
Lutut Azka seketika melemas melihat wanita yang sudah tergeletak tak sadarkan diri di antara kerumunan orang-orang yang tengah berusaha membantunya.
“Permisi … permisi ….” Azka langsung saja menerobos kerumunan.
“Allohu Akbar! Sha … Aisha … bangun Sha.” Azka langsung saja bersimpuh dan memangku kepala Aisha, suaranya seperti tercekat turut merasakan nyeri yang Aisha alami saat ini.
“Tolong hubungi ambulan!” teriaknya pada orang-orang yang masih berdiri mengitarinya.
Tangan Azka semakin bergetar begitu melihat banyaknya darah yang mengalir dari kedua kaki Aisha.
“Cepat hubungi ambulan!” Azka kembali berteriak seperti orang kesetanan saat yang diminta tak kunjung tiba, jangan lupa air mata yang sejak tadi sudah bersimbah membasahi seluruh wajahnya.
Roger pun segera menerobos kerumunan itu begitu mendengar teriakan Azka, “Nyonya bawa mobil Tuan, kita pakai itu saja,” usul Roger turut bersimpuh di samping Azka yang masih memeluki kepala Aisha dengan pilu.
Tanpa basa basi, Azka pun segera bangkit membopong Aisha yang sudah terkulai lemas dengan banyaknya darah.
Azka menghentikan sejenak langkahnya begitu melihat Karina berada di antara kerumunan itu tengah menggendong Rafa. “Kamu tolong antar Rafa pulang.” Azka berujar dengan cepat lantas segera menuju mobil yang Roger tuduhkan. Sedangkan Karina hanya mengangguk sepeninggal Azka.
“Argghh shit!” Azka yang begitu panik sontak mengumpat dengan kesal saat melihat mobil yang dibawa oleh pengawal Aisha justru masih terjebak macet.
“Pakai mobil saya.” Azka segera berlari menuju mobilnya setelah menyerahkan kunci pada Roger.
Sedangkan Roger hanya mengangguk dengan bingung begitu melihat lelaki yang kini membopong Nyonya mudanya tampak begitu panik seperti mereka sudah saling mengenal.
“Kamu bisa nyetir apa tidak!? Cepat!” cecar Azka ketika Roger mengendarai mobilnya dengan landai, sedangkan darah terus saja mengalir dari kedua kaki Aisha, begitupun dari sudut pelipisnya.
“Ba-baik Tuan.” Roger yang memang masih sangat terkejut juga bingung sontak saja semakin terkejut dengan ucapan Azka.
“Argh … sakit ….” Aisha perlahan membuka matanya sambil merintih memegangi perutnya.
“Kamu bertahan ya Sha ….” Azka sontak saja menunduk begitu mendengar suara lirih Aisha, tangannya sejak tadi tak henti-hentinya mengusap darah di wajah Aisha dengan sesekali mengusap air matanya pula.
Aisha yang begitu membuka mata dan langsung melihat wajah Azka sontak saja begitu terkejut, hanya saja rasa sakit yang dirasanya kini membuatnya tak ingin berpikir lebih jauh.
"Kenapa harus kamu Mas?" Aisha bertanya dengan lirih.
Azka paham betul apa yang dirasakan oleh wanita yang tengah dalam pangkuannya itu, saat ini pastilah sosok Faris yang sangat Aisha harapkan bisa menemaninya.
__ADS_1
“Mas … tolong selametin anakku Mas ….” Aisha berucap kembali dengan sangat lirih sambil mencengkeram kuat lengan Azka, mungkin untuk mengalihkan rasa sakitnya.
Azka langsung saja mengangguk dengan senyumnya yang terlihat dipaksakan, “Iya Sayang, anak kamu pasti baik-baik aja, dia kuat kayak Papanya,” ujarnya menggenggam tangan Aisha dengan lembut, mencoba memberi kekuatan pada wanita yang hingga saat ini masih saja mengisi hatinya.
Diusapnya dengan lembut puncak kepala Aisha, “Kamu pasti kuat Sayang … demi anak kamu ….” Azka tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya saat perlahan cengkeraman Aisha di lengannya mulai melemah.
“Ayo lebih cepet!” teriak Azka dengan satu kakinya menendang kursi kemudi yang diduduki Roger.
Roger hanya bisa meneguk salivanya sendiri melihat emosi lelaki yang kini memangku Nyonya mudanya yang kian meledak, dia begitu khawatir layaknya istrinya sendiri yang terluka.
Begitu mobil terhenti di halaman Rumah Sakit, Azka langsung berlari dengan membopong Aisha ketika Roger dengan sigap membukakan pintu untuknya.
“Suster … suster! Tolong ….”
“Astaga … Bu Faris!” Seorang resepsionis yang tentunya begitu mengenal Aisha sontak terpekik saat melihat Aisha sudah tak sadarkan diri dalam gendongan lelaki yang tak dikenalnya. Dengan segera beberapa perawat pun berlarian menghampiri Azka dengan membawa brankar untuk Aisha.
“Sha … kamu harus kuat ya Sha.” Pegangan tangan Azka bahkan tak ia lepas, ia turut berlari mendorong brankar yang membawa Aisha ke unit gawat darurat.
“Mas … anakku Mas.” Aisha yang masih setengah sadar pun terus merintih memanggil-manggil anaknya.
