
Happy reading ...
Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)
Jangan lupa like dan coment biar author update ya lagi gaesss:)
_______
Roger yang sejak tadi menunggu tak jauh dari tempat mobilnya terparkir seketika berlari menghampiri tuannya saat melihat Faris tergopoh dengan Aisha dalam bopongannya.
“Ada apa dengan Nyonya, Tuan?” tanyanya panik dengan tangan yang terampil membukakan
pintu bagian belakang.
“Perutistri saya tiba-tiba kram, kita ke rumah sakit sekarang, Ger,” tukas Faris seraya membenahi duduknya agar terasa nyaman untuk Aisha bersandar.
“Nggak usah ke rumah sakit, Bang,” ujar Aisha lirih dengan mata yang masih terpejam.
“Tapi Sayang … kita harus cek keadaan kamu.”
Aisha membuka matanya, meraih jemari Faris yang bertengger mengusapi wajahnya, “Ini cuma kram, Bang. Bukankah suami Ica seorang dokter yang hebat? Apa nggak bisa ngobatin istrinya di apartemen aja?” tukasnya mencoba menghadirkan senyum di wajahnya.
“Tapi Sayang ….”
“Bang, it’s okay I’m good. Ica percaya Abang.”
Tak ingin lagi menambah rasa sakit istrinya, Faris pun mengalah. Ia meminta Roger untuk putar balik menuju apartemennya.
“Ssshhh.” Aisha menggigit bibir bawahnya, berusaha agar rintihan tak kembali keluar dan membuat suaminya semakin mengkhawatirkannya.
“Sabar ya, Sayang … kita nyampe bentar lagi.” Ia tak henti-hentinya merapalkan doa sembari menghujani sang istri dengan kecupan-kecupan lembut di puncak kepala, berharap setidaknya rasa sakit itu sedikit berkurang. “Lebih cepet, Ger.”
“Baik,Tuan.”
Masih di restoran Lucivert, Abbas yang mendapati putrinya yang justru bersama Aisha sontak meninggalkan tanya di kepala pria paruh baya itu.
__ADS_1
“Bukannya tadi kamu pamit sama Baba untuk pulang? Lantas kenapa sekarang bisa bersama Aisha di sini? Apa yang kamu lakukan sampai dia kesakitan seperti itu?” Abbas memang bertanya dengan pelan, tapi kalimatnya mampu membuat sayatan baru di hati gadis yang masih berdiri di lorong toilet usai kepergian Aisha.
“Baba nyalahin Ayla? Baba nggak denger tadi dia bilang perutnya kram? Memang apa yang bisa Ayla lakukan untuk membuat perut seseorang menjadi kram?” gadis itu pun menjawab tak kalah ketus.
“Ba, jangan terus-terusan salahin Ayla. Kita dengerin dulu penjelasannya.” Ajeng yang menyadari ketegangan di antara suami dan putrinya itu berusaha melerai agar keadaan tak semakin mencekam.
Abbas menghela napasnya panjang, tampak sekali lelaki paruh baya itu tengah menyimpan banyak beban di pikirannya. “Kalo gitu jelasin. Jelasin dengan kalimat yang paling masuk akal,” ujarnya mengikuti usulan istrinya.
“Untuk apa? Mau Ayla bilang jujur atau nggak, toh Baba bakal tetep nggak percaya sama Ayla. Lagi pula mau Baba sama Mami percaya atau nggak pun itu nggak bakal ngerubah apapun.” Gadis itu justru melengang pergi, meninggalkan sepasang suami istri yang masih bergeming di tempatnya. “Baba bener-bener nggak paham sama jalan pikiran Ayla, Mi.”
“Sabar Ba. Bukankah Baba pernah bilang kalo anak adalah titipan? Kita harus banyak-banyak bersabar menjaga dan mendidik titipan dari Tuhan.”
“Ya … mungkin Baba memang harus lebih banyak bersabar menghadapi Ayla yang entah kapan akan berubah.”
“Berdoa Ba, kita minta pada yang menitipkan.” Begitulah memang seharusnya peran seorang istri, menjadi penasehat saat suaminya lengah.
***
Tak sampai setengah jam mobil yang dikendarai Roger sudah terparkir di basement apartemen. Dengan cepat Faris kembali membopong istrinya, menerobos masuk setelah Roger menekankan kombinasi angka di pintu kamarnya. Dengan sangat perlahan Faris merebahkan istrinya ke atas ranjang, sangat pelan seolah Aisha adalah barang yang mudah pecah.
Tak lebih dari lima menit Faris sudah kembali dengan air kompresan dan handuk kecil di tangannya. Ia lantas membantu Aisha untuk mengganti lebih dulu dressnya dengan pakaian yang lebih nyaman. Ia memilih kemejanya yang longgar untuk dipakaikan. Kedatangan Aisha sore tadi yang seperti sebuah kejutan membuat Faris tak memiliki persiapan untuk sekedar menyediakan pakaian istrinya itu.
