Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Kecolongan


__ADS_3

“Ica tenang ya, Abang akan hadapi mereka semua. Segera hubungi Pak Toni, sembunyiin bukti ini, Abang khawatir ini ada hubungannya dengan bukti yang kita bawa. Setelah Abang keluar, Ica langsung kunci pintunya ya, jangan kemana-mana, Abang pasti bisa hadapi mereka! Abang sayang sama Ica,” tutur Faris beruntun seraya menggenggam erat tangan Aisha yang terasa sangat dingin karena ketakutan.


Netranya fokus pada pria-pria berbadan kekar yang mengepung mobilnya, lalu ia segera keluar setelah lebih dulu mengecup sekilas kening sang istri yang terlihat sangat panik.


Saat ini tak ada yang bisa dilakukan Aisha kecuali berdoa dan mengikuti pesan sang suami. Meski dengan tangan bergetar, ia mencoba mengoperasikan ponselnya untuk menghubungi Pak Toni.


Dengan cemas Aisha memperhatikan sang suami yang justru terlihat tenang menghadapi pria-pria misterius yang menyerangnya.


Faris menajamkan netranya, mengatur strategi untuk penyerangan. Namun karena Faris kalah jumlah dengan mereka, sebuah pukulan dan tendangan berhasil mendarat sempurna pada perut dan wajahnya dengan cepat, membuatnya terhuyung hingga terpental ke badan mobil.


Sontak Aisha menjerit histeris dari dalam mobil, hatinya sakit melihat darah segar mengalir dari ujung bibir suaminya.


“Siapa sebenarnya kalian? Siapa yang menyuruh kalian menyerang saya?” teriak Faris mengelap darah yang mengalir dari ujung bibirnya.


Bukan mendapat jawaban, justru serangan secara bersamaan yang mereka berikan, membuat Faris benar-benar kewalahan. Hingga sebuah serangan dari belakang berhasil membuat Faris tersungkur dan dua orang dengan cepat mencekal lengan kanan dan kiri Faris, membuatnya benar-benar tak bisa berkutik.


Setelah berhasil melumpuhkan Faris, tak jarang serangan-serangan mereka luncurkan pada perut dan wajah Faris yang mulai bercucuran darah.


Aisha sudah membungkam mulutnya sendiri menahan sesak dan isakan saat menyaksikan penyerangan itu tepat di depan matanya, ia tak bisa hanya berdiam diri menunggu bantuan datang, sedangkan keselamatan suaminya saat ini benar-benar sedang dipertaruhkan.


Dengan keberanian yang entah Aisha dapatkan dari mana, ia keluar dari mobil, melemparkan dengan keras kedua high heelsnya hingga mengenai kepala para pria yang sedang mencekal suaminya. Baginya biarlah ia terluka asal suaminya baik-baik saja.


Mereka meringis kesakitan, memudahkan Faris untuk melepaskan diri dan kembali memberikan penyerangan.


“Sayang, cepetan masuk mobil!” teriak Faris di tengah penyerangannya, dua orang yang hendak menyerang Aisha untunglah berhasil Faris lumpuhkan.


Tanpa diduga, seseorang berpakaian rapi yang tiba-tiba muncul dari balik mobil mencekal lengan Aisha dan menodongkan pisau tepat di depan leher Aisha.


“Ica!” teriak Faris hendak berlari, namun dua orang kembali mencekal lengannya dan menghujaminya dengan beberapa serangan.


“Jadi kamu, Faris Zein Abdullah yang selalu istriku idam-idamkan?” ucap pria yang mencekal Aisha.


“Siapa kamu? Aku nggak kenal istri kamu!” teriak Faris meronta-ronta.


“Sofia Adijaya! Benar kamu nggak kenal dia?” teriak pria yang Faris yakini sebagai Wirawan Adijaya, pewaris Adijaya Group.


Benar dugaan Faris, penyerangan kali ini ada hubungannya dengan bukti yang tengah ia bawa. Ternyata Sofia menantu dari keluarga Adijaya.


“Lalu apa salahku? Aku bahkan nggak pernah sekalipun berhubungan dengan istrimu, Wirawan Adijaya!” teriak Faris tak kalah sarkas.


“Oh ternyata aku cukup terkenal hingga pewaris tunggal Abdullah yang terhormat mengetahui namaku.” Pria itu tersenyum sinis tanpa menjauhkan pisaunya dari leher Aisha.


Faris hanya tersenyum miring mendengar jawaban Wirawan


“Kamu mau tau apa salahmu Tuan Faris? Salahmu karena telah hadir di dunia ini!” teriak Wirawan dengan keras seraya menatap Faris tajam.


