
Happy reading ...
Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)
_______
Ayla menghentikan mobilnya di halaman yang cukup luas, beberapa orang tampak mulai berdatangan memasuki bangunan berkubah yang menjulang dipenuhi ornamen-ornamen islami bergaya eropa.
Ia sedikit celingukan menyadari keberadaannya kini, entahlah ia hanya mengikuti kemana arah stirnya ia belokkan.
Mendengar lantunan kalimat Allah dikumandangkan merdu oleh sang muadzin, hati Ayla bergetar hingga membawanya turun dan melangkah menuju bangunan yang ramai dipadati orang-orang.
Sebelum benar-benar memasuki bangunan itu, ada sedikit keraguan yang membuatnya kembali memundurkan langkah, ia ragu pada dirinya sendiri yang kenapa akhir-akhir ini justru merasa jauh dengan sang pencipta.
Alhasil ia memilih untuk duduk di terasnya sembari mendengarkan sang muadzin menyelesaikan adzannya. Di saat hatinya terluka seperti sekarang, entah mengapa lantunan adzan yang padahal setiap waktu ia dengar terasa berbeda, setiap lafadznya terdengar seperti sebuah tamparan untuknya.
Ia memejamkan netranya hingga setetes embun kembali jatuh dari sudut yang belum hilang sembabnya.
“Müslüman mısınız?”(Apakah kamu seorang muslim?) seorang wanita paruh baya menyentuh pundak Ayla.
Dengan cepat Ayla mengusap ujung netranya dan menganggukan kepala. Mungkin wanita itu mengira jika Ayla salah satu dari ribuan turis yang hanya datang sekedar untuk melihat-lihat keindahan ornamen Blue Mosque atau biasa disebut masjid biru, karena gadis itu tak kunjung beranjak padahal sang muadzin sudah menyelesaikan adzannya.
Wanita itu bertanya karena rupanya sejak tadi ia memperhatikan Ayla yang tampak gusar untuk memasuki masjid, bahkan dari tempatnya berdiri ia bisa melihat jika gadis itu tampaknya sedang memendam kesedihan. Karenanya ia berinisiatif untuk mengajak Ayla memasuki masjid bersama untuk sekedar mengalihkan kesedihan gadis itu.
“o zaman içeri girip dua edelim,” tukas wanita itu seraya tersenyum. (Kalau begitu mari kita masuk dan solat)
Bak terhipnotis, Ayla hanya bisa kembali mengangguk lantas mengikuti langkah wanita paruh baya dengan gamis dan hijabnya yang menutupi seluruh anggota badannya.
***
__ADS_1
Sakitnya dikecewakan atas harapan membuat Ayla tampak memperpanjang sujudnya. Bahu gadis itu tampak bergetar menahan isak, air matanya sudah tak lagi bisa ia cegah saat lisannya mengadu pada sang pencipta atas segala rasa sakit yang kini tengah dirasa.
Wanita paruh baya yang tampak solat di samping Ayla sudah lebih dulu mengucap salamnya, para jamaah lain pun tampak silih berganti meninggalkan masjid usai menyelesaikan solat sunah mereka.
Usai mengucap salam, Ayla kembali menengadahkan tangannya. Ia merasa malu mendatangi sang pencipta hanya saat hatinya merasa terluka, lantas saat semuanya baik-baik saja kemana dirinya? Sombong sekali manusia yang tak melibatkan tuhan dalam setiap langkah hidupnya. Padahal segala yang terjadi di dunia ini atas berkat campur tangan-Nya.
“Sudah lega?” tanya wanita paruh baya yang ternyata masih setia menunggui Ayla hingga menyelesaikan doa dan merapikan kembali mukenanya.
Tentu saja Ayla dibuat terkejut olehnya, ia tak tahu apa sebenarnya maksud dari wanita di sampingnya itu. Jika berniat jahat, mungkin sudah sejak tadi wanita itu mengambil tas dan seluruh barang berharga di dalamnya saat gadis itu tengah tenggelam dalam sujud dan doanya.
“Maaf, apa Nyonya sengaja menunggui saya di sini?” tanya Ayla berhati-hati.
Wanita itu justru tersenyum mendengarnya, ia paham kekhawatiran gadis cantik yang sejak tadi menarik perhatiannya. “Saya selalu tertarik jika melihat manusia-manusia yang kembali pada Tuhannya,” ujarnya dengan senyum yang masih terpancar di wajah putihnya, khas wanita-wanita eropa.
“Apa saya begitu terlihat seperti seorang pendosa yang baru saja bertaubat?”
“Jika boleh tahu … apa gerangan yang membuatmu terisak dan memperpanjang sujudmu?” alih-alih menjawab pertanyaan Ayla, wanita itu justru balik bertanya.
