
Di keheningan malam, di tengah kesibukan kota dengan penduduknya yang masih berlalu lalang meski sang waktu sudah menunjukkan lewat dari tengah malam, sepasang manusia tampaknya masih betah bergelung di bawah selimut usai kegiatan panjang mereka yang agaknya sangat menguras emosi dan tenaga.
Drrrttt … drrrttt … drrttt
Wanita dalam dekapan pria itu tampak sedikit menggeliat dari tidur lelapnya begitu indra pendengarnya menangkap getar ponsel yang sepertinya berada tak jauh dari posisinya berbaring saat ini.
Tangan Aisha meraba-raba ke sekelilingnya, mencari-cari ponsel yang bergetar itu berniat untuk mematikannya. Namun seketika netranya membulat sempurna begitu kesadarannya sudah sepenuhnya kembali dan mendapati wajah sang suami yang saat ini tengah terlelap tepat di depan wajahnya, di ruangan yang sama, di atas ranjang sama, juga di bawah selimut yang sama seperti yang menutupi kepolosan tubuh mereka saat ini.
Hampir saja Aisha terpekik saat dirinya kembali dikejutkan dengan ingatan tentang kegiatannya beberapa saat lalu dengan pria yang saat ini masih berstatus sebagai suaminya.
Dengan segera Aisha meraih ponsel yang masih diisi dayanya di atas nakas yang entah siapa yang melakukannya.
“Allohu akbar!” Refleks satu tangan Aisha menutup mulutnya yang kembali terpekik tertahan saat mendapati puluhan panggilan tak terjawab dari kakaknya, ia baru ingat jika semalam ia pergi begitu saja dari kediaman Abbas setelah terjadi perdebatan di rumah itu.
Kini Aisha pun bingung apa yang harus dilakukannya, waktu menunjukkan pukul setengah dua dini hari waktu setempat, rasanya tak mungkin jika ia kembali terlelap bersama suaminya menunggu hingga pagi menyapa. Juga semakin tidak mungkin jika ia menghubungi sang kakak dan memberitahukan jika saat ini dirinya tengah bersama Faris di apartemen pria itu.
“Tenang Sha, tenang ….”
Aisha mencoba mengangkat kepalanya dan duduk bersandar di kepala ranjang dengan mencengkeram kuat selimut guna menutupi kepolosan tubuhnya. Ia mengatur napasnya sebaik mungkin sambil berusaha dengan keras menjernihkan pikirannya, berpikir dengan cepat apa yang harus dilakukannya kini.
Disentuhnya kening miliknya yang ternyata saat ini suhunya sudah tak setinggi sebelumnya, seketika senyumnya tertarik saat mengingat perkataan Faris sebelum akhirnya pria itu berhasil kembali menggauli dirinya, ‘Satu-satunya cara buat nyembuhin flu adalah dengan menularkan virus itu pada orang lain’, kalimat itu yang Aisha ingat sebelum akhirnya ia pun pasrah dibawah pesona suaminya.
Namun Aisha kembali terdiam dan menyadari kenyataan, dengan amat perlahan Aisha bergerak untuk bangkit dari atas pembaringan dan meraih pakaian untuk menutupi tubuhnya, namun sepertinya pakaiannya semalam yang sudah basah kuyup dan tak berbentuk lagi akibat penyerangan semalam tak bisa lagi Aisha kenakan untuk menutupi tubuhnya.
Dengan cepat netranya menyapu sekeliling, mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa menutupi tubuhnya. Dan pilihannya jatuh pada kemeja suaminya yang teronggok sembarangan di lantai kamar, seketika aroma maskulin yang dirindukannya menyeruak ke indra penciuman Aisha, aroma yang selalu membuatnya nyaman jika berada dalam dekapan sang pemilik kemeja.
Namun lagi-lagi Aisha berusaha menyadarkan pikirannya, sebelum Faris terbangun dan kembali menjadikan dirinya sebagai tawanan pria itu, dengan cepat Aisha meraih rok dan hijabnya lantas meraih pula ponselnya dan mengendap perlahan membuka pintu yang agaknya masih terkunci dengan sempurna, beruntung kunci tersebut masih menggantung di sana.
Begitu Aisha berhasil keluar dari kamar Faris, ia kembali dikejutkan dengan pemandangan seorang pria yang juga tengah terlelap di atas sofa di ruang tamu suaminya.
__ADS_1
“Sejak kapan Roger di sini?” gumam Aisha yang seketika langsung menutup mulutnya agar tak kembali terpekik saat mengingat kegiatannya di dalam kamar yang mungkin saja sudah didengar oleh Roger jika pria itu sejak semalam sudah berada di sini.
