Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama

Harapan Baru Bersama Senja Yang Tak Lagi Sama
Panik


__ADS_3

Maya begitu terkejut ketika memasuki kamar Aisha dan melihat putri semata wayangnya itu tengah mengemasi pakaiannya asal ke dalam koper berukuran besar dengan wajah yang terlihat sembab, bahkan sesekali air mata masih mengalir dari ujung netranya.


“Sayang mau kemana? Ada apa ini? Jelasin dulu sama Ibu.” Maya menghentikan aktivitas Aisha yang terlihat seperti orang frustasi.


“Aisha mau pergi Bu, Aisha mau memulai hidup baru di tempat yang nggak ada seorang pun mengenal Aisha di sana,” tukasnya tanpa menatap sang ibu dan justru kembali melanjutkan kegiatannya.


“Tapi kemana Nak? Sebenarnya ada apa? Apa yang buat kamu pengen pergi? Cerita sama Ibu.” Maya memegang tangan putrinya, menatapnya dengan tenang sambil mengusap air yang masih saja berjatuhan.


Aisha langsung menghambur ke pelukan sang ibu, tangisnya pecah di pundak yang selama ini menjadi sandarannya.


“Abang Bu ….” Aisha berucap dengan lirih, dengan isak yang semakin menjadi Aisha menceritakan apa yang telah disaksikannya di rumah suaminya apa adanya, tanpa ada yang dikurangi atau pun dilebihkan.


Mendengar isak putrinya yang semakin pilu, hati ibu mana yang tak iba mendengarnya, air mata Maya pun kini turut jatuh membasahi wajah rentanya. Bertahun-tahun ia berjuang sendiri menghidupi dirinya dan sang putri, tak banyak yang ia minta, sebagai seorang ibu sekaligus ayah, Maya hanya ingin melihat putrinya hidup bahagia dengan lelaki pilihannya, lelaki yang senantiasa menggantikan tugasnya untuk menghadirkan senyuman di wajah ayu itu.


“Sayang ….” Maya berujar dengan lirih menahan isaknya sambil mengusap punggung Aisha yang semakin bergetar sebelum ia melanjutkan kalimatnya.


“Apa yang terlihat salah belum tentu salah, apa yang terlihat benar belum tentu benar. Manusia memang punya keyakinan, tapi Allah Maha punya kebenaran. Kamu sudah dewasa, Ibu yakin kamu pasti tau mana yang terbaik untuk hidup kamu, Sayang. Jika menurutmu ini yang terbaik, Ibu nggak akan menghalangi langkahmu selama kamu sanggup menjalaninya. Tapi kamu mau pergi kemana Nak?”


Aisha melepas pelukannya dan mengusap sisa-sisa air matanya.


“Aisha mau lebih dekat sama Ayah Bu, cuma Ayah laki-laki yang nggak membuat Aisha terluka.”


“Tapi kamu mau gimana di sana Sayang? Kamu bahkan nggak mengenal siapapun di sana,” tanya Maya cukup khawatir akan hidup putrinya ke depan nanti.


“Emang itu yang Aisha cari Bu, hidup tanpa seorang pun yang mengenal Aisha dan Aisha kenal.”


“Tapi apa nggak sebaiknya dibicarakan dulu sama suamimu Nak, bagaimanapun Faris masih suamimu, dia berhak atas kamu Sayang.”


“Aisha nggak perlu lagi ketemu sama Abang Bu, karena bagi Aisha kisah kami udah berakhir, nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, dan nggak ada alasan buat Aisha tetap mempertahankan rumah tangga ini. Toh sampe sekarang juga Abang nggak ada niat buat ngejelasin apapun, Aisha juga udah kembaliin semua akses yang selama ini Abang kasih, Aisha bisa hidup tanpa bergantung pada siapapun,” tuturnya dengan tegar.


“Dan ini ….” Aisha menunjukkan jari manisnya yang sudah kosong.


“Udah Aisha kembaliin juga,” imbuhnya.


“Apa nggak lebih baik beresin dulu semuanya sebelum kamu pergi, Nak?”


“Aisha akan minta pengacara kita yang buat urus gugatan, Ibu bantu Aisha ya?” Aisha meminta dengan tatapannya yang memohon.


Maya hanya bisa menghela napasnya gusar namun pada akhirnya ia mengangguk dengan lemah, ia hanya ingin kebahagiaan untuk putrinya.


