
Maaf ya readers semua atas keterlambatan updatenya ...
Alhamdulillah sekarang author sudah menyelesaikan ujian semester, jadi Insya Allah nggak ada lagi telat update ...
Saranghaeyo ...
***Happy reading ***
***
Hari yang melelahkan. Itulah yang dirasakan Karina sejak seminggu terhitung resign-nya sebagai ahli gizi privat untuk Rafa.
Karina membuka kunci layar ponselnya, berharap sebuah notifikasi ia dapatkan di sana. Nyatanya kosong, tak ada satu pun pesan atau pun panggilan dari seseorang yang selalu dinantinya.
Tapi bukankah ini sudah menjadi keputusannya?, ia sendiri yang memilih untuk menjaga jarak dengan Azka. Harapannya dengan seperti ini Azka mungkin akan merasa kehilangan dirinya, tapi lagi-lagi ia hanya bisa tersenyum pahit. Azka tak sepeduli itu terhadapnya.
Karina terduduk lemas dengan kepala yang ia rebahkan pada kedua tangannya, tatapannya kosong menanti setiap desiran dari pasir waktu yang terus melaju dengan teratur di sudut meja kerjanya.
Tiba-tiba ponsel dalam genggamannya bergetar, tertanda adanya pesan masuk di sana. Karina membukanya dengan malas.
“Masih di Rumah Sakit?”
Seketika netranya membulat, bukan karena isi pesan yang ia baca, melainkan si pengirim pesan adalah seseorang yang dalam seminggu ini selalu mengusik siang malamnya.
“Iya.” Hanya itu yang bisa Karina jawab. Jarinya seakan kelu untuk sekedar mengetikkan beberapa kalimat, padahal saat ini dalam hatinya sedang bersorak gembira.
“Udah selesai?” hanya beberapa detik jawaban sudah ia dapatkan.
“Udah.” Lagi-lagi hanya sesingkat itu yang bisa ia ketikkan.
“Aku jemput kamu sekarang. 10 menit aku sampai.”
Tanpa sadar seulas senyum tercetak jelas pada sudut bibir wanita yang selalu tampil cantik nan modis itu. Profesinya yang super sibuk tak menghentikannya untuk selalu tampil menarik bak istri-istri konglomerat yang hilir mudik ke salon setiap harinya.
Karina segera bergegas untuk bersiap, terutama memperbaiki tampilannya yang mungkin sudah terlihat tak karuan.
Tring …. Sebuah pesan masuk kembali menghentikan polesannya pada bibir ranumnya.
“Aku sudah sampai.”
Karina segera bergegas setelah membaca isi pesannya, ia melangkah dengan wajah berbinar. Jauh dalam lubuk hatinya seperti ada sesuatu yang menggelitik di sana.
“Hai. Maaf ya lama,” tutur Karina saat ia sudah tepat di hadapan Azka yang tengah bersandar pada mobilnya di basement.
Azka yang tengah memainkan ponselnya sontak mendongakkan wajahnya saat suara manis itu menyapa indra pendengarnya. Ia tersenyum, senyum yang Karina sendiri tak bisa mengartikan. Hati Azka berdesir melihat sosok yang seminggu ini terus mengusik siang dan malamnya.
“Em, ah enggak kok,” jawab Azka tergagap, ia menggaruk sendiri pelipisnya yang tak gatal.
__ADS_1
Nyata sekali saat ini kecanggungan tercipta di antara mereka. Seminggu ini membuat keduanya sama-sama menata hati.
“Mau langsung pulang?”
Karina menautkan alisnya, memastikan apakah ia tidak salah dengar. Tapi Azka justru menatapnya meminta jawaban.
“Ah terserah,” jawab Karina sedikit canggung.
“Ok.”
Azka membukakan pintu mobil untuk wanita di hadapannya, lalu ia sendiri berlari ke arah pintu seberang dan duduk di balik kemudi.
Tring ….
Sebuah notifikasi menghentikan aktifitas Azka yang sedang memasang seatbelt-nya.
Sebuah pesan masuk ke emailnya, dari pengirim yang tak dikenal. Azka mengerutkan keningnya, biasanya sekretarisnya akan mengirim file pekerjaannya melalui email kantor. Lampiran foto yang dikirim membuat Azka semakin penasaran.
Ia memperbesar foto di layar ponselnya, nampak jelas dalam foto itu potret Aisha yang tengah tergeletak dengan berlumuran darah dalam pangkuan Faris. Dalam foto selanjutnya terlihat Aisha yang sudah terbaring di atas blankar dengan perban dan infus di lengan kirinya.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Aishanya? Apa sekarang Aisha sudah baik-baik saja?, hanya itu yang kini memenuhi kepala Azka.
“Kenapa?” tanya Karina yang melihat raut Azka nampak cemas.
“Apa Aisha dirawat di Rumah Sakit ini?”
Azka segera membuka seatbeltnya kembali dengan tergesa, berlari keluar meninggalkan ponselnya yang tergeletak begitu saja, begitupun dengan Karina yang masih terpaku di tempatnya.
Dengan ragu Karina meraih ponsel Azka yang ia tinggalkan di atas dashboard mobilnya, pandangannya mengabur saat mengetahui seseorang dalam foto itu.
