
Tiga hari terhitung sejak kepergian Azka ke Singapore membuat Karina lebih banyak termenung.
Seperti malam ini yang sudah menunjukan pukul sepuluh malam, Rafa pun sudah tertidur pulas di ranjang Karina, tapi tidak dengan Karina. Ia masih terjaga dengan pikiran yang mulai berkelana.
“Non Karin lagi kangen sama Papanya dede Rafa ya?”
Sore tadi Bi Inah, asisten rumah tangganya bahkan sampai bertanya seperti itu ketika melihat dirinya bertopang dagu di atas mini bar yang ada di dapurnya.
“Apa iya gue keliatan banget lagi mikirin Azka? Sekronis itu ya bucin gue sama dia?” gumam Karina lesu, tapi memang beberapa hari ini ia merasa kurang semangat mengerjakan apapun sejak Azka pergi, rasanya sepi.
Mata Karina membulat sempurna saat ponselnya berdering oleh panggilan masuk dari Azka. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Karina bahkan sampai berjingkrak-jingkrak seperti anak kecil yang memenangkan undian saking bahagianya.
Ia segera mengangkat telepon sambil berjalan ke arah balkon, khawatir suaranya nanti akan membangunkan Rafa yang menurutnya lumayan agak susah untuk menidurkannya.
Karina sontak membenahi tampilannya saat Azka tiba-tiba mengubah panggilan suara menjadi panggilan video, netranya seketika berbinar saat sosok yang tengah memenuhi kepalanya saat ini muncul di layar ponselnya.
“Malem-malem gini kok makan sih?” tanya Karina yang melihat Azka tengah menggigit rotinya.
“Meeting hari ini padet banget sih, tadi mau makan di luar nggak mood, mau delivery juga lagi males makan junkfood, ya udah makan yang ada deh di hotel.”
“Inget umur, nanti kolesterol nambah tuh malem-malem gini,” sindir Karina membuat Azka sontak tergelak.
“Rotinya aku pilih yang low fat dong. Tenang aja Bu dokter, meski makan malem-malem nggak bakal ngurangin kegantengan calon suamimu ini kok,” goda Azka membuat Karina memalingkan wajahnya yang sudah merona.
“Yey ngebucin mulu,” ujar Karina kembali dengan mode judesnya, membuat Azka semakin tertantang untuk segera menghalalkannya.
“Eh Rafa mana?” Azka yang sudah menyelesaikan tawanya baru menyadari jika sejak tadi ia tak melihat putranya.
Karina langsung mengarahkan kamera pada Rafa yang sudah tertidur dengan pulasnya di ranjang tidurnya.
“Loh Rafa tidur sama kamu?”
“Iyalah, emang aku ada tampang-tampang ibu tiri yang kejam?”
“Cie yang udah ngebet pengen jadi ibu tiri.” Lagi-lagi Azka gemar sekali menggoda Karina.
“Kamu kapan balik?” Karina mencoba mengalihkan pembicaraannya.
Di sebrang sana Azka tengah terkejut oleh pesan email yang tiba-tiba masuk ke ponselnya hingga tak menyadari pertanyaan Karina.
“Azka?” panggil Karina lagi saat melihat air muka Azka yang tiba-tiba berubah.
“Ah iya gimana?”
“Kamu kapan balik?” ulang Karina.
__ADS_1
“Oh mungkin sekitar tiga atau empat harian lagi gitu. Em aku tutup dulu ya teleponnya? Aku lupa ada sesuatu yang harus aku kerjain.”
“It's oke, kamu hati-hati di sana.” Karina menyetujui permintaan Azka.
“Ok siap, kamu baik-baik ya di rumah. Nitip Rafa juga. See you, Bye. Assalamualaikum.”
Azka langsung menutup telepon setelah mendapat jawaban dari Karina.
Dengan penasaran Azka segera membuka inbox pada akun emailnya, dari orang yang sama seperti yang mengirimkan foto Aisha ketika tertembak. Tapi siapa? Hanya itu yang memenuhi kepala Azka.
***
Hari pertama di Cappadocia, Turkey. Pagi itu Faris dan Aisha melaksanakan solat berjamaah subuh di resort, tidak seperti biasanya jika di komplek rumah Faris pasti selalu solat berjamaah di masjid.
Setelah mengaminkan doa sang suami, Aisha bergegas meraih punggung tangan Faris, menciumnya takdim mencari kebarokahan dan ridho suami. Lantas Faris akan langsung mengecup kening Aisha untuk membacakan doa kebaikan seperti biasanya.
Aisha beringsut dari duduknya untuk menyandarkan kepalanya ke pelukan suaminya, tanpa melepas terlebih dahulu mukenanya, begitupun dengan Faris yang masih lengkap dengan setelan baju koko dan sarungnya.
“Mau dibacain surah apa?” tanya Faris membenarkan posisinya senyaman mungkin.
“Ar-rahman deh.”
