Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Mencoba melawan malu


__ADS_3

Aisha baru saja menyelesaikan tadarus al-qur’annya saat ponsel di atas nakasnya berdering, tertulis ‘Hubby’ dalam layar panggilannya, segera Aisha menggeser tombol hijau pada ponselnya.


“Assalamualaikum humairaku …,” sapa suara dari seberang yang tak asing lagi di telinga Aisha.


Pipi Aisha memanas setiap mendengar panggilan yang suaminya lontarkan.


“Waalaikumsalam Abang.”


“Ica udah terima bunga dari Abang?”


“Iya udah. Bunganya cantik banget, Ica suka.”


“Alhamdulillah kalo Ica suka, Abang seneng dengernya. Ica udah makan belum?”


“Belum, kan Ica nungguin Abang.”


“Masya Allah so sweet banget sih humairaku.”


“Makanya Abang cepetan pulang, biar tambah so sweet kita  makan bareng.”


“Iya iya sayang, ini Abang juga udah beres kok. Abang langsung  jalan  pulang ya, Assalamualaikum sayang.”


“Waalaikumsalam warohmatulloh,” jawab Aisha mengakhiri panggilan.


Flashback On


Hari yang indah, seindah suasana hati Aisha yang baru saja melepas kepergian Faris untuk bekerja.


Wanita mana yang tak bahagia bisa melayani suaminya?, begitupun dengan Aisha yang masih setia bergeming di depan rumahnya, dengan senyum yang menambah manis paras ayunya.


Padahal mobil yang Faris  kendarai sudah sejak tadi tak terlihat, menghilang di tengah kepadatan jalanan kota Surabaya.


Baru Aisha hendak menginjakan kaki pada anak tangga menuju kamarnya, terdengar salah satu pelayannya memanggilnya.


“Selamat pagi Nyonya, ini ada paket buket bunga untuk Nyonya.” Pelayan itu menyodorkan buket mawar putih yang sangat indah dengan sopan.


“Buat saya? Dari siapa Bi?” kedua alisnya bertaut, bingung siapa gerangan sepagi ini mengirimkan bunga untuknya.


“Kurirnya tidak bilang apa-apa Nyonya, barangkali di dalamnya ada nama pengirimnya.”


Aisha tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada pelayannya yang kembali pamit dari hadapannya dengan sopan.


Sedangkan Aisha mulai menatap bunga di tangannya, bertanya-tanya tentang siapa pengirimnya.

__ADS_1


Secuil kertas yang terdapat di selipan buket menjawab kebingungan Aisha, dari tulisannya Aisha yakin jika itu pasti tulisan suaminya.


‘Sebenernya hari ini Abang nggak pengen ninggalin Ica di rumah, tapi ada sesuap nasi yang harus Abang perjuangkan. Jadi Abang kirim bunga ini sebagai ganti buat nemenin Ica di rumah. Jangan lupa senyumya yaa 😊’


Dan benar saja kedua sudut bibir Aisha tertarik saat membaca note di buket bunga itu.


Dari sebelum menikah Aisha sudah tahu bagaimana sibuknya seorang Faris sang dokter spesialis, Aisha tak menyangka jika Faris akan seromantis ini meski di tengah kesibukannya.


Mulai dari segala perhatian kecilnya kini Faris telah berhasil membuat Aisha selalu jatuh cinta setiap harinya.


Flashback off


“Aisha bisa mendapatkan pahala dua ratus ibadah haji dan umroh, diharamkan api neraka mendekati tubuhmu, apa Aisha nggak mau dapet itu?”


“Tapi kan malu, Bu!”


“Justru disitulah letak pahalanya sayang, saat Aisha melawan rasa malu itu.”


Kini Aisha teringat pada nasehat ibunya sebelum Faris memboyongnya ke rumah ini, bahkan kini terus terngiang-ngiang di telinganya.


“Kayaknya Bang Faris harus diberi hadiah yang menyenangkan karena selalu memanjakan aku,” gumam Aisha sambil memandangi mawar putih yang bertengger cantik di meja riasnya.


Perlahan Aisha melipat mukenanya dan membereskannya kembali ke tempat asalnya.


Aisha mulai memilih pakaian yang harus ia kenakan malam ini yang sengaja ia siapkan tanpa sepengetahuan Faris.


Senyumnya langsung melebar saat melihat penampilannya di cermin, lalu melangkah perlahan duduk di depan meja riasnya untuk menyempurnakan tampilannya.


Merasa puas dengan hasil karyanya, Aisha melirik jam yang menempel di dinding kamarnya, sudah lewat tiga puluh menit sejak Faris meneleponnya, harusnya sebentar lagi Faris datang.


