Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Our first night yang tertunda


__ADS_3

“Sayang … Sayang ….” Faris berlari tergesa-gesa ke dalam rumah megahnya yang lebih pantas disebut istana.


“Nyonya sudah naik ke kamar Tuan.” Bi Asih muncul menghentikan langkah Faris.


“Ok Bibi, makasih ya,” jawabnya tersenyum.


Faris melanjutkan langkahnya, dengan kaki jenjangnya Faris bahkan bisa menaiki tiga anak tangga sekaligus, membuatnya sampai lebih cepat menuju kamarnya.


“Sayang …,” ucap Faris tergesa membuka knop pintu yang tak terkunci.


“Shodaqollahul adzim ….” Aisha menghentikan tilawahnya saat mengetahui suaminya yang datang tergesa.


“Waalaikumsalam …,” ucap Aisha menyindir.


“Eh Astaghfirullah … lupa. Assalamualaikum humairaku,” tuturnya mendekati istrinya yang masih lengkap dengan mukenanya.


Aisha segera menyambut uluran tangan Faris, menciumnya takdim.


“Uh cantiknya istriku ini.” Faris tak tahan untuk tak memeluk Aisha dan mengecup puncak kepalanya.


“Abang udah solat?” tanya Aisha mendongakkan wajahnya yang tengah berada dalam pelukan suaminya.


“Udah dong Sayang. Tilawah juga Alhamdulillah udah,” jawabnya dengan senyum yang amat manis.


“Alhamdulillah, terus kenapa tadi pas masuk buru-buru banget? Pasti mau balik lagi ke Rumah Sakit ya?” Seketika wajah Aisha berubah muram.


Aisha melepaskan pelukannya, melangkah berbalik dan merapikan kembali mukena yang dikenakannya.


“Maaf ya Sayang,” tutur Faris melingkarkan tangannya di perut ramping Aisha.


Aisha berbalik mendengar perkataan Faris, menatapnya dengan puppy eyes nya.


“Ya udah, Ica siapin dulu pakaian Abang ya,” tuturnya memalingkan wajah karena netranya yang dirasa mulai memanas.


Ia hendak melangkah menuju lemari untuk menyiapkan pakaian, namun lengannya segera ditahan oleh Faris.


“Sekarang Ica ikut Abang dulu.” Faris segera menarik tangan Aisha ke dalam genggamannya, memandunya agar Aisha mengikuti langkahnya.


“Loh mau kemana Abang? Ica kan mau nyiapin baju buat Abang,” jawab Aisha masih muram


“Sttt … Sayang, ikutin aja Abang,” tutur Faris berbalik, membuat Aisha bungkam.


Selesai menuruni tangga, Aisha celingukan sendiri, merasa aneh pada suasana rumah yang biasanya ramai oleh pelayan yang berlalu lalang, kini justru tak ditemukannya satu pun orang kecuali dirinya dan suaminya di rumah ini.


“Bi Asih, Pak Toni, sama yang lainnya kemana Bang? Kok rumah sepi banget? Padahal baru aja isya. Biasanya dua puluh empat jam selalu ada bodyguard yang stay,” tutur Aisha masih celingukan.


“Sttt … bawel ya humairaku.”


Sebuah cubitan mendarat sempurna di pinggang Faris, membuat sang empunya meringis kesakitan.


“Ih masih suasana pengantin baru loh Sayang, udah KDRT aja.” Terlihat Aisha justru mencebikan bibirnhya sebal.


“Coba tebak Abang bawa apa?” tanya Faris menghentikan langkahnya ketika mereka sudah berada di halaman rumah.


Aisha mengerutkan keningnya, menatap tajam setiap inci tubuh suaminya yang menurutnya sama saja, lalu beralih pada mobil yang terparkir di belakangnya yang menurutnya juga tetap sama saja.


“Apa? Nggak ada yang beda, Abang masih sama gitu-gitu aja, mobil juga tetep sama aja yang itu, yang biasa Abang pake.”


“Emmm ….” Aisha nampak berpikir lalu berjalan ke arah garasi.


“Mobil juga semuanya sama aja, nggak ada yang baru juga Bang. Abang? Bang?” Aisha memanggil-manggil suaminya yang tiba-tiba tak ada di sekitarnya.


Aisha celingukan sendiri, tak ada siapapun di sana kecuali dirinya. Suaminya juga


tiba-tiba menghilang.


Ia melongok ke arah pos satpam yang juga nampak sepi, dan benar saja tak ada seorang pun juga di sana.


“Abang nggak lucu ya becandanya? Abang?” berkali-kali Aisha memanggil-manggil suaminya namun tak ada juga jawaban.

__ADS_1


Saat Aisha memutuskan untuk berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah, tiba-tiba …


“Surprise ….”