Pria yang masih lengkap dengan setelan kemeja dan jasnya itu berjongkok di hadapan Aisha yang masih berbaring menyamping di tepi ranjang. Perlahan tangannya bergerak menaikkan kemeja yang istrinya kenakan, mulai mengompres lembut perut Aisha dengan beberapa kali merapalkan doa.
Merasa istrinya sudah lebih tenang, Faris mengusap peluh yang rupanya masih tersisa di dahi Aisha. “Gimana? Udah agak mendingan?” tanyanya lembut yang segera mendapat anggukan dari Aisha. jemari lentik itu mengusap pelan rahang tegas suaminya, “Kan udah Ica bilang kalo suami Ica itu dokter yang hebat,” ujarnya disertai seulas senyum yang mengembang. Senyum di wajah Faris pun tak kalah mengembang.
Faris mengusap perut Aisha dengan lembut, mengecup cukup lama perut rata di hadapannya, “Biar cepet sembuh,” bisiknya membuat hati Aisha menghangat. Dalam hatinya Faris juga berharap semoga Allah kembali memberi kepercayaan untuk menitipkan lagi sebuah nyawa di rahim istrinya.
***
Pagi harinya Aisha merasa mual, ditambah kepalanya yang terasa sangat pening. Ia masih memakai mukenanya saat tiba-tiba rasa mual itu tak lagi dapat ditahannya. Secepat kilat Aisha segera berlari ke kamar mandi, mencoba mengeluarkan isi perutnya yang ternyata hanya air yang terasa pahit saat melewati kerongkongan.
Faris yang juga masih lengkap dengan sarung dan kokonya segera meyusul sang istri, memijat tengkuk Aisha agar mual wanita itu mereda.
Aisha mengusap tepi bibirnya dengan air yang mengalir dari wastafel. Memejamkan matanya karena merasa pusing. Wajahnya tampak begitu pucat membuat sang suami tak bisa untuk tak mengkhawatirkannya.
__ADS_1
“Ya Allah Ica makan apa sih kemarin, Sayang?” jelas sekali kekhawatiran menyelimuti setiap kalimat yang Faris tanyakan.
“Ica makan kayak biasa kok, nggak ada yang aneh-aneh.”
“Abang ambilin minum dulu yah.”
Belum sempat langkah Faris melewati pintu kamar mandi tapi tubuh Aisha tiba-tiba limbung dan kehilangan kesadaran. Beruntung Faris yang sigap mengurungkan tubuh Aisha untuk menyentuh dinginnya lantai kamar mandi di sana.
Dengan penuh kekhawatiran Faris segera membopong istrinya dan berniat membawanya ke rumah sakit. Ia lantas menghubungi Roger untuk mengantarkan mereka.
Sampai di rumah sakit, Faris segera memanggil beberapa perawat di sana, meyuruhnya mengambil brankar untuk istrinya.
Dengan langkah cepat ia turut membantu perawat-perawat itu membawa tubuh istrinya ke unit gawat darurat. Faris hanya mondar-mandir tak jelas setelah tubuh istrinya menghilang di balik pintu yang dengan cepat ditutup.
“Apa tidak sebaiknya kita menghubungi Nyonya Maya dan Tuan Faisal, Tuan?” Roger memberikan usul kepada tuannya yang sepertinya melupakan hal itu saking paniknya.
“Astaghfirullah … saya sampai melupakannya, Ger.”
Ia segera merogoh ponselnya, mencari-cari kontak ibu mertua dan kakak iparnya. Sayangnya ia lupa jika ia tak memiliki satupun kontak kedua orang itu selama di sini.
“Ger saya lupa nggak punya kontak ibu di sini. Kamu bisa tolong kabari mereka ke apartemen?”
“Baik Tuan. Saya akan ke apartemen Nyonya Maya sekarang.” Badan tegap itu seketika melengang pergi meninggalkan Faris yang kembali mondar-mandir melampiaskan kepanikannya.
Sampai akhirnya seorang dokter paruh baya yang Faris tebak seumuran dengan Bi Asih keluar dari ruangan istrinya, cepat-cepat Faris menghampirinya.
“What about my wife, doctor? Is she okay?” (Bagaimana keadaan istri saya, Dokter? Apakah dia baik-baik saja?) Faris bertanya dalam bahasa inggris. Panik membuatnya tak bisa berpikir dengan jernih, bahkan sekedar untuk merangkai kalimat dalam bahasa Turki. Ya, Faris memang cukup kesulitan dalam berbahasa Turki.
Melihat wajah suami pasiennya yang terlihat begitu khawatir sontak membuat dokter itu mengulas senyumnya, “Calm down, Sir. Istri anda tidak apa-apa.” Dokter itu sengaja menggantung kalimatnya.
“And congratulation, anda akan segera menjadi seorang Papi. Istri anda positif hamil. Usia janinnya menginjak delapan minggu.” Dokter itu melanjutkan kalimatnya dengan senyuman yang semakin melebar.
Wajah yang sejak tadi dipenuhi kekhawatiran tiba-tiba berubah tanpa ekspresi, Faris masih menyangka jika semua ini hanya mimpi. Kalimat yang dilontarkan dokter itu terlalu indah menyapa indra pendengarnya.
______
__ADS_1
Bersambung ...