
Hari yang sangat cerah, dengan sinar mentari yang sudah cukup meninggi.
Faris mengerjapkan matanya saat merasa terpaan sinar matahari yang menembus dari celah jendela kamarnya menyapu wajah tampannya.
Dengan berusaha mengumpulkan kembali kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, ia mendudukan diri dengan bersandar pada headboard ranjang. Memandangi wanitanya yang masih terlelap dengan tenangnya.
Faris mengulas senyumnya, menarik selimut yang mulai menurun dari tubuh istrinya.
“Makasih ya Sayang,” bisik Faris meninggalkan kecupan pada kening cantik sang istri.
Faris mulai beranjak dari atas ranjang dengan perlahan agar tak mengusik tidur Aisha. Setelah selesai dengan ritual mandinya, Faris bergegas untuk turun ke bawah mencari makanan, mengisi perutnya yang mulai keroncongan. Mungkin energinya terkuras habis oleh kegiatannya bersama Aisha dari semalam juga pagi tadi.
“Selamat pagi, Bi Asih,” sapa Faris riang saat melihat Bi Asih masih sibuk di dapur.
“Eh pagi Tuan. Tumben bangun siang Tuan? Nggak biasanya bangun jam sembilan.”
“Efek cape Bi, dapet libur jadi langsung hajar hehe,” jawab Faris tersenyum kikuk.
“Hajar apanya Tuan?” Bi Asih terlihat terkejut dengan jawaban Faris.
“Hajar tidur maksudnya Bi, hehehe.”
Bi Asih hanya ber ‘oh’ ria tanpa bertanya lebih lanjut.
“Loh Nyonya kemana? Kok nggak ikut turun buat sarapan? Apa sedang tidak enak badan Tuan?” tanya Bi Asih celingukan karena tak melihat majikan wanitanya.
“Hehe nggak kok Bi, Aisha baik-baik aja. Biasa lagi manja, biar Faris aja yang bawa makanannya ke kamar.”
Bi Asih hanya menganggukan kepalanya lalu segera menyiapkan sarapan untuk kedua majikannya.
“Eh Bi, satu piring aja ya,” tutur Faris membuat Bi Asih mengembalikan satu piring di tangannya.
“Loh? Tuan nggak makan?”
“Maksudnya, satu piring tapi porsi berdua, hehe.”
“Emmm pengantin baru …,” tutur Bi Asih menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan tawanya.
***
Setelah membayar taksi yang Karina tumpangi, Azka melirik jam tangan kulit yang sepertinya harganya selangit yang melingkar di tangan kanannya.
“Astaghfirullah, udah hampir setengah tujuh. Aku belum solat.”
Ia segera melangkah bergegas menuju masjid yang terlihat di seberang jalan tak jauh dari rumah Karina.
Ia memilih berjalan kaki dan meninggalkan mobilnya yang masih terparkir di depan gerbang rumah Karina.
Di dalam sana, Karina tengah bersimpuh memeluk lututnya sambil sesenggukan di samping ranjang tidurnya.
__ADS_1
Mengingat kembali apa yang Azka katakan padanya hari ini, hingga ia lepas kendali dan mengungkapkan seluruh perasaannya. Perasaan yang sudah mati-matian berusaha ia simpan serapi mungkin di depan Azka.
Beberapa bulan lalu ia mengenal Azka, pria yang berhasil menjungkir balikan kehidupan seorang Karina. Pria yang ia mintai pertolongan saat mobilnya mogok di tepi jalan.
Awalnya perangai dingin dan cuek Azka begitu menyebalkan menurut Karina, hingga ia tahu bahwa ternyata pria itu adalah seorang ayah single parent. Membuat Karina penasaran dengan kehidupan pria itu.
Hingga Allah menakdirkannya untuk bertemu kembali dengan Azka di Rumah Sakit tempatnya praktek, dan membuatnya nekat menjadi ahli gizi pribadi untuk putranya.
Hari berganti minggu hingga berganti bulan, ada debar tak menentu saat ia terus berkutat dalam dunia Azka, debar yang berhasil mengalihkan Karina dari luka karena cintanya terhadap Faris ternyata tak berbalas.
Hingga hari demi hari, Azka mulai membuka jalan untuk Karina. . Membuat debar di dada Karina semakin bersorak gembira. Meskipun terkadang sikap manis Azka terlihat masih labil.
Karina masih belum bisa menyimpulkan alasan di balik sikap labil Azka. Hingga kejadian di mall bersama Faris dan Aisha waktu itu membuatnya cukup mengerti bahwa ternyata ada sesuatu yang tak biasa antara Azka dan Aisha, perempuan yang berhasil memiliki lelaki pujaannya.
Hal itu membuat Karina semakin bingung, sebenarnya ada apa antara Azka dan Aisha, dan bagaimana dengan mendiang istrinya Azka, ibu dari Rafa. Lalu bagaimana juga nasib perasaannya yang baru saja Azka katakan bahwa ternyata perasaannya terhadap Azka juga berbalas.
Karina melirik jam dinding yang terpasang di atas pintu kamarnya, ia lupa jika dirinya belum melaksanakan solat maghrib. Ia bangkit dari duduknya dan memilih untuk mengadukan semuanya pada Penciptanya, mungkin belakangan ini ibadahnya menurun hingga ia merasa hatinya bisa sekacau ini.
***
Faris kembali beranjak ke kamar membawa makanan untuk Aisha. Ia harus membangunkan istrinya karena matahari sudah semakin meninggi.
Perlahan ia buka pintu kamar yang tak terkunci, terlihat tubuh mungil istrinya masih meringkuk di bawah selimut yang menutupinya.
Faris menatap istrinya heran, pasalnya sejak dirinya keluar hingga ia kembali lagi, Aisha masih tetap dengan posisinya, tak ada yang berubah sedikit pun.
“Beneran cape ya Sayang?” gumam Faris meletakkan makanannya di atas nakas.
“Emh,” Aisha hanya menjawabnya dengan deheman yang terdengar mengalun manja di telinga Faris tanpa membuka matanya, justru semakin mengeratkan selimut yang menutupinya.
“Sayang, bangun dulu yuk. Kita sarapan, terus jalan-jalan. Apa mau di kamar aja nih seharian?”
“Emh.”
Tetap tak ada jawaban, lagi-lagi hanya sebuah deheman yang ia dapatkan. Faris tetap tak menyerah.
“Hah iya? Beneran nih mau di kamar aja? Kalo Abang sih selalu siap buat ….”
“Abang!” teriak Aisha memotong kalimat Faris, lalu segera mendudukan dirinya dengan bersandar pada headboard ranjang. Mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.
Aisha kembali memejamkan matanya dalam duduknya, membuat Faris semakin gemas dan gencar untuk menggodanya.
“Sayang.” Sebuah kecupan hangat mendarat di puncak kepala Aisha, membuat sang empunya sontak membuka netranya, namun tetap tak ada respon.
Kecupan Faris menurun dan berakhir dengan memagut bibir wanitanya yang terlihat masih membengkak karena ulahnya sejak semalam.
Sontak Aisha membulatkan netranya dan menahan dada bidang suaminya.
“Mau lagi hem?” tanya Faris mengulas senyumnya.
__ADS_1
“Abang! belum kenyang juga udah semaleman? Nyampe pagi lagi malahan,” tutur Aisha menyebikkan bibirnya, lalu menaikan selimutnya hingga sebatas lehernya.
Sontak tawa Faris pecah melihat reaksi menggemaskan dari wanitanya.
“Makanya bangun dulu.” Faris merapikan rambut indah istrinya yang sedikit berantakan karena tidurnya.
“Iya Abang bawel, ini udah bangun,” jawab Aisha mengecup sekilas pipi kanan dan kiri Faris bergantian.
“Buka mulutnya Sayang, aaa ….” Faris mulai menyendokkan makanan ke mulut istrinya juga ke mulutnya sendiri.
“Loh kok cuma satu piring Bang?”
“Emang Ica kalo makan sebanyak apa? Nggak cukup satu piring? Ya udah nggak apa-apa Abang yang nggak makan,” tutur Faris dengan gaya mengalah.
“Ih Abang mau Ica gendut?”
“Emangnya kenapa kalo gendut? Masih tetep cantik kan?” goda Faris membuat Aisha menatapnya tajam.
“Terus kalo udah nggak cantik mau nyari yang lain gitu? Yang lebih cantik?”
“Ngomong apa sih Sayang? Percuma kalo cantik tapi hatinya nggak sefrekuensi. Bagi Abang, fisik itu bukan indikator utama buat mencintai Ica.”
“Terus,” tanya Aisha sambil mengunyah makanannya.
“Ica itu udah luar biasa, cantiknya luar dalam.”
“Aduh Bang …,” rintih Aisha memegangi kepalanya, membuat Faris seketika panik dan langsung meletakan makanannya.
“Kenapa Sayang? Apa yang sakit?”
“Pegangin Ica biar nggak terbang, hahaha ….” sontak tawa keduanya pecah memenuhi seisi ruangan.
“Ya udah cepetan mandi Sayang, apa mau Abang gendong lagi?”
“Nanti dulu Abang, Ica mau ngumpulin tenaga dulu. Abang nggak cape apa?” tanya Aisha memejamkan matanya.
Faris menangkup wajah Aisha dengan kedua tangannya.
“Kalo buat Ica, Abang nggak ada capenya. Ayo mau ulang lagi?” tutur Faris semangat.
Satu cubitan mendarat di pinggang Faris, membuat sang empunya meringis kesakitan seraya mengusap-usap bekasnya.
“Abang mau bikin Ica nggak bisa jalan?” tanya Aisha membulatkan netranya sempurna.
“Makanya ayo cepetan mandi, katanya mau jalan-jalan.”
Faris beranjak dari duduknya, menyelipkan tangannya di bawah lutut dan punggung Aisha, lalu segera mengangkatnya menuju ke kamar mandi. Membuat Aisha sontak menjerit dan mengalungkan tangannya pada leher sang suami.
***
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...