Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Ini kakakku


__ADS_3

“Aku tunggu disitu ya,” ujar Ayla menunjuk sebuah coffe shop yang tak jauh dari pelataran Hagia Sophia.


“Ok, nanti aku nyusul.”


Gus Hasan bergegas melangkah memasuki Hagia Sophia, ia tak sabar untuk segera merasakan solat di tempat yang menjadi saksi kebangkitan islam di negeri itu.


Ayla melepas mantelnya saat memasuki coffe shop yang tadi ia tunjukkan pada Gus Hasan, penghangat ruangan di sini cukup untuk membuat bibir Ayla tak saling beradu menahan dingin seperti saat di luar.


“Americano please,” ujar Ayla pada seorang barista perempuan. Ayla memang jarang menggunakan bahasa Turkinya, ia lebih nyaman menggunakan bahasa inggris jika berbicara dengan orang asing.


“Ok. Wait a minute.” (Ok. Tunggu sebentar.)


Ayla memilih kursi di dekat jendela, pasalnya ia sangat gemar memandangi salju yang berjatuhan memenuhi jalanan.


Beberapa saat kemudian lonceng di atas pintu dari coffe shop tempat Ayla datangi berbunyi, menandakan kedatangan atau kembalinya seseorang. Ayla yang terlalu asyik dengan imajinasinya tak menghiraukan siapa-siapa saja yang berlalu lalang, hingga ketika seseorang memanggil Namanya barulah ia menoleh.


Seketika netra Ayla membulat sempurna, begitupun pria yang datang bersama Gus Hasan.


“Kakak!” pekik Ayla yang langsung berdiri dan menubruk tubuh kekar pria yang kini Gus Hasan ketahui sebagai kakak yang sering Ayla ceritakan.


“Kamu lagi ngapain di sini Dek?”


“Tuh nungguin dia solat jumat,” jawab Ayla menaikkan dagunya menunjuk kea rah Gus Hasan.


“Loh kalian udah saling kenal?” tanya pria itu kaget,


“Kakak juga kok bisa dateng sama dia?”


“Kakakmu kebetulan salah satu tutorku di kelas Tomer, kami nggak sengaja kenal waktu di kampus,” jawab Gus Hasan menengahi perbincangan antara kakak beradik itu.


“Kamu sendiri gimana bisa kenal sama Hasan hayo, bukannya Hasan pendatang  baru di sini?” tanya pria yang Gus Hasan ketahui bernama Faisal yang ternyata adalah kakak dari Ayla.


“Nggak sengaja kenal waktu di pesawat, kebetulan kita satu kursi,” jawab Ayla enteng.


“Ayla kangen banget tau sama Kakak, kenapa sih Kakak akhir-akhir ini jarang pulang ke rumah?” tutur Ayla kembali memeluk kakak tercintanya. Gus Hasan yang tidak ingin mengganggu justru memilih untuk duduk menyaksikan.


“Maaf ya Adekku sayang, akhir-akhir ini jadwal Kakak padet banget, belum lagi tugas kantor yang papa alihin ke kakak,” jawab Faisal membalas pelukan sang adik.


Gus Hasan yang mendengar penuturan Faisal justru terkagum pada sosok pria yang baru saja dikenalnya itu. Bagaimana bisa di usianya yang terbilang cukup muda tapi Faisal bisa sudah sehebat itu, menjadi dosen juga memegang kendali perusahaan tidaklah mudah dilakukan bersamaan.


Hal itu mengingatkannya pada kakak sepupunya yang juga tak kalah hebat. Di usia muda itu Faris harus mengelola perusahaan keluarga Abdullah juga berprofesi sebagai seorang dokter, bahkan dokter spesialis, namun sayangnya Faris sudah harus kehilangan kedua orang tuanya sejak remaja, tuntutan kehidupan membuatnya harus sekuat baja. Tapi kini justru ia berhasil bersanding dengan wanita hebat yang menjadi dambaan Gus Hasan, dan terkadang semua itu membuat Gus Hasan merasa rendah diri, mengapa nasibnya tak seberuntung kakak sepupunya itu.


“Kakak jangan terlalu sibuk, nanti kapan mau bawa calon kakak ipar ke rumah,” goda Ayla justru menyadarkan Gus Hasan dari lamunannya.


“Apa sih Dek, kakak belum kepikiran sejauh itu.”


Baik Faisal maupun Ayla, keduanya memilih duduk saat seorang waitress mengantarkan pesanan mereka, bergabung dengan Gus Hasan yang tengah menyesap kopinya.


“Oh ya, Hasan orang Yogya juga?” tanya Faisal membuat Gus Hasan mendongak.


“Ah iya Sir.”


“Kakak aja, kayak Ayla,” ujar Faisal membuat Gus Hasan justru malah canggung.


“Em iya Kak,” jawab Gus Hasan agak ragu.

__ADS_1


“Yogyanya sebelah mana?”


"Sleman Kak."


"Oh, dekat Merapi berarti?"


"Em lumayan, kayaknya Kak Faisal cukup paham sama Indonesia ya,” celetuk Gus Hasan membuat Faisal justru tertegun.


“Ah sedikit.”


“Tuh Kak, kita liburan ke Indonesia yuk, biar nanti Hasan yang jadi tour guide-nya. Ya kan San?”


Deg, jantung Faisal berpacu kencang mendengar penuturan adiknya, ia tak tahu apakah dirinya akan sanggup menginjakkan kaki kembali di negeri itu.


“Iya ayo, dengan senang hati,” imbuh Gus Hasan mendukung Ayla.