“Ibu tolong jangan bilang ke siapapun kemana Aisha pergi ya Bu, apalagi sama Abang,” ujar Aisha kembali memohon.


“Jangan khawatir … karena Ibu juga akan nemenin kamu di sana,” ujar Maya mencoba menghibur putrinya.


“Yang bener Bu?” Dan benar saja Aisha menanggapinya dengan wajah berbinar, sontak Maya pun mengangguk dengan semangat.

__ADS_1


“Terus kejaan di sini siapa yang handle Bu?” Kini Aisha mulai khawatir jika kepergiannya justru akan merepotkan.


“Nggak usah pikirin kerjaan … Ibu bakal nemenin kamu sampai Ibu mastiin kalo kamu hidup dengan baik di sana,” tutur Maya mengingat resiko yang mungkin akan dihadapi putrinya jika hidup seorang diri di sana.


“Makasih ya Bu ….” Ibu dan anak itu kini kembali berpelukan sebelum kaki mereka meninggalkan tanah air ini.


“Jam berapa jadwal penerbangan kamu Sayang?”


Aisha segera merogoh ponselnya dan menunjukkan tiket online miliknya pada sang ibu.


“Sejam lagi?” Maya panik saat melihat waktu yang tertera pada tiket online itu, sedangkan Aisha justru mengangguk dengan semangat.


“Kalo sejam lagi Ibu kayaknya nggak bisa Sayang, gimana kalo Ibu berangkatnya nyusul di penerbangan berikutnya ya? Soalnya Ibu butuh ngurusin kerjaan dulu sebelum minta asisten yang handle. Kamu nggak apa-apa kan kalo berangkat sendirian?” tanya Maya dan sontak Aisha mengangguk mengiyakan.


Selesai mengemasi barangnya dan merasa semuanya sudah lengkap tanpa ada yang tertinggal suatu apapun, Aisha berpamitan pada sang ibu.


“Bu … Aisha berangkat yah,” ujar Aisha dengan lirih.


“Pergilah Sayang kalo memang menurut kamu ini keputusan yang tepat, kamu masih muda, jalan hidup kamu masih panjang. Ibu cuma berharap kamu bisa menemukan kebahagiaanmu.” Maya pun berujar dengan parau.


Aisha langsung merengkuh tubuh renta dihadapannya itu, namun ia berusaha untuk tak menitikkan air mata meski sejujurnya netranya sudah sangat perih oleh air yang menggenang di pelupuk. Ini sudah menjadi keputusannya, maka sudah seharusnya ia kuat menghadapinya, ia harus terlihat baik-baik saja agar sang ibu pun tak turut sedih dibuatnya.


***


Faris tergopoh menuruni mobilnya yang sudah terparkir di halaman luas rumah ibu mertuanya, tak lupa ia mengetuk pintu dan mengucap salam, hingga beberapa kali namun tetap tak ada jawaban dari dalam.


“Oh iya, makasih Mang.”


Sesuai intruksi dari Mang Udin, akhirnya Faris membuka pintu yang ternyata memang tak terkunci itu, namun ia pun tak mendapati siapapun di dalam. Faris mencoba langsung menuju ke arah kamar sang istri, namun tetap tak ia dapati siapapun di sana, bahkan hampir seluruh ruangan di rumah mertuanya itu sudah ia sambangi dan ia tetap tak mendapati siapapun.


Tiba-tiba terdengar derap langkah kaki membuka pintu utama, Faris yang tengah di ruang tamu sontak menoleh, namun ternyata sosok yang muncul dari balik pintu adalah Bi Darmi asisten rumah tangga di sini.


“Bi … Aisha sama Ibu lagi pada kemana ya?” tanya Faris tanpa basa-basi, bahkan Bi Darmi nampak terkejut karena mendapati seseorang di dalam rumah.


“Astaghfirulloh Den … ngagetin Bibi saja,” ujarnya mengusap dada dengan tangan satunya lagi menenteng kantong belanjaan.


“Eh maaf Bi.” Tersangka hanya nyengir kuda menampilkan deretan gigi rapinya.


“Ibu tadi sekitar abis asaran pergi Den, sepertinya ke luar kota, soalnya Ibu bawa koper segala. Kalo Non Aisha, Bibi malah nggak tau perginya,” jelas Bi Darmi apa adanya.


