
“Mungkin udah saatnya aku mencoba percaya sama Faris.”
Faisal segera membanting stirnya, memutar arah kemudi kembali menuju apartemen dimana ibu dan adiknya kini berada.
Sebagai seorang pria, Faisal bisa merasakan ketulusan dari pria yang kini menyandang status sebagai adik iparnya.
Mungkin benar apa yang ibunya katakan, ia yang terlalu protektif terhadap Aisha justru tanpa sadar malah membatasi ruang kebahagiaan adiknya itu.
Faisal mencoba menghubungkan intercom miliknya untuk menghubungi Aisha, barangkali adiknya masih di kafe itu dan ia berniat akan menyusulnya.
Tak kunjung mendapati jawaban dari panggilannya, Faisal semakin menambah kecepatan yang ditunjukkan oleh spidometernya.
Hanya butuh beberapa menit saja kini tubuh tegap menjulang itu sudah kembali menginjakkan kaki di apartemen ibunya. Cukup heran karena salamnya tak kunjung dijawab, Faisal mencoba mencari-cari sosok kehidupan di setiap sudut ruangan. Sayup-sayup ia mendengar suara dari kamar Aisha yang sedikit terbuka. Dilihatnya seseorang yang kini tengah dicarinya berurai air mata dalam pelukan sang ibunda.
“Kak Isal percaya adik Kak Isal wanita kuat yang penuh pertimbangan jika memutuskan hal yang besar dalam hidupnya ….”
Faisal melangkahkan kakinya menghampiri kedua wanita yang amat berarti dalam hidupnya, turut bersimpuh menyejajarkan diri bersama wanita-wanita itu.
“Maksud Kak Isal … Kakak udah udah percaya sama Abang? Kakak udah nggak marah sama Abang?” Aisha bertanya dengan mata yang penuh sorot kebingungan.
Lelaki berusia hampir menginjak kepala tiga itu menarik tangan Aisha, mengambilnya lantas kemudian ia genggam dengan lembut jemari halus itu. “Kakak mau cerita … tiga tahun lalu Kakak pernah kehilangan seseorang yang amat Kakak sayangi, seperti Kakak menyayangi Ibu, Ayah, sama Aish. Keyra Sabila Melike, gadis Turki yang berhasil membuat Kakak sedikit lupa dengan luka karena kehilangan kalian saat itu. Bersamanya … Kakak yakin bahagia itu ada. Tapi rupanya, Allah lebih sayang sama Bila, dia gugur sebagai relawan medis di Palestina.”
__ADS_1
Faisal menghentikan kalimatnya, mencoba mengatasi sesak yang tiba-tiba ia rasa. Maya dan Aisha pun turut iba seakan mereka merasakan sakit yang Faisal derita. “Kehilangan orang yang amat berarti dalam hidup kita itu nggak mudah Dek, dan jika boleh meminta biar cukup hanya Kakak yang pernah ngerasain itu, kamu jangan. Ikuti kata hatimu, jangan sampe penyesalan kamu rasakan nantinya.”
Maya meraih kedua tangan putra putrinya, mengusapnya lembut dengan manik yang menatap keduanya, “Ibu tau putra putri Ibu adalah anak-anak yang kuat, atas apa-apa yang sudah terjadi, hanya bahagia untuk kalian yang Ibu minta. Yang harus selalu kalian ingat, cinta Ibu untuk kalian itu seperti kehidupan ini, tanpa perlu kalian minta ia pasti datang dan mengalir dengan sendirinya.”
Ketiganya pun larut dalam perasaan masing-masing, satu yang mereka syukuri saat ini adalah bisa kembali berkumpul layaknya sebuah keluarga yang utuh.
***
Malam yang semakin beranjak rupanya tak menjadi alasan bagi kedua pria berbeda usia untuk melanjutkan perbincangan mereka. Tampak beberapa kali keduanya menyesap kopi yang baru saja disajikan pelayan di sela-sela kalimatnya.
Di sebuah restauran bernuansa eropa kental Abbas dan Faris tampak semakin larut dengan pembahasan-pembahasan mereka mengenai banyak hal, mulai dari bisnis hingga merambah ke hal-hal yang lain untuk lebih mengenal satu sama lain.