“Masalah terlalu berat jika dipendam sendirian. Selain pada Tuhanmu, berbagilah kepada orang-orang yang kamu percaya.”
Kalimat itu sukses membuat Ayla menghentikan langkahnya dan mematung seketika. “Apa Nyonya bisa saya percaya?”
***
“Justru itu Nyonya, Tuan Abbas merasa bersalah pada Tuan Faris, makanya beliau mengundang Tuan Faris untuk makan malam. Tapi ….”
Malam itu usai membereskan mobil Tuannya pasca kecelakaan, Roger segera menyusul Faris yang sudah lebih dulu pergi dengan Tuan Abbas untuk sekedar berbincang. Ia pun segera melajukan mobilnya menuju alamat restoran yang beberapa menit lalu tuannya kirimkan lewat pesan.
Sampai di restoran itu, Roger turun dari mobilnya lalu membawa langkahnya untuk masuk ke dalam. Tak lupa netranya menyapu seisi restoran mencari-cari meja makan tuannya sebelum akhirnya sang tuan kembali mengiriminya pesan berisikan nomor meja yang ditempati dirinya dan Tuan Abbas.
__ADS_1
Menemukan meja dimaksud, Roger tak menemukan sosok tuannya di sana, ia hanya melihat Tuan Abbas yang tengah berbincang dengan seseorang di telepon.
Berniat untuk menghampiri Tuan Abbas, tiba-tiba Roger menghentikan langkahnya saat mendengar sang penelepon menyebut-nyebut nama tuan mudanya. Dari tempatnya berdiri, tentu saja Roger bisa dengan jelas mendengarkan setiap kalimat perbincangan Tuan Abbas yang tampaknya dengan istrinya di sebrang sana.
Menangkap maksud dari perbincangan itu membuat Roger menjaga jarak tuannya dengan pria paruh baya yang tampaknya begitu mengagumi Faris dan berniat menjodohkannya dengan putri mereka.
“Abang tau kalo Tuan Abbas adalah orang tua asuh Kak Isal dan putrinya yang dimaksud adalah Ayla?”
Roger pun mengangguk mengiyakan, “Karena selain orang tua asuh Tuan Faisal, Tuan Abbas juga pernah menjadi salah satu kolega bisnis Abdullah Company Nyonya, saya yang kasih tau itu ke Tuan Faris. Tuan Abbas juga tau jika Tuan Faris merupakan pewaris tunggal Abdullah Company, tapi kayaknya tentang Tuan Faris sudah beristri beliau belum tau.”
“Terus kamu nggak kasih tau Abang tentang maksud Tuan Abbas sebenernya ngundang Abang ke pertemuan nanti malem?” Pertanyaan itu keluar begitu saja usai Aisha mendengarkan cerita dari Roger mengenai malam itu.
Yang ditanya pun hanya menggeleng lemah, “Soalnya Tu-“
Belum sempat Roger menjelaskan alasannya, Aisha sudah lebih dulu bangkit dari duduknya. “Ya nggak apa-apa sih, bukan urusan saya juga. Maaf seharusnya saya nggak berhak nanya-nanya kayak gini. Saya permisi, semoga pertemuannya lancar yah,” tukas wanita yang tampak berusaha menyembunyikan cairan bening di pelupuk matanya, secepat kilat wanita itu melangkahkan kakinya menjauhi Roger yang masih kebingungan di tempatnya.
Dari sudut lain seorang pria yang juga tengah mendorong trolinya seketika menghentikan langkahnya, netranya sedikit menyipit untuk memperjelas penglihatannya.
“Aisha ….” Gus Hasan seketika bergeming masih tak percaya dengan sosok yang dilihatnya.
Jelas sekali wanita itu tak sedikitpun berubah dari terakhir kali yang ia lihat. Aisha tampak tengah berbincang dengan seseorang yang ia tak tahu siapa karena posisi pria itu yang duduk membelakanginya. Dari sosoknya tampak pria itu berpenampilan rapi dengan setelan jas hitamnya, tapi yang jelas ia sangatlah yakin jika pria itu bukanlah Faris, kakak sepupunya.
“Astagfirullah … aku sampe berhalusinasi kayak gini.” Gus Hasan segera memejamkan netranya dengan mengusap dadanya, rasa yang ada di hatinya berkecamuk tak karuan dengan debaran jantungnya yang terasa begitu keras dengan hanya melihat sosok wanita yang diam-diam dicintainya.
Kembali membuka matanya Gus Hasan celingukan karena sosok yang tadi mengganggu pikirannya ternyata sudah tak ada wujudnya. Ia semakin yakin jika apa yang dilihatnya baru saja memanglah hanya halusinasinya semata.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...