Ternyata perasaan Azka pada Aisha masih tetap sama, tak ada yang berubah sedikitpun.
“Setidak penting itukah aku sampe kamu langsung ninggalin aku saat tau Aisha terluka?”
Rasanya seperti ada sesuatu yang menusuk titik terdalam dari lubuk hatinya, tapi bukankah ini keputusannya untuk tetap bertahan, walau ia tau Azka belum bisa benar-benar melupakan masa lalunya.
“Sesempurna itukah Aisha di mata kamu Ka? Istri sah kamu aja nggak sanggup menghapus Aisha dari kepalamu, apalagi aku?”
Karina sudah menutup mulutnya sendiri, menahan isak yang mungkin akan orang dengar dari luar. Dadanya terasa amat sesak, seperti tenggelam di dasar sungai tanpa mampu kembali ke permukaan.
“Mba, apa Aisha istri dari Dokter Faris di rawat di sini?” tanya Azka tergesa di meja resepsionis.
Resepsionis yang memang sudah paham langsung menjawab pertanyaan Azka tanpa melihat catatan kehadiran pasien.
“Betul Pak, beliau dirawat di VIP room. Ruang paling ujung sebelum lorong sebelah utara.”
Azka segera berlari ke arah yang ditunjukkan oleh resepsionis tadi, ia harus segera memastikan apakah Aishanya baik-baik saja.
__ADS_1
***
Terhitung dua hari sejak kejadian penyerangan di jalan, wanita bernetra cantik itu masih tetap di atas blankarnya, meski lukanya sudah membaik, tapi lengannya masih nyeri untuk digerakkan. Karenanya semua kebutuhannya selalu dibantu oleh suaminya.
Iris coklat nan menawan itu sejak tadi tak luput memperhatikan pria tampan yang sejak tadi tengah sibuk meracik beberapa obat untuk dirinya.
Sejak permintaan Aisha hari itu agar Faris menikahi Sofia, Faris masih setia dengan diamnya. Meski ia selalu membantu dan memenuhi kebutuhan Aisha, tapi rasanya hingga saat ini suaminya belum baik-baik saja.
Aisha takut Allah murka karena ia telah membuat suaminya kecewa, karena Aisha tahu bahwa kemuliaan seorang istri terletak pada ridha suaminya.
Wahai para istri shalihah, jadikan baktimu kepada suamimu berbalas ridha Allah. Lakukanlah baktimu dengan niat ikhlas karena Allah, berusahalah dengan sungguh-sungguh dan lakukan dengan cara yang baik. Lakukanlah untuk mendapatkan ridha suamimu, maka Allah pun akan ridha terhadapmu.
“Bang,” panggil Aisha membuat Faris menoleh.
“Abang masih marah sama Ica?”
Faris kembali membalikkan wajahnya, iris beningnya terlihat menghindari tatapan Aisha.
“Bang, ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha,” tutur Aisha yang merupakan penggalan dari hadits shahih yang diriwayatkan dari Anas bin Malik ra.
Faris menghentikan kegiatannya, hatinya berdesir mendengar penuturan istrinya. Ia melangkah mendekati Aisha dan mendudukan dirinya di ranjang yang sama dengan Aisha.
“Berhentilah berkorban untuk orang lain, Abang tau Ica juga nggak baik-baik aja.”
Tiba-tiba Aisha langsung menubruk tubuh Faris dan terisak di dadanya.
“Maafin Ica udah buat Abang kecewa, Ica cuma pengen semuanya bahagia.”
“Abang tau niat Ica baik, tapi menolong orang nggak harus dengan mengorbankan diri kita sendiri Sayang. Tujuan pernikahan itu untuk meraih hidup yang sakinah (tenang) dalam balutan mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang), dan Abang cuma nemuin itu dalam diri Ica. Abang nggak butuh orang lain karena Ica udah memenuhi semua ruang dalam hidup Abang. Abang nggak mau orang lain, Abang cuma mau Ica. Selamanya.” Faris tak henti-hentinya menghujani kecupan pada puncak kepala Aisha yang masih terisak di pelukannya, sesekali ia mengangkat dagu manis itu dengan lembut untuk mengusap air matanya.
“Bang, tolong doakan Ica,” ujarnya mendongakkan wajahnya pada sang suami.
“Bismillahirahmanirrahim, Ya Allah, ampunilah dosa-dosa Aisha, baik yang telah dilakukan maupun yang belum dilakukan, dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan.”
Cup, sebuah kecupan lembut mendarat di pipi Faris ketika ia selesai dengan doanya.
“Apa doa Abang tadi buat Ica bahagia?”
“Gimana Ica nggak bahagia dengan doa Abang tadi. Itu doa yang sama persis seperti doa Rosululloh untuk Sayyidah Aisyah, doa yang selalu Rosululloh panjatkan juga setiap solat untuk umatnya.”
Faris semakin mengeratkan dekapannya pada sang istri, berharap kecintaan mereka kepada Rosululloh semakin bertambah dan merekah dengan rumah tangga mereka yang selalu berkiblat pada ajaran beliau.
***
Bersambung ...
Jangan lupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangati author ya readers tersayang ...
__ADS_1