Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Benar-benar wanita mulia


__ADS_3

Setelah dirasa mobil Faris sudah menjauh, Aisha baru memutuskan untuk keluar dari kamar mandi untuk melaksanakan solat duhur.


Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk ketika Aisha tengah memakai mukenanya.


“Maaf Nyonya, saya sudah mencegah Non Tasya, tapi dia tetap ingin bertemu Nyonya.”


Seorang pelayan menunduk meminta maaf kepada Aisha, sedangkan Tasya langsung menghambur memeluk Aisha.


“Tante tadi kemana? Kok pulangnya duluan sih? Nggak bareng sama Tasya sama Om.”


Aisha berjongkok dan kembali memeluk Tasya.


“Maaf yah tadi Tante ada urusan mendadak,” bohong Aisha yang hanya diangguki oleh gadis kecil dalam pelukannya itu.


“Tasya udah makan belum?”


“Belum ….”


“Kok belum?”


“Maaf Nyonya Non Tasya tidak ingin makan sejak tadi.” Sang pelayan yang masih berdiri di ambang pintu lagi-lagi mengucap maaf, dan Aisha sontak hanya mengangguk sambil tersenyum tanda tidak apa-apa.


“Tasya makan dulu ya, apa mau Tante yang suapin makannya?”


Sontak Tasya langsung mengangguk begitu mendapat penawaran dari Aisha.


Aisha mengurai pelukannya, “Tapi Tante solat dulu ya Sayang, Tasya tunggu dulu di meja makan.”


“Solat itu apa Tante?” Tasya bertanya polos ketika mendengar kata yang asing dalam telinganya.


Aisha sontak tersenyum miris mendengar pertanyaan gadis kecil itu, di seusianya memang belumlah wajib untuknya melaksanakan kewajiban sebagaimana muslim yang sudah akil baligh, hanya saja setidaknya urusan ibadah sepenting ini seharusnya sudah ditanamkan sejak dini oleh para orang tua agar kelak ketika baligh sang anak sudah terbiasa dan paham betapa pentingnya ibadah bagi kita sebagai manusia.


“Solat itu … kita menghadap sama Tuhan yang sudah menciptakan kita sebagai manusia, nyiptain Tasya, nyiptain Tante sama Om, nyiptain Papa sama Mama Tasya juga. Sebagai seorang muslim, kita harus melaksanakan solat lima kali dalam sehari,” tutur Aisha sambil mengangkat lima jarinya.


“Jadi solat itu cara kita berterima kasih sama Tuhan ya Tante?” tanya Tasya dengan polos.


“Anak pinter, tapi masih banyak juga yang harus kita jalankan sebagai muslim, Sayang. Nanti Tante jelasin yah. Sekarang Tasya mau ikutan solat nggak sama Tante?” Aisha kembali bertanya dengan lembut yang sontak diangguki dengan semangat oleh Tasya.


Karena di rumah ini tidak ada anak kecil, maka Aisha pun tak memiliki mukena untuk ukuran anak kecil. Sehingga ia memakaikan mukenanya yang lain untuk Tasya yang tentu saja ukurannya kebesaran, tapi tak apa yang penting untuk saat ini Tasya mengenal dulu bagaimana itu solat yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim.


“Tuh kan cantik kalo rambutnya ditutup.” Aisha mengelus puncak kepala Tasya setelah memakaikan peniti di bawah dagunya.


“Tante juga cantik.” Puji Tasya yang berhasil membuat Aisha tersenyum.


Aisha langsung menggelarkan dua sajadah bersisian di samping ranjangnya.


“Tasya ikutin gerakan Tante sampe selesai ya,” tutur Aisha sebelum mengangkat tangan dan bertakbiratul ihram.


***

__ADS_1


“Tasya … kita mandi dulu yuk, udah sore tuh.” Aisha mencoba membujuk Tasya setelah mendapat laporan dari pelayan jika Tasya tidak mau mandi.


“Tasya pengen sama Om Faris, Tante ….” Tasya hanya merengek dengan tetap bermain dan menolak ajakan Aisha.


