Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Harapan Baru?


__ADS_3

Faris dan Aisha dipandu oleh pemandu adat menuju aula utama untuk melewati rangkaian-rangkaian acara adat setelah akad nikah. Dari mulai balangan gantal, ngidak tagan, sinduran, bobot nimbang, minum rujak degan, kacar kucur, dulangan, hingga kemudian diakhiri dengan sungkeman kepada kedua orang tua.


Setelah semua tahapan prosesi-prosesi adat dilakukan, tiba waktunya bagi keduanya untuk duduk di pelaminan menyalami tamu-tamu yang bergiliran untuk memberikan selamat.


“Penampilan Ica hari ini lumayan juga,” bisik Faris di sela-sela posenya pada kamera.


“Lumayan apa?” tanya Aisha tanpa berpaling dari kamera.


“Lumayan gak malu-maluin,” jawab Faris terkekeh menggoda istrinya yang tidak juga menoleh ke arahnya.


Benar saja, Aisha langsung menoleh dengan membulatkan matanya kala mendengar pernyataan suaminya.


“Aw … sakit Ya Allah,” rintih Faris ketika ternyata lagi-lagi Aisha mencubit pinggangnya, tapi sebenarnya ia menyukainya.


“Bilang aja kalo Ica memang cantik,” jawab Aisha sembari memperlebar senyumnya ke arah kamera.


Tiba-tiba Faris menarik pinggang Aisha, mengikis jarak di antara mereka yang sontak membuat Aisha terkejut.


“Abang ….” bisik Aisha.


“Kita itu pengantin, harus terlihat mesra,” bisik Faris di telinga Aisha yang justru terlihat sangat manis, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa iri.


Seperti sepasang mata di penghujung ruangan yang mulai memanas ketika memperhatikan kedua mempelai amat bahagia saling melempar kemesraan.


***


Faris terdiam cukup lama di depan pintu, tepatnya pintu kamar pengantin mereka.


Aisha memang sudah lebih dulu masuk ke kamar, sedangkan dirinya lebih dulu menemani paman mertuanya berbincang di ruang tamu.


Beberapa kali ia coba menghembuskan nafas untuk menstabilkan detak jantungnya yang seolah berdemo minta dikeluarkan.


Ia pegang pergelangan tangannya, meraba-raba urat nadi dan merasakan denyutnya.


“Aduh nadiku gak beraturan gini,” gumamnya ketika meraba denyut nadinya sendiri.


Lagi-lagi tangannya terhenti di udara ketika hendak mengetuk pintu di hadapannya, ia menoleh ke sekeliling berharap ada seseorang yang menyelamatkannya dari kegugupan.


“Pertama masuk ruang operasi kayaknya gak gini-gini amat deh,” gumamnya lagi seraya mengusap-usap dadanya yang naik turun.


“Oke gue cowo, gak bisa kayak gini!”


Dengan keberanian yang terkumpul, ia angkat tangannya untuk mengetuk pintu di hadapannya.


Diketuknya pintu tiga kali. Tak ada jawaban. Mungkin karena terlalu pelan, Faris mengulang kembali ketukannya.


“Siapa?” tanya suara dari dalam.


“Abang Ca,” jawab Faris senormal mungkin.


“Masuk aja Bang ….” teriak Aisha.


Deg, deg … jantungnya berpacu abnormal mendengar jawaban Aisha.


Perlahan ia putar kenop pintu yang tidak dikunci. Ia melongokan kepalanya ke dalam pintu, lalu  melangkahkan kaki kanannya sembari mengucap salam yang langsung dijawab oleh wanita yang tengah duduk di depan meja rias di sudut ruangan.


Semerbak lilin aromatherapy di ruangan yang telah dihias ala kamar pengantin menyambut kedatangan Faris.


Dengan degup jantung yang semakin bertalu-talu, Faris menghampiri wanitanya yang terlihat tengah kesulitan membuka riasan-riasan pengantin yang terpasang di atas kepalanya.

__ADS_1


“Abang bantu,” ucap Faris yang telah berdiri di belakang Aisha.


Deg, tangan Aisha terhenti dari kegiatannya kala mendengar suara itu.


Untuk sekian menit tatapan mata mereka saling bertemu di cermin yang terpampang lebar di meja rias. Mereka saling terdiam, pandangannya terkunci menyelami tatapan masing-masing.


“Ayo Faris ngomong sesuatu.”


“Ini gimana cara bukanya Ca?” tanya Faris memecah keheningan yang justru membuat Aisha mengerutkan keningnya, membuat alisnya saling bertaut.


“Hih apa-apaan sih gue."


“Kirain bisa,” jawab Aisha tersenyum saat mengetahui sepertinya suaminya tengah berusaha mengatasi kegugupannya.


Sejujurnya Aisha pun sama gugupnya seperti Faris, untung saja Faris tak bisa mendengar degup jantungnya.


“Abang coba buka penjepitnya, terus tarik pelan-pelan.”


