Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Gagal temu


__ADS_3

Tuhan … ini jeritan jiwaku, cerita tentang hatiku


Semua keluh kesahku


Sendok dan garpu di tangan Aisha seketika terjatuh dengan tatapannya yang terus menatap ke depan. Tempat dimana lelaki yang sebentar lagi berstatus sebagai mantan suaminya, tengah bernyanyi sambil memainkan gitar di pangkuannya.


Resah hati ini tanpanya, memikirkan dia


Selalu tentang dia yang memberikan indahnya cinta, untukku miliki


Menggenggam indahnya dunia


Sampai waktu menghentikan semua


Jantung Aisha berdegup dengan kencang, sekelebat ingatan tentang kebersamaan mereka langsung memenuhi ruang kepalanya.


“Abang nggak mau Ica capek-capek lagi ya buat nyari mawar-mawar yang lain. Ica udah nemuin mawar putih ini di tangan Abang. Tandanya Ica harus berakhir di Abang. Promise always stay with me, Love?”


“I am promise Dear.”


Malam itu, di atas kapal pesiar di bawah sinar rembulan, Faris dan Aisha saling mengucap janji setia bersama.


Air mata Aisha perlahan menetes mengingat semua janji itu yang kini seperti sudah kehilangan arti. Bersamaan dengan itu, tatapan Faris pun tak sedikitpun teralihkan dari wanita yang duduk di ujung ruangan yang sejak tadi menatapnya. Sambil melanjutkan lagunya, pandangan keduanya bertemu.


Tuhan … setiap detik demi detik


Ku selalu merindukannya


Selalu tentang dirinya, semua tentang dirinya


Tatapan Faris semakin sendu kala air mata dari ujung netra Aisha semakin jelas mengalir begitu saja, lagu yang dinyanyikannya memang benar-benar merefleksikan dirinya yang seolah ingin menyerah jika Aisha benar harus menghilang dari dunianya.


Resah hati ini tanpanya, memikirkan dia


Selalu tentang dia yang memberikan indahnya cinta, untukku miliki


Menggenggam indahnya dunia


Sampai waktu menghentikan semua

__ADS_1


Aisha bisa merasakan, bahwa suaminya itu tak sekedar bernyanyi. Ada kerinduan di setiap lirik yang dinyanyikannya.


“I love you, always …,” ujar Faris di penghujung lagunya sambil menatap Aisha yang berada di ujung sana.


Lagi-lagi Aisha dibuat terharu dengan usaha Faris yang saat ini pun entah tahu dari mana keberadaannya di sini. Entah itu kebetulan, atau memang semuanya sudah direncanakan.


Tak hanya Aisha, pengunjung café lainnya pun turut merasakan betapa tulusnya lelaki yang tengah benyanyi itu. Meski mereka tak mengerti apa artinya, tapi semua itu bisa dirasakan oleh pembawaan Faris yang mampu menghipnotis semua yang hadir di sana, terutama Aisha yang seperti menjadi pemeran utama.


Selesai dengan lagunya, Faris lantas turun menghampiri dan seketika meraih tubuh Aisha ke dalam rengkuhannya, di hadapan banyak orang.


Para pengunjung bersorak ramai sebelum akhirnya Faris menggandeng tangan Aisha dan membawanya keluar dari kafé itu. Dan naasnya Aisha bagai terhipnotis hingga menurut begitu saja, bahkan mungkin ia lupa tujuannya datang ke kafé ini adalah untuk bertemu dengan kakaknya.


***


“Kak, lagi dimana?”


Suara lembut dari wanita yang begitu Faisal sayang langsung menyapa indra pendengarnya saat benda pipih itu ditempelkan ke telinga.


“Ini baru selesai meeting Bu sama klien. Ada apa? Ibu butuh sesuatu? Biar Isal bawain.”


Begitulah Faisal, apapun itu yang menyangkut tentang keluarganya terlebih lagi jika ibunya, pasti akan selalu ia nomor satukan.


Faisal sejenak terdiam, setelah ini ia berencana akan menemui adiknya di tempat yang sudah keduanya sepakati. Tapi rasa-rasanya, ia ragu jika harus mengatakan hal itu kepada ibunya. Ia hanya tidak ingin menambah beban pikiran yang dipikul oleh sang ibu.


“Emm Isal ada janji mau ketemu seseorang Bu. Ibu ada butuh sesuatu?”


“Kakak bisa pulang dulu sebentar Kak?” pinta Maya dengan sangat lembut.


“Oh ya udah nanti Isal mampir dulu ke apartemen kalo gitu. Isal jalan sekarang ya Bu.”


“Makasih ya Sayang, hati-hati.” Sambungan telepon diputus.