“Tidak perlu memanggil saya seperti itu Tuan, cukup nama saya saja, Faris. Rasa-rasanya kurang pantas jika orang tua seusia ayah saya memanggil saya dengan sebutan seperti itu. Lagipula mungkin saya seusia dengan putra putri Tuan,” tutur Faris segan karena merasa tak enak jika harus disebut ‘Tuan’ oleh lelaki yang padahal seusia dengan ayahnya.
“Baiklah jika anda merasa tidak nyaman dengan sebutan itu saya akan memanggil anda hanya dengan nama. Dan ya mungkin usia Nak Faris tidak berbeda jauh dengan putri saya, dia masih di tingkat akhir menyelesaikan pendidikannya di Manajemen Bisnis. Kalau putra sulung saya sudah saya beri tanggung jawab untuk memegang salah satu anak perusahaan kami.”
“Pasti putra putri anda juga mewarisi jiwa bisnis seperti anda Tuan Abbas, beruntung sekali anda memiliki putra putri yang bisa dibanggakan. Sayang sekali saya tidak bisa memenuhi harapan ayah saya, dunia medis lebih menarik dan mengesankan bagi saya.” Seketika ada penyesalan yang menyelinap di dada Faris, cukup menyesakkan, sesal karena ia tak bisa menjadi seperti yang ayahnya harapkan, meski selama hidupnya ayah dan bundanya sendiri tak pernah memaksakan kehendak atas dirinya.
“Saya yakin jika masih ada Tuan Abdullah pun akan merasa sangat bangga memiliki putra seperti Nak Faris. Selain sukses di karir yang Nak Faris sukai, meski tidak sepenuhnya Nak Faris juga tetap tidak lalai tanggung jawab terhadap amanah mendiang Tuan Abdullah.” Tampak Abbas yang menepuk punggung Faris layaknya seorang ayah yang tengah menyemangati putranya.
Ayah mana yang tidak mendambakan sosok menantu sehebat Faris Zein Abdullah yang tentu saja akan membuat hatinya merasa tenang karena menyerahkan putri tercintanya kepada pria yang tepat, begitu pikirnya. Namun tampaknya Abbas belum mengetahui jika Faris sendiri sudah memiliki sosok bidadari yang bertakhta penuh atas hatinya.
__ADS_1
“Mohon maaf Tuan Abbas sepertinya saya harus ke toilet lebih dulu,” pamit Faris di sela perbincangan mereka.
“Oh tentu saja, silahkan Nak Faris.”
Mengikuti punggung Faris yang menghilang di balik dinding pembatas, tak ayal Abbas memang tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap pria yang baru saja ditemuinya itu, yang ternyata adalah putra dari mendiang Tuan Abdullah yang semasa hidupnya telah banyak membantu perusahaan yang dikelolanya saat ini.
“Hallo Mi … sampaikan pada putri kita agar jangan kemana-mana besok. Buat putri kita secantik mungkin untuk menyambut Tuan muda Faris, pewaris tunggal Abdullah Company.” Tekad Abbas semakin kuat untuk berusaha menjodohkan putrinya dengan Tuan muda Abdullah itu.
“Tuan muda Faris pewaris tunggal Abdullah Company? Maksud Baba Abdullah Company yang dirintis oleh mendiang Tuan Abdullah? Yang waktu itu menaungi perusahaan kita Ba?” Ajeng yang berada di sebrang pun tampak terkejut dengan pengakuan suaminya.
“Pintar sekali Mami ini,” puji Abbas disusul dengan tawa renyahnya.
“Gimana caranya Baba bisa ketemu pewaris tunggal Abdullah Company? Apa saat ini Abdullah Company sudah semakin melebarkan sayapnya ke sini Ba?” Rentetan pertanyaan itu terlontar begitu saja mewakili rasa penasaran Ajeng di sebrang sana.
“Ceritanya panjang Mi, nanti Baba ceritakan di rumah. Sekarang Baba sedang makan malam dengan Tuan muda Faris, nanti Baba kabari Mami lagi.”
Seulas senyum pun terbit di bibir lelaki yang sudah hampir memasuki usia senja itu usai mengakhiri perbincangannya bersama sang istri.
***
Bersambung ...
__ADS_1