
Hari sudah berganti ketika Faris membuka matanya, setelah solat ia kembali merebahkan dirinya, semakin hari rasanya ia semakin tak bisa menopang tubuhnya, karenanya ia mengambil izin sakit dari Rumah Sakit dan menyerahkan urusan kantor pada Pak Toni seperti biasanya.
Pak Toni yang sudah bersiap dengan seragam kantornya menyempatkan diri untuk memastikan kondisi Tuan mudanya sekaligus ada beberapa berkas yang harus ditanda tangan oleh CEO yang jarang sekali menampakkan batang hidungnya itu. Terakhir ia memeriksa semalam, Faris masih saja gelisah dalam tidurnya, lisannya tak henti-henti memanggil nama sang istri.
Tok … tok … hening tak ada jawaban.
Dilihatnya sang Tuan muda masih saja bergelung di bawah selimutnya ketika Pak Toni membuka pintu yang tentu sudah ia hapal passcodenya selain sidik jari dari pasangan suami istri penghuni kamar tersebut.
“Ris … bangun sebentar, ada berkas yang harus kamu tanda tangan.” Pak Toni mencoba membuka selimut agar Faris terbangun.
“Astaghfirulloh! Badanmu panas sekali Nak!” ujar Pak Toni saat tak sengaja beradu kulit dengan lengan Faris saat ia mencoba membuka selimutnya.
Faris sontak membuka matanya mendengar ujaran Pak Toni, ia mencoba untuk mendudukan diri meski kepalanya terasa sangat berdenyut.
Pak Toni segera memencet bel di tepi ranjang Faris dan meminta istrinya untuk membawakan air kompresan juga makanan untuk sarapan.
“Ya Allah … kenapa kamu jadi sekacau ini Nak? Percayalah … Aisha pasti akan segera kembali.” Kini giliran Bi Asih yang begitu khawatir sambil tetap mengganti kompresan di kening Faris.
Pak Toni yang sudah menyiapkan obat untuk Faris melirik arloji di tangannya, ia harus bergegas ke kantor untuk meeting pagi ini.
“Jangan lupa nanti obatnya suruh diminum ya Dek, Mas harus ke kantor sekarang.” Pak Toni berujar pada istrinya yang segera mengangguk.
“Katanya ada berkas yang harus aku tanda tangan Pak.” Faris berujar dengan lirih saat Pak Toni hendak beranjak.
“Nanti saja kalo kamu sudah sehat, biar nanti Bapak yang urus sama klien.”
Faris hanya mengangguk mengiyakan, ia memang merasa saat ini tubuhnya benar-benar sangat lemas seperti tanpa tulang.
Usai menyantap sarapan dan meminum obatnya, Bi Asih pamit untuk pergi berbelanja kebutuhan dapur bersama beberapa pelayan.
“Nanti kalo butuh apa-apa tekan saja belnya ya, biar pelayan yang siapkan, Bibi harus temani pelayan belanja kebutuhan dapur dulu,” pesan Bi Asih seraya membereskan sisa makanan yang hanya Faris sentuh sedikit.
“Makasih ya Bi,” ujar Faris sebelum Bi Asih benar-benar beranjak.
***
Pagi ini Aisha turut turun dan bergabung untuk sarapan di meja makan, Maya bahkan sampai terkejut melihat putrinya yang sudah duduk di salah satu kursi di depan meja.
“Sayang … apa ini tandanya kamu udah baikan Nak?” Maya yang tengah membantu Bi Darmi menyiapkan makanan segera menghampiri putrinya.
Aisha hanya mengangguk sebelum menjawab pertanyaan ibunya, “Udah lebih baik kok Bu,” tukasnya mencoba menghadirkan senyuman.
__ADS_1
“Setelah makan Ica pulang ke rumah Abang ya Bu, Ibu mau sekalian ikut nggak?”
Aisha memang sudah memikirkan dengan matang keputusannya untuk kembali ke rumah suaminya, ia juga sudah berkemas sejak semalam.
Senyuman di wajah Maya sontak melebar mendengar permintaan putrinya itu.
“Alhamdulillah kalo kamu udah baik-baik aja Sayang … tapi maaf Ibu nggak bisa ikut yah, hari ini ada janji temu sama klien Nak. Aisha dianter Mang Udin nggak apa-apa kan?”
Aisha mengangguk, “Iya nggak apa-apa kok Bu, nanti Aisha pulang sama Mang Udin.”
“Kamu nggak hubungin Faris dulu apa minta dijemput gitu Sayang?”
Kali ini Aisha menggeleng, “Sengaja nggak bilang Bu, Aisha masih agak canggung sama Abang.”
“Aduh pake acara canggung segala kayak penganten baru aja kamu ini, Sayang,” goda Maya yang berhasil menghadirkan senyum di wajah yang sudah beberapa hari ini terlihat muram.
***
Seorang wanita dengan pakaian modisnya menghentikan laju mobilnya tak jauh dari salah satu rumah megah di komplek perumahan elit di kotanya.
Wanita itu tersenyum dengan seringainya saat melirik pada rantang makanan yang berada di di kursi kemudi belakangnya sebelum melajukan kembali mobilnya ke arah gerbang putih yang menjulang menjulang tinggi yang tampak dijaga ketat oleh beberapa penjaga di setiap sudutnya.
“Selamat pagi, mohon maaf anda mencari siapa dan ada urusan apa?” Salah satu dari penjaga itu bertanya dengan sopan saat Sofia menghentikan mobilnya dan membuka kaca jendelanya di hadapan mereka.