Aisha terdiam, sampai saat ini bahkan tak ada kabar apapun dari suaminya sejak permintaan maafnya oleh kejadian tadi siang.


“Om Farisnya sibuk, Sayang … mandinya sama Tante yah, nanti kalo Om Faris pulang baru kita main lagi.” Akhirnya Tasya pun menyerah dan mengangguki ajakan Aisha.


Malam semakin beranjak, namun Aisha belum juga bisa memejamkan netranya. Ia berbaring dengan gusar di atas pembaringan, sekesal apapun ia terhadap Faris, hati kecilnya tetap tak tenang jika belum mendapat kabar dari suaminya.


“Kamu kangen Papi ya Sayang? Sabar yah, Papi masih sibuk sekarang.” Aisha mencoba mengelus-elus perutnya yang tiba-tiba merasa kram kembali.


“Sshh … Ya Allah Nak, kamu kenapa Sayang?” Kram di perut Aisha semakin jelas terasa, secepatnya ia menekan bel di samping ranjangnya hingga beberapa saat kemudian beberapa pelayan berdatangan ke kamarnya.


“Selamat malam Nyonya … apa ada yang Nyonya butuhkan?” Salah satu dari mereka bertanya dengan sopan setelah memasuki kamar Nyonya mudanya.


“Sshh … tolong ambilkan saya kompresan air hangat ya, sekarang.” Aisha berucap dengan lirih sambil memegangi perutnya.


Semuanya kembali berbalik dengan menunduk. Keringat dingin sudah bercucuran memenuhi kening Aisha, hingga kemudian ia mendengar langkah kaki menuju ke kamarnya yang ia tebak pastilah itu pelayannya tadi yang membawakan kompresan.


“Nyonya ….” Aisha membuka matanya saat mendengar suara yang tak asing di telinganya.


“Apa yang Nyonya rasakan sekarang?” Bi Asih mndekat dan duduk di samping ranjang.


“Bi … perut Aisha kram banget.”


“Apa Nyonya sudah minum vitaminnya hari ini?”


Aisha sontak menggeleng, “Aisha lupa Bi.”


“Dimana vitaminnya Nyonya? Biar Bibi ambilkan.”


“Di kotak di sebelah kotak P3K di lemari itu Bi.” Aisha menunjuk lemari kecil yang berada di samping lemari televisi.


“Nyonya sudah makan?” Bi Asih kembali bertanya seraya menyiapkan vitamin untuk Aisha minum.


Lagi-lagi Aisha pun menggeleng dengan lemah, ia juga lupa jika dirinya belum makan malam karena ia berniat ingin makan malam dengan suaminya.


“Astaghfirullah Nyonya … ingat, di sini ada nyawa yang juga butuh asupan, jangan abaikan dia. Nyonya jangan banyak pikiran, nggak boleh sampai stress.” Bi Asih mengingatkan sambil mengelusi perut Aisha.


Tiba-tiba mata Aisha memanas, “Makasih ya Bi udah perhatian sama Aisha juga janin Aisha,” ujarnya dengan air mata yang sudah memenuhi pelupuk mata.


Bi Asih tersenyum kemudian merengkuh tubuh wanita hamil yang tampak sangat rapuh di hadapannya.


“Apa Nyonya memikirkan Tuan Faris yang selalu sibuk? Apalagi sejak kedatangan Tasya ke rumah ini.”


Sontak air mata yang sejak tadi hanya menggantung di pelupuk, kini ia sudah tak tahan lagi untuk tak berjatuhan, Aisha mengangguk mengindahkan pertanyaan Bi Asih.


“Nggak tau kenapa hati Aisha rasanya sakit Bi kalo liat Abang selalu memprioritaskan Tasya, perut Aisha juga sering kram menyaksikan semua itu, apa janin di kandungan Aisha juga turut merasakan kepedihan Aisha Bi?” Aisha berujar sambil terisak dalam pelukan Bi Asih.

