
“Aisha keluar sebentar ya Bu, jalan-jalan,” pamitnya pada sang ibu yang hanya bisa mengangguk membiarkan putrinya mencari kebahagiannya sendiri.
“Hati-hati Sayang,” ujar Maya setelah mendapat ciuman di punggung tangannya.
“Ibu mau nitip sesuatu nggak?” tanya Aisha lagi.
“Apa saja lah terserah kamu,” ujarnya kemudian.
“Ok, Aisha keluar ya Bu,” ujar Aisha lagi setelah mengecup pipi sang ibu kanan dan kiri.
Keluar dari apartemennya, Aisha berjalan menuju Jetonmatik yang terletak tak jauh dari tempatnya tinggal, sebuah mesin untuk membeli dan top up saldo Istanbulkart yang akan digunakannya untuk menaiki angkutan umum selama ia di Istanbul.
Jika kala bersama suaminya Aisha bisa dengan mudah dan nyaman kemana pun ia ingin pergi, kali ini ia harus berulang kali menaiki angkutan umum dan berdesak-desakkan demi mencapai lokasi tujuannya.
Tujuan Aisha saat ini adalah Blue Mosque, masjid yang memiliki kesan tersendiri bagi seorang wanita yang sebentar lagi akan menyandang status jandanya. Di masjid itu, Aisha selalu merasa lebih tenang, apapun yang tengah ia rasakan, semuanya terasa lenyap kala iris cantiknya memandangi indahnya ornamen-ornamen yang terlukis dalam masjid itu. Hatinya pun terasa lebih damai karena ia bisa beribadah dengan khusyuk.
Hari ini adalah hari dilangsungkannya sidang pertama dari gugatan yang ia ajukan, jujur hatinya terasa begitu tidak baik-baik saja, karenanya ia memilih untuk menyambangi masjid biru itu untuk mencurahkan segala kegundahan yang dirasakannya kepada sang Maha Pemilik Hidup.
Memang sejatinya mendekatkan diri kepada sang Pencipta bisa dilakukan dari mana saja, tak ada ketentuan khusus untuk melakukannya, hanya saja Aisha merasa lebih damai jika berada di masjid itu. Masjid indah yang membuat lisannya tiada henti mengucap asma Allah mengagumi indahnya ciptaan manusia yang dikaruniakan sang Pencipta.
Setelah mendapatkan Istanbulkart-nya, Aisha melangkahkan diri ke dalam stasiun, melakukan tapping kart uke palang pintu dan menunggu trem tiba.
Istanbul adalah kota yang sibuk, tak berbeda jauh dengan kota kelahiran Aisha juga ibu kota negaranya. Begtu trem tiba dan pintu terbuka, nampak jelas didalamnya begitu penuh dan sesak, alhasil Aisha pun harus berdiri bersama orang-orang yang sudah berpegangan pada pegangan yang menggantung dari atas.
“Your phone.” Seorang pria tiba-tiba menghentikan langkah Aisha yang baru saja keluar dari trem.
“Kamu,” ujar pria itu nampak terkejut ketika Aisha berbalik.
“Loh?” Sedangkan Aisha sendiri nampak bingung di hadapan pria itu, entah karena bisa kembali bertemu dengan pramugara yang menyodorkan sapu tangan untuknya ketika di pesawat, atau karena ponselnya yang tiba-tiba sudah berada di tangan pria itu.
“Tadi mereka coba ambil ponsel kamu,” ujar pria berwajah latin itu segera ketika melihat kebingungan di wajah Aisha.
“Ah astaghfirullah, makasih ya,” ucap Aisha mengambil ponselnya.
“Kita ketemu lagi, kamu mau kemana?” tanya pria yang diketahui Aisha sebagai pramugara di pesawat yang membawanya ke negeri ini kala itu.
__ADS_1
“Ah aku mau ke Blue Mosque.”
“Kebetulan lagi, kita bareng aja,” ujar pria itu kembali membuat Aisha tersentak.
“Are you moslem?” tanya Aisha dengan hati-hati, pasalnya tercetak jelas wajah kebaratan pada pria itu.
Pria itu menggeleng dengan jujur, “Bukankah Blue Mosque juga diperuntukkan bagi non muslim yang ingin sekedar traveling mengetahui keindahan di dalamnya?” tanyanya membuat Aisha hanya mengangguk, karena memang benar yang dikatakan pria itu, blue mosque bukan hanya tempat beribadah bagi umat muslim, karena tak jarang pula turis-turis yang datang berkunjung sekedar ingin mengetahui keindahan yang disuguhkan di dalamnya.
