
Happy reading ...
Jadikan al-qur'an sebagai bacaan utama:)
____
Sinar mentari sudah semakin meninggi kala seorang wanita tampak tengah berkutat dengan peralatan dapurnya.
Beberapa macam makanan dengan aroma yang begitu menggugah selera sudah tersaji dengan rapi di atas meja kaca dengan kursi yang sudah berjejer rapi di sana. Dan tampaknya akhir-akhir ini kursi itu bertambah personil yang mendudukinya.
Ya itu karena Faisal akhir-akhir ini lebih sering berkunjung bahkan tak jarang pula menginap di apartemen yang kini ditempati oleh adik dan ibunya.
Berbanding terbalik dengan Aisha yang tengah sibuk dengan urusan masak memasaknya, seorang lelaki justru baru saja membuka netranya ketika sinar mentari dirasa mengintip dari balik gorden dan mengusik tidurnya. Terlihat ia meregangkan tubuhnya sejenak sebelum kemudian memutar knop pintu dan menyaksikan adik manisnya tengah begitu serius dengan acara memasaknya.
“Morning adiknya Kakak yang paling cantik ….” Dengan usilnya Faisal mengacak gemas surai panjang Aisha yang memang tidak sedang memakai hijabnya.
“Ish Kakak … bangun tidur tuh ke kamar mandi cuci muka,” sungut Aisha yang kini baru menemukan sisi lain dari pria yang belum lama ini ia ketahui berstatus sebagai kakaknya.
Cup, satu kecupan manis mendarat di pipi Aisha membuat sang empunya semakin geram, “Sejak kapan Aish jadi bawel gini?” ledek Faisal semakin menjadi-jadi.
“Sejak jailnya Kak Isal muncul dan selalu gangguin Aish.”
Namun percayalah, dibalik kerusuhan keduanya tersimpan rasa rindu yang sudah puluhan tahun terpendam, sebagai seorang saudara tentu saja hal itu membuat Faisal dan Aisha justru ingin lebih mengenal satu sama lain.
“Ibu kemana Dek?” tanya Faisal ditengah kunyahannya menikmati makanan hasil karya Aisha yang tampaknya mewarisi kepandaian memasak dari ibunya.
“Aish juga gak tau soalnya tadi abis subuh Aish juga tidur lagi, pas bangun Ibu udah nggak ada. Tadi sih ngirim pesan katanya Ibu ada urusan di luar sebentar,” tutur Aisha menjelaskan apa yang diketahuinya.
“Loh kok nggak minta anterin Kakak sih?” protes Faisal merasa bersalah karena membuat ibunya harus pergi sendirian.
“Pasti Ibu kesel tuh Kak Isal tidur kayak orang pingsan susah banget dibangunin, gimana mau minta anterin.” Kini giliran Aisha yang menjaili kakaknya.
__ADS_1
“Dih mana ada Kakak kayak gitu ya … semut lewat aja Kakak denger Dek.”
Hal itu sontak membuat Aisha yang tengah mengunyah makanannya seketika tergelak mendengar celotehan kakaknya, “Garing ih Kak Isal.”
“Garing-garing kamu ketawa udah kayak lagi nonton stand up comedy tuh,” cibir Faisal sembari melanjutkan sarapannya.
Obrolan-obrolan hangat pun mengiri sarapan kedua kakak beradik yang sudah lama terpisah itu. Melihat adiknya tumbuh menjadi wanita yang luar biasa terbersit rasa sedih di hati Faisal karena ia tak turut menyaksikan bagaimana adiknya tumbuh hingga seperti sekarang, padahal sejak ibunya mengandung dulu ialah yang begitu bersemangat menantikan kelahiran calon adiknya itu.
“Kak Isal nggak ngantor apa ngajar?”
“Ada kok, ke kampus nanti siang, meeting sama klien nanti sore. Jadi pagi ini Kakak bebas punya waktu sama Aish, sama Ibu juga sih harusnya.”
“Beneran?” seketika mata bulat Aisha berbinar mendengar penjelasan sang kakak.
“Kalo gitu Kak Isal harus temenin Aish belanja kebutuhan rumah abis ini,” lanjut Aisha segera menyelesaikan makannya.
“Dengan senang hati Tuan putri ….”
Seketika wajah Faisal cengo mendengarnya. Grand Bazaar merupakan salah satu pasar tertua di dunia, terletak di Distrik Fatih yang berdekatan dengan Kawasan Hagia Shopia dan Blue Mosque. Pasar yang mempunyai lebih dari 3000 stan toko ini menjadi surga belanja para pelancong di Istanbul.