“Mohon maaf Tuan kami sedang kurang sehat, beliau sedang istirahat dan tidak bisa diganggu, lagi pula Nyonya juga sedang tidak ada di rumah.”
“Jangan khawatir, saya tidak akan mengganggu Tuan kalian, lagi pula saya hanya ingin mengantar makanan ini karena tau Tuan kalian sedang tidak sehat.” Sofia berujar dengan menunjukkan rantang makanan yang dibawanya.
“Baiklah, saya akan antar ke dalam,” ujar penjaga itu akhirnya menyerah. Lantas beberapa penjaga lainnya segera membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan mobil yang dikendarai Sofia masuk hingga ke halaman.
Sofia semakin berdecak kagum saat kakinya menyentuh paving halaman rumah Faris, ini pertama kalinya ia ke sini karena saat mengantar keperluan Tasya, Faris hanya mengijinkan orang suruhannya yang membawa.
Netranya berbinar melihat kemegahan rumah dari pria yang teramat dicintainya itu yang tampak semakin indah jika dari kedekatan, senyumnya pun semakin melebar saat angannya menerawang jauh menjadi nyonya besar di rumah itu.
“Nggak salah gue tergila-gila sama tuh orang.”
“Mari Nona.” Ucapan sang penjaga membuyarkan lamunan Sofia, ia hanya mengangguk lantas mengikuti langkah pria berbadan kekar di depannya.
Sampai di ruang utama, sang penjaga menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Indri, salah satu pelayan di sana, tatapan Indri seolah penuh tanya pada wanita di belakang sang penjaga.
“Nona ini temannya Tuan, dia ingin bertemu dengan Tuan,” ujar sang penjaga seolah paham pertanyaan Indri.
__ADS_1
“Mohon maaf Nona, tapi Tuan kami sedang tidak sehat, apa ada pesan yang bisa saya sampaikan?” Indri bertanya dengan sopan.
“Saya tau, nih temen kamu juga udah bolak-balik bilang kok. Karena Faris lagi sakit dan Aisha lagi nggak di rumah makanya saya ke sini, mau ngasih makanan ini buat dia,” tutur Sofia seolah bersahabat karib dengan Tuan dan Nyonya mereka.
“Baiklah, Tuan ada di kamar, biar saya temani,” ujar Indri melangkahkan kakinya menuju lift yang langsung membawa mereka ke lantai kamar Tuan mudanya.
Tok … tok … Indri mengetuk pintu kamar Faris yang sudah sedikit terbuka.
“Ada apa? Saya nggak manggil kalian kok,” jawab Faris yang merasa tidak memanggil pelayan.
“Masuk,” imbuh Faris lagi.
Ketika pintu terbuka semakin lebar, masuklah dua sosok wanita, yang satu Indri salah satu pelayannya, dan satunya lagi tentu saja Sofia, wanita yang benar-benar Faris hindari dalam hidupnya.
“Maaf Tuan, saya sudah bilang jika Tuan sedang tidak baik-baik saja, tapi Nona ini tetap ingin bertemu dengan Tuan.” Faris hanya mengangguk menimpali penyesalan Indri.
“Kalo gitu saya permisi,” pamit Indri lantas berbalik.
“Jangan ditutup Ndri.” Ucapan Faris sontak membuat Indri mengurungkan niatnya untuk menutup pintunya.
“Ada apa lagi kamu ke sini? Mau berlagak sok minta tolong?” tanya Faris ketus ketika Indri sudah menghilang di balik lift.
“Aku khawatir abis liat kamu kemaren di Rumah Sakit, kayaknya kamu lagi kurang sehat, dan ternyata bener. Aisha lagi pulang ke rumah ibunya kan? Makanya ini aku bawain kamu makanan,” tutur Sofia meletakkan rantang makanannya dan mulai menyiapkannya.
“Meski Aisha lagi nggak di rumah, tapi pelayanku banyak, aku nggak bakal kelaperan.”
“Iya aku tau, anggep aja ini sebagai ucapan terima kasih aku karena kamu sama Aisha udah bantuin jaga Tasya. Ini cuma sekedar ucapan terima kasih dari seorang teman, nggak lebih.” Lagi-lagi Sofia tidak menyerah, ia bahkan sudah menarik kursi dan menyodorkan sesendok makanan di depan mulut Faris.
“Aku cuma demam, bukan lumpuh, jadi aku bisa makan sendiri,” tukas Faris hendak meraih sendok dari tangan Sofia, namun secepat kilat wanita itu menghindarinya.
“Mana ada orang sakit makan sendiri Ris, aku bakal pergi deh setelah kamu makan ini,” ujarnya kembali menyodorkan sesendok makanan di depan mulut Faris dan tetap bersikeras untuk menyuapinya.
“Habis ini langsung keluar.”
Faris yang merasa sudah sangat jengah akhirnya membuka mulutnya dan membiarkan makanan dari tangan Sofia masuk, bukan berarti apa-apa ia menerima suapan dari Sofia, ia hanya ingin wanita itu cepat keluar dari kamarnya, ia tak mau jika sampai ada yang melihat Sofia di kamarnya kecuali Indri yang tadi mengantarnya, juga karena ia begitu menghargai Aisha sebagai istrinya meski kini ia tak sedang berada di rumah.
Tapi ternyata dugaan Faris salah, Aisha kini justru sudah berdiri mematung di balik tembok kamarnya, ia bahkan bisa melihat dengan jelas siapa wanita yang berada di kamarnya dari celah pintu yang memang terbuka.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...