“By the way kita belum kenalan, aku Rey, kamu?” tanya pria itu ketika mulai berjalan bersisian dengan Aisha menuju ke blue mosque.
“Aku Aisha.” mereka memang berjalan beriringan, namun Aisha sadar betul posisi mereka saat ini, ia pun sejak tadi berusaha menjaga jarak juga pandangan dengan pria yang mengaku bernama Rey itu.
“Di sini lagi liburan?” tanya Rey lagi.
Sedangkan Aisha hanya bisa mengangguk, karena memang benar tujuannya datang ke negeri ini untuk menghibur diri.
“Kamu?” tanya Aisha berbalik.
“Like you, aku juga liburan aja.”
“Kamu nggak dinas?”
Tampak sesekali Rey mencuri pandang pada Aisha yang sejak tadi hanya menatap lurus ke arah jalanan.
“Gimana kabar hati? Udah bisa lupain buaya yang kamu tangisi pas di pesawat?”
Pertanyaan itu sontak membuat Aisha menoleh ke arah Rey, dan tepat saat itu, klik … Rey mengarahkan kamera yang menggantung di lehernya tepat ke wajah Aisha saat wanita itu menoleh.
“Rey! Aku wanita yang sudah bersuami, kamu nggak bisa seenaknya foto-foto aku,” protes Aisha yang menyadari jika Rey baru saja mengambil gambarnya.
“You sure? Kamu keliatan masih sangat muda.” Rey sedikit terkejut dengan pengakuan wanita di depannya
itu.
“Demi Allah … aku sudah punya suami. Dan lelaki yang kamu sebut buaya itu, dia suamiku,” ujar Aisha dengan mantap.
__ADS_1
“Kamu masih menganggapnya suami ketika dia sudah membuat kamu menangis? Apa itu yang kamu maksud suami?”
“Dia nggak seburuk yang kamu kira Rey, kamu nggak tau. Sekarang boleh aku minta kamu tolong hapus foto aku?” ujar Aisha memohon.
“It’s okay, aku nggak bisa liat wajah cantik kamu memohon kayak gitu,” goda Rey memberikan kameranya kepada Aisha, “Kamu bisa hapus sendiri takut nggak percaya,” imbuhnya.
“Makasih kamu udah ngerti.” Aisha kembali memberikan kamera itu kepada sang pemilik setelah menghapus gambar dirinya.
“Kembali kasih.” Lagi-lagi Rey tampak menggoda Aisha, sepertinya Rey mulai kecanduan memandangi wajah Aisha yang terlihat lebih menggemaskan jika tengah kesal.
“Aku mau solat, kamu kalo mau liat-liat bisa lewat pintu yang sebelah sana,” ujar Aisha saat mereka sudah tiba di pelataran blue mosque.
Dari sudut lain, Gus Hasan tampak baru saja keluar dari pintu lain di masjid yang sama dengan yang Aisha dan Rey kunjungi.
Tanpa sengaja, netra Gus Hasan menangkap sosok wanita yang selama ini selalu memenuhi ruang hatinya, namun wanita itu tampak bersama seorang pria yang bukan kakak sepupunya, pria itu tampak asing di mata Gus Hasan.
“Aisha …,” gumamnya saat melihat sosok yang diyakini sebagai Aisha tengah berjalan beriringan hendak memasuki blue mosque bersama seorang pria berwajah latin.
Beberapa kali Gus Hasan mencoba mengerjapkan netranya, khawatir jika ia hanya tengah berhalusinasi karena terlalu memikirkan wanita itu.
Gus Hasan memejamkan netranya sesaat, meyakinkan diri jika ia tidak tengah berhalusinasi.
“Tiga … dua … satu ….” Gus Hasan mencoba menghitung mundur sebelum membuka kembali
netranya.
Pandangannya seketika menyapu sekeliling saat mendapati sosok Aisha yang sudah tak lagi dalam pandangannya, tubuhnya bahkan sampai ikut memutar memastikan.
“Apa perasaanku sedalam itu buat kamu Sha? Sampe-sampe aku selalu liat wajah kamu dimana-mana.”
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...