Dengan cepat Aisha segera berlari ke arah pintu sebelum akhirnya Roger juga terbangun karena menyadari kehadirannya.
Sampai di lobi apartemen Aisha masih berusaha menunggu taksi online yang dipesannya beberapa menit lalu, namun sepertinya akan sulit mendapatkan driver pada dini hari seperti ini, sejak tadi tanda pencarian di layar ponselnya hanya berputar-putar tanpa kepastian.
Aisha kembali berpikir keras, ia memutar otaknya dengan cara apa ia bisa kembali ke apartemen ibunya tanpa diketahui kakak dan ibunya juga suaminya.
“Apa aku minta tolong Roger buat anter?” Seketika Aisha kembali teringat dengan pria yang terlelap dengan nyaman di sofa ruang tamu suaminya.
“Ah masa Roger sih, nggak ah malu … gimana kalo Roger ternyata beneran denger semuanya? Mau ditaro dimana muka aku? Ah Abang ceroboh banget sih.”
Namun sepertinya tanda pencarian Aisha tak kunjung membuahkan hasil, membuat Aisha terpaksa memilih alternatif satu-satunya karena hanya Roger yang bisa ia mintai bantuan saat ini.
“Tenang Aisha … Roger pasti bakal nurutin permintaan kamu … Roger pasti akan patuh. Anggep nggak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.”
“Tenang … Roger bukan tipe orang yang suka nimbrung urusan orang lain, apalagi ini urusan pribadi Tuannya, tenang ….”
Dengan langkah gontai Aisha berjalan menyusuri lorong kamar apartemen Faris, dalam hati ia berdoa dengan kuat berharap Faris masih terlelap dan Roger pun akan membantu dirinya tanpa mengusik kejadian semalam yang mungkin saja sudah didengarnya.
“Ger ….” Perlahan Aisha berusaha mengguncang tubuh Roger yang masih terbaring.
“Ger bangun ….”
Dengan sigap Roger langsung menegakkan tubuhnya begitu melihat siapa yang mengusik tidurnya.
“Siap Nyonya,” ujarnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
“Suttt.” Aisha meletakkan telunjuknya membuat peringatan agar Roger tak terlalu bersuara.
__ADS_1
“Kamu bisa antar saya pulang?” tanya Aisha sedikit berbisik tanpa berani menatap pengawalnya.
“Pulang? Ta-tapi Nyonya ….” Roger menggantungkan kalimatnya seraya melirik arloji yang selalu bertengger di pergelangan tangannya.
“Ya udah saya pulang sendiri, biarin aja saya dijahatin orang nanti dijalan, biar kamu dapet hukuman dari Abang.” Aisha mengancam membuat Roger yang baru terkumpul nyawanya seketika bangkit untuk memenuhi permintaan Nyonya mudanya.
“Mari Nyonya,” ucap Roger setelah meraih jaket dan kunci mobilnya.
Aisha pun menyeringai puas karena pasalnya ancamannya berhasil membuat Roger tak berkutik.
“Tapi jangan bilang-bilang Abang ya Ger kalo saya pulang,” pinta Aisha saat mereka sudah berada dalam perjalanan pulang. Roger pun hanya mengangguk dari balik kemudinya.
Tak perlu waktu lama kini mobil yang dikendarai Roger sudah terparkir di di halaman apartemen yang Aisha tuduhkan, dengan mata yang masih terasa berat Roger kembali ke apartemen Tuannya berniat untuk melanjutkan kembali tidurnya yang sempat terganggu.
Namun seketika napasnya hampir saja putus saat dengan gagahnya sang Tuan muda melangkah keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah.
“Dari mana Ger?” tanya Faris yang entah tak tahu atau memang hanya berpura-pura.
“Em anu Tuan … maaf saya mengantarkan Nyonya pulang, beliau mengancam akan pulang sendiri jika saya tidak mau mengantarnya. Saya khawatir terjadi sesuatu jika membiarkan Nyonya pulang sendirian selarut ini Tuan.” Dengan cepat Roger menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tak peduli lagi dengan permintaan Aisha yang beberapa menit lalu memintanya untuk tidak memberitahukan hal ini pada Tuan mudanya.
“It’s okay santai aja. Makasih.” Faris berujar dengan santai sambil kembali melangkah ke kamarnya.
“Tuan tidak marah saya membantu Nyonya pulang?” tanya Roger menghadang langkah Tuannya.
Sedangkan yang ditanya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Biarkan dia pulang, wanitaku butuh istirahat,” ujarnya berlalu dari hadapan Roger, menyembunyikan senyumnya karena mengingat kegiatan panasnya semalam bersama wanita yang amat ia rindukan.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...