“Dan kamu manis, kamu harus tau bahwa mungkin di luaran sana selain Sofia, masih banyak wanita-wanita lain yang tergila-gila pada suami sempurnamu itu!” bisik Wirawan mempererat lengannya pada leher Aisha, lalu sejurus kemudian menggores dagu Aisha dengan pisau yang dibawanya.


“Brengsek kamu Wirawan! Sekali lagi kamu memberi luka untuknya, ku bunuh kamu Bajingan!” teriak Faris berusaha terus meronta.


“Diam kamu Faris! Atau kupotong lehernya!”


“Kurang ajar! Berani kamu melakukan itu, kamu mati ditanganku!” Emosi Faris benar-benar sudah di ubun-ubun.


“Hajar dia!” teriak Wirawan pada anak buahnya. Dan benar saja, bertubi-tubi serangan menghujami Faris, membuatnya benar-benar tak berdaya.

__ADS_1


“Lepaskan dia! Dia tidak ada hubungannya dengan kecemburuanmu!” teriak Faris berusaha menghindari serangan-serangan untuknya.


“Ya Allah, selamatkan istriku. Pak Toni kalian dimana, cepatlah! Selamatkan Ica!”


Luka di sekujur tubuh Faris tak ia rasa, saat ini hanya Aisha yang ia khawatirkan. Hatinya turut sakit merasakan semua kesakitan istrinya. Mengapa Aisha harus ikut terluka, seharusnya tadi ia biarkan Aisha diam di rumah saja.


“Sayang, tolong bertahan!” lirih Faris menatap ke arah istrinya.


Aisha bahkan sama sekali tak menjerit, ia hanya memejamkan matanya dengan parit yang sudah sejak tadi terbentuk dari ujungnya, bercampur dengan darah segar yang terus menetes dari dagunya.


“Ya Allah, selamatkan suamiku.” Hanya itu yang Aisha pinta dalam doanya.


***


Tok … tok …


“Permisi Tuan, ada Mba Karina di bawah,” ujar Bi Surti dari depan pintu ruang kerja Azka yang tak tertutup.


Azka mengernyit, biasanya Karina akan langsung ke kamar Rafa tanpa meminta izinnya lebih dulu.


Azka beranjak dari depan laptopnya, menuruni anak tangga mengikuti langkah asisten rumah tangganya. Bi Surti segera melangkah menuju dapur, mungkin menyiapkan suguhan untuk keduanya.


Karina bangkit dari duduknya saat melihat Azka di anak tangga terakhir tengah melangkah ke arahnya, senyumnya melebar.


“Tumben? Biasanya langsung ke kamar Rafa,” tanya Azka mendudukan diri di sofa seberang Karina.


“Apa kabar?” Justru kalimat itu yang keluar dari mulut Karina, membuat kecanggungan seketika merayap.


Memang sejak hari itu mereka tak pernah berkomunikasi maupun bertatap muka. Karina hanya datang untuk mengecek Rafa, itupun ketika Azka tengah bekerja. Dan kembali sebelum Azka pulang.


“Aku baik,” jawab Karina seraya membantu Bi Surti menghidangkan beberapa minuman untuk mereka.


“Aku ke sini untuk berpamitan,” ujar Karina saat Bi Surti sudah menghilang di balik tembok pemisah antara ruang tamu dan dapur.


“Kamu mau kemana?” tanya Azka terkejut dengan penuturan Karina yang tiba-tiba.


“Aku mau resign. Sepertinya keadaan Rafa juga sudah stabil, aku akan kembali ke Rumah Sakit,” jawab Karina mengambil minumannya.


Keputusan Karina sudah bulat, ia hanya ingin menjaga jarak dengan Azka untuk memberinya ruang. Berharap Azka akan merasa kehilangan karena kepergiannya, agar ia bisa benar-benar memutuskan untuk tetap bertahan atau justru mengikhlaskan.


“Bagaimana jika Rafa membutuhkanmu?” terselip nada khawatir dalam tanyanya. Sebenarnya bukan Rafa, tapi dirinya.


 “Kamu bisa ke Rumah Sakit menemuiku, atau mungkin mencari penggantiku.”


“Rafa tidak akan semudah itu beradaptasi Karin.”


“Aku cukup senggang di Rumah Sakit, nggak terlalu padet,” jawab Karina tetap pada keputusannya.


“Tapi kenapa? Kenapa seperti ini tiba-tiba? Bukankah hari itu kamu yang mengatakan akan bertahan? Lalu kenapa sekarang tiba-tiba kamu seperti menghindariku?”


Karina tersenyum tipis, rasanya bahagia menggelitik hatinya kala mendengar rentetan pertanyaan yang Azka lontarkan.