Faris mulai mengikuti perkataan Aisha hingga satu persatu riasan di kepala Aisha terbuka dan menyisakan hijab polos Aisha.


“Udah,” ucap Faris seraya menyerahkan semua perhiasannya kepada Aisha.


“Terus coba Abang tarik ikatan hijabnya,” tutur Aisha meminta Faris membukanya, karena tangannya tidak bias menjangkaunya.


Perlahan Faris tarik ikatan hijab Aisha di belakang, betapa terpesonanya ia ketika melihat Aisha dengan geraian rambut yang tak sengaja ikut terbuka secara bersamaan dengan terbukanya hijab.


Ini pertama kalinya bagi Faris melihat Aisha tanpa mengenakan ehijab.


Riasan yang belum dibersihkan juga menambah kesan anggun untuk Aisha.


“Mau Abang dulu atau Ica dulu yang mandi?” tanya Aisha.


Hening, tak ada jawaban.


“Yang mandi Abang dulu atau Ica dulu?” tanya Aisha lagi dengan menyentuh lengan Faris.


“Hah?” jawab Faris yang justru terlihat bingung.


“Ica dulu yah yang mandi?”


“Ah ya udah Ica dulu,” jawab Faris gelagapan.


***


Azka menghentikan laju mobilnya ketika ada seorang wanita yang melambai ke arahnya, ia berhenti tepat di depan wanita itu.


“Mas bisa tolong bantu saya nggak?” tanya wanita yang menghentikan perjalanan Azka.


“Ada apa ya Mba?”


“Mobil saya nggak tau kenapa tiba-tiba mogok, Mas bisa tolong coba cek kenapa?”


Azka terdiam menatap wanita di depannya dengan tatapan penuh selidik.


“Mba kan bisa delivery montir dari bengkel.”


“Kebetulan bengkel langganan saya lagi banyak job katanya, nggak bisa ngirim montir.”


“Kan banyak taksi, kenapa harus menghentikan pengendara seperti saya?”

__ADS_1


“Ya ampun Mas, jalanan sepi begini mana ada taksi yang lewat.”


Azka terlihat berpikir mencerna ucapan wanita di hadapannya.


“Kenapa? Takut saya seorang penjahat?”


“Siapa tau kan,” jawab Azka ketus sembari berlalu.


“Mas jadi cowo nggak berperasaan banget sih! Masa tega ninggalin perempuan dengan keadaan mobil mogok di jalanan sepi kayak gini sendirian,” teriak wanita itu.


Azka tampak menghentikan langkahnya mendengar teriakan wanita itu, benar saja Azka berbalik menghampiri wanita itu.


“Mana peralatannya?”


Wanita itu menoleh dengan wajah berbinar ketika mengetahui Azka kembali untuk menolongnya. Dengan segera ia ambil peralatan di bagasi.


Azka mulai membuka penutup ruang mesin di bagian depan mobil dan berkutat dengan peralatan yang diberikan. Hening. Tak ada percakapan.


“Saya Karina,” ucap wanita disampingnya.


“Azka,” jawab Azka singkat.


Ketika Azka tengah focus memperbaiki mesin mobil Karina, samar-samar terdengar tangisan bayi.


“Kaya bayi nangis, tapi dimana?” gumam Karina sembari menoleh ke sekelilingnya.


“Astaghfirullah Rafa!” ucap Azka ketika mendengar gumaman Karina.


“Kamu bisa tolong gendong bayi yang ada di mobil saya?” tanya Azka menghentikan aktivitasnya.


“Mas penculik ya?” tanya Karina membelalakan matanya ketika mendengar penuturan Azka.


“Udah cepetan gendong bayinya, tangan saya kan kotor gara-gara nolongin kamu.”


“Saya mana bisa gendong bayi,” jawab Karina menggeleng.


“Kamu kan perempuan pasti bisa lah. Atau mau saya tinggalin di sini?”


“Ya udah iya iya,” ucap Karina menyerah mendengar ancaman Azka.


“Botol susunya ada di tas di jok belakang!” teriak Azka saat Karina mulai menjauh.


Azka bisa bernafas lega saat melihat Karina menggendong Rafa yang mulai tenang dengan botol susunya.


“Mas gila yah! Anak orang ditinggalin di mobil sendirian, kalo dia sesak nafas gimana?” gerutu Karina.


“Itu anak saya,” jawab Azka tanpa menoleh.


“Oh, memang ibunya kemana? Kok Mas yang bawa sendirian?” tanya Karina to the point. Itulah sifat Karina, berkata seenaknya tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya.


“Istri saya meninggal waktu ngelahirin anak kita,” jawab Azka tetap tak berpaling dari kegiatannya.


“Ya bawa perawat dong! Kaya tadi kan bahaya,” ucap Karina sembari menimang-nimang Rafa yang mulai terlelap.


“Ini saya kalo diajak ngomong terus kaya gini gimana konsennya?”


“Oh iya iya lanjutin,” ucap Karina menutup mulutnya.


***

__ADS_1


Bersambung ….


Jangan lupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ….


__ADS_2