Tiba-tiba ramai sekali orang dengan membawa setangkai bunga mawar putih di masing-masing tangan mereka.


Mulai dari satpam, semua bodyguard, para pelayan di rumah, bahkan Pak Toni dan Bi Asih pun turut andil membawa setangkai mawar.


Terakhir Faris yang tiba-tiba muncul di antara mereka membawa sebuket mawar putih dengan ukuran yang sangat luar biasa besar, bahkan Aisha hampir kewalahan saat Faris menyerahkannya pada dirinya.


“Suka nggak Sayang?”


Aisha hanya mengangguk menimpali suaminya, ia sibuk menghapus air mata yang terus saja berjatuhan saking terharunya.


Faris segera menghapus air mata itu, memeluk istrinya yang terlihat sangat menggemaskan.


“Abang, dalam rangka apalagi nih bikin surprise kayak gini? Ngerepotin orang banyak lagi.”


Aisha memukul pelan dada suaminya, ia masih sebal karena tadi sempat ketakutan ditinggalkan Faris dengan keadaan rumah yang benar-benar sepi.


“Dalam rangka malem ini Abang nggak lembur,” tutur Faris dengan senyum yang selalu melekat menambah kadar ketampanannya.


Aisha sontak tertawa mendengar jawaban Faris, suaminya ini benar-benar manis. Setiap hari ia selalu berhasil membuat Aisha jatuh cinta.


Faris lalu mengumpulkan satu persatu semua mawar yang dibawa oleh para pegawainya, kembali berlutut dihadapan Aisha dan menyerahkan semua mawar di tangannya.


“Buat kesayanganku,” tuturnya lalu mengecup punggung tangan mulus dihadapannya.


“Terima kasih ya semuanya, maaf merepotkan kalian,” tutur Faris pada semua pegawainya.


Aisha masih terpaku tak percaya pada semuanya, bahkan saat Faris mengajaknya kembali ke dalam rumah ia hanya menurut saja.


***


Aisha masih mematung di di ambang pintu saat Faris mengajaknya untuk kembali ke kamar.


“Bukannya tadi kamar ini masih kayak biasanya? Kenapa bisa berubah seindah ini dalam sekejap?”


“Gimana, Ica suka?” tanya Faris mengajak istrinya untuk masuk.


“Kapan Abang bikin semua ini?”


“Tadi pas Ica lagi di luar, pegawai yang nggak ikut di luar bantuin Abang buat nyiapin semuanya.”


“Cantik banget.”


Aisha melangkah perlahan, merasa sayang karena bunga-bunga cantik itu harus ia injak karena bertaburan di lantai memenuhi kamarnya.


Bunga-bunga mawar merah yang bertaburan terlihat sangat anggun, sangat kontras dengan kamarnya yang bernuansa serba putih, pencahayaan yang remang-remang oleh lilin aromaterapi juga menambah kesan romantis bagi dua sejoli itu.


Aisha kembali terhipnotis saat melihat ranjang yang sudah dihiasi oleh taburan mawar membentuk love, ia terduduk di tepi ranjang untuk mengamatinya lebih dekat.


Indah sekali. Hanya itu yang terlintas di benaknya saat ini.


“Kita solat sunah dulu yuk,” bisik Faris yang tiba-tiba sudah berada di samping Aisha.


Seluruh tubuh Aisha meremang kala mendengar bisikan suaminya yang terdengar berbeda dari biasanya.


Aisha hanya menurut, mengikuti intruksi dari suaminya untuk mengambil air wudhu.


Dua rokaat solat sunah sudah selesai, namun keduanya justru terlihat sama-sama canggung. Faris yang agresif pun entah kemana hilangnya.


Aisha menyambut uluran tangan Faris, menciumnya takdim, mencari berkah dan ridho suami. Begitupun Faris yang segera mengecup ubun-ubun Aisha dan tak lupa doa ia sematkan di sana.


Aisha membuka mukenanya, merapikannya kembali ke tempat asalnya, begitupun dengan pakaian yang suaminya kenakan.


“Sayang ….” Faris berbisik tepat di telinga Aisha, memeluknya dari belakang saat Aisha tengah membereskan peralatan solat mereka.


Aisha berbalik tanpa melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


“Abang … merinding semua,” tutur Aisha memperlihatkan kedua tangannya dengan pori-pori yang semakin kentara.


Faris tergelak dengan reaksi polos istrinya, lalu meniup halus telinga Aisha dalam pelukannya, membuat sang empunya justru bergidik kegelian.


Tanpa aba-aba Faris segera membopong Aisha, merebahkannya di ranjang, membuat taburan bunga berbentuk love di sana berantakan.


Kedua tangan Faris ia gunakan untuk menopang tubuhnya agar tak sepenuhnya menindih tubuh mungil istrinya.