__ADS_1


“Nyonya yang sabar yah, peran seorang suami memang sangatlah penting pada kehamilan istrinya. Tapi Nyonya jangan khawatir … karena Bibi tau Tuan sangatlah menyayangi Nyonya. Jangan terlalu dipikirkan ya Nyonya, ada Bibi yang akan selalu nemenin Nyonya, katakan apapun yang Nyonya rasakan sama Bibi.”


Aisha tak bisa berkata apapun lagi, ia sangat bersyukur karena bisa berada di tengah-tengah orang baik seperti saat ini.


“Bibi ambil makan dulu yah biar Nyonya langsung minum vitamin juga.” Bi Asih merenggangkan pelukannya dan langsung bangkit untuk mengambil makanan.


“Bi … maaf ya Aisha selalu ngerepotin Bibi.” Kalimat Aisha menghentikan langkah Bi Asih seketika.


“Bibi dan Pak Toni sudah bertahun-tahun berada di rumah ini, kami sudah menganggap Tuan Faris seperti putra kami sendiri, begitupun dengan Nyonya. Jadi jangan sungkan untuk mengatakan apapun pada Bibi yah.”


“Makasih ya Bi.”


Bi Asih tersenyum dan mengangguk sebelum melanjutkan langkahnya.


“Tasya udah tidur Bi?” Aisha bertanya ketika Bi Asih hendak beranjak setelah kram di perut Aisha mulai membaik.


“Sudah Nyonya, tadi ditemani oleh Indri.”


‘Ya Allah lindungilah Aisha dan kandungannya, dia sungguh wanita berhati mulia. Bahkan di tengah rasa sakitnya ia masih memikirkan Tasya yang sudah mengambil perhatian suaminya’


Tanpa sadar bulir bening pun terjatuh dari sudut mata Bi Asih setelah melihat wanita sekuat Aisha, ia segera melanjutkan langkahnya sebelum Aisha air matanya kembai berjatuhan.


“Nyonya tidur saja duluan, ndak usah nunggu Tuan. Nanti kalo dia pulang, akan Bibi beritahu jika Nyonya menunggunya,” pesan Bi Asih sebelum ia benar-benar keluar.


“Iya Bi, akan Aisha coba.”


***


Aisha kembali menggeliatkan tubuhnya ketika sayup-sayup mendengar bunyi lantunan al-quran dari arah masjid kompleknya.


Ia meraba-raba kasur di sampingnya, tempat suaminya seharusnya berada, namun sayang Aisha tak mendapati apapun di sana. Ia melirik jam yang menggantung di dindingnya yang ternyata sudah menunjukan pukul tiga dini hari. Jantungnya kembali berdebar tak karuan saat tahu suaminya tak berada di kamar mereka.


Aisha lantas berinisiatif untuk ke kamar Tasya, kalau-kalau mungkin Faris memilih untuk menemani Tasya. Ternyata Aisha hanya mendapati Tasya seorang di sana, juga terlihat Indri yang tertidur di sofa, mungkin karena semalaman menjaga Tasya.


Ia kembali melangkah gontai ke kamarnya, “Apa Abang nggak pulang semaleman?”


Ah lagi-lagi perut Aisha terasa kram jika otaknya memaksa berpikir tentang beberapa kemungkinan mengenai suaminya, alhasil Aisha memilih melaksanakan solat tahajud untuk mengsuir bisikan-bisikan setan yang menciptakan kegundahan di hatinya.


“Ya Allah yang Maha hidup, sesungguhnya hanya Engkau yang Maha mengetahui apa-apa yang tidak hamba ketahui. Kuatkanlah aku juga bayi dalam kandunganku, lindungilah keluarga kecil kami dari mereka yang mengharapkan kehancuran dari kami.”


Aisha berharap agar bayi dalam kandungannya selalu baik-baik saja hingga saatnya ia terlahir ke dunia nanti, hanya itu harapan seorang ibu yang selalu mendamba sosok malaikat kecil yang selalu bertasbih kepada-Nya yang akhirnya Tuhan kabulkan untuk bersemayam di rahimnya.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2