Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Tertunda lagi?


__ADS_3

“Loh Bi Asih sama yang lainnya kemana Sayang?” Sepulang berjamaah subuh di masjid langkah Faris terhenti di ujung tangga saat melihat Aisha sudah sibuk sendirian di dapur.


“Eh Abang udah pulang.” Aisha segera mendekat meraih punggung tangan Faris dan menciumnya.


“Bi Asih sama yang lainnya Ica suruh ngerjain yang lain aja. Mulai sekarang Ica yang akan siapin semuanya buat Abang,” lanjut Aisha yang ditimpali Faris dengan senyuman, manis sekali senyumnya.


Posisi Faris yang berada di anak tangga pertama memudahkannya untuk melingkarkan kedua lengannya di bahu istrinya.


“Emang Ica nggak cape ngerjain semuanya sendiri?”


Aisha menggeleng kuat dengan senyum yang tercetak indah di wajahnya, menarik tangan Faris lalu mendudukannya di kursi yang berada di dekat meja dapur.


“Kata Ibu, istri itu harus pintar melayani suami, apalagi masalah dapur, harus bisa di handle sendiri. Ica kan juga mau Abang makan dari masakan Ica sendiri.”


Faris mendudukan Aisha di pangkuannya, meraih tangannya lalu mengecupnya.


“Jadi makin sayang deh punya istri paket komplit gini,” tutur Faris mendaratkan kecupan di kening Aisha.


“Dulu Ibu yang selalu meracikan bumbu-bumbunya, Ica cuma bantuin. Jadi nggak terlalu ngerti kalo masak yang rumit-rumit. kita mulai dari yang mudah aja ya Bang?”


 “Apapun yang Ica masak pasti Abang makan, kan masaknya pake cinta,” tutur Faris seraya mengusap rambut Aisha yang tertutup hijab pelan.


“Idih mana ada masak pake cinta, dimana-mana masak tuh pake tangan Abang,” jawab Aisha menggoda suaminya.


“Ih jahat ya, lagi romantis-romantisan juga,” tutur Faris mencebikan bibirnya.


Aisha menatap wajah Faris lekat, membuat Faris perlahan menghentikan kalimatnya.


“Abang makin ganteng deh kalo pake setelan koko sama sarung kayak gini,” tutur Aisha menangkup wajah Faris dengan kedua tangannya.


“Ini Ica jadi masak apa nggak? Apa mau balik lagi ke kamar?” tutur Faris mengerlingkan matanya, membuat Aisha menepuk jidatnya sendiri.


“Tuh kan Abang sih, Ica jadi lupa kan.” Aisha segera bangkit dari pangkuan Faris, membuka lemari pendingin dan mengeluarkan bahan-bahan makanan.


“Idih orang Ica juga yang narik-narik Abang ke sini. Tuh liat setelan Abang aja masih lengkap dari masjid.”


“Ih pokoknya salah Abang, titik.”


Faris menghampiri istrinya yang tetap fokus pada bahan-bahan masakan, merangkul gemas wanita tercintanya.


“Sekarang Abang mending ganti baju, terus siap-siap. Semuanya udah Ica siapin di kamar,” tutur Aisha mendorong tubuh Faris ke arah tangga.


“Sayang dulu baru naik nih. Morning kiss gitu.” Faris malah semakin gencar menggoda istrinya.


Aisha menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang lain yang memerhatikan kegiatan mereka pagi ini. Secepat kilat ia mendaratkan kecupan di pipi kanan suaminya dan langsung berlari kembali ke dapur.


Faris masih terpaku di tempatnya, perlahan menaiki tangga dengan mengusap-usap pipi bekas ciuman Aisha dan jangan lupakan senyum diwajahnya terpatri sepanjang jalannya.


***


“Hallo, Mba. Bisa tolong jemput Rafa? Saya masih ada urusan. Lokasinya saya shareloc sekarang.”


Azka memutuskan meminta bantuan perawatnya untuk menjemput Rafa karena dirinya harus segera mengejar Karina.