“Oh No, Dek. Di sana tuh padet banget, terlalu rame. Nanti Aish cape.” Membayangkannya saja Faisal sudah bergidik ngeri. Suasana pasar yang padat dipenuhi manusia dari berbagai penjuru membuatnya yang tak terlalu menyukai keramaian spontan menolak permintaan sang adik.
“Justru itu, Aish kangen suasana pasar tradisional Kak.”
“Kita ke Istinye Park aja gimana yang lebih adem?” Faisal mencoba bernegosiasi.
Aisha tampak berpikir sejenak, menimang-nimang tawaran Kakaknya.
“Istinye juga nggak kalah dari Grand Bazaar loh, kalo mau suasana pasar tradisional kan ada taman sentral outdoornya. Oke?”
“Oke let’s go!”
__ADS_1
Aisha segera berlari ke kamar untuk mengganti pakaiannya lantas membereskan dapurnya usai memasak selagi menunggu Faisal yang juga tengah bersiap,
***
Angin sejuk musim gugur menerbangkan ujung jilbab seorang wanita yang tengah memegang buket bunga di tangannya. Matahari pagi menemani setiap langkah anggun wanita itu di atas bentangan rerumputan hijau yang tampak asri terawat.
Wanita yang hampir memasuki usia senja itu melangkahkan kakinya ke arah salah satu gundukan tanah yang terjajar rapi di setiap barisannya. Begitu sampai, wanita itu tampak berlutut dan meletakkan buket indah yang sejak tadi menemani langkahnya.
Dengan lembut wanita itu membelai sebuah nisan yang tertancap di sisi atas gundukan itu, “Assalamualaikum, aku datang lagi Mas,” ucapnya parau menahan sesak. Di pelupuk matanya tampak sudah menggenang cairan bening yang siap jatuh kapan saja.
“Muhammad Ameer.” Maya tersenyum membaca kembali tulisan yang terukir di batu nisan yang tengah disentuhnya.
“Kamu pergi terlalu cepat, Mas,” ucap Maya dengan bibir yang bergetar. Dan kali ini air matanya benar-benar jatuh melewati pipi mulusnya yang mulai tampak tanda-tanda penuaan di sana.
“Aku baik-baik aja, Mas … meski nggak sekuat dulu, tapi aku akan tetap sanggup buat berkunjung ke tempat istirahat terakhir kamu.”
Dengan sorot yang jelas menyimpan kerinduan pada mata indah itu, ditatapnya nisan yang bertuliskan nama suaminya itu cukup lama, “Oh ya Mas, aku sudah menemukan putra kita yang selama ini aku kira sudah menyusulmu, Faisal putra kita ternyata masih hidup, Mas. Selama ini dia bahkan berada di negeri yang sama dengan tempat istirahatmu. Dia tumbuh menjadi pria yang gagah sepertimu. Putri kita Aisha juga tumbuh menjadi wanita cantik seperti harapanmu dulu, sekarang dia bahkan sudah dipersunting oleh pria baik yang bersedia menggantikan tanggung jawabmu.”
Maya mendudukan dirinya di atas rumput sebelah makam suaminya, “Mas ingat? Setelah melahirkan jagoan tampan, dulu kita begitu mendambakan seorang putri cantik yang Mas bilang akan sangat menggemaskan. Keinginan kita terwujud Mas, bayi yang aku lahirkan tanpa kehadiranmu ternyata adalah sesosok putri cantik yang mewarisi keindahan parasmu. Sekarang kita sudah lengkap memiliki sepasang putra putri yang insya Allah soleh solehah, meski aku bukan ibu yang sempurna, tapi aku janji akan mendidik putra putra kita sebaik mungkin, seperti impian kita dulu. Meski tanpa kamu, tapi dalam diri mereka aku selalu merasakan kehadiranmu, Mas.”
Dikecupnya nisan yang sejak tadi dibelainya itu sangat lama hingga sekuntum bunga yang tumbuh subur di atas tanah kubur suaminya itu menjatuhkan kelopaknya, tepat mengenai puncak kepala Maya seakan mewakili usapan yang seharusnya ia dapatkan dari seseorang yang kini justru sudah bersemayam di bawah tanah yang ia pijak.
“Semoga Allah melapangkan kuburmu, aku tau kamu orang baik Mas, dan mudah-mudahan Allah juga menempatkanmu di tempat yang terbaik.”
Maya menyeka ujung netranya yang sudah basah dan kembali menatap gundukan tanah di depannya dengan hangat, “Aku merindukanmu, suamiku.”
***
Bersambung ...
Terima kasih untuk yang selalu setia menunggu kelanjutan dari novel amatiran ini ... Love you
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote, like and coment buat nyemangatin author ya readers tersayang ...