Semua impian dan harapan dari seorang ibu hanyalah kebahagiaan untuk putra putrinya, pun dengan Maya. Wanita yang ditinggal mati suaminya dengan dua orang anak yang salah satunya baru saja ditemukan. Bukan hal yang mudah bagi Maya berjuang hidup dalam kesendirian. Jika boleh memilih, mungkin saat itu ia akan meminta untuk ikut saja bersama suaminya meninggalkan dunia. Tapi ia ingat, kini hidupnya tak hanya untuk dirinya sendiri, bersamanya ada nyawa yang juga harus ia jaga, bukti cinta jika suaminya pernah bersamanya.


Maya tahu jika janji bertemu seseorang yang dimaksud oleh putranya adalah menemui Aisha, meski kedua kakak beradik itu tak ada yang buka suara terhadap dirinya.


Tak sampai tiga puluh menit Faisal sudah sampai di apartemen yang kini ditempati oleh ibu dan adiknya. Diraihnya punggung tangan sang ibu yang mulai merenta, serta tak lupa satu kecupan yang sudah menjadi kebiasaan Faisal.


Maya lantas meraih sang putra ke dalam dekapannya, “Kakak udah makan?” tanyanya seraya mengusapi punggung bidang putranya.

__ADS_1


Sontak saja Faisal menggeleng karena benar perutnya belum sempat terisi apapun lagi sejak makan siangnya, juga karena niatnya yang akan makan malam bersama sang adik di tempat yang mereka janjikan.


Maya langsung saja membawa putranya menuju meja makan yang sudah dipenuhi berbagai makanan yang sudah tersaji dengan rapi.


Tangan rentanya terulur meraih piring lantas mengisinya dengan beberapa sendok nasi lengkap dengan aneka lauknya.


“Ibu nggak makan?” tanya Faisal saat melihat ibunya hanya berdiam diri memandanginya tanpa berniat meraih piring yang lainnya setelah menyerahkan piring nasi kepadanya.


Maya menggeleng dengan senyuman, “Nanti Ibu makan, sekarang Ibu masih kenyang sama kue yang Kakak bawa tadi siang,” alibinya tanpa mengalihkan pandangan dari putranya.


Faisal pun menyendokkan nasi ke mulutnya dengan lahap, rasa yang sudah puluhan tahun menyapa indra pengecapnya masih tetap sama, rupanya tak ada yang berubah sedikitpun dari masakan ibunya.


Melihat putranya menyantap makanannya dengan lahap hati Maya terenyuh, dalam hatinya bertanya-tanya bagaimana hidup putranya selama ini, bagaimana anak lelaki berumur delapan tahunan harus menerima kenyataan pahit terpisah dari keluarganya, tanpa sadar ujung netra Maya tampaknya basah.


Begitupun dengan Faisal yang sepertinya merasakan keheningan itu, ia mendongak dari santapannya dan mendapati sang ibu yang tengah menatapnya haru.


Dengan cepat diletakkannya sendok dan garpu di tangannya.


“Gimana Kakak hidup selama ini? Apa semuanya baik-baik aja, Sayang?”


Kalimat itu tiba-tiba keluar dari lisan Maya menambah deras aliran dari ujung netranya.


Netra Faisal pun turut memanas mendengar pertanyaan ibunya, dadanya sesak jika harus mengulang ingatan yang puluhan tahun selalu ia coba lupakan.


“Harusnya Isal yang nanya itu sama Ibu dan Aish, gimana kalian hidup tanpa sosok Ayah? Gimana cara Ibu menguatkan bahu membesarkan Aish sendirian? Apa kalian juga baik-baik aja kayak Isal yang hidup dengan kasih sayang dari keluarga angkat Isal?”


Tak hanya Faisal, rupanya sesakpun kian melanda dadanya. Namun Maya memang wanita kuat, kesedihan itu hanya ia simpan di hati untuk dirinya sendiri.


Seperti saat ini justru Maya malah tersenyum menjawab pertanyaan putranya.


“Rupanya putra Ibu sudah dewasa, maafin ibu yang nggak sempat menyaksikan kamu tumbuh Kak,” ujar Maya mengelus sayang wajah lelaki di hadapannya.


“Ayah yang selalu membuat Ibu kuat Kak, beliau yang selalu menyemangati Ibu, Ayah pun selalu tampak bersemangat walau hidup terasa berat. Meski Ayah hanya sebentar menemani Ibu, tapi Ibu percaya kalau hatinya selalu memeluk Ibu selamanya. Karena itu, seberat apapun masalah yang Ibu hadapi, demi Ayah, Ibu selalu berusaha untuk kuat. Termasuk menjadi sosok ibu sekaligus ayah buat Aish.”


Mendengar itu Faisal bangkit dari kursinya, ia memutar langkah pada sisi dimana ibunya duduk, dihadapan ibunya Faisal bersimpuh, menyembunyikan air matanya di pangkuan sang ibu.


----


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2