Entah kenapa ia merasa khawatir mengingat Karina yang tadi pergi begitu saja dalam keadaan kacau. Apa sekarang ia mulai peduli pada gadis yang dulu menurutnya aneh? Tapi sekarang gadis itu ternyata berhasil meruntuhkan dinding pertahanannya dan memporak-porandakan dunianya.

__ADS_1


Dua puluh menit akhirnya Mba Sari datang bersama sopir yang telah Azka perintahkan, ia segera menyerahkan putranya dan kembali ke mobil untuk menyusul Karina.


Azka melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, berharap dirinya belum kehilangan jejak Karina. Sesuatu di kursi kemudi mengalihkan pandangan Azka yang sejak tadi fokus mengemudi, ternyata sling bag dan ponsel Karina tertinggal di sana. Berarti Karina belum jauh.


Azka menurunkan kecepatannya, perlahan mobilnya menyusuri jalanan. Ia menajamkan


pandangannya, memerhatikan satu persatu orang-orang yang berlalu lalang di sepanjang trotoar.


Hari sudah mulai gelap, terlihat sang surya pun hendak kembali ke peraduan. Cukup lama Azka menyusuri jalanan tapi belum juga ada tanda-tanda keberadaan Karina.


“Kemana Karin pergi tanpa tas dan ponselnya? Apa dia udah pulang?” Berbagai pertanyaan memenuhi benaknya yang mulai kalut.


Betapa ia merasa sangat pecundang saat ini, terlihat dari tangannya yang mencengkeram erat kemudi dan beberapa kali memukulnya.


Karena kebodohannya selama ini ia sampai buta pada hatinya dan dengan tega membiarkan Karina hingga mengungkapkan perasaannya lebih dulu. Sebagai seorang pria harusnya dia yang lebih dulu mengatakannya.


Tapi apa benar Azka mencintainya? Entahlah, Azka sendiri tidak pernah berpikiran sejauh itu.


Azka menajamkan pandangannya saat samar-samar melihat seorang gadis yang terduduk sendirian di bangku taman dekat trotoar, padahal hari mulai gelap.


Gadis itu duduk sendirian dengan memeluk kedua lututnya sambil menenggelamkan wajahnya. Terlihat dari punggungnya yang naik turun, pasti ia sedang menangis.


“Maaf karena mengetahuinya terlambat.”


Karina mengangkat wajahnya saat mendengar suara yang sepertinya tak asing baginya. Ia segera menghapus air mata yang sejak tadi membasahi wajahnya saat mengetahui Azka yang sudah terduduk di sampingnya.


Tanpa pikir panjang Karina langsung menjauh dari Azka, berlari ke arah jalan dan  menghentikan salah satu taksi yang melintas.


“Karin! Tunggu!” azka menggedor-gedor pintu taksi yang ditumpangi Karina.


Azka kembali ke mobilnya, melajukannya dengan kecepatan tinggi untuk menyusul Karina. Netranya menajam. Memerhatikan kemana arah taksi yang ditumpangi Karina.


“Ah shit!” umpat Azka saat mobilnya harus terhenti karena lampu merah yang menyala.


Detik lampu itu terasa sangat lama untuknya, sampai ia kehilangan pandangan pada taksi yang ditumpangi Karina.


Azka segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi saat nyala lampu sudah berganti menjadi hijau, untung saja ia sempat memerhatikan digit terakhir plat nomor taksi itu sehingga memudahkannya menemukan kembali Karina.


Mobil Azka terus mengekori laju taksi Karina, dan benar saja taksi itu mengarah ke arah rumah Karina.


Taksi itu terhenti di depan pagar besi yang menjulang tinggi, Karina berlari dari taksi dan segera mengunci pagarnnya.


“Karin tunggu!” Azka berteriak dari luar pagar. Karina menghentikan langkahnya, tapi tidak menoleh.


“Karin! Maafin saya karena terlambat mengetahuinya. Saya juga menyayangimu! Perasaanmu berbalas Karin!” teriak Azka tetap tak Karina hiraukan.


“Tolong buka pagarnya Karin!” suara Azka melemah, tubuhnya luruh bersandar pada pintu pagar.