“Mungkin dengan cara ini, Bang Faris akan tahu jika darah dagingnya sudah bersemayam di rahimku. Maafin Mami yang selalu gagal ngasih tau Papi tentang keberadaan kamu ya Nak.” Aisha mengambil selembar kertas yang berisi rekam gambar calon anaknya yang masih sangat kecil bersemayam di rahimnya, lantas ia selipkan pada buku catatan Faris yang tergeletak di atas nakasnya, tak lupa alat tes kehamilan yang bergaris dua pun ia sertakan di sana bersama selembar kertas hasil USG itu.
Pandangan Aisha semakin mengabur, dan setelahnya semuanya gelap.
“Bapak tolong tunggu di sini saja ya.” Seorang perawat berusaha menahan Azka yang terus memaksa untuk masuk.
“Kalian harus janji untuk selamatkan dia dan calon bayinya,” ujar Azka yang bahkan kini sudah bersimpuh memegangi tangan Dokter Fara.
“Kami pasti akan berusaha yang terbaik untuk Bu Faris dan anaknya Pak.” Dokter Fara berucap dengan lembut sebelum memasuki ruang tindakan. Ia pun sangat terkejut ketika mengetahui pasien kecelakaan itu adalah Aisha, pasalnya Aisha baru sajamemeriksakan kandungan padanya.
‘Siapa laki-laki ini? Juga kemana Dokter Faris di saat genting seperti ini?’
Azka berbalik begitu pintu UGD tertutup, dilihatnya Roger yang tengah mengoperasikan ponselnya.
“Hubungi Tuanmu sekarang,” Azka berucap dengan datar pada Roger yang tengah duduk di kursi tunggu, sedangkan dirinya sudah bersimpuh dengan bersandar di depan pintu dengan kedua lututnya yang terlipat.
Roger langsung saja mengangguk dan menekan kontak Tuannya.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, Karina datang menghampiri Azka dan Roger yang tengah menunggu di depan unit gawat darurat.
Dilihatnya Azka yang kini begitu kacau tengah duduk dengan memeluk lututnya di depan pintu, kemeja biru yang semula terlihat rapi saat dikenakannya pun saat ini keadaannya turut kacau seperti pemiliknya dengan bercak darah dimana-mana, tatapannya kosong entah kemana, bahkan Azka tak menyadari kedatangan Karina hingga Karina sendiri menepuk bahunya.
Jujur saat ini hati Karina pun turut nyeri melihat Azka yang sekacau itu dengan kondisi Aisha, yang berarti Azka masih sangat mempedulikan wanita itu. Tapi ia sadar, saat ini bukanlah waktunya untuk terbawa perasaan, sedangkan di dalam Aisha tengah berjuang mati-matian.
“Bukankah kamu sendiri yang bilang kalo Aisha adalah wanita hebat? Percayalah, dia pasti kuat seperti yang selalu kamu banggakan.” Karina berujar dengan lembut sambil mengusap bahu Azka, namun kalimat itu justru seperti sebuah sindiran halus ketika terdengar oleh Azka.
Kegiatan mereka terpotong oleh Roger yang menyerahkan ponselnya karena panggilannya yang sudah tersambung pada Faris.
“Hallo … ada apa Ger?” tanya seseorang di sebrang sana yang tak lain adalah Faris.
“Dimana lo?” tanya Azka dengan kasar.
“Kenapa lo bisa nelpon pake hp pengawal gue?” Faris yang menyadari jika itu adalah suara Azka sontak mengernyitkan dahinya yang tak akan mungkin terlihat oleh Azka.
“Gue tanya lo dimana bang**t!?” pekik Azka yang emosinya benar-benar sudah di ubun-ubun membuatnya merasa sangat kesal ketika Faris tak kunjung menjawab pertanyaannya.
“Woi! Santai dong ngomongnya! Gue di sekolah Tasya, kenapa?” Faris yang mendengar umpatan Azka pun sontak turut menaikkan nada bicaranya.
Azka yang mendengar nama wanita sontak menoleh ke arah Karina yang juga mendengar perbincangan mereka karena Azka yang sengaja mengeraskan suaranya.
“Tasya itu anaknya Sofi, temen yang waktu itu gangguin aku.” Karina berbisik dengan pelan ketika Azka menatapnya dengan tatapan seolah bertanya.
“Ke Rumah Sakit sekarang juga,” ujar Azka dengan datar, nadanya kini tak sekeras tadi.
“Nggak! Ini aja baru pulang lembur, cape gue.” Faris justru berujar dengan santai.
“Cape tapi masih sempet ya lo ngurusin anak orang. Cepetan ke Rumah Sakit! Bini lo kecelakaan.” Azka kini kembali menaikkan suaranya karena benar-benar jengah dengan jawaban Faris.
“Lo kalo becanda nggak usah kelewatan Ka.” Nada panik begitu terdengar jelas meski Faris mencoba bertanya dengan santai.
“Terserah lo!” Azka langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa ingin mendengar lagi celotehan Faris dari sebrang.
***
Bersambung ...
__ADS_1
Ayo yang belum vote segera vote dulu biar author makin semangat ngetiknya yaa ... sekarang vote gratis kok nggak perlu pake poin lagi ... yang masih pake poin ayo di update dulu aplikasinya hehe ...
Love you readersku semua ...