“Apa Ibu bilang mau kemana atau berapa lama gitu?”


“Nggak Den, beliau cuma bilang nitip rumah, tapi kayaknya lama deh soalnya Ibu sampe titipin urusan kerjaan sama asistennya tadi.”


“Kalo istri saya? Bibi sama sekali nggak tau?”

__ADS_1


Bi Darmi hanya menggeleng karena memang ia benar tak mengetahui kemana perginya sang majikan mudanya itu.


“Coba tanya Mang Udin, soalnya tadi pagi Bibi liat Mang Udin yang anterin Non Aisha, tapi nggak tau kemana,” usul Bi Darmi yang segera diangguki oleh Faris, ia pun lantas keluar mencari keberadaan Mang Udin.


Setelah sekian lama mengitari rumah sang mertua, akhirnya Faris mendapati sosok yang dicarinya, dilihatnya Mang Udin yang tampak tengah membersihkan kolam dengan hanya menggunakan celana kolornya.


“Mang ….”


“Astaghfirulloh ngagetin aja Den! Untung Mamang nggak kecebur,” ujar Mang Udin yang sama terkejutnya seperti reaksi Bi Darmi saat di dalam tadi.


“Eh maaf maaf Mang.”


“Ada apa ini Den Faris sampe nyusulin Mamang ke sini?” Mang Udin bukan tak tahu jika majikan mudanya itu pasti memiliki tujuan khusus sehingga menemuinya.


“Mang Udin tau kemana perginya Aisha sama Ibu, Mang? Kata Bi Darmi tadi pagi Mang Udin yang nganterin istri saya,” Faris bertanya dengan sedikit panik.


“Oh iya memang tadi pagi Mamang yang anterin Non ke rumah Aden, cuma beberapa jam kemudian Mamang udah liat lagi si Non ada di rumah, nah udah itu nggak tau lagi deh kemana, soalnya Mamang langsung disuruh Ibu buat jemput asistennya,” tutur Mang Udin apa adanya.


“Jam berapa Mang Udin anter istri saya pulang?” tanya Faris semakin panik saja.


“Sekitar jam delapan atau sembilan gitu Den,” ujar Mang Udin dengan polos, sedangkan Faris sudah semakin panik karena pasalnya kedatangan Aisha bertepatan ketika Sofia tengah berada di rumahnya, dan sepertinya dugaannya benar jika Aisha melihat Sofia berada di kamar mereka.


“Terus kalo Ibu pergi kemana Mang?”


“Itu juga saya nggak tau Den, Ibu cuma bilang titip rumah, kayaknya sih Ibu mau ke luar kota soalnya sampe bawa koper juga Den.”


Lagi-lagi Faris semakin panik oleh jawaban yang didapatinya, ia melangkah gontai kembali menuju mobilnya setelah berpamitan pada Mang Udin dan Bi Darmi yang kebetulan berada di luar.


Faris melajukan mobilnya tak tahu arah, ia benar-benar kalut harus kemana mencari sang istri. ponselnya pun sejak tadi tak bisa dihubungi, ia mencoba melacaknya pun tetap tak terdeteksi. Faris semakin kalut ketika ponsel mertuanya juga sama tak bisa dihubungi maupun dilacak.


“Ya Allah … kalian kemana?” keluh Faris mengacak rambutnya frustasi.


Tiba-tiba sinar senja yang mengintip dari kaca mobilnya membuat Faris menyipitkan netra dan segera meraih kaca mata hitamnya. Diliriknya arloji yang selalu melekat pada pereglangan tangannya, ternyata hari sudah semakin sore, pantas saja semburat senja semakin gagah menunjukkan ronanya.


Seketika otak Faris menangkap sesuatu, kini ia tahu harus kemana dirinya mencari sang istri. Dengan senyum yang melebar, segera Faris injak pedal gasnya kuat-kuat hingga angka pada spidometernya semakin naik beranjak.


***


Maaf yaa author belum bisa rutin updatenya ...


Selain karena belum sehat, author juga lagi membagi waktu nyusun laporan buat sidang PKL secepatnya, mohon doanya bair author selalu sehat dan kuat menghadapi dunia tipu-tipu ini ya gaess ...


Always Love you ...


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan vote, like, and coment sebanyak-banyaknya biar author makin semangat ngetiknya yaa ...


__ADS_2