Hendak memanjat pagar pun rasanya tak mungkin, selain pagar besi itu yang menjulang tinggi juga bagian paling atasnya yang dilengkapi oleh aliran listrik. Dia tidak igin mati sia-sia.


Azka masih bersimpuh di depan pagar, menundukan kepala berharap Karina masih mau membukakan pagar.


“Maaf Pak, taksinya belum dibayar.” Tiba-tiba sopir taksi yang tadi Karina tumpangi mengejutkannya. Rupanya sejak tadi ia memperhatikan semua yang Azka lakukan.


***

__ADS_1


“Abang kok belum pulang ya? Nggak ngabarin juga.”


Aisha berdiri di balkon luar kamarnya, menikmati terpaan angin malam yang menyapu wajahnya. Bintang-bintang di langit sanalah yang kini menemani sepinya menunggu suaminya.


Bunga yang bertengger cantik di atas pot di sudut balkon menyita perhatian Aisha.


“Ini kan bunga yang waktu itu mau aku buang tapi nggak boleh sama Abang, eh ternyata dirawat di sini. Nggak nyangka bakalan secantik ini.”


Aisha tak menyangka bunga yang waktu itu terlihat seperti tak ada harapan untuk hidup, kini justru mekar dengan cantik. Seperti hatinya yang hampir mati dan sekarang mekar karena kehadiran Faris.


“Eh, itu pasti Abang.” Aisha mengamati mobil yang masuk ke pekarangan rumahnya.


“Assalamualaikum.” Tak berapa lama terdengar suara Faris mengetuk pintu kamar.


Aisha segera merapikan tampilannya dan berjalan ke arah pintu menyambut suaminya.


“Kayaknya suasana hati Abang lagi nggak baik ya? Ada apa?” tanya Aisha yang melihat wajah murung suaminya.


“Udah malem, Ica istirahat ya. Abang pulang cuma buat ganti baju,” tutur Faris tetap menampilkan senyum menawannya.


“Terus balik lagi ke Rumah Sakit?” Faris mengangguk lesu.


“Baru aja ketemu udah harus berpisah lagi ….”


Aisha berbalik,hendak menyiapkan pakaian untuk Faris, wajahnya berubah muram mengetahui jawaban Faris.


“Tiap hari Abang bekerja keras ya! Harus dapet tunjangan lembur dengan benar nih. Dan …,”


Grep … pelukan Faris dari belakang sontak menghentikan kalimat Aisha.


“Ica boleh nggak ngasih tau sama Abang semua isi hati Ica, tapi jangan punggungi Abang kayak gini. Abang janji nggak akan ngeluh lagi, asalkan selalu sama Ica.”


Faris memejamkan matanya, menyandarkan kepalanya di pundak Aisha cukup lama. Saat ini ia benar-benar butuh asupan semangat.


Aisha membalikan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Faris, memeluk erat lelaki di hadapannya dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang suaminya.


Faris merenggangkan pelukannya, menatap intens manik mata cantik di hadapannya. Tercetak jelas pantulan wajahnya di sana.


Tatapan Faris yang seolah menghipnotis Aisha tanpa sadar sudah berhasil menurunkan sedikit piyama Aisha dari bahunya, membuat bahu mulus itu terekspos sempurna.


“Ab-Abang ….” Gugup mulai menjalari Aisha karena perlakuan Faris tiba-tiba.


Tanpa menjawab Faris justru mendaratkan kecupannya tepat di bahu itu, membuat darah Aisha berdesir halus dan sekujur tubuhnya merinding disko.


“Kayaknya Abang nggak usah balik lagi ke Rumah Sakit ya?” bisik Faris tepat di telinga Aisha.


Aisha menutup kembali bahunya perlahan, membelai lembut rahang tegas yang tengah menatapnya.


“Katanya janji nggak bakalan ngeluh lagi? Semangat ya, ini kan tanggung jawab Abang,” tutur Aisha lembut membujuk suaminya.


“Siap Sayang, energi Abang udah kembali pas liat Ica,” tutur Faris yang diiringi gelak tawa keduanya.


***


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2