang memiliki desain interior modern dan tampilan dengan lampu redup itu membuat Abbas seketika bangkit dan langsung diikuti oleh istri dan putrinya saat melihat siluet seseorang yang berjalan ke arahnya.
“Suatu kehormatan Nak Faris bersedia memenuhi undangan kami,” sambut Abbas begitu sosok yang ditunggunya berdiri tepat di hadapannya.
“Ah anda berlebihan, Tuan. Lagi pula saya sudah berjanji malam itu,” jawab Faris merasa segan.
“Kalau begitu mari kita duduk, Nak.” Abbas menggeser tubuhnya, memberi ruang agar Faris duduk di kursi yang berada tepat di samping putrinya.
“Ah sebentar, Tuan. Saya menunggu seseorang,” jawabnya dengan celingukan.
“Seseorang?” ulang Abbas dengan nada bertanya.
“Ah itu dia!” tukas Faris dengan berbinar saat menemukan sosok yang dicarinya kini tengah menyeret langkahnya menuju dirinya.
“Maaf saya terlambat,” sapa wanita dengan dress yang senada seperti yang Faris kenakan, wanita itu menunduk memberi salam hormat. Wanita yang tak lain adalah Aisha dengan Roger di belakangnya. Pasalnya tadi ia berpamitan untuk ke toilet lebih dulu, sekedar mengusir rasa gugupnya. Ia pun meminta agar Faris lebih dulu menemui keluarga Abbas tanpa dirinya.
Sedangkan Abbas dan Ajeng hanya bisa saling berpandangan saat wanita itu mengangkat wajahnya, tersenyum ramah kepada keduanya, wajah itu kini begitu jelas dari kedekatan.
“Aisha?” Abbas mengerutkan keningnya, tampaknya pria paruh baya itu belum mengerti arti kehadiran Aisha di sana.
“Ah biar saya perkenalkan, ini istri saya, Tuan. Aisha. Saya yakin kalian pasti sudah mengenalnya.”
Kalimat itu justru membuat pasangan suami istri itu semakin menganga. Berbeda dengan putri mereka yang tampak biasa saja seolah sudah menduga apa yang akan terjadi. Ayla memang pernah bertemu dengan Faris dan Aisha, bahkan jauh sebelum ia tahu jika istri dari pria yang ingin babanya kenalkan padanya itu adalah adik kandung dari kakak lelakinya. Saat itu ia mengenal mereka sebagai saudara sepupu dari lelaki yang diam-diam dikaguminya, Hasan Fajrurraihan.
Ia hanya sedikit terkejut ketika mengetahui seseorang yang babanya anggap begitu berjasa terhadap keluarganya adalah Faris, pewaris tunggal Abdullah company yang tak lain adalah suami Aisha, wanita yang sampai saat ini masih ia anggap sebagai perebut apa seharusnya menjadi miliknya.
__ADS_1
“Jadi suami yang saat kamu ceritakan di rumah sakit waktu adalah Nak Faris, Aisha? Wah … rupanya dunia memang sempit.” Abbas masih berdecak dengan keterkejutan.
Sedangkan Faris yang mendengarnya sontak menatap istrinya, “Rumah sakit?” tanyanya seolah meminta penjelasan. Sedangkan Aisha hanya memberikan tatapannya seolah mengatakan, ‘Ica jelasin nanti’.
“Benar sekali, Tuan. Saya juga tidak menyangka jika ternyata Tuan sudah mengenal suami saya.”
“Ah panggil saya Baba. Kamu adiknya Faisal, sama seperti Ayla,” tukas Abbas saat mendengar Aisha menyebutnya ‘Tuan’. Tentu saja Ayla yang mendengarnya seketika berdecak kesal, ‘apa-apaan babanya itu’, batinnya.
Aisha sedikit ragu dengan penawaran itu, “Em baiklah, akan saya coba.” Di satu sisi ia senang karena keluarga yang membesarkan kakaknya ternyata menerima dirinya dengan baik, meski tak bisa dipungkiri Ayla tampak masih bersikap sinis terhadapnya.
“Bagaimana kalau kita duduk dulu?” Ajeng menyela pembicaraan mereka, membuat semuanya tergelak karena tak sadar jika sejak tadi mereka hanya berdiri.
“Perkenalkan ini istri saya, Nak Faris. Ajeng. Dia juga berasal dari Indonesia seperti kalian, dari Yogyakarta tepatnya.” Abbas mengenalkan wanita paruh baya yang duduk di samping kanannya. Wanita itu tampak masih terlihat cantik di usianya. Pakaian dan seluruh asesoris yang melekat di tubuhnya semakin menambah citra wanita karirnya.
“Wah benarkah, Bukde?” Faris dan Aisha tampak terkejut hingga tanpa sadar Faris menyebut wanita itu dengan sebutan ‘Bukde’.
“Sudah lama sekali tidak ada yang memanggil saya dengan sebutan itu.” Ajeng pun tampak berbinar mendengar panggilan itu, aksen medoknya seketika keluar saat Faris menyebutnya ‘Bukde’.
“Dan ini putri saya, Ayla, yang malam itu saya ceritakan.” Abbas kembali memperkenalkan seseorang di sampingnya, gadis itu hanya tersenyum singkat, tak ingin lebih jauh menanggapi babanya.
“Sebenarnya kami sudah mengenal putri anda. Kita sempat berkenalan saat waktu itu saya dan Aisha ke Istanbul untuk berbulan madu. Putri anda juga ternyata teman kuliah sepupu saya yang juga kebetulan tengah belajar di Istanbul University.” Faris menjelaskan perkenalan mereka saat itu.
“Wah … kenapa banyak sekali kejutan malam ini?” Abbas masih berdecak kagum, tak menyangka apa yang diketahuinya saat ini. Di sisi lain tak bisa dipungkiri bahwa rasa kecewa tetap ada saat ia tahu jika pria yang dirasa tepat untuk putrinya ternyata sudah memiliki wanita di sampingnya.
“Jujur sejak pertama saya mengenal Nak Faris, saya sudah begitu kagum. Terlebih saat tahu jika Nak Faris adalah putra Abdullah. Saya berpikir beruntung sekali wanita yang berhasil Nak Faris nikahi nantinya. Rupanya Aisha wanita beruntung itu.”
“Sayalah yang beruntung Aisha mau membalas cinta saya, dan beruntung Tuhan menakdirkan Aisha untuk saya,” ralat Faris meraih jemari wanita di sampingnya.
“Well, kalian memang pasangan yang begitu cocok. Saya berharap semoga kelak putri saya juga bisa dipersunting oleh lelaki sebaik Nak Faris,” ujar Abbas lantas meraih gelas minumannya, ia butuh membasahi kerongkongannya untuk menelan kembali harapannya karena ternyata pewaris tunggal Abdullah company yang berniat ia jodohkan dengan putrinya sudah memiliki pendamping. Sedangkan Ajeng lebih banyak terdiam menyimak perbincangan mereka.
__ADS_1
_______
Bersambung ...