Faris tersenyum, setiap selesai solat berjamaah ia memang selalu membacakan al-qur'an untuk istrinya yang sudah dalam dekapannya, itung-itung murojaah di tengah kesibukannya. Dan Aisha pasti selalu meminta surah Ar-Rahman untuk dibacanya.
Dengan tartil Faris membacakan surah Ar-Rahman yang mengalun indah hingga membuat hati Aisha berdesir di setiap ayatnya.
Hingga ayat terakhir dari tujuh puluh delapan ayat selesai Faris lantunkan Aisha masih setia mendengarkannya, sesekali ia mengusap sudut netranya yang terasa basah dengan ujung mukena.
Faris menunduk untuk mendaratkan kecupannya.
“Ica adalah karunia Ar-Rahman terindah buat Abang, jadi jangan ke mana-mana ya, karena Abang nggak akan sanggup jalanin semuanya tanpa Ica.”
Berkali-kali Faris mengecup tangan mulus dalam genggamannya, bahkan Aisha bisa merasakan ada embun hangat yang turut luruh di punggung tangannya.
Mungkin kalimat yang Faris lontarkan itu akan terdengar sedikit berlebihan bagi mereka yang belum ada ikatan pernikahan, tapi untuk mereka yang sudah halal, kalimat itu benar-benar mengalun indah tanpa keraguan, dan justru akan semakin menambah keharmonisan yang akan membuat dosa-dosa berguguran.
“Kita hari ini kemana Bang?” tanya Aisha mendongak.
“Em Abang sih gimana Ica, pengennya kemana dulu?”
“Ica kok masih agak cape ya Bang, boleh nggak kalo hari ini kita istirahat aja?”
‘Yes! Mujarab banget ya ternyata surah Ar-Rahman. Bini gue jadi makin lengket nih'
Dalam hati Faris sudah bersorak kegirangan mendengar penuturan sang istri.
__ADS_1
“Boleh dong Sayang, Ica mau minta bintang pun Abang ambilin sekarang juga.”
“Masa?” tanya Aisha yang segera diangguki Faris dengan semangat.
Tiba-tiba Aisha bangkit membenarkan posisinya.
Entah keberanian dari mana Aisha kini sudah mengalungkan tangannya ke leher Faris.
“Kalo Ica minta Abang buka puasa sekarang juga, bisa?” bisik Aisha mengerlingkan netranya, terdengar sangat indah mengalun di telinga Faris.
Aisha menatap intens suaminya yang tampak sedikit terkejut dengan perlakuannya, bahkan tangan yang mengalung di leher Faris kini sudah naik turun mengelus aktif memberikan gerakan-gerakan seduktifnya di sana, membuat tubuh Faris seperti tersengat listrik seketika.
Faris kini paham kemana arah pembicaraan istrinya.
“Your wish is my command, Baby,” bisik Faris dengan suara seraknya.
Ia lantas segera menggiring sang istri menuju ke pembaringan setelah lebih dulu membantu Aisha melepas mukenanya, begitupun dengan setelan sarung dan koko yang dikenakannya.
Dengan sangat lembut tangan Faris sudah aktif bergerilya ke sana kemari, menyentuh setiap inci yang harus disentuh, sangat lembut seperti khawatir akan melukai kulit mulus nan lembut milik istrinya itu.
“Bismillahi, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.”
Dengan segenap kerinduan yang membuncah, akhirnya penyatuan itupun terjadi, dan Faris berhasil melepas dahaga setelah kurang lebih dua minggu berpuasa, terhitung sejak Aisha datang bulan hingga mereka langsung terbang Haramain.
“Makasih ya Sayang,” bisik Faris lembut, tatapannya menghangat membuat Aisha terkesima seketika. Aisha hanya tersenyum lantas mengangguk sembari mengatur napasnya yang masih terengah-engah.
“Capek?” tanya Faris membelai lembut rambut Aisha yang terurai. Ditatapnya lamat-lamat wajah istrinya semakin mempesona dalam keadaan seperti itu, membuat Faris selalu jatuh cinta setiap saatnya.
Dengan cepat Aisha menggelengkan kepala dengan wajah yang sudah merona menanggapi pertanyaan suaminya.
“Jadi, lagi ya?” goda Faris meminta izin untuk ronde berikutnya.
Dan akhirnya penyatuan itu kembali terjadi, lagi dan lagi. Entah berapa kali mereka melakukannya pagi itu, namun tak ada lelah yang mendera sedikit pun, justru Faris dan Aisha merasa hilang semua kepenatan.
Hingga mentari semakin meninggi, mereka masih betah bergumul di bawah selimut pagi ini, dengan irama yang tentunya tak saling bersahutan lagi, melainkan saling beriringan penuh harmoni.
***
Yey akhirnya ada yang tegak tapi bukan keadilan🤭🤭🤭
Kalo gitu namanya bukan pengen istirahat dong maemunahhh 🤣🤣🤣
Tapi Babang Faris makin seneng aja nih yayang Ica mulai aktif ya bund✌😂
Eh Mas Azka dapet teror email apalagi nih gaesss?😱
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like, and coment sebanyak-banyaknya buat nyemangatin author ya readers tersayang...