
“Kamu nggak usah liatin aku kayak gitu, nanti jatuh cinta,” ujar Azka yang merasa bahwa sejak tadi Karina terus memandangi dirinya. Karina memang masih terheran-heran kenapa Azka bisa tiba-tiba sudah di tanah air.
“Ehem.” Karina hanya berdehem untuk menetralkan suasana karena telah tertangkap basah memperhatikan Azka yang sedang fokus mengemudi.
“Kamu kalo mau ngomong sesuatu ya ngomong aja,” goda Azka yang melirik Karina dari ekor matanya seperti hendak mengatakan sesuatu namun tertahan.
“Kamu pulang kok nggak ngomong-ngomong sih? Bukannya seharusnya pesawat kamu nyampe nanti sore?” Akhirnya kalimat yang sejak tadi Karina tahan-tahan bisa ia keluarkan dengan lancar.
“Cie yang nungguin aku pulang, rindu ya?”
“Apasih,” ucap Karina kembali pada mode ketusnya dan mengalihkan pandangannya keluar jendela.
Tiba-tiba Azka menepikan mobilnya, membuat Karina sontak menoleh hendak bertanya. Namun seketika Karina menutup matanya karena ketika ia menoleh ternyata wajah Azka tepat berada di hadapannya, Azka bahkan sampai melepas sabuk pengamannya untuk mencondongkan tubuh ke arah Karina.
“Aku sengaja pulang lebih awal buat kasih surprise sama kamu,” bisik Azka tepat di samping wajah Karina, membuat Karina langsung membuka matanya.
“Ke-kenapa aku?” Jarak mereka yang sangat dekat membuat Karina sedikit gugup, ia lantas segera mendorong dada Azka hingga kembali ke posisi semula karena khawatir Azka bisa mendengar degup jantungnya yang sudah berpacu tak karuan.
Azka tentu tak bisa untuk menahan senyumnya melihat perlakuan Karina yang salah tingkah.
“Ayo jalan!” ujar Karina saat Azka tak kunjung melajukan kembali mobil yang ditumpanginya, melainkan memandangi Karina dengan senyum anehnya.
“Temen kamu yang tadi masih suka gangguin kamu kayak tadi?” tanya Azka mencairkan suasana.
“Lumayan. Tapi it’s okay aku bisa kok ngadepinnya.”
“Dia masih tetep minta bantuan kamu buat deketin Faris?”
“Yap, dia udah bucin kronis sama Faris,” jawab Karina santai.
“Kamu?” tanya Azka membuat Karina sontak menoleh.
“Kenapa aku?” Karina justru balik bertanya karena tak paham dengan pertanyaan Azka.
“Kamu udah nggak kayak dia? Udah nggak bucin lagi ke Faris?”
Karina tersenyum kecut mendengar pertanyaan Azka.
‘Tega banget kamu nanya kayak gitu ketika sekarang di kepalaku isinya cuma tentang kamu Ka.’
“Jodoh, maut, rezeki itu sudah digariskan masing-masing dan nggak akan ketuker. Kenapa aku harus mempermasalahkan apa yang memang bukan ditakdirkan buat aku?”
Deg, kalimat Karina seperti tamparan keras untuk Azka. Jika Karina pun mampu, kenapa dirinya justru belum sanggup memiliki pemikiran seperti itu?
“Andai semua orang punya pikiran kayak kamu,” puji Azka yang memang kagum terhadap kebesaran hati Karina.
Selanjutnya hanya hening, tak ada lagi percakapan di antara keduanya. Bahkan hingga mobil Azka terparkir di depan halaman rumah Karina pun kecanggungan masih terasa.
“Hallo Sayang,” sapa Azka yang sudah di ambang pintu dan melihat putranya yang tengah asyik bermain ditemani oleh asisten rumah tangga Karina.
__ADS_1
“Papa!” Rafa segera berlari menghambur ke arah Azka begitu mengetahui siapa yang datang, ia bahkan melupakan mainannya yang selama ini selalu menjadi temannya.
“Kamu bahkan belum sempet pulang ke rumah Ka?” tanya Karina ketika melihat dua lelaki berbeda usia itu tengah saling berpelukan. Azka sontak menggeleng dan langsung meraih Rafa ke dalam gendongannya.
“Dari Bandara kan aku langsung mampir ke Rumah Sakit, aku sengaja ngambil penerbangan awal,” jawab Azka enteng. Sedangkan Karina hanya manggut-manggut tak paham lagi dengan kelakuan sugar daddy yang satu ini.
“Sejak kapan ruang TV kamu jadi taman bermain anak Rin?” tanya Azka sedikit berteriak karena posisinya yang sudah berada di ruang TV di rumah Karina sambil menyesap minuman yang disediakan.
“Sejak putra anda dititipkan di sini, Tuan.” Karina pun yang tengah mengganti pakaiannya di kamar sedikit berteriak, membuat Azka seketika tertawa saat mendengarnya.
***
Malam ini pasangan honeymoon Faris dan Aisha tidak keluar hotel sama sekali, entah kenapa Faris merasa tidak semangat sejak sore tadi.