“Karena itu aku ingin memulai semuanya dari awal. Selama ini semuanya hanya karena sebuah kebetulan. Sekarang biarlah semuanya mengalir dengan sendirinya.”


“Baiklah jika itu keputusanmu, aku nggak bisa menahanmu untuk tetap tinggal. Kapanpun kamu pengen ketemu Rafa, pintu rumah ini selalu terbuka,” tutur Azka mengakhirinya dengan senyuman.

__ADS_1


***


 Dorrr! Dorr! Dorr!


Suara tembakan di udara menghentikan semua pergerakan mereka. Tak berapa lama, akhirnya Pak Toni datang bersama white evil dan segera melakukan penyerangan pada orang-orang suruhan Wirawan.


White evil adalah pasukan khusus yang mengabdi pada keluarga Abdullah, dan hanya dikerahkan untuk mengatasi penyerangan-penyerangan besar seperti ini.


Ketika semuanya panik, Aisha segera menggigit lengan Wirawan yang membelit lehernya dan memukul perutnya dengan siku. Hingga ia benar-benar bisa terlepas dari kungkungan Wirawan.


“Shit! Ada beberapa sniper tersembunyi mengincar kita! Segera keluar!” ucap Wirawan melalui alat komunikasi di telinganya.


Benar saja, beberapa orang berpakaian serba hitam berdatangan mengepung pihak Faris.


“Cepat bergerak lindungi VIP!” Pak Toni berteriak melalui alat komunikasi yang sama seperti milik Wirawan, VIP yang dimaksud adalah Faris dan Aisha.


Faris yang sudah benar-benar tersulut emosi membabi buta, tendangan dan pukulan beberapa kali ia layangkan hingga ia bisa terlepas dari cengkeraman orang-orang Wirawan dan berhasil melumpuhkannya.


“Ayo Nyonya, kita kembali ke mobil!” ajak salah satu personil white evil suruhan suaminya.


Sementara Pak Toni dan white evil yang lainnya masih berusaha melumpuhkan pasukan Wirawan.


Tapi Aisha seketika berbalik saat melihat Wirawan yang hendak menarik pelatuk pistolnya ke arah suaminya, sontak tak ada yang menyadari serangan Wirawan karena ricuhnya baku hantam yang terjadi.


Tanpa pikir panjang, Aisha berlari untuk menggagalkan peluru itu menembus tubuh suaminya.


Dorr! Dorr!


Dan benar saja setelah peluru itu berhasil melayang, Aisha merasakan sakit pada lengan atasnya, darah segar sudah mengucur dari sana. Aisha terkena tembakan tepat pada lengan kirinya.


Tangannya bergetar mengusap darah yang mengucur begitu saja, seketika tubuhnya ambruk ke tanah, tubuh mungilnya tak begitu kuat menahan tembusan peluru yang bersarang di lengannya.


Ternyata seperti ini kehidupan para konglomerat, bahkan pistol yang tidak boleh dimiliki oleh warga sipil biasa pun mereka punya dan dengan bebas mengoperasikannya.


“Kita kecolongan, VIP terluka!” teriak pengawal yang menjaga Aisha.


Faris yang mendengar teriakan itu dari alat pendengar di telinganya yang baru saja ia pasang sontak menghentikan pergerakannya.


“Icaaa!” teriak Faris berlari ke arah istrinya.


Faris segera terduduk memangku kepala Aisha yang sudah tak sadarkan diri dengan lengan yang bersimbah darah, tangannya bergetar meraih wajah manis yang sudah tak sadarkan diri, lalu sejurus kemudian ia rengkuh tubuh mungil itu kuat-kuat dengan isakan yang tertahan.


“Ica, bangun Sayang. Ica, Sayang,” ucap Faris mengusap-ngusap pelan wajah Aisha, berharap ia akan membuka mata.


“Cepat kejar mereka! Jangan sampai lolos! Kerahkan semua sniper!” perintah Faris saat melihat Wirawan dan pasukannya hendak melarikan diri. Emosinya benar-benar sudah memuncak, terlihat dari tangannya yang sejak tadi sudah mengepal memperlihatkan keberadaan urat-urat kekarnya yang mulai menghijau.


“Maafin Abang, Sayang. Nggak seharusnya Ica terlibat dengan semua ini,” rintih Farisbeberapa kali mengecupi wajah Aisha dengan air mata yang turut menderas.


Melihat Aisha bersimbah darah tak sadarkan diri membuat Faris benar-benar tersulut emosi. Hatinya turut sakit menyaksikan Aisha mengalami semua kesakitan ini.


***


Bersambung ...


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


 


__ADS_2