Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Sama-sama mencari


__ADS_3

Setelah hampir dua jam duduk di balik kursi kemudi, akhirnya Azka menghentikan mobilnya di halaman sebuah bangunan yang tampak sederhana namun dipenuhi canda tawa riang di dalamnya.


“MasyaAllah … ini beneran Mas Azka to? Ndak salah liat kan ini Pakde?” Seorang pria paruh baya segera menghampiri Azka begitu ia keluar dari mobilnya.


“Iya Pakde, ini saya. Gimana kabarnya Pakde?” tanya Azka menyalami pria paruh baya itu.


Pakde Karto yang merupakan penjaga panti asuhan ‘Kasih Bunda’ yang tengah dikunjungi Azka itu benar-benar terkejut dengan kehadirannya, pasalnya ia memang sudah cukup lama tak mengunjungi panti ini, mungkin terakhir ketika bersama Aisha saat peristiwa kejadian waktu itu belum ada.


“Oh alhamdulillah Pakde baik Mas. Mas Azka sendiri bagaimana? Saya tadi sempat ndak percaya kalo ini Mas Azkal oh,” tutur Pakde Karto yang dulu mendengar kabar jika Azka sudah tiada dalam peristiwa kecelakaan waktu itu.


“Alhamdulillah saya baik juga Pakde.”


Sore ini Azka memang sengaja mengunjungi panti asuhan ini berniat untuk mencari tahu keberadaan Aisha. Dulu sebelum semuanya berubah, ia dan Aisha kerap kali mengunjungi panti ini bersama untuk sekedar berbagi dengan anak-anak.


Setelah hari itu Faris memberitahukan jika Aisha pergi, Azka langsung teringat dengan tempat ini, diam-diam ia juga turut mencari Aisha, mungkin saja di sini ia bisa menemukan informasi mengenai keberadaan Aisha. Karena seingatnya dulu Aisha sering sekali melarikan diri ke panti ini jika tengah dalam suasana hati yang tidak baik.


“Astaghfirullah!”


Tiba-tiba seorang wanita terpekik ketika Azka dan Pakde Karto masih berbincang di halaman, nampan yang berisi gelas yang dibawanya pun turut luruh ke lantai bersamaan dengan keterkejutannya melihat sosok Azka.


“Waduh … Bu ini beneran kok Mas Azka, bukan hantu. Ndak usah kaget gitu.” Pakde Karto segera berlari menghampiri Bu Siska yang masih mematung di tempatnya, dengan tatapan yang sama sekali tak beralih dari sosok Azka.


“Assalamualaikum Bu … bagaimana kabar Ibu dan adek-adek di sini?” tanya Azka meraih punggung tangan yang mulai merenta itu.


“Wa-waalaikumsalam … ini beneran kamu to Le?” Bu Sisak tampak masih terkejut dengan semuanya.


“Iya Bu, ini beneran Azka. Alhamdulillah Azka selamet dari kecelakaan waktu itu, Allah masih menyayangi Azka Bu.”


“Alhamdulillah ya Allah … Ibu pikir sudah nggak akan ketemu kamu lagi Le,” tutur Bu Siska tampak mengusap ujung netranya.


“Yo wes ayo masuk ke dalam,” ajak Bu Siska yang segera diangguki oleh Azka.


“Ini nitip buat adek-adek ya Pakde.” Azka menyerahkan beberapa kantong plastik yang sudah dibawanya kepada Pakde Karto sebelum ia mengikuti langkah Bu Siska untuk ke dalam.


“Sekarang bagaimana kabarmu? Ibu pikir kamu dan Aisha akan langgeng hingga menikah,” tanya Bu Siska yang dulu mengetahui bagaimana hubungan Azka dan Aisha.


Azka hanya tersenyum getir mendengar pertanyaan Bu Siska,”Ibu tau kalo Aisha udah nikah?” tanya Azka.


Bu Siska mengangguk, ”Aisha mengundang kita semua saat pernikahannya, cuma waktu itu Ibu lagi di luar kota, jadi cuma Pakde Karto sama yang lainnya saja yang bisa hadir.”


“Aisha wanita yang baik Bu, nggak pantas dengan lelaki kayak Azka. Suami Aisha sekarang jauh lebih baik dari Azka Bu, Azka juga tenang liat Aisha bersama orang yang tepat.”