“Em nggak bisa, Kakak sibuk Dek,” tolak Faisal lembut.


“Ayolah Kak, bentar aja, nggak usah lama-lama juga nggak apa-apa,” ujar Ayla tak putus asa.


“Nanti Kakak pikir-pikir dulu ya.”


“Yes, harus jadi pokonya.”


“Kakak nggak jamin tapi ya.” Faisal tetap mencari cara untuk menolak.


“Oh ya, Kakak lupa ada meeting sama klien siang ini. Kakak duluan ya?” ujar Faisal setelah melirik jam kulit yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Iya deh nggak apa-apa. Aku bisa pulang bareng Hasan kok,” jawab Ayla dengan wajah yang ditekuk, pasalnya ia masih sangat rindu dengan kakaknya itu.


“Siap Kak,” jawab Gus Hasan dengan sigap.


“Ok, bye. Assalamualaikum,” tutur Faisal sebelum akhirnya beranjak dan keluar dari coffe shop itu.


“Waalaikumsalam.”


***


“Hallo cantik, Assalamualaikum.” Wajah tampan Faris memenuhi layar ponsel Aisha saat ia menggeser tombol hijau panggilan video dari suaminya.


“Waalaikumsalam Abangku sayang,” jawab Aisha seraya menampilkan senyum terindahnya.


“Sayang bisa nggak jangan senyum?”


“Loh?” Aisha yang memang bingung hanya mengerutkan keningnya, membuat kedua alisnya saling bertaut.


“MasyaAllah, mau bingung, mau datar, mau senyum, tetep aja menggoda. Mengundang syahwat, untung aja udah halal, Alhamdulillah.”


Penuturan Faris mampu membuat Aisha sontak tergelak hingga wajahnya bahkan memerah.


“Sayang plis deh jangan nyiksa Abang, awas ya kalo berani ketawa-ketawa kayak gitu di depan cowok lain.”


“Apa? Mau diapain kalo iya?” tanya Aisha mencoba menggoda suaminya.


“Bakalan Abang kasih hukuman lah nanti di kamar.”

__ADS_1


“Jangan dong, kasih duit aja deh,” celetuknya berhasil membuat sang suami tergelak.


“Kan duit Abang udah Ica semua yang pegang yey.”


“Oh iya ya. Eh Abang udah solat isya belum?” tanyanya seraya membuka mukena yang masih dikenakannya dan merapikannya kembali pada tempatnya.


“Udah dong Sayang. Eh iya, Abang mau jalan pulang nih, Ica mau dibawain apa Sayang?” Terlihat Faris yang beranjak melangkah keluar dari ruangannya.


“Apa aja deh, terserah imamku aja deh.”


“Ok, see you at home Honey, bye. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Klik, panggilan diputus setelah keduanya saling melambai pada kamera.


Kurang lebih setelah satu jam dari panggilan Faris, bel rumah Maya berbunyi. Aisha dan Maya yang memang tengah duduk di sofa menikmati acara yang ditayangkan oleh salah satu stasiun televisi saling tatap, seolah paham siapa gerangan yang datang.


“Bentar, Aisha bukain pintu dulu ya Bu,” ujarnya bangkit dan melangkah ke arah papan kayu yang menjulang tinggi di depan.


“Ok Sayang.”


“Tuh kan pasti Abang,” ujar Aisha berbinar setelah melihat sosok tegap di balik pintu.


Dengan sigap Aisha lantas mengambil tangan Faris dan mengecupnya, begitupun Faris yang langsung mengecup puncak kepala istrinya.


“Cie nungguin ya?” goda Faris melingkarkan lengannya pada pundak sang istri sambil beriringan berjalan ke ruang tv menghampiri ibu mertuanya.


“Tadinya sih mau ditinggal tidur aja duluan,” celetuk Aisha kembali menggoda sang suami.


“Ya Allah jahatnya, kayak anak TK aja Sayang jam segini mau tidur.”


“Biarin.”


Obrolan keduanya terhenti saat sampai di ruang tengah dan ikut bergabung dengan Maya yang tampak seru dengan acara televisi.


“Eh udah pulang, lembur lagi ya Sayang?” tanya Maya saat melihat menantu dan putrinya menghampiri.


“Alhamdulillah, iya nih Bu,” jawab Faris lantas mengecup punggung tangan yang mulai merenta itu.


“Ya udah makan dulu yuk, pasti Abang belum makan malem kan? Ica loh yang masak, dibantuin dikit sih tadi sama Ibu. Ya kan Bu?” ujar Aisha meminta pembelaan.


“Iya lah, putri Ibu kan harus bisa nyenengin suaminya,” imbuh Maya membuat Aisha semakin melebarkan senyumnya.


“Uh makasih ya Bu udah ngelahirin bidadari sesempurna ini buat Faris,” ujar Faris melingkarkan lengannya di pinggang ramping snag istri, membuat Aisha sontak bersemu dengan perlakuan Faris, apalagi di depan ibunya.


“Makanya tolong dijaga baik-baik ya bidadarinya,” jawab Maya tak bisa menyembunyikantawanya menyaksikan perlakuan menantunya.


“Siap komandan!” jawab Faris menegakkan tubuhnya dan bergaya hormat bendera, membuat ketiganya sontak tergelak.


Malam itu mereka menghabiskan makan malam bertiga, dengan saling bertukar emosi, cerita dan obrolan-obrolan kecil lainnya, membuat ketiganya sama-sama terlarut dalam canda dan tawa.


***


 Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2