Aisha terlihat lebih banyak menunduk untuk menutupi kecanggungannya, tak berani menatap manik indah di atasnya.


Faris tak henti-hentinya menatap wajah cantik Aisha dalam remang, mendekatkan wajahnya sehingga kening mereka saling menyatu. Hal itu sontak membuat Aisha menatap sempurna bola mata indah suaminya.


“Assalamualaikum humairaku,” ucap Faris lirih dengan senyum yang selalu terpatri pada wajah tampannya.


Aisha membalas dengan senyuman yang tak kalah manis.


“Waalaikumsalam kesayanganku.”


“Boleh Abang meminta hak Abang?” tanya Faris sambil menyelipkan anak rambut Aisha ke belakang telinganya.


Aisha memejamkan matanya, mengangguk mantap lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Faris, membuat Faris semakin melebarkan senyumnya.


Faris menarik selimut untuk menutupi keduanya, membuka satu persatu tabir yang menutupi keindahan tubuh wanita yang sudah sepenuhnya menjadi miliknya. Menikmati setiap lekuk tubuh Aisha dan membuat banyak tanda kepemilikan di sana.


Aisha kerap kali memejamkan matanya, dengan mulut yang setengah terbuka menikmati setiap sentuhan dan cumbuan dari lelaki yang berada di atasnya.


“Bismillahi allohumma jannibnassyaithona wa jannibnassyaithona maa rozaqtana,” ucap Faris lirih dalam desah keduanya.


Kini keduanya menyatu sempurna dalam irama kerinduan, tanpa penolakan juga tanpa paksaan.


Aisha menggigit bibirnya, mencengkeram sprei di bawahnya kuat-kuat saat perih mulai dirasanya. Faris sontak menghentikan pergerakannya saat melihat raut wanitanya, menatapnya risau, seolah bertanya apa kamu baik-baik saja?


Aisha melebarkan senyumnya, mengangguk penuh kepastian. Kedua tangannya beralih mengeratkan rengkuhannya pada lengan kekar di samping tubuhnya.


Perih yang dirasanya perlahan menghilang saat Faris menyatukan bibir mereka, menyalurkan kekuatan untuk keduanya saling memadu kasih mengikuti alunan syair yang tercipta.


“Alhamdulillahilladzi kholaqo minal maai basyaron fajaalahu nasaban wa sihron wakaana robbuka qodiiron.” (Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dari air mani manusia, maka ia menjadikan manusia itu beranak pinak, dan adalah Tuhanmu itu Maha Kuasa)


Terlihat peluh mulai membanjiri keduanya, pendingin di ruangan itu seperti tak mampu menembus permukaan kulit sepasang kekasih yang tengah saling mendesah dalam malam penuh cinta.


Faris merengkuh erat tubuh polos Aisha, menutupnya dengan selimut hingga sebatas dada, mengusap peluh yang bercucuran di wajah cantiknya,  keduanya tersenyum dengan deru napas yang belum teratur.


Faris merebahkan tubuhnya di sisi kanan agar Aisha bisa memiringkan tubuhnya ke sisi kanan, menghadap dirinya.


Dengan bebas Faris bisa mengecupi wajah istrinya berulang-ulang, bisikan terima kasih tak henti-hentinya ia sematkan untuk wanita yang telah rela menyerahkan seluruh hidupnya untuk dirinya.


“Sayang …,” panggil Faris setelah jeda beberapa saat menikmati kebahagiaanya.


Faris mengangkat wajah cantik yang bertengger di dadanya, terlihat Aisha sudah memejamkan matanya dengan napas yang mulai teratur, pantas saja ia tak mendapatkan jawaban dari wanitanya.


“Sayang, bangun dulu yuk,” tutur Faris mengusap lembut pipi Aisha.


“Hemmm …,” jawab Aisha tanpa membuka matanya, justru semakin mengeratkan pelukannya.


“Kita wudhu dulu yuk.”


“Emh … ngantuk Bang,” jawab Aisha dengan gelengan manja.


Faris menengok jam dinding di kamarnya, sudah pukul dua dini hari, pantas saja netranya juga terasa amat berat.


“Abang gendong ya ke kamar mandi kalo gitu, gimana?” tutur Faris tetap tak menyerah.


Aisha sontak membuka matanya dan segera mendudukan dirinya. Namun rasa perih di pangkal pahanya membuatnya meringis kesakitan dan kembali merebahkan diri.


Faris sontak menatap wanitanya penuh kekhawatiran, lalu kembali menenggelamkan Aisha ke dalam pelukannya, menikmati ceruk leher jenjang nan menggoda itu agar sedikit meredakan perih yang dirasanya.


***


Bersambung ...

__ADS_1


Part ini spesial cuma adegan pasutri menggemaskan Faris dan Aisha yaa ...


Jangan lupa vote, like, and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...


__ADS_2