__ADS_1


“Yang sabar ya Le, jodoh memang nggak bisa ditebak.”


“Azka juga udah nikah Bu, udah punya satu jagoan malah, usianya sekitar setaun setengahan.”


Bu Siska tampak berbinar mendengar penuturan Azka, “Wah alhamdulillah … kok ndak diajak sih anak istrimu Le.”


“Istri Azka udah meninggal setaun yang lalu Bu, tepat setelah melahirkan anak kami.” Ada kerinduan saat Azka Azka kembali mengingat sosok Diana yang sudah berjuang mati-matian demi putra mereka.


“Innalillahi … yang sabar ya Le, Allah pasti punya rencana yang lebih indah buat kamu di depan,” ujar Bu Siska mengusap punggung Azka.


“Aamiin … insyaAllah Bu. Ibu doakan saja yang terbaik buat Azka dan anak Azka ya Bu.”


“Pasti Le, Ibu doakan yang terbaik untuk kalian.”


Azka melangkah gontai kembali ke mobilnya, tampaknya orang-orang di panti tak ada yang tahu mengenai kemana perginya Aisha saat ini.


“Sebenernya kamu kemana Sha? Suamimu bener-bener khawatir nyariin kamu. Udah cukup kamu ngerasain sakit ketika sama aku dulu, sekarang jangan ada lagi air mata itu.”


***


Faris kembali ke rumah dengan penampilan yang sudah kacau, kepalanya terasa berat setelah berdiam diri di bawah guyuran hujan.


“Bapak janji akan selalu membantumu mempertahankan istrimu Nak.” Seorang lelaki paruh baya menatap nanar punggung Faris yang sudah menghilang di ujung tangga.


Setelah membersihkan diri dan menunaikan solatnya, Faris langsung membanting tubuhnya ke atas pembaringan, namun nyatanya hati yang gelisah mampu memporak-porandakan hidupnya. Netranya memang terpejam, namun ia sama sekali tak terlelap.


Panggilan sidang beberapa hari ke depan benar-benar menghantui pikiran Faris, sampai kapanpun ia tak akan menerima gugatan yang Aisha ajukan. Ia akan membuat semuanya dibatalkan, bagaimana pun caranya ia harus tetap mempertahankan rumah tangganya.


Biarlah kali ini ia dianggap egois karena tak ingin melepaskan Aisha, Faris hanya tengah menunjukkan kegigihannya mempertahankan apa yang seharusnya ia pertahankan dan perjuangkan.


Kali ini Faris benar-benar merutuki kebodohannya sendiri karena sudah masuk ke dalam perangkap Sofia.


“Sampe terjadi apa-apa sama rumah tangga gue … gue jamin hidup lo nggak akan tenang wanita ular,” gerutu Faris menekankan kalimat ‘wanita ular’, tangannya sudah mengepal menahan amarahnya.


Hingga malam semakin beranjak, Faris masih setia terjaga, netranya benar-benar tak bisa ia katupkan ketika hati dan pikirannya masih dipenuhi dengan kegelisahan.


Dia … hanya dia di duniaku


Dia … hanya dia di mataku


Dunia terasa telah menghilang

__ADS_1


Tanpa ada di dia di hidupku


Suara petikan gitar mengiri suara sendu dari balik balkon kamar Faris pada dini hari, nadanya terdengar sangat patah hati, bahkan tak jarang diiringi isak di dalamnya.


Sungguh sebuah tanya yang terindah


Bagaimana dia merengkuh sadarku


Tak perlu ku bermimpi yang indah


Karena ada dia di hidupku


Ku ingin dia yang sempurna


Untuk diriku yang biasa


Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya


Ku ingin semua yang ada pada dirinya


Suara Faris terdengar semakin menyayat, air matanya kini bahkan tak dapat lagi dibendungnya.


Ku hanya manusia biasa


Tuhan bantuku tuk berubah


Tuk miliki dia, tuk bahagiakannya


Tuk menjadi seorang yang sempurna … untuk dia


Di akhir lirik Faris membanting gitarnya, ia semakin terisak menyandarkan punggungnya dengan kasar ke pembatas balkon, wajahnya nampak sangat frustasi.


“Aku hanya ingin istriku … tolong kembalikan Aisha padaku …,” ucapnya parau dan kacau.


***


Bersambung ...


Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...

__ADS_1


__ADS_2