Aisha yang baru saja kembali dari kamar mandi untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian tidur mendapati suaminya yang sudah telungkup di atas kasur dengan membenamkan wajahnya di atas bantal.
“Abang kenapa sih? Nggak enak badan?” tanya Aisha sambil merasakan suhu di kening suaminya yang ternyata biasa saja. Faris hanya menggeleng tanpa bersuara.
“Terus kenapa? Ica ada salah ke Abang?” Lagi-lagi Faris hanya menjawabnya dengan gelengan.
Aisha yang merasa bingung akhirnya memilih untuk ikut berbaring pula di atas kasur. Faris yangmerasakan pergerakan di sisinya sontak membalikkan tubuhnya dan merebahkan kepalanya di atas pangkuan sang istri yang ternyata masih bersandar pada headboard ranjang.
“Sayang?”
“Hem.” Aisha yang tengah memainkan rambut Faris di pangkuannya hanya berdehem.
“Abang pengen makan pecel yang di depan komplek deh Yang.”
“Astaghfirullah gimana ceritanya kita lagi di Turki terus Abang pengen makan pecel depan komplek di Surabaya?” Aisha hanya melongo mendengar permintaan aneh Faris.
“Nggak tau Yang, tapi asli ini Abang pengen,” ujarnya dengan wajah lesu.
“Ya udah nanti Ica pinjem pintu kemana saja punya Doraemon dulu.”
“Sayang … Abang seriusan ini,” rengek Faris benar-benar tak bisa membendung rasa inginnya.
“Mau Abang seriusan juga gimana cara Ica ngabulinnya Bang? Apa kita langsung pulang aja besok pagi?” tanya Aisha yang benar-benar tak habis pikir dengan keinginan suaminya.
“Nggak lah, kita kan masih belum ketemu Hasan. Lagian honeymoon kita di sini Abang belum puas.”
“Terus gimana dong?”
“Oh apa Abang suruh Roger aja ya buat beli?” ujar Faris seketika berbinar.
“Emang di sini ada?”
“Maksud Abang yang di depan komplek rumah loh Yang.”
“Abang mau suruh Roger ke Surabaya buat beli pecel terus balik lagi ke sini?”
__ADS_1
“Heem.”
“Abang di pesawat aja berapa jam, keburu nggak enak lah pecelnya.”
“Oh iya ya. Terus gimana dong Yang?”
“Abang tahan dulu pengennya ya, besok kalo kita pulang langsung beli deh,” bujuk Aisha yang segera mendapati gelengan dari Faris.
“Gimana kalo kita bikin aja Yang?” usul Faris dengan semangat, ia bahkan sampai bangkit dari rebahannya.
“Hah? Di sini mau cari kemana daun singkong dan kawan-kawannya Bang?”
“Ya pake apa gitu yang ijo-ijo, Sayang. Please yah kita bikin yah?”
“Iya iya besok kita cari yang ijo-ijo buat pengganti daun singkong yah.”
“Kok besok sih Sayang?” tanya Faris dengan wajah yang kembali lesu.
“Terus?”
“Sekarang, Sayang.”
“Hah?” Aisha hanya bisa melongo dengan jawaban Faris. Sedangkan Faris hanya bisa menatap istrinya dengan wajah melasnya, berharap keinginannya dikabulkan.
“Abangku Sayang, ini udah malem saatnya kita bobo ya? Yuk mendingan bobo, nanti Ica kasih yang spesial deh,” bujuk Aisha sambil mencoba merebahkan paksa tubuh suaminya.
“Sayang … please. I really love you, Abang juga pengen sih itu, tapi buat sekarang asli Abang cuma pengen makan pecel. Yang lainnya Abang nggak semangat, Sayang.”
Aisha melirik jam yang menggantung di dinding, ia sudah tak tahu lagi bagaimana cara membujuk suaminya, ia pasti akan terus merengek dan mengganggu tidur Aisha sebelum permintaannya terkabulkan.
“Ya udah kita pergi cari bahan-bahannya sekarang. Ica ganti baju dulu,” ujar Aisha lalu beranjak untuk mengganti pakaiannya.
“Nggak usah Yang, udah gini aja tinggal pake hijab,” tutur Faris dengan semangat dan lantas mengenakan jaket dan meraih kunci mobilnya.
Sedangkan Aisha lagi-lagi hanya bisa melongo sambil berulang kali mematut dirinya yang hanya mengenakan piyama di depan cermin dengan lemas.
“Ayo Sayang, nanti keburu malem,” ujar Faris yang sedikit berteriak karena sudah berada di luar.
“Kata siapa masih siang Maemunah? Huh sabar, untung sayang,” gerutu Aisha sambil membenarkan hijabnya dan mengambil tas tangannya lantas segera menyusul Faris yang sudah kegirangan dengan semangat empat limanya.
***
Semangat cari yang ijo-ijo buat bahan pecelnya ya Yayang Ica sama Babang Faris ...
Untung Yayang Ica mah cantik, jadi ke mall cuma pake piyama doang juga nggak masalah :D
Cie akhirnya Papa Azka balik juga nih ...
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang ...