
Gus Hasan sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur, bahkan sinar lampu di ruangan itu sudah berganti dengan lampu tidur yang remang-remang.
Tapi tetap saja netranya belum bisa terpejam, ia masih kepikiran mengenai ponsel yang ia temukan milik gadis yang sudah membantunya dua kali.
Kemana harus ia kembalikan ponsel itu karena layarnya yang terkunci membuatnya tidak bisa menghubungi salah satu kontak di dalamnya.
Tring, notifikasi pesan masuk membuat Gus Hasan tak bisa untuk tak melihatnya. Barangkali ia bisa meminta bantuan pada orang itu, pikirnya.
“Baby.” Tertulis nama ‘Brandon’ yang mengirim pesan.
Gus Hasan tersenyum getir kala melihat isi pesan tersebut, rupanya gadis itu sudah memiliki kekasih.
Ia meletakkan kembali ponsel itu, percuma ia tak bisa membalas pesannya.
“Answer my text beb.” Lagi-lagi pesan masuk dari orang yang sama, namun tetap Gus Hasan tak membalasnya.
Tak selang beberapa lama ponsel itu berdering, sebuah panggilan masuk tertulis dari orang yang sama dengan yang tadi mengirim pesan.
“Hallo Assalamualaikum,” sapa Gus Hasan saat menggeser tombol hijau di layar ponsel itu.
“Who are you? Where’s Aiyla?” jawab seseorang dari seberang.
“Sorry, I found this phone earlier on the Bosphorus bridge. I don’t know whose it.”
“That’s my girlfriend’s phone.” Benar dugaan Gus Hasan, pria ini kekasih gadis itu.
“Oh okay, where should I back this phone?”
”Give me your address, I will meet you.”
“We can meet on the Bosphorus bridge tomorrow, at 5 pm.”
“Okay.” Tut … panggilan diputus.
“Rupanya gadis itu bernama Aiyla. Nama yang cantik seperti pemiliknya.”
Gus Hasan kembali merebahkan dirinya, ia mencoba kembali memejamkan netranya.
***
Sepulang dari kantor, Azka melangkah masuk ke rumah dengan terburu-buru, berharap Karina akan tetap professional dengan pekerjaannya meski kini hubungan mereka bias dianggap sedang tidak baik-baik saja.
Azka segera bergegas ke kamar Rafa setelah lebih dulu bertanya pada asisten rumah tangganya apakah Karina datang atau tidak.
Azka bernapas lega saat ia melangkah ke arah kamar Rafa dan melihat Karina yang tengah memberikan vitamin pada putranya.
Karina yang menyadari kedatangan Azka segera beranjak setelah meletakkan Rafa kembali di ranjang bayinya.
__ADS_1
Baru beberapa langkah lengannya dicekal oleh Azka.
“Jangan marah lagi,” tutur Azka dengan tangannya yang terangkat hendak mengelus puncak kepala Karina yang tak berhijab.
Belum tangan kokoh Azka menyentuh puncak kepala Karina, gadis itu memundurkan langkahnya.
“Sebenernya yang kayak anak kecil siapa sih? Sikap manis kamu bikin aku bingung. Semuanya seperti harapan palsu yang takut aku rasakan.”
Azka menarik kembali tangannya yang *** hendak terulur, ia bergerak canggung. Membenarkan ucapan Karina.
Benar dia sudah bersikap labil, kadang dingin kadang merasa sangat peduli pada Karina. Tanpa disadari dia sudah mempermainkan perasaan Karina.
Azka mengaku salah dan akhirnya beranjak keluar tanpa sepatah kata yang terucap, membuat Karina semakin tak habis pikir dengan kelabilan Azka.
***
Gagal dengan usaha sebelumnya, Aisha tak pantang menyerah untuk kembali mendapat maaf dari suaminya, menurutnya di sini memang posisinya dia yang salah.
Aisha segera bergegas ke arah bagasi saat Faris tampak kembali ke kamar mereka, mungkin mengambil sesuatu yang tertinggal, pikirnya.
“Nyonya mau kemana? Mau saya antar?” tanya seorang sopir yang sudah bersiaga di depan mobil.
“Oh nggak usah Pak, saya mau pergi sama Tuan kok,” jawab Aisha sopan yang segera diangguki oleh sopirnya.
Aisha segera bersiap di depan Range Rover Sport putih yang biasa dikendarai suaminya.
“Baju udah oke, make up oke juga.” Aisha berulang kali mematut dirinya di depan kaca mobil.
“Ica lagi ngapain?” Faris keluar dari dalam rumah dengan menenteng jas dokter dan tas kerjanya.
“Eh Abang, ayo berangkat bareng,” ajak Aisha semakin memperlebar senyumnya.
“Ica mau ikut ke Rumah Sakit?”
“Mau nemenin Abang,” jawab Aisha dengan percaya dirinya.
“Pendekatan 30 detik, duduk di sebelahnya, mengingatkannya untuk memakai sabuk pengaman, kemudian meminta maaf.”
“Beneran?” tanya Faris yang langsung diangguki Aisha dengan semangat.
“Oke, Ica yang nyetir,” tutur Faris dengan seringainya.
“Hah? Ica yang nyetir mobil?” Aisha benar-benar terkejut dengan jawaban Faris.
“Di CV Ica tertulis kalo Ica punya SIM A kan?”
“Iya emang bener Ica punya SIM A, ta-tapi setelah punya SIM Ica belum ….” Kalimat Aisha terpotong karena Faris yang lebih dulu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
“Duh gimana nih? Aku kan belum pernah nyetir mobil sebelumnya.” Aisha merutuki kebodohannya sendiri.
“Ayo Ca cepetan! Kita udah terlambat nih,” seru Faris dari dalam mobil.
“Ah i-iya Bang.”
Aisha duduk di kursi kemudi dengan perasaan tak karuan, ia bingung apa yang harus dilakukannya. Untung saja Aisha sering main game balapan mobil di ponselnya, setidaknya itu akan sedikit membantu.
Terlihat Faris yang duduk di kursi penumpang tampak menahan senyumnya melihat reaksi istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan.
Aisha mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukannya perlahan dengan kecepatan yang masih stabil.
“Ica hati-hati!” Faris mengingatkan Aisha dengan dirinya yang sudah memegangi pegangan mobil dengan erat karena laju mobil yang mulai tak stabil.
“Awas Ca hati-hati. Coba buat lebih stabil!” Faris kembali berteriak karena mobil yang Aisha kendarai mulai tak terkendali.
“Iya iya Ica tau kok!” Aisha menjawab dengan sama paniknya.
“Jangan deket-deket!” lagi-lagi Faris berteriak saat mobil yang ditumpanginya hamper menabrak mobil di depannya.
“Ca Abang kan udah bilang coba lebih stabil.” Faris mulai menarik seatbelt nya.
“Iya Abang, Ica tau!”
Berkali-kali Faris dibuat terpental ke kanan dan kiri karena laju mobil yang benar-benar tak seimbang.
“Ca pelan-pelan! Kurangi kecepatan.”
“Awas!” Faris berteriak karena mobil hampir saja menabrak kendaraan lain yang tengah terparkir di halaman Rumah Sakit.
Untung saja Faris gerak cepat dengan segera mengambil alih kemudi dan menginjak rem sekuat mungkin.
“Ica!” teriak Faris dengan membulatkan netranya saat mobil telah benar-benar berhenti.
Aisha hanya memperlebar senyumnya, menampilkan deretan gigi rapinya saat menanggapi Faris yang terlihat amat tersiksa di kursi penumpang karena ulahnya.
Faris segera keluar dengan tubuh yang sempoyangan tak stabil, berjongkok dan langsung mengeluarkan isi perutnya. Rasanya perutnya benar-benar seperti dikocok-kocok, dia mabuk.
“Abang … Abang baik-baik aja?” Aisha segera turun dari mobil mengikuti suaminya, memberikan air mineral sambil sesekali memijat pelan tengkuk lehernya.
“Nona Aisha! Anda benar-benar punya SIM?” tanya Faris dengan tatapan menyelidiknya.
“Ica punya kok. Tapi setelah dapet SIM, ini pertama kalinya Ica nyetir,” jawab Aisha polos.
“Aduh.” Menepuk jidatnya sendiri, tampak ia menghembuskan napasnya panjang, menyesali penawarannya untuk Aisha menyetir.
***
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa vote, like and coment buat nyemaangatin author ya readers tersayang ...