Sebenarnya Aisha merasa agak gugup saat ini, terlihat dari keringat dingin yang beberapa kali ia usap di dahinya.


Karenanya Aisha lebih memilih untuk menunggu sambil menyaksikan televisi, mungkin itu akan sedikit mengurangi rasa gugupnya dan membuatnya rileks.


Mulai bosan dengan penantiannya, beberapa kali Aisha bergantian melirik ke arah pintu dan jam dinding yang masih setia di tempatnya, namun belum ada tanda apapun juga akan kepulangan suaminya.


***


“Sampeyan tetap mau berangkat Gus? Sepertinya cuaca sedang tidak baik,” tanya Jaya yang melihat Gus Hasan tampak rapi dengan dandanannya.


Wijaya Kusuma, teman kecil Gus Hasan yang kini juga menjadi teman sekamarnya di Turki. Bukan hanya teman kecil biasa, Gus Hasan bahkan sudah menganggap Jaya seperti saudaranya sendiri.


Mereka tumbuh bersama, meski sempat berpisah ketika Gus Hasan memilih sarjananya di Al-Azhar Kairo dan Jaya di sini, Istanbul-Turki.

__ADS_1


Dan kini keduanya kembali bersama karena Gus Hasan memilih melanjutkan program S2 di sini, alasan utamanya tentunya karena wanita yang kini sudah berstatus menjadi istri dari kakak sepupunya.


“Iya Jay, Insya Allah tidak apa-apa. Lagian kan asrama kita juga dekat, cuma lima menit dari kampus.”


“Ya sudah, sampeyan hati-hati ya. Jika ada apa-apa langsung hubungi saya.”


“Kamu ini kayak aku anak kecil aja Jay, mentang-mentang udah mumpuni yah sama keadaan Istanbul?” gurau Gus Hasan membuat keduanya sama-sama tergelak.


Gus Hasan mengangguk paham, ia tahu jika sahabatnya itu menghawatirkan dirinya yang merupakan orang baru di sini.


Pagi ini Gus Hasan memang harus mengikuti kelas Tomer atau kelas bahasa Turki yang diperuntukkan untuk siswa internasional yang wajib ia ikuti sebagai persyaratan masuk kuliah.


Benar yang Jaya katakan, cuaca di Istanbul memang cukup buruk.


Musim salju di sini bias sangat dingin menusuk tulang, Istanbul rentan badai salju saat musim dingin, juga rawan akan bencana lain misalnya gempa bumi.


Beruntung tempat tinggal yang Gus Hasan tempati bersama Jaya saat ini cukup dekat jaraknya dengan Istanbul Univertsity, sehingga ia tak perlu repot-repot untuk naik angkutan umum yang rawan kemacetan.


Di sini tidak jauh berbeda dengan kota-kota Metropolitan di Indonesia, selain keindahan kota dan kebudayaannya, Istanbul juga terkenal dengan kemacetannya.


Gus Hasan melangkah mantap memasuki gedung bertingkat dengan arsitektur yang khas itu, berharap niat dan usahanya selalu Allah permudah jalannya.


***


Faris senyum-senyum sendiri, refleks memeluk tiang yang berada di tengah-tengah ruangannya karena terlalu baper mengingat-ngingat pembicaraannya dengan Aisha di telepon tadi.


Ternyata begini rasanya pacaran setelah menikah, apalagi dengan wanita impian. Mungkin ini yang dinamakan surga dunia.


“Argh … gila gila gila! Aisha bener-bener buat aku gila nih,” gerutu Faris tetap pada posisinya memeluk tiang.


Untung saja dia hanya seorang diri di ruangannya, mungkin jika ada orang lain yang melihatnya pasti akan menganggap dia gila. Rasanya kini ia seperti baru pertama kali puber.


Faris segera bergegas menyambar tasnya lalu dengan tergesa ia keluar dari dari ruangannya, menyusuri lorong Rumah Sakit yang masih saja ramai oleh lalu lalang orang-orang.


“Dokter Faris tunggu!” suara bariton menghentikan langkah Faris. Ternyata seorang perawat yang memanggilnya.


“Ada pasien korban kecelakaan di UGD Dok, dokter bedah yang lainnya sedang ada jadwal operasi masing-masing.”


Faris menghela napasnya berat, meski sebenarnya saat ini ia benar-benar ingin segera pulang menemui istri tercintanya, tapi bagaimana pun ia tidak bisa menolak, ini adalah tugasnya.


“Baik, segera siapkan rekam medis pasien.” Faris segera kembali ke ruangannya, meletakan tas yang sejak tadi sudah ia tenteng dan segera menyambar jas dokternya lalu bergegas menuju UGD untuk kembali